
"[Wah siapa yang di bawa oleh asisten direktur itu?]."
"[Dia juga cantik, apakah dia karyawan baru lagi?]."
"[Tidak mungkin, pakaiannya saja begitu mewah!]."
Beberapa koki terlihat berbisik-bisik karena melihat kedatangan asisten dan Foury yang secara tiba-tiba. Mereka juga belum pernah ketemu atau melihat Foury di perusahaan itu. Mereka belum tahu bahwa yang di bawa oleh asisten direktur adalah kakaknya Lacky.
"Sepertinya wanita itu tidak ada di sini? Aku tidak melihatnya."
Foury sedikit kecewa karena ia tidak menemukan Luxia di dapur, ia segera pergi dari tempat itu dan kembali memasuki lift untuk turun kebawah. Ana juga memerintahkan semua koki di dapur untuk fokus bekerja lagi, karena ia sedikit kesal melihat koki di sana, malah berbisik-bisik di depan kakaknya direktur.
--
"Kenapa kalian begitu ribut?."
Luxia tiba-tiba keluar dari ruangan khusus penyimpanan daging (ruangan pendingin), ia bingung melihat teman-temannya berbisik-bisik seperti sedang membicarakan seseorang.
"Tadi asisten direktur membawa seseorang wanita cantik dengan pakaian mewah kesini. Aku juga tidak tahu dengan wanita itu sepertinya itu tunangan direktur yang dirumorkan dulu?."
Luxia sedikit terkejut mendengar penjelasan dari Zee, ia tidak tahu bahwa direktur yang ia sukai sudah bertunangan dengan orang lain. Ia hanya bisa tersenyum berbicara dengan Zee. Ia juga sadar dirinya tidak akan pantas bersama Lacky karena ia hanya gadis miskin dan tidak cantik.
"Begitu ya, sayangnya aku tidak melihatnya."
Luxia terlihat biasa saja membalasnya. Ia seperti sudah kehilangan semangat, mungkin takdirnya hanya sebatas bos dan karyawan saja. Kebaikan direktur itu mulai ia anggap adalah sebagai karyawan biasa tidak lebih dari itu.
Hatinya mulai merasakan sakit karena ia tidak tahu mengapa, dari saat pertama kali bertemu dengan Lacky ia sedikit menyukai Lacky karena perlakuannya kepadanya. Sekarang ia tahu bahwa Lacky sudah mempunyai tunangan, kali ini ia tidak akan berharap lagi dan tidak akan terbawa perasaan dengan kebaikan yang Lacky berikan kepadanya nanti.
--
Beberapa jam kemudian..
"Apa kamu mau pulang bersamaku?."
"Eh pak Lacky?."
"Jangan panggil bapak lagi? Ini bukan jam kerja lagi."
"Maaf, aku merasa lebih enak memanggilnya seperti itu!."
"Ya sudah kalau begitu."
Luxia terlihat mulai dingin, ia berusaha untuk tidak menggangu hubungan orang lain sebisa mungkin. Namun Lacky sedikit merasa sedikit malu karena ini adalah pertama kalinya ia mengajak seseorang wanita untuk pulang bersama dengannya.
"Apa kamu mau pulang bersama?."
"Maaf pak! Aku sudah janji dengan seseorang, jadi pak Lacky duluan saja."
Luxia berusaha berbohong untuk menghindari Lacky, namun tidak demikian kebohongannya itu sebenarnya dapat di ketahui oleh Lacky. Ia tidak tahu bahwa Lacky memiliki mata kejujuran. Ia tahu Luxia berkata bohong atau tidak dengannya.
"(Kenapa dia berkata bohong seperti itu? Apa dia tidak mau pulang bersamaku?)."
Lacky sedikit kecewa dengan jawaban Luxia, ia juga sedikit terdiam memikirkan alasan Luxia menolaknya. Ia bingung harus berkata apa lagi, ia hanya bisa pergi meninggalkan Luxia sendiri dipinggir jalan.
"Baiklah aku duluan ya."
"Iya pak! Hati-hati ya."
"Iya."
Terlihat Lacky memasuki mobilnya dengan wajah kecewa karena tidak bisa pulang bersama dengan Luxia, ia masih kecewa mengapa Luxia begitu tega berbohong dengannya.
