BLACK CAT

BLACK CAT
Anak buah Tigor yang mulai terpojok



Pagi itu kehebohan demi kehebohan terjadi di seluruh negara.


Baru saja stasiun televisi menyampaikan berita bahwa Martin yang baru kembali dari kota Kemuning, telah dicegat di jalan dekat jembatan menuju ke kompleks elite Tasik Putri lalu di tembak oleh sekelompok orang memakai topeng yang identitas nya tidak diketahui.


Beberapa wartawan tampak mewawancarai Venia yang lebam di bagian mata kiri serta Marven yang tampak menggendong tangannya yang seolah-olah cedera.


Mereka mengatakan bahwa mungkin ini adalah dendam lama karena Martin selalu ketua kelompok organisasi kucing hitam memiliki banyak musuh.


Para wartawan juga bertanya apakah ada barang berharga yang di rampok,


Jawaban mereka tidak ada. Oleh karena itu, para wartawan mengambil kesimpulan bahwa ini murni karena persaingan atau balas dendam. Karena tidak adanya barang-barang berharga yang di rampok.


Beberapa menit setelahnya, televisi kembali melaporkan bahwa di perbatasan kota Kemuning dan kota Batu telah terjadi bentrok antar geng yang menyebabkan lima puluh satu orang menjadi korban.


Namun tidak dapat dipastikan organisasi mana lagi yang membuat kekacauan itu.


Beberapa wartawan langsung berspekulasi bahwa hal ini juga ada hubungan kaitannya dengan kematian Martin di kota Kemuning.


Pihak dari Kapoldasu pun segera mengeluarkan keterangan bahwa pihak kepolisian sedang melakukan penyelidikan yang mendalam bagi dua kasus yang bisa saja memiliki hubungan erat atau pelaku dari dua kejadian ini kemungkinan besar adalah kelompok atau organisasi yang sama.


Saat ini, Birong yang terpukul atas kejadian ini mendesak kepolisian agar menemukan pelaku secepatnya.


Dia mengatakan kecurigaan nya terhadap Black Cat yang beberapa bulan lalu melakukan pembunuhan di luar negeri tepatnya kota MegaTown.


Keluarnya pernyataan ini membuat pihak kepolisian langsung bergerak cepat untuk meneliti setiap kejadian.


Beberapa anggota forensik bersama kepolisian bagian kriminal tampak sedang melihat hasil dari rekaman kamera pengintai di jalan-jalan dan memang menemukan seorang pengendara serba hitam melintasi lampu merah menuju ke kota batu.


Dari hasil otopsi juga membuktikan bahwa kematian Ke-lima puluh satu orang yang ditemukan di dalam parit galian excavator itu juga akibat dianiaya dengan benda tumpul selain Togar yang kaki nya buntung sebatas betis adalah akibat benda tajam.


Dengan ini, pihak kepolisian menetapkan bahwa Black Cat adalah tersangka yang paling di curigai dan masuk ke dalam daftar orang yang paling di cari.


Sementara itu, pihak kepolisian banyak yang melakukan penyamaran dan tersebar di berbagai daerah. Hal ini juga termasuk dikawasan kota Kemuning.


Karena Black Cat menjadi tersangka, maka beberapa orang dari pihak kepolisian kota Kemuning mulai mendatangi perumahan staf milik almarhum Martin dan menanyai mereka tentang kedekatan mereka dengan orang yang selalu dikenal dengan sebutan Black Cat itu.


Monang, Andra, Sugeng dan Jabat yang terkenal bisa berbicara dengan baik pun tampak berjibaku menjawab segala pertanyaan dari pihak kepolisian.


"Maafkan kami pak Monang. Saat ini kami ingin menanyakan keberadaan pak Tigor selaku CEO dari perusahaan milik pak Martin."


"Kami ingin bertanya. Ketika kejadian itu, di mana kalian semua berada?" Tanya Pak polisi tersebut.


"Saat kejadian apa yang bapak maksud ini. Ada banyak kejadian yang terjadi. Termasuk peresmian yayasan yang kami dirikan." Tanya Monang.


"Yang kami maksud adalah, kejadian pembunuhan terhadap bapak Martin." Tanya Polisi tersebut.


