BLACK CAT

BLACK CAT
Tigor tiba di kota Kemuning



Kota Kemuning.


Tepat pukul empat sore, akhirnya rombongan Tigor yang diantar langsung oleh Martin tiba juga di kota yang memiliki perbatasan langsung dengan kota Batu di sisi kanan nya dan kota Tanjung karang di sisi kirinya itu.


Setelah kurang lebih sepuluh jam menempuh jarak antara kota Tasik Putri dan kota Batu, kemudian baru lah mereka bisa menarik nafas lega.


Kedatangan Tigor dan rombongan di sambut dengan suka cita oleh Minang, Ucok, Jabat, Thomas dan Sugeng yang memang telah berangkat lebih dulu ke kota Impian ini.


Tepat di depan kantor besar yang mengelola seluruh aset milik Martin di kota ini, para petinggi, Manager dan Staf semua berbaris menyambut kedatangan pemilik perusahaan serta CEO mereka yang baru yaitu Tigor.


"Selamat datang di kota Kemuning Boss besar!" Kata mereka serentak, lalu melanjutkan. "Selamat datang CEO yang baru!"


"Terimakasih. Terimakasih. Apakah semua sudah hadir?" Tanya Martin.


"Semua sudah hadir sejak tengah hari tadi Bos. Kami sengaja menunggu kedatangan Bos besar di sini." Kata mereka semua.


"Bagus. Mari kita masuk ke ruang rapat. Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan kepada kalian semuanya." Ajak Martin.


Kecuali anak buah Tigor yang langsung mengambil posisi berjaga, yang lain termasuk Tigor kini melangkah memasuki kantor besar itu dan langsung mengikuti kemana Martin melangkah.


"Perhatian! Perhatian! Untuk semua Petinggi, Staf dan karyawan di perusahaan yang meliputi Hotel, restoran, kafe serta pusat hiburan. Mungkin kalian sudah mengetahui tentang kedatangan ku kali ini ke kota Kemuning ini. Hal ini tidak lain karena masalah serius yang kita hadapi saat ini setelah Jordan, menyetujui kerja sama dan aliansi mereka terhadap pemimpin geng tengkorak yaitu Birong di kota Batu."


"Bagiku tidak masalah jika Jordan ingin membentuk aliansi dengan siapapun. Tapi karena hal ini bisa menimbulkan masalah bagi perusahaan kita, maka dari itu aku menempatkan anak angkat ku yaitu Tigor beserta dua ratus orang anak buah nya untuk menetap di sini sebagai CEO sekaligus menjadi penjaga seluruh aset dan properti ku di kota ini. Aku harap kalian bisa memberikan kerja sama kepada anak ku ini. Jika ada yang dengan sengaja tidak mematuhi, berkhianat ataupun dengan sengaja mempersulit pekerjaan nya, maka aku hanya bisa memberikan hukuman sesuai dengan tata cara organisasi. Apakah kalian mengerti?" Tanya Martin.


"Kami mengerti Bos besar. Dan kami akan memberikan kerjasama kami kepada Bang Tigor selalu CEO yang baru di perusahaan." Kata mereka.


"Baiklah jika begitu. Sekarang mari kita dengarkan kata sambutan dari CEO kita yang baru." Kata Martin sambil mempersilahkan Tigor untuk menyampaikan sepatah dua kata.


"Baik. Terimakasih atas waktu dan kesempatan yang telah diberikan kepadaku


Perkenalkan, namaku adalah Tigor Habonaran. Aku dari Tasik Putri dan dipindahkan ke kota Kemuning ini dengan tujuan tertentu. Diketahui bahwa kelompok yang dipimpin oleh Jordan selalu mengganggu di beberapa pusat hiburan milik Bos besar kita. Ini adalah salah satu alasan mengapa aku di tempatkan di kota Kemuning ini. Namun begitu, tanpa bantuan serta kerjasama dari kalian semua, mustahil aku mampu merealisasikan harapan Bos besar kita. Dengan sangat rendah hati, saya mengharapkan kerja sama dari semua pihak." Kata Tigor mengawali salam perkenalan nya.


Tepuk tangan bergemuruh ketika Tigor selesai dengan ucapannya.