--
"Maafkan aku pak Lacky? Aku tidak mau menjadi pengganggu dalam hubungan orang lain."
Ketika Lacky sudah jauh dari Luxia. Ia sedikit bergumam dan meminta maaf kepada Lacky karena sudah berkata bohong. Ia hanya ingin hubungan Lacky dan calon istrinya baik-baik saja.
"Luxia? Kenapa kamu di sini? Apa kamu sedang menunggu seseorang?."
Tiba-tiba Zee menghampiri Luxia yang masih berdiri di pinggir jalan. Ia sedikit bingung mengapa Luxia masih berada di sana padahal taksi dan angkutan umum selalu melewatinya.
"Hah? Zee! Aku kira kamu sudah pulang?."
"Kamu nungguin aku ya? Oh maaf kalau begitu sudah menyusahkanmu?."
Terlihat Zee mencoba untuk bercanda dengan Luxia yang masih terlihat tidak tenang, ia hanya ingin mencoba menghibur Luxia, karena ia sedikit menyadari dari raut wajah Luxia terlihat ada masalah yang sedang ia pikirkan.
"Haha..Siapa juga yang nungguin kamu?."
Luxia terlihat sudah kembali seperti biasanya, ia dengan cepat membalas candaan Zee kepadanya karena ia sudah mengetahui bahwa Zee sudah menikah.
"Oh! Aku kira itu..Hehe.."
"Nanti istri kamu marah kalau dekat-dekat aku nanti?."
"Haha..Kamu tidak tahu ya aku ini sudah sendiri?."
Zee terlihat berusaha tenang setelah mendengar perkataan Luxia, ia juga sedikit mengingat kejadian masa lalunya yang dulu ia alami bersama istrinya yang kini sudah meninggal cukup lama.
"Heh? Kenapa? Bukankah kata teman-teman yang lainnya kamu sudah menikah?."
"Iya! Tapi dia sudah meninggal 5 tahun yang lalu."
Zee masih mengingat masa lalu yang belum pernah ia lupakan itu. Luxia juga sangat terkejut karena ia belum tahu bahwa istri Zee telah meninggal sudah lama, ia hanya mengetahui bahwa Zee sudah menikah.
"Ah! Maafkan aku Zee! Aku tidak tahu!."
"Terus sekarang kamu tinggal dengan siapa?."
"Dengan putriku."
Wajah Zee kembali ceria ketika membahas tentang putrinya, itu adalah hadiah terindah dari peninggalan istrinya yang sangat ia cintai. Ia sangat menyayangi putrinya yang sudah berumur 5 tahun.
"Wah? Kamu ternyata sudah punya anak?."
"Apakah kamu ingin mampir?."
Zee ingin mengajak Luxia pergi ke rumah orang tuanya, dimana ia meminta kedua orang tuanya untuk menjaganya saat ia berada di perusahaan. Zee akan menjemput putrinya ketika pulang bekerja.
"Apa tidak apa?."
"Tidak apa, lagi pula ibuku dan ayahku sedang menjaga anakku di saat aku pergi bekerja."
"Wah! Baiklah! Kalau itu tidak merepotkan."
"Baiklah, kamu tunggu di sini! Aku akan mengambil mobilku terlebih dulu."
Terlihat Zee begitu terburu-buru berjalan menuju tempat dimana ia memarkirkan mobilnya. Luxia juga terlihat tidak sabar ingin melihat putri Zee, ia tidak tahu mengapa sangat menyukai anak-anak terutama seorang anak perempuan. Ia dulu sangat ingin mempunyai adik perempuan namun hal itu tidak akan terwujud bagaimanapun caranya, karena ia saja belum pernah bertemu dengan orang tuanya ketika ia hidup bersama dengan neneknya.
*****
"Ayah pulang! Dimana putri cantik ayah."
"Ayah-? Siapa dia yah?."
Tiba-tiba seorang anak perempuan berlari ke pintu masuk rumah, ia dengan sangat gembira pergi memeluk Zee. Ia juga sedikit bingung karena baru pertama kalinya ia melihat wanita bersama dengan ayahnya.
"Ini perkenalkan Luxia teman kerja ayah?."
