BLACK CAT

BLACK CAT
Tigor masih akan ke Macau



Seorang pemuda tampan, memiliki kulit putih bersih dengan perawakan tubuh yang kekar tampak sedang duduk termenung di kursi santai tidak jauh dari kolam renang.


Entah apa yang dia fikirkan. Namun, yang jelas saat ini dari raut wajah nya seperti sedang mengalami kegelisahan.


Hal ini tidak luput dari perhatian keempat pemuda lainnya yang sedang berendam di bagian dangkal kolam renang tersebut.


"Cong. Ada apa dengan bang Tigor? Aku lihat sepertinya dia tidak bersemangat." Tanya salah seorang dari keempat pemuda itu.


"Mana aku tau. Sepertinya dia sudah tidak betah di sini." Jawab lelaki yang dipanggil dengan sebutan Cong tadi.


"Coba kau tanya Cong! Mengapa Bang Tigor seperti tidak bahagia."


"Kau saja Meng!"


"Andra! Coba kau tanya ada apa dengan Bang Tigor!"


"Sebaiknya kita berempat saja. Ayo naik. Kelamaan berendam bisa masuk angin kita nanti." Ajak Andra.


Keempat pemuda yang tidak lain adalah Acong, Ameng, Andra dan Timbul itu segera menggapai handuk masing-masing lalu bergegas naik lalu menghampiri kursi di mana Tigor sedang duduk merenung tadi.


"Cepat sekali kau udahan berendam nya bang?" Tanya Acong kepada Tigor.


Mendengar pertanyaan dari Acong, Tigor hanya mendongakkan sedikit kepalanya lalu acuh tak acuh dan kembali menunduk.


Hal ini tentu saja membuat keempat sahabatnya merasa heran dan saling pandang.


"Gor. Ada apa dengan mu? Aku perhatikan dari tadi kau sepertinya sedang memikirkan sesuatu." Tanya Andra.


"Ayo kita temui Mister Long Kang. Malam ini juga kita kembali ke Tasik putri." Kata Tigor seraya bangun dari kursinya dan berjalan memasuki ruangan dari pintu yang tak jauh dari kursi tempatnya duduk tadi.


"Mengapa buru-buru kembali ke Tasik Putri bang? Bukankah malam ini kita ada acara?" Tanya Ameng.


"Perasaan ku tak enak. Aku khawatir sesuatu telah terjadi di kota Tasik putri." Jawab Tigor sambil terus melangkah ke dalam.


Sampai di dalam, Tigor mulai celingak-celinguk mencari seseorang yang selalu menjadi penerjemah bahasa selama dia berada di negara Hongkong ini.


Puas mencari kian ke mari, akhirnya Tigor pun bertanya kepada para pengawal.


Dia hanya bisa menyebut nama yang dia cari kepada pengawal itu. Sisa nya adalah isyarat gerakan tubuh.


Untung pengawal itu mengetahui dan segera menelepon Mister Long Kang.


Tak lama setelah itu, Mister Long kang pun datang bersama dengan Mister Ming Kang Khang.


"Mister King no Kong! Ada apa anda mencari saya?" Tanya lelaki botak itu.


"Mister Long Kang. Bisakah anda mengantar ku ke pelabuhan malam ini? Jujur saja perasaan ku tidak enak. Aku khawatir sesuatu terjadi di tasik putri." Kata Tigor.


"Mister King no Kong. Bukankah kita sudah sepakat bahwa malam ini kita akan berangkat ke Macau untuk menemui beberapa klien di sana dan sekaligus memperkenalkan anda kepada mereka. Ini kesempatan langka. Karena, suatu saat anda membutuhkan mitra bisnis. Ayo lah! Jangan sia-siakan kesempatan ini." Bujuk Mister Long Kang.


"Semua yang anda katakan itu sangat benar. Namun entah mengapa kalau aku merasa tidak tenang."


"Cing cong cing cong..."


"Bicara apa Mister Ming kang Khang itu? Aku tidak mengerti." Tanya Tigor begitu melihat Mister Ming kang Khang berbicara dalam bahasa Kantonis.


