
Dolok ginjang
Sore itu, ratusan anak buah geng kucing hitam di bantu oleh geng tengkorak memasuki kota Dolok ginjang lalu membuat onar di sana.
Awalnya Lalah menduga bahwa itu adalah ulah dari anak-anak jalanan yang sengaja memalak orang-orang biasa.
Namun, setelah Roger dan Sudung pulang dalam keadaan terluka, baru lah Lalah tau bahwa itu adalah perbuatan dari geng kucing hitam.
"Celaka bang. Marven sekarang benar-benar sudah gila. Dia memerintahkan Tumpal, Togi dan Strongkeng untuk menyerang kita. Sekarang ini, bengkel dan showroom milik Abang terbakar." Kata Sudung melaporkan dengan nafas megap-megap.
"Apa?"
"Lalu bagaimana selanjutnya?" Tanya Lalah.
"Mereka akan kemari Bos. Mereka membagi menjadi dua kelompok lalu memporak-porandakan markas bang Poltak." Kata Roger pula.
"Benar-,benar celaka sekali Marven ini. Ayo kita hadang mereka!" Kata Lalah mengajak kedua anak buahnya itu.
"Jangan Bos. Kita tidak akan sanggup melawan mereka yang memiliki jumlah ratusan orang itu. Sebaiknya Bos segera pergi ke kota Kemuning untuk menemui Tigor. Di sini sudah tidak aman " kata Roger lalu dia berkata lagi. "Poltak juga sudah melarikan diri. Cepatlah Bos sebelum mereka sampai di sini!" Kata Roger.
"Panggil Wulan dan segera berangkat ke kota Kemuning!"
Dengan tergesa-gesa, Lalah pun langsung menuju ke mobilnya yang terparkir di samping rumah besar itu.
Tak lama kemudian Roger dan Sudung pun sampai dengan membantu seorang gadis membawa barang-barang nya.
"Cepat Nona! Kita sudah tidak punya banyak waktu lagi." Kata Roger sambil membantu gadis itu membukakan pintu mobil.
Tak lama setelah itu, rombongan yang terdiri dari lima mobil itu pun bergerak menuju kota Kemuning dengan melalui jalan memutar tanpa melewati kota Tasik Putri.
"Aku harus segera menelepon Poltak." Kata Lalah lalu meraih ponselnya.
Lama dia menunggu akhirnya panggilan itu pun tersambung juga.
"Hallo."
Terdengar satu suara dengan nafas memburu di seberang sana.
"Poltak. Bagaimana sekarang?" Tanya Lalah.
"Hancur semuanya. Tidak ada lagi yang tersisa." Jawab Poltak melalui panggilan telepon itu.
"Di mana kau saat ini?" Tanya Lalah.
"Aku sedang menuju ke kota Kemuning untuk meminta perlindungan dari Tigor." Jawab Poltak.
"Ya sudah kalau begitu. Kita bertemu di sana saja." Kata Lalah lalu mengakhiri panggilan telepon seluler tersebut.
"Bagaimana Bos?" Tanya Roger yang bertindak sebagai sopir.
"Sama saja. Dia juga sedang mengarah ke kota Kemuning."
"Tampaknya hanya Tigor saat ini yang masih kuat dan bisa memberikan perlindungan kepada kita." Kata Lalah.
"Marven ini benar-benar sudah gila. Aku seperti tidak percaya kepada anak Martin yang tolol dan goblok itu bisa bertindak sejauh ini." Kata Wulan yang menganggap kejadian ini bagaikan mimpi.
"Marven saat ini dikelilingi oleh orang-orang yang penjilat serta haus kekuasaan." Kata Lalah.
"Apa jangan-jangan kematian Paman Martin adalah karena perbuatan dari Marven ini." Tanya Wulan.
"Aku pun berfikiran sama dengan Nona Wulan, Bos. Martin adalah orang yang baik. Dia tidak pernah mau bermusuhan dengan siapapun kecuali Birong." Kata Roger pula.
"Andaipun itu perbuatan Marven, siapa yang tau? Apakah kita punya bukti?"
"Memang ada, Ayah. Tapi itu hampir setahun yang lalu. Ada yang mencoba untuk mengadu domba antara aku, Tigor dan Marven. Aku dan Tigor yang menjadi korbannya. Hal itu juga yang menyebabkan Tigor terbuang sebelum waktunya ke kota Kemuning."