"Salam kenal tante Luxia, namaku Zesy umur 5 tahun."
Zesy begitu pintar memperkenalkan dirinya kepada Luxia, ia begitu sopan dengan tamu yang di bawa oleh ayahnya. Karena ia selalu di ajarkan sopan santun terhadap orang lain, baik itu yang di kenalnya atau tidak.
"Wah! Pintarnya kamu! Ini buat kamu."
Luxia terlihat mengambil cemilan yang ia simpan di dalam tas kecilnya, ia tidak tahu apakah Zesy menyukainya atau tidak, ia tetap memberikannya.
"Wah coklat? Bolehkah aku menerimanya ayah?."
"Tentu saja itu kan pemberian dari tante Luxia."
"Makasih tante Luxia. Zesy akan memanggil kekek dan nenek."
Zesy langsung berlari meninggalkan ayahnya dan Luxia yang masih berada di dekat pintu masuk. Ia juga terlihat senang karena ayahnya membawa satu teman lagi untuk bermain dengannya di rumah itu.
--
"Mari duduk dulu, maaf rumah kami sedikit kecil."
Terlihat ayahnya Zee yang sedikit tua meminta maaf kepada Luxia, ia takut kalau Luxia merasa tidak suka dengan ruangan yang sempit.
"Tidak apa kok."
"Ini beberapa cemilan, semoga suka."
Terlihat ibunya Zee membawakan mereka makanan ringan dan minuman. Ia juga tidak tahu apakah Luxia menyukai atau tidak, ia juga sedikit penasaran siapa wanita yang sedang di bawa oleh Zee.
"Ayah ibu, perkenalkan ini teman kerjaku namanya Luxia. Aku mengajaknya kesini karena ia ingin bertemu dengan Zesy."
Mereka terlihat sudah berkumpul di ruangan tamu dengan duduk beralaskan karpet di lantai. Rumah orang tua Zee hanya hidup sederhana, mereka tidak memiliki kursi atau sofa di ruang tamu, karena ini pertama kalinya Zee membawa tamu seorang wanita kecuali almarhum istrinya.
Ibu dan ayahnya Zee juga sedikit senang dan menebak Luxia adalah calon ibu untuk Zesy di masa depan. Mereka terlihat begitu senang dan tersenyum memandangi Zee.
"Ayah ibu kenapa kalian terus melihatku dengan tatapan seperti itu?."
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa senang."
Ibunya Zee terlihat senang berbicara dengan Zee, ia juga sangat merestui jika Zee segera menikah dengan Luxia. Ia juga merasa bahwa Luxia wanita yang baik-baik.
"Kapan kalian akan menikah?."
Ayahnya Zee tanpa berpikir panjang lagi, ia segera menanyakan hal itu kepada Luxia yang sedang mengobrol dengan Zesy. Ia tidak tahu bahwa Zee dan Luxia hanyalah teman kerja saja.
"Urgh..Hah? Menikah?."
Luxia langsung kaget setelah mendengar ucapan dari ayahnya Zee yang secara tiba-tiba bertanya kepadanya tentang pernikahan, sedangkan ia tidak pernah berhubungan dengan Zee.
"Ibu ayah! Kami hanya sebatas teman di kantor, jadi hubungan kami tidak seperti yang kalian pikirkan?."
"Bukan seperti itu ya?."
Ibunya Zee sedikit kecewa setelah mendengar penjelasan dari Zee. Luxia juga masih terdiam dan tidak bisa berbicara apapun karena ia masih sedikit kaget karena itu pengalaman pertamanya di salah pahami ketika berkunjung.
"Sepertinya aku sudah terlalu lama di sini, aku mau pamit pulang dulu ya?."
Luxia segera meminta izin kepada kedua orang tuanya Zee untuk pulang ke rumah. Hanya itu alasannya menghindari rasa penasaran kedua orang tuanya Zee, ia tidak mau salah paham itu terus berlanjut. Ia masih merasa gugup berhadapan dengan orang tua Zee dan memutuskan untuk pulang saja.
Bersambung...
Jangan Lupa di Like, Subscribe, dan Share. Oh iya Vote-nya juga. Agar Author Semakin Semangat Updatenya. Makasih.