"Oh, Itu. Tuan ku bilang, dia akan menelepon Martin di Tasik putri untuk sekedar memastikan keadaan apakah dia baik-baik saja atau sedang mengalami krisis sesuatu." Jawab Mister Long Kang menerjemahkan apa yang dikatakan oleh Mister Ming kang Khang tadi.


Saat ini Mister Ming Kang Khang sedang terlibat obrolan dengan Martin. Dan tak berapa lama, Mister Ming Kang Khang kembali berbicara dalam bahasa Hongkong kepada Mister Long Kang.


"Tuan Martin di sana baik-baik saja. Dia juga mengatakan bahwa jika anda masih ingin berada di sini beberapa hari lagi, dia tidak masalah." Kata Mister Long Kang.


"Mister Long Kang. Jujur saja aku ini orang yang tidak begitu mengerti tentang ponsel. Mengapa ponsel ku tidak dapat digunakan di negara anda ini?" Tanya Tigor.


"Hahaha... Sim card yang anda pakai adalah simcard untuk negara anda saja. Sedangkan ketika anda melakukan perjalanan ke luar negri, anda harus melakukan Roaming. Dan biaya panggilan ke negara asal anda akan sangat mahal sekali."


"Begini saja. Karena kita sudah menjadi Rekan Bisnis, sebentar lagi aku akan menyuruh seseorang untuk mendaftarkan simcard baru untuk anda. Kelak jika anda datang ke negara ini, anda bisa menggunakan simcard ini. Aku akan mendaftarkan sekaligus memperpanjang masa aktifnya selama 365 hari untuk anda Mister King no Kong." Kata Mister Long Kang.


"Aaaah... Terimakasih Mister Long Kang. Begitu juga boleh."


Tampak wajah Tigor saat ini sangat berseri-seri.


"Resiko orang yang tidak sekolah ya begini Bang." Kata Acong.


"Bukan salah kita. Keadaan yang membuat kita seperti ini. Tapi tidak ada kata terlambat untuk belajar. Kembali dari sini, kita tunggu perintah dari Martin. Setelah kita dipindahkan ke kota Kemuning, di sana nanti kita belajar." Kata Tigor.


"Belajar? Belajar apa bang? Kita sudah terlalu tua untuk belajar. Apa masih lengket tuh ilmu di kepala ini?" Tanya Ameng.


"Belajar itu tidak mengenal usia. Bahkan sudah mau masuk ke liang kubur pun kita masih perlu belajar."


"Kita yang akan membuat sekolah gratis. Tak perlu mendaftar seperti Rio dulu. Sekembalinya kita dari sini, kita sudah bukan orang miskin lagi." Kata Tigor sambil tersenyum.


"Maksud abang?" Tanya Acong.


"Kalian dengar baik-baik ya! Ketika nanti kita di kirim ke kota Kemuning, bukan hanya kau aku dan bawahanku saja yang pergi. Kita akan pergi bersama semua anak-anak gelandangan yang ada di Tasik putri. Bila perlu, tampung semua anak-anak yatim dan gelandangan di seluruh provinsi ini. Kita akan mendirikan panti asuhan, tempat orang tua jompo, sekolah dari SD sampai SMP, trus ada klinik nya juga dan ada masjid. Tapi untuk masjid nya nanti, tidak boleh dari uang ini. Kita harus mencari pekerjaan lain dan mengumpulkan uang untuk membangun masjid." Kata Tigor.


"Bagaimana kalau ada di antara mereka yang berbeda agama bang? Kan tak mungkin lah mereka beribadah di Masjid." Tanya Ameng.


"Ada gereja nya juga nanti. Kita akan tanamkan kepada mereka arti dari keberagaman dan toleransi. Beda agama terserah mereka lah. Itu hak setiap individu. Yang terpenting adalah saling rangkul, saling menghormati dan saling menjaga."


"Bagaimana jika mereka bandel bang. Ka biasa tuh hidup di jalan kan keras. Lantas apa yang akan abang lakukan jika mereka tidak taat kepada peraturan yang sudah abang tetapkan?" Tanya Acong.


"Usir saja. Aku tidak butuh kepada orang yang seperti itu. Keluarkan mereka dari yayasan, selesai!" Kata Tigor sambil tersenyum.


