
Lokasi proyek kota Kemuning
Tiga hari sudah kerja-kerja pembangunan di lokasi proyek milik Tigor ini berjalan tanpa hambatan yang berarti.
Seperti kata pepatah, laut tak selamanya tenang. Begitu juga yang terjadi terhadap kerja-kerja di lokasi pembangunan itu.
***
Setelah jam kerja berakhir untuk hati ini, ada sebagian dari para karyawan yang memilih untuk lembur.
Bagian-bagian yang memerlukan untuk segera di buru agar tidak berbenturan dengan pekerjaan yang lainnya memang di izinkan untuk lembur seperti memasang Bim, pengecoran pondasi dan juga besi BRC.
Terhitung ada beberapa truk pengangkut semen dan juga operator Crane yang masih tetap semangat bekerja.
Melihat semangat yang seperti ini membuat Ryan, Daniel, Riko juga mengurungkan niatnya untuk kembali ke perumahan yang di sediakan oleh Martin. Mereka ditemani oleh Monang dan Tigor yang membagi waktu dengan setia memberikan arahan kepada para pekerja sesuai petunjuk dari Ryan.
"Pak manager, coba anda lihat di sana itu! Berikan penjelasan kepada para karyawan tentang pentingnya keselamatan dalam bekerja. Suruh mereka memakai helm dengan benar!" Kata Ryan menegur sang Manager proyek.
"Baik Tuan Ryan. Sebelumnya maafkan atas kelalaian saya. Ini karena mereka mengira bahwa safety officer sudah pulang. Jadi tidak ada lagi yang mereka takuti." Kata sang Manager.
"Masalah ini adalah tanggung jawab bersama Pak. Jika ada kejadian yang tidak diinginkan, proyek ini bisa tertunda. Kami tidak ingin membuang banyak waktu kami di sini hanya karena urusan sepele begini. Sebelum terjadi, ada baiknya anda jangan bosan untuk menegur siapa saja yang tidak taat terhadap keselamatan dalam bekerja." Kata Riko yang memang terkenal sangat tegas.
Tigor yang tidak mengerti tentang peraturan di lokasi konstruksi seperti ini hanya memperhatikan saja sambil sesekali kakinya menendang tumit sepatu Monang.
"Ada apa Gor?" Tanya Monang.
"Kau lihat kedisiplinan mereka itu Nang?! Mengerikan bukan?" Tanya Tigor.
"Hi'oh. Kalau aku, mungkin sehari saja bisa meledak kepala ku." Kata Monang.
"Kalau kau, mungkin baru kerja satu jam sudah di pecat." Kata Tigor.
"Semua ada bidangnya masing-masing Gor. Bidang kita bukan pekerjaan seperti ini. Aku melihat gambar pada buku mereka yang seperti benang kusut itu saja sudah membuat kepalaku pusing." Kata Monang.
"Apa lagi aku. Hahahaha. Kalau bahasa Jawa nya, Mumet!" Kata Tigor sambil terkekeh.
"Bah... Sudah pandai kau sekarang berbahasa Jawa ya." Kata Monang sambil tertawa.
"Kalau bahasa Inggris nya apa Gor?"
"Kayak di bungkus pil sakit kepala itu lah. PARAMEX." Jawab Tigor sesukanya dan dianggukkan pula oleh Monang.
"Mungkin sakit kepala dalam bahasa Inggris artinya Paramex. Ya kan?" Tanya Monang dengan sangat lugu.
"Iya lah. Aku sudah lama tahu. Kau saja yang bodoh." Jawab Tigor.
Obrolan Monang dan Tigor yang ngalor-ngidul itu pun akhirnya terhenti ketika dari arah pagar seng pembatas antara lokasi proyek dan pemukiman warga terlihat berdatangan beberapa kendaraan roda dua serta satu unit mobil Pajero sport.
"Masalah kini muncul." Kata Tigor berbisik kepada Monang.
"Mengapa Gor? Kau kenal yang datang itu?" Tanya Monang.
"Mobil Pajero sport itu milik Ronggur. Aku yakin mereka ingin membuat kekacauan di sini." Kata Tigor.
"Biarkan saja. Sekarang lah saatnya kita melihat seperti apa keamanan yang dijanjikan oleh perusahaan yang memborong proyek mu ini." Kata Monang.