"Jika itu yang bapak maksud, maka sejak kemarin sampai sebelum bapak datang ke sini, kami berada di yayasan Martins. Ini karena kami sedang bersih-bersih setelah acara peresmian itu. Bahkan masih ada beberapa kursi yang belum sempat kami kembalikan ke balai kota." Jawab Monang.


"Tigor itu adalah CEO yang terlalu sibuk pak. Saat ini dia sedang berangkat ke luar negri untuk melakukan kesepakatan beberapa kerja sama dengan perusahaan Future of Company. Ini karena, Tigor ini berhasil melobi bapak walikota untuk meluluskan izin beberapa bangunan Hotel dan tempat wisata di kota Kemuning ini. Jika bapak tidak percaya, bapak bisa menanyakan langsung kepada bapak walikota." Jawab Monang.


"Ada beberapa laporan mengatakan kepada saya tentang kedekatan kalian dengan orang misterius bernama Black Cat ini. Apakah itu benar?" Tanya pak polisi itu lagi.


"Ini pertanyaan yang sangat menjebak pak." Kata Monang.


"Kamera pengintai menunjukkan di hari kematian Martin, bahwa sosok hitam mengendarai sepeda motor terlihat meninggalkan kota Kemuning ini menuju kota batu. Berarti selama ini orang misterius bernama Black Cat itu tinggal di kota Kemuning ini." Kata polisi itu semakin berusaha memojokkan.


"Saya no komen tentang ini pak. Karena bukan urusan saya di mana orang akan tinggal dan pergi." Kata Monang pula berusaha untuk lepas dari perangkap yang dipasang oleh yang bertanya.


"Baiklah pak Monang. Sekian dulu pertanyaan dari kami. Nanti kami akan kembali lagi." Kata Polisi tersebut.


"Dengan senang hati pak." Jawab Monang lalu mereka berempat berdiri untuk mengantar pak polisi itu keluar dari ruang tamu tersebut menuju ke arah mobil dinas nya yang tidak jauh terparkir di halaman rumah itu.


"Bagaimana ini Monang?" Tanya Andra sejurus setelah pak polisi itu pergi.


"Jangan lakukan tindakan apapun. Fokus saja kepada penyembuhan Tigor."


"Sampaikan kepada anak buah kita yang lainnya agar selalu menjaga sikap. Berbuatlah seperti biasa saja. Hal ini agar tidak menarik kecurigaan mereka terhadap kita tentang masalah kematian Togar dan anak buah nya." Kata Monang.


Mereka berempat kini memasuki sebuah kamar khusus di mana Tigor sedang terbaring dan belum sadarkan diri.


"Bagaimana Jabat? Apakah Tigor sudah baikan?" Tanya Andra.


"Baikan apa? Nafas nya juga hanya satu-dua." Jawab Jabat.


"Kau ingat Ndra kakek gila yang menolong kita ketika diserang di pantai Kuala Nipah dulu?" Tanya Acong.


"Ya aku ingat. Oh Tuhan. Benar. Kita bisa meminta tolong kepada kakek itu." Kata Andra sambil menepuk jidatnya sendiri.


"Itu dia maksud ku. Tapi kita kan tidak tau di mana rumah kakek itu. Kita juga tidak tau siapa namanya." Kata Acong lagi.


"Masalah baru timbul setelah secerca harapan muncul."


"Begini saja. Jabat dan Kau Sugeng, tetap menjaga Tigor di sini. Andra dan Acong segera berangkat ke Kuala Nipah untuk mencari informasi tentang kakek itu. Kalian kan pernah bertemu. Jadi, jangan tanya siapapun. Cari saja!" Kata Monang.


"Aku dan yang lainnya akan menunggu di sini sambil mengamati keadaan. Karena mustahil pihak kepolisian melepaskan kita begitu saja setelah pernyataan Birong dan Marven sedikit memojokkan kita."


"Baiklah. Aku akan pergi ke Kuala Nipah menjelang malam nanti." Kata Andra.


Hal ini dia lakukan agar tidak terlalu menarik perhatian.


Setelah kata sepakat di ambil, mereka pun langsung membubarkan diri.


Kini tinggal lah Jabat dan Sugeng yang menjaga Tigor yang sampai saat ini masih belum sadarkan diri.