"Hahaha. Terimakasih... Terimakasih!. Perlu kalian ketahui bahwa aku tidak ingin berada pada satu titik dalam waktu yang lama. Aku justru ingin melebarkan sayap. Bukan betah pada satu sasaran saja. Saat ini kita tidak perlu mengandalkan otot jika tidak di butuhkan. Waktunya otak yang bekerja."


"Jujur bahwa aku bukanlah orang yang pintar salam banyak hal, termasuk dalam bertutur bahasa. Namun aku percaya jika kita saling bekerja sama, kita akan sampai pada satu titik di mana ketika kita melihat kebawah, kita akan merasa gamang." Kata Tigor dengan penuh semangat.


"Jadi, maksud mu bagaimana Gor? Tanya Martin.


"Begini Pak. Anda kan telah memiliki hotel, beberapa restoran, kafe, serta pusat hiburan seperti club malam, spa, dan karaoke. Dengan uang hasil kemarin, Aku berencana ingin membangun panti asuhan, panti jompo serta sekolah sembilan tahun untuk anak-anak gelandangan serta yang buta huruf seperti sebagian besar anak buah ku. Namun aku akan tetap menggunakan nama perusahaan mu. Tujuan ku adalah agar antara bisnis hiburan dan badan amal bisa seimbang. Dengan begitu, kita akan dapat memenangkan hati masyarakat dan pemerintah daerah. Ketika kedua pihak ini bisa berada di belakang kita, maka kekuatan apapun tidak akan mampu merongrong kehadiran kita di kota ini." Kata Tigor.


"Benar-benar otak encer. Aku bahkan tidak terfikir metode ini. Kau lakukan saja seperti yang ada dalam planning mu. Masalah keuangan kau jangan risau. Aku akan mendukung mu." Kata Martin.


Tepuk tangan kembali bergemuruh ketika mereka semua mendengar bahwa Martin sangat mendukung rencana Tigor ini.


"Baiklah. Acara memperkenalkan diri ini cukup sampai di sini saja. Dan kau Tigor! Aku ingin berbicara dengan mu empat mata." Kata Martin sembari bangun dari kursi ketua yang didudukinya.


Setelah semuanya membubarkan diri, Tigor pun menghampiri Martin dan dengan hormat dia bertanya, "Ada apa pak?"


"Tigor. Aku tahu sebenarnya seperti apa isi hati mu. Kau telah banyak berkorban untuk mengangkat kembali organisasi kita ini dari tekanan yang di dapat dari geng tengkorak. Oleh karena itu, aku telah membuat surat wasiat. Jika sesuatu hal terjadi terhadap diri ku, aku ingin agar kau lah yang mewarisi seluruh aset serta properti milikku di kota Kemuning ini." Kata Martin.


"Yang benar Pak. Mana bisa begitu. Ini menurut ku terlalu berlebihan. Masalah nanti sama Marven." Kata Tigor ingin menolak rencana konyol Martin ini.


"Semua sudah aku putuskan. Aku menyesal karena kurang tegasnya aku membuat kau harus tersingkir dari gang kumuh. Untuk itu aku harap agar kau mau memaafkan aku."


"Alaaah. Apalah itu gang kumuh. Bukankah sekarang aku sudah berada di sini. Hanya saja satu pesan ku. Kau jangan terlalu percaya kepada Beni, Strong Keng dan Togi. Aku mencium adanya aroma penghianatan dari mereka." Kata Tigor mengutarakan kekhawatiran nya.


"Ah kau terlalu khawatir. Mereka itu adalah sahabatku sejak muda dulu. Mereka tidak mungkin seperti itu." Kata Martin menepis perkataan Tigor.


"Terserah kau saja lah mau percaya atau tidak. Di sisi mu ada Karman. Dia bisa menjadi jembatan penghubung antara aku dan dirimu. Jika kau mencium adanya persekongkolan antara ketika kucing kurap itu, segera utus Karman untuk menemui ku. Aku akan segera berangkat ke kota Tasik Putri."


"Ok lah. Kau tenang saja. Untuk saat ini, kau harus fokus kepada apa yang sudah ada dalam rencana mu. Jangan biarkan fikiran liar seperti itu mengganggu perhatian mu." Kata Martin pula.


"Baiklah Pak. Aku hanya menyampaikan apa yang aku rasa perlu aku sampaikan." Kata Tigor dengan nada suara penuh kekecewaan.