"Kita lihat saja. Jika sudah keterlaluan, apa boleh buat, aku tanam Ronggur di lokasi proyek ini hidup-hidup. Hitung-hitung sebagai tumbal bangunan." Kata Tigor sambil terkekeh.
"Hahaha. Ok Gor. Mereka sudah memasuki lokasi. Lihat tuh Riko sudah melirik ke arah mereka."
"Santai benar mereka itu Nang! Coba kau lihat. Mereka melihat kedatangan Ronggur seperti melihat seekor lalat saja." Kata Tigor.
"Hahaha. Nonton gratis nih. Ayo kita agak menyingkir sedikit." Kata Monang sambil menarik ujung kerah baju Tigor. Namun sepertinya rombongan Ronggur ini malah mengarah ke arah mereka berdua.
"Mereka mendatangi kita Gor!"
"Biarkan saja. Sekali ini apa boleh buat lah. Panggil semua anak buah kita!" Kata Tigor menyuruh Monang.
"Tetap di tempat mu Monang!"
Belum sempat Monang bergerak mengeluarkan ponselnya, tiba-tiba Ronggur menegur dari arah yang tidak begitu jauh membuat Monang segera mengurungkan niatnya untuk mengeluarkan ponsel nya.
"Wah wah wah. Hebat kau Tigor. Belum dua bulan kau berada di kota kelahiran ku ini, kau sudah ingin menjadi penguasa. Pertama menjadi direktur di perusahaan milik Martin, kedua kau sudah mulai berani membangun gedung di sini. Yang ke tiga apa lagi nanti yang akan kau lakukan? Menggeser posisi ayah ku di kota Kemuning ini? Begitu maksud mu Tigor?" Bentak Ronggur dengan lantang.
"Mengapa Ronggur. Niat ku baik. Aku tidak ingin menggeser posisi siapapun. Aku hanya ingin membangun panti asuhan untuk anak-anak gelandangan dan terlantar. Hanya itu saja. Apakah itu salah?" Tanya Tigor.
"Puiiih...."
Tampak Ronggur meludah ketika mendengar jawaban dari Tigor tadi.
"Aku ingin tau. Keberanian apa yang kau miliki sehingga lancang sekali di kota kelahiran ku ini?" Tanya Ronggur lagi.
"Kau jangan keterlaluan Ronggur! Apa mu yang dirugikan dengan proyek milik kami ini?" Tanya Monang.
"Kau siapa? Oh aku lupa. Kau kan si Monang sampah yang tidak becus menjalankan tugasnya, lalu kau dipecat serta diusir oleh Marven. Tutup mulut busuk mu itu! Aku tidak sedang berbicara dengan mu." Kata Ronggur sambil menunjuk ke arah Monang.
"Kau..!"
"Sudah Monang! Lihat mereka sudah datang kemari." Kata Tigor mencegah Monang yang ingin melabrak Ronggur karena melihat Riko, Arslan, Herey, Black serta David sudah mendatangi tempat pertengkaran itu.
"Tuan Tigor. Apakah ada yang bisa kami bantu?" Tanya Arslan dengan tetap menjaga keramahan.
"Oh. Ini Tuan Arslan. Mereka datang untuk menanyakan apakah perusahaan anda memiliki lisensi dan pekerjaan anda di sini mendapatkan izin?" Jawab Tigor.
"Oh. Maaf Tuan. Dengan siapa saya bicara saat ini? Apakah anda utusan dari bapak wali kota?" Tanya Arslan kepada Ronggur.
"Heh orang asing! Sebaiknya kau segera kembali saja ke negara asal mu. Di sini kau akan Susah cari makan." Ejek Ronggur.
"Ah... Kasar sekali tutur bahasa anda Tuan." Kata Arslan lagi.
"Persetan dengan kalian para bangsat asing. Jika kalian tidak segera minggat dari kota ku ini, aku akan membakar semua alat berat kalian ini dan akan menyegel lokasi proyek ini. Mau apa kalian hah?" Bentak Ronggur yang sudah tersulut emosi nya.
"Maaf Tuan. Izinkan saya bertanya. Apakah anda memiliki dua belas nyawa?" Tanya Riko dengan nada dingin dan tatapan yang sangat menusuk.