"Hmmm... Jika sudah begini, mau bagaimana lagi. Harapan satu-satunya adalah Tigor.
Aku yakin untuk menyerang ke kota Kemuning, Marven harus berfikir seribu kali. Ini karena di sisi Tigor memiliki orang-orang yang sangat bagus dalam hal-hal pertarungan seperti itu."
"Ayo Roger! Percepat laju kendaraan ini. Kita harus segera sampai di kota Kemuning pagi ini." Pinta Lalah.
"Baik Bos." Jawab Roger lalu segera menekan gas untuk menambah kecepatan laju kendaraan yang mereka tumpangi itu.
*********
Kota Kemuning
Pagi itu, tampak tiga unit mobil memasuki kawasan perumahan staf perusahaan milik mendiang Martin.
Dari dalam keluar sekitar sepuluh orang lelaki berbadan tegap yang tampak menderita luka memar diwajahnya.
Seorang lelaki lalu segera membukakan pintu mobil yang berada di tengah lalu keluarlah seorang lelaki berusia 45-tahun dan segera menghampiri pos Security.
"Maaf pak. Apakah Tigor berada di sini?" Tanya lelaki setengah baya itu.
"Oh. Ada pak. Tapi sepertinya bang Tigor saat ini masih belum sembuh."
"Tolong sampaikan kepada Tigor, bahwa Poltak dari Dolok ginjang berada di sini." Pinta lelaki setengah baya yang mengaku bernama Poltak itu kepada pak Security penjaga kawasan perumahan itu.
Security itu hanya menurut saja lalu mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan suara.
Hampir sepuluh menit berselang, tampak sepuluh orang lelaki muda keluar dari rumah dengan salah satu dari kesepuluh lelaki muda itu berjalan menggunakan tongkat.
Sambil terjinjit-jinjit karena kakinya yang masih sakit itu, pemuda itu memaksakan juga tersenyum lalu menyapa.
"Ah. Ternyata itu pak Poltak." Kata pemuda itu.
Namun dia sedikit heran ketika melihat beberapa orang anak buah lelaki yang dia panggil dengan sebutan Poltak itu mengalami cedera di beberapa bagian di tubuh mereka.
Dengan perasaan heran dia pun bertanya. "Pak Poltak. Ada apa ini? Mengapa dengan anak buah mu?"
"Ini lah Tigor. Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba orang-orang Marven dibantu oleh geng tengkorak datang ke Dolok ginjang lalu menyerang markas ku." Jawab Poltak.
"Apa? Ada masalah apa sebenarnya antara pak Poltak dengan Marven?" Tahta Tigor.
"Aku pun tidak tau. Makanya aku katakan tidak ada angin dan tidak ada hujan mereka tiba-tiba menyerang." Jawab Poltak.
Tigor dan sembilan orang sahabatnya tampak termenung sejenak mendengar jawaban dari lelaki pengusaha barang palsu ini.
"Jelas Marven kini sudah berkomplot dengan Birong. Celaka jika sudah begini." Gumam Tigor seperti berbicara pada dirinya sendiri.
"Aku mendengar mereka juga sudah mengumpulkan semua geng-geng kecil dan memaksa mereka untuk masuk ke dalam organisasi kucing hitam. Jika mereka menolak, maka seperti kejadian yang menimpa kami ini lah." Kata Poltak sambil menunjukkan kepada Tigor keadaan anak buahnya.
"Mari kita bicara di dalam saja pak. Di sini tidak enak jika di lihat orang. Maafkan jika aku tidak bisa membantu. Ini karena keadaan ku juga sangat tidak memungkinkan." Kata Tigor dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Ah tidak apa-apa. Kau bisa menceritakan kepada ku apa yang terjadi dengan mu nanti." Kata Poltak.
Baru saja mereka akan melewati pos Security untuk masuk ke kawasan perumahan, tiba-tiba dari jauh tampak lima unit mobil yang sangat dikenali oleh Tigor sedang menuju ke tempat mereka.
"Itu pasti Lalah." Kata Poltak.
Lalu mereka pun membatalkan niat untuk memasuki kawasan perumahan itu dan kini sama-sama berdiri untuk menunggu rombongan Lalah sampai di dekat mereka.