"Lantak abang lah. Kami ikut aja." Kata Acong.


"Kau fikir kalau kita seperti ini terus, bagaimana cara menghabiskan uang? Mati kita di timbun uang. Aku tidak serakah. Bagiku asal lepas makan siang dan lepas untuk makan sore, itu adalah nikmat dari yang MAHA KUASA. Aku tidak tamak, tidak serakah. Tujuanku bergabung dengan Martin adalah semata untuk balas dendam kepada geng tengkorak. Bukan untuk menumpuk harta." Kata Tigor.


"Apakah kita akan sering-sering ke luar negri bang?" Tanya Ameng.


"Ya. Jika tidak memikirkan untuk kedepannya, saat ini juga aku pasti sudah mendesak mereka untuk mengantar kita ke pelabuhan. Tapi aku tidak melakukannya karena berfikir untuk masa depan. Menambah koneksi itu perlu. Makanya aku akan mengikuti mereka malam ini ke Macau. Kemudian berangkat ke Taiwan. Kembali dari sana, barulah kita pulang kampung." Kata Tigor.


"Mantap bang. Banyak uang lah kita ini." Kata Timbul.


"Gor. Jangan lupa bawa oleh-oleh." Kata Andra.


"Kau punya pacar?" Tanya Tigor.


"Jomblooooooo....!" Jawab mereka barengan.


"Untuk apa oleh-oleh. Bikin susah saja. Beli saja di Tasik putri. Di gang kumuh kan ada tuh pusat perbelanjaan kelas dunia. Beli di sana aja."


"Entah dari mana uang nya. Uang kita aja belum cair. Masih di tangan Martin." Kata Andra lagi.


"Mister Ngangkang kemarin kan bilang kalau dia akan memberikan sepuluh juta Dollar Hongkong kepada kita. Hanya saja aku tidak tau berapa jumlahnya kalau menjadi rupiah. Banyak apa dikit ya?" Tanya Tigor sambil menggaruk dagu.


"Harusnya cukup buat Shoping." Kata Acong.


"Jenis makanan apa lagi tuh?" Tanya Andra.


"Shoping itu bahasa inggris Ndro. Artinya, belanja sampai pusing." Kata Tigor.


"Oooh. Hahahaha..." Kata Andra malu-malu.


"Sepuluh juta Hongkong Dollar. Aku sejuta. Andra sejuta, Ameng Sejuta dan Timbul sejuta. Sisa 6 juta lagi Kemana bang?" Tanya Acong.


"Jangan lupakan Karman, Monang, Ucok, Thomas, Sugeng dan Jabat." Kata Tigor.


"Kurang dong bang. Kan cuma sepuluh juta. Abang ya gak kebagian lah." Kata Acong.


"Kalian lah yang ngasih aku seratus ribu per orang. Jadinya kalian sembilan ratus, aku sejuta. Kan aku Boss kalian." Kata Tigor sambil nyengir.


"Hahaha... Apa lah itu uang. Uang seperti jenggot. Di cukur, pasti tumbuh lagi." Kata Ameng.


"Mulai sekarang, mari kita ukir mimpi kita di atas keberhasilan ini. Kita akan punya rumah, punya mobil, dan yang terpenting, tidak ada yang bisa menghina kita lagi." Kata Tigor.


"Hidup bang Tigor! Hidup bang Tigor! Hidup bang Tigor!" Kata mereka dengan semangat.


"Aku secara pribadi juga mengucapkan Terimakasih karena jika bukan karena kau Gor, mungkin alu masih jadi tukang ojek." Kata Andra.


"Kami juga bang. Terimakasih untuk setahun ini kebersamaan kita." Kata mereka dengan wajah di buat selebay mungkin.


"Sudah lah. Aku juga melakukan ini karena merasakan penghinaan terlebih dahulu. Kau tau siapa yang yang menghina ku?" Tanya Tigor.


"Siapa bang?"


"Irfan anak Beni dan Debora si bidan desa itu." Kata Tigor.


"Wah. Ku hancurkan klinik si Debora ini." Kata Acong.


"Mau kau di cakar sama Masyarakat?" Tanya Tigor.


"Hehehe. Becanda aku bang."


"Hahaha... Dasar Acong."