Riko ini sebelum bergabung dengan Ryan dan Daniel adalah seorang petarung yang tak terkalahkan di gelanggang bawah tanah milik sindikat pengedar narkoba di Country home yang bernama Sendiego.
Jika emosi Riko ini sudah tersulut, dapat dipastikan bahwa Ronggur ini tidak akan selamat dari incarannya.
"Hahaha.... Waaaahahahaha... Kau ingin menggertak aku di rumah ku sendiri. Seharusnya aku yang bertanya. Apakah kalian memiliki nyawa cadangan berani sekali kalian memasuki kota ku ini." Jawab Ronggur dengan tawa yang dibuat sekuat mungkin.
"Mengapa Tuan? Kami melakukan pekerjaan sah Dimata undang-undang dan hukum yang berlaku di negara ini. Kami memiliki izin, lisensi dan antara negara Indonesia ini dan negara kami memiliki hubungan diplomatik yang erat. Tidak ada pelanggan yang kami lakukan. Mengapa kami harus takut?" Tanya Ryan yang baru saja tiba.
"Undang-undang apa. Bagiku semua itu hanya sampah. Undang-undang kami adalah undang-undang rimba. Jika kalian tidak menghentikan kerja kalian, maka jangan menyesal." Kata Ronggur.
Riko, yang terkenal dengan temperamen yang mudah panas mencabut Talky-walk dari pinggang nya lalu segera berkata. "Tutup pagar depan!"
Begitu kata perintah itu keluar, hampir seratusan orang berkeluaran dari pos-pos jaga dan perumahan di samping kantor proyek itu.
Beberapa orang langsung berlari cepat menuju pintu masuk dan menutup serta menguncinya dengan gembok dan rantai besar.
Hal ini tentu saja membuat Ronggur kaget bukan main.
"Kami telah melakukan kerja-kerja pembangunan di berbagai negara dan kota-kota besar. Belum pernah ada yang berani dan begitu tak bermoral kepada kami. Sekarang mari! Aku ingin membeli mulut besar mu itu!" Kata Riko sambil menyingsingkan lengan bajunya dan segera meluruk ke arah Ronggur.
Perkelahian antara Riko yang memiliki potongan tubuh atletis melawan Ronggur pun pecah juga.
Tidak banyak pukulan yang lepas dari tangan Riko. Namun sekali saja pukulan itu mengenai rahang Ronggur, pemuda kelahiran kota Kemuning putra Jordan itu pun langsung jatuh terduduk.
Hal yang sama juga terjadi kepada orang-orang yang dia bawa.
Semuanya babak belur dihajar oleh anggota Dragon empire.
"Black. Seret orang itu kemari! Kita beri dia kenang-kenangan." Kata Riko.
Tanpa banyak kata-kata lagi, Black pun langsung menyeret Ronggur dan menjatuhkannya di tanah berdebu dengan posisi telungkup.
"Biar aku saja!" Kata Herey sambil mengeluarkan pistol miliknya.
"Mau apa kalian bangsat? Apa kau kira aku takut pada kalian. Ayo kita bertarung lagi!" Kata Ronggur berusaha menyingkirkan kaki Black yang menginjak punggung nya.
"Anda terlalu banyak bicara Tuan. Sekarang nikmati saja ini." Kata Herey.
Lalu...,
Dooor
Dooor...
Dooor....!
"Argh......" Kata Ronggur sambil menutupi telinga nya yang mendadak tuli akibat ledakan pistol milik Herey yang dilepaskan hanya berjarak beberapa inci saja dari kuping nya.
"Ini peringatan pertama sekaligus yang terakhir untuk mu. Percaya kata ku ini sobat! Kau bukan lah lawan kami. Kembali ke rumah, lalu minum susu. Jadilah anak yang berbakti!" Kata Arslan sambil membersihkan debu di telinga Ronggur akibat ledakan peluru tadi.
"Monang. Ajak anak buah kita. Lalu lemparkan sampah ini tepat di depan rumah Jordan." Kata Tigor.
"Siap Bos!" Kata Monang lalu segera memanggil anggota geng kucing hitam untuk menyeret Ronggur dan rombongan nya dari lokasi proyek itu.