BLACK CAT

BLACK CAT
Marven menghajar Tigor



"Bang. Ini adalah hasil dari pekerjaan yang kau suruh untuk kami kerjakan."


Terlihat dua orang lelaki berbadan lumayan kekar menghampiri seorang lelaki setengah baya berperut sedikit buncit dan berkepala botak di depan layaknya seorang professor sambil menyerahkan kamera DSLR kepada lelaki itu.


Dengan acuh tak acuh, lelaki setengah baya itu mengambil kamera tadi dan melihat beberapa hasil jepretan gambar di dalamnya.


"Cetak foto ini! Lakukan seperti yang kemarin. Salah satu dari kalian menyamar sebagai tukang pos dan kirim cetakan foto ini ke komplek elit. Ingat! Kalian hanya boleh menyerahkan nya langsung ke tangan Marven!" Kata lelaki setengah baya itu.


"Siap Bang Beni." Kata lelaki itu sambil menerima kamera nya kembali dan segera berlalu dari tempat itu.


"Hmmm... Akan ada petunjukan drama sebentar lagi. Hahahahaha.... Aku sangat menikmati. Sangat sangat menikmati." Kata lelaki setengah baya itu sambil tersenyum penuh kemenangan.


...*...


...Dolok ginjang....


Setelah kemarin Tigor mengantar Wulan dengan selamat kembali ke rumahnya, maka Tigor merasa sudah waktunya dia pamit dan kembali ke tasik putri.


"Mengapa tidak besok saja kembali Tigor? Kau bisa menganggap ini sebagai rumahmu sendiri." Kata Lalah ketika Tigor menemuinya untuk berpamitan.


"Terimakasih pak Lalah. Tapi sangat menyesal karena aku harus pulang sekarang. Saat ini keadaan tidak dapat dipastikan baik-baik saja. Anggota geng tengkorak sewaktu-waktu bisa saja datang membuat keributan. Maka dari itu, posisi ku tidak boleh kosong." Kata Tigor.


"Ya aku mengerti tanggung jawab dan kesetiaan mu kepada sahabatku Martin. Ok. Hati-hati di jalan!" Kata Lalah melepas kepergian Tigor untuk kembali ke kota Tasik putri.


"Tigor. Ini nomor Hp-baru milik ku. Aku sudah tidak menggunakan lagi nomor lama ku. Itu karena, aku tidak ingin mendengar apapun alasan dari Marven. Bagiku semua sudah jelas." Kata Wulan.


"Kau tidak boleh begitu Lan. Sebaiknya bertemu saja dengan Marven. Kalian memulai hubungan ini dengan baik. Jika ingin mengakhiri, maka akhiri dengan baik pula." Kata Tigor menasehati.


"Aku belum siap untuk itu. Mungkin nanti. Tapi ya sudah lah. Toh aku juga tidak terlalu mencintainya." Kata Wulan.


Tigor hampir tersedak menahan tawa saat mendengar perkataan Wulan barusan. Namun, untuk menghargai perasaan gadis itu, dia sekuat tenaga menahan tawanya.


Setelah berbasa-basi dengan panjang lebar, akhirnya dengan diantar oleh Roger, Tigor pun berangkat juga meninggalkan rumah Lalah untuk kembali ke kota Tasik putri.


...*...


Sementara itu. sama seperti yang diterima oleh Wulan, Marven juga menerima kedatangan seorang kurir yang membawa amplop berisi beberapa keping gambar yang membuat hatinya terbakar.


Dalam foto itu, dia melihat bahwa Wulan sedang berpelukan dengan Tigor, serta beberapa adegan lainnya.


Merasa sangat panas dengan apa yang tersuguh di hadapannya itu, Marven pun langsung berangkat ke Blok B untuk menemui Tigor yang ketika itu baru saja kembali dari Dolok ginjang.


Dengan menginjak pedal gas dalam keadaan hati yang terbakar, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Marven menghambur seperti kuda yang dilecut dengan cambuk dan terus melesat menuju Blok B.


Tigor yang saat itu baru sampai langsung dikejutkan dengan suara ban mobil yang dipaksa berhenti secara mendadak dari kecepatan tinggi.


Kini dia melihat mobil BMW hitam sudah terparkir di depan rumahnya dan tampak seorang lelaki muda keluar dari dalam mobil dengan rona wajah laksana seperti udang dibakar.


"Bajingan kau Tigor!"


Bugh....!


"Ugh... Ada apa dengan mu Bang Marven?" Tanya Tigor heran karena mendapat pukulan tinju yang telak menghantam perut nya.


