
...Taipa Macau....
Tepat sekitar pukul sembilan pagi waktu setempat, tampak seorang lelaki pendek sedikit gemuk berkepala botak, memiliki kulit kuning langsat dan bermata sipit berjalan tergesa-gesa menuju ke arah salah satu kamar hotel dan langsung mengetuk pintu.
Tok tok tok..!
"Mister King no Kong! Apakah anda ada di dalam?" Kata lelaki botak tadi.
Tidak lama setelah itu terdengar suara jawaban dari dalam kamar tersebut.
"Siapa di luar?"
"Ini aku Mister Long Kang. Aku membawa berita penting untuk mu dari Tasik putri."
Beberapa detik. Kemudian tampak pintu kamar hotel itu terbuka dari dalam dan terlihat seorang pemuda tampan berambut belah tengah, sedikit panjang dan berwarna agak pirang itu.
"Berita apa yang akan kau sampaikan Mister Long Kang?"
"Ini berita yang tidak enak untuk di dengