
Praaaak....!
Terdengar suara meja di tampar dengan sangat keras.
Ketika mendengar bahwa Beni mengungkit tentang perampokan di bangunan tua, mata Birong langsung berapi-api.
Jelas dia tidak bisa melupakan peristiwa yang menyebabkan gaagalnya dia menjadi tuan rumah dalam transaksi akbar dengan nilai ratusan juta USD itu.
Yang paling parah, buntut dari kegagalan itu mengakibatkan nama baiknya sebagai Mafia lokal yang disegani tercoreng sehingga organisasi yang dia pimpin kehilangan nama baik dan kepercayaan bagi seluruh mafia internasional.
Seakan memperparah keadaan, dia bahkan kehilangan dua orang pentolan geng tengkorak yaitu Dagol dan Prengki plus seratusan lebih anak buah nya terpanggang hidup-hidup di lokasi perkebunan karet milik PT.
Buntut dari kejadian yang ditimbulkan oleh Tigor dan anggota nya ini sampai sekarang masih sangat terasa oleh geng tengkorak.
Andai kehilangan lebih dari seribu nyawa anggota, Birong mungkin masih bisa merekrut anggota baru. Namun jika nama baik yang rusak, kemana obat akan dicari?
Beni memang sangat pandai memancing emosi Birong. Dan dalam hati dia tersenyum penuh kemenangan karena berhasil mendominasi jalannya pertemuan itu dengan dia kini sebagai pemegang kendali.
"Beni! Sampai mati pun aku tidak akan melupakan semua yang pernah dilakukan oleh Tigor kepada ku. Katakan apa saja yang kau perlukan untuk menyingkirkan anak setan itu! Aku pasti akan mendukung mu." Kata Birong.
"Benar. Bila perlu, kita bunuh dia malam ini juga!" Kata Togar dengan marah.
Saat ini Togar juga terbayang bagaimana dia dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan mayat Prengki di tandu kembali ke bukit batu dengan bekas luka tusuk di belakang kepalanya.
"Tidak mudah untuk membunuh Tigor bang! Selain dia sedang tidak berada di Kota Tasik putri saat ini, dia juga dikelilingi oleh anak buah nya yang siap mati untuk nya." Kata Beni mengeluh putus asa.
"Aku heran. Mengapa anak buah Tigor ini begitu setia terhadap Tigor."
"Jangan heran Bang Togar. Selain mereka sama-sama senasib sepenanggungan, mereka juga sudah melakukan ritual sumpah darah yang dilakukan di rumah pemberian Martin. Selain itu, yang paling aku takutkan adalah setan hitam si Black Cat ini yang bisa hadir di mana saja dan kapan saja. Aku juga sudah mendapat peringatan dari Black Cat ini." Kata Beni sambil menyodorkan sapu tangan bernoda darah kepada Togar.
"Ini bang. Sapu tangan seperti ini juga terdapat di atas mayat Bongsor. Juga ada di dekat potongan kepala Hasian."
"Apa?"
Mendadak Beni menggigil ketakutan.
"Aku memohon kepada kalian berdua abang-abang ku! Tolong lekas kita jalankan rencana ini supaya Tigor cepat tersingkir dari kota Tasik putri. Karena jika dia pergi, Black Cat juga akan pergi mengikutinya."
"Andai dia tersingkir? Kemana dia akan pergi? Karena tidak mungkin Martin akan memecat Tigor yang sudah banyak berjasa kepada geng kucing." Tanya Birong.
"Kota kemuning. Martin akan menempatkan Tigor ke kota kemuning." Jawab Beni.
"Hmmmm.... Kota kemuning. Hahaha... Dia akan berhadapan dengan Jordan di sana. Mantap. Biar dia tau bagaimana rasanya berhadapan dengan si penguasa kota kemuning itu." Kata Togar sambil tertawa.
"Kita harus memberi kabar kepada sekutu kita itu bang. Bagaimanapun, Jordan harus diberi tahu." Kata Togar lagi.
"Baiklah. Rencana sudah kita tetapkan dengan masing-masing dari kita sudah mendapat tugas dari setiap rencana yang kita buat. Sekarang kau cari tau kapan Tigor akan kembali ke kota Tasik putri. Setelah itu, kita mulai pergerakan." Kata Birong.
"Baik bang! Sekarang aku harus kembali ke kota Tasik putri untuk menghindari kecurigaan." Kata Beni.
"Sebaiknya memang harus begitu. Kita bisa berhubungan antara satu dan yang lainnya melalui telepon." Kata Birong.
"Jaga dirimu baik-baik Beni!" Kata Tumpal sambil memeluk sahabatnya itu.
"Kau juga Tumpal. Kita akan saling bertukar informasi."
"Strongkeng dan Togi! Aku harap kalian terus bekerja sama demi memuluskan rencana besar ini!"
"Kau tenang saja Tumpal! Kita bersahabat bukan setahun dua tahun. Aku dan kau sudah saling tau. Begitu juga dengan bang Birong dan Togar. Kita tetap memiliki hubungan baik walau dia sudah tidak lagi menjadi bagian dalam organisasi kucing hitam." Kata Strongkeng.
"Kau benar. Ternyata ada manfaatnya juga kalian dulu menolak ajakan ku. Bagus! Sekarang mari kita fokus menyingkirkan duri yang bernama Tigor ini dulu. Setelah itu, kita akan membahas rencana susulan untuk menguasai organisasi kucing hitam."
"Tenang saja Bang. Kita semua memilki peran kunci dalam hal ini. Oleh karena itu, kerjasama harus kita terapkan."
"Baiklah. Jika sudah sepakat, maka aku meminta diri dulu. Aku harus segera kembali. Jika tidak, Martin akan mencurigaiku."
"Silahkan. Hati-hati di jalan!" Kata Birong dan Togar. Lalu mereka saling berpelukan sebelum berpisah untuk menjalankan peran masing-masing dalam rencana yang telah mereka sepakati itu.
*********
Pagi menjelang siang itu di salah satu universitas di Kota Tasik putri, sedang kedatangan seorang mahasiswi baru bernama Della alias Butet.
Dia adalah seorang gadis yang beberapa tahun belakangan ini menimpa ilmu di salah satu universitas terbesar di Singapore yaitu National University of Singapore.
Dengan penampilan yang elegan, latar belakang yang bukan kaleng-kaleng, paras yang cantik dan yang pasti memiliki predikat mahasiswa terbaik di university tempat dia belajar sebelumnya, membuat Della alias Butet mulai menjadi primadona baru di kampus tempat dia akan kuliah.
Baru satu jam berada di kampus itu bersama Ayahnya yaitu Togar dan beberapa pengawal pribadi, Butet sudah menjadi perhatian para pemuda anak orang kaya yang belajar di universitas itu.
Hal ini membuat Butet begitu jumawa dan sangat yakin bahwa hanya dengan menjentikkan jari tangannya saja, Marven pasti akan segera bertekuk lutut dihadapannya. Namun sayangnya Marven sudah bukan mahasiswa lagi. Hal ini yang membuat Butet harus mencari cara agar bisa berhubungan dengan Marven. Tentunya hal ini sudah ada dalam kepala Beni sang penghianat.
Selesai mendaftarkan Butet, Togar pun langsung mengajak putrinya itu untuk berkeliling-keliling kota tasik putri ini sekedar melihat-lihat perumahan yang bisa dia beli untuk tempat tinggal anak gadis kesayangan nya itu.
Puas mencari kesana kemari, akhirnya Togar mendapatkan tempat yang pas atas rekomendasi dari Beni yaitu Gang kumuh.
Dengan uang yang dia miliki dan tidak pelit untuk memberikan uang tips membuat proses transaksi itu menjadi licin dan mulus.
Hanya butuh beberapa menit saja rumah yang mereka inginkan sudah berpindah tangan dan bertukar nama.
Dari sini lah babak baru dari rencana besar mereka di mulai.