"Masuk kau Gor! Aku harus menghajar mu." Kata Marven sambil menendang pintu rumah Tigor membuat beberapa orang sahabatnya yang berada di dalam, kaget bukan main.


Plak...!


Ketika Tigor melangkah memasuki rumah, Marven sudah kembali mengirim tamparan yang sangat keras membuat Tigor terhuyung dan tersandar di dekat pintu.


"Bangsat kau Gor! Kau berani bermain api dengan ku?!" Kata Marven lalu segera menjambak kerah baju Tigor dan membanting nya ke lantai.


"Sabar bang! Jangan main kasar begitu di rumah orang!" Kata Andra yang bangun dari duduknya dan berniat ingin membela Tigor.


Mendengar teguran dari Andra ini, bukan nya membuat kemarahan Marven surut. Dia malah mendekatkan wajahnya kearah wajah Andra lalu berkata dengan nada dingin.


"Siapa yang mengizinkanmu untuk bersuara? Apakah aku ada memintamu untuk bicara? Sampah seperti dirimu ini jangan sampai lupa diri. Kau harus tau dari mana asal mu. Apakah kau pantas bicara dengan ku?" Kata Marven sambil mendorong dada Andra membuat pemuda itu kembali duduk dengan cara terhentak.


"Sebenarnya ada apa bang?" Tanya Tigor yang sejak tadi sudah bangkit berdiri.


"Lihat ini bangsat!"


Plaaak...!


Tampak beberapa lembaran kertas kaku menghantam ke arah wajah Tigor lalu berserakan di lantai rumah itu.


Melihat salah satu dari gambar yang terdapat pada kertas itu, kini tau lah Tigor bahwa dia sedang masuk ke dalam perangkap. Namun karena sudah jauh-jauh hari Tigor telah memprediksi akan hal ini, maka dia hanya diam saja dan mencoba mengikuti alur yang diciptakan oleh musuh-musuh nya.


"Kau lihat itu sialan! Apakah begitu caramu? Bajingan tengik seperti kau ini harus diberi pelajaran!"


Bugh...


"Uhhh...!"


"Sudah Marven. Mengapa memukuli orang sendiri hanya karena urusan wanita?!"


"Heh...! Mengapa kau masih di sini? Bukankah aku sudah melarang mu untuk berada di Tasik putri ini? Aku bertanya kepadamu Monang. Berapa nyawa yang kau miliki?" Tanya Marven ketika mendapat teguran dari Monang tadi.


Sama seperti Andra, Monang hanya bisa diam mendapat semprotan dari Marven.


"Tigor. Aku masih memberi muka kepadamu. Jangan pernah memiliki pikiran untuk bersaing dengan ku! Kau harus tau siapa dirimu dibanding aku. Jika ayah ku tidak memungut dirimu, mungkin sampai saat ini kau masih menjadi sampah masyarakat. Ingat itu baik-baik!" Kata Marven sambil menunjuk tepat ke batang hidung Tigor.


"Aku pulang dulu. Ingat kata-kataku ini Tigor! Juga kau Monang. Besok jangan sampai aku melihat wajah mu lagi di tasik putri ini." Kata Marven lalu dengan kasar membanting pintu rumah Tigor dan berlalu menuju ke arah mobil nya.


Setelah deru kendaraan Marven tak lagi terdengar, mereka semua yang ada di situ hanya bisa menatap ke arah wajah Tigor yang memar di beberapa bagian.


"Ada apa Bang? Mengapa bisa seperti ini?" Tanya Acong.


"Biarkan saja. Ini adalah proses untuk menjadi seorang penguasa. Aku sengaja masuk ke dalam perangkap yang dibuat oleh Beni." Kata Tigor sambil mengutip beberapa gambar yang tadi di lempar oleh Marven lalu memasukkannya ke dalam tong sampah.


"Persiapkan dirimu Monang! Sore ini juga kau akan berangkat ke kota kemuning." Kata Tigor.


"Baiklah. Aku akan segera berkemas." Kata Monang.


"Ucok, Thomas, Jabat dan Sugeng. Kalian tinggal pilih. Mau berangkat duluan atau berangkat dengan ku? Tapi menurut ku, lebih baik temani Monang untuk berangkat."


"Ya. Aku rasa lebih baik kami berangkat mendahului kalian." Kata Sugeng.


"Mari kita kemasi barang-barang kita!" Ajak Ucok.


Kelima orang itu langsung saja memasuki kamar masing-masing untuk mengemasi barang-barang mereka untuk persiapan sore ini mendahului Tigor ke kota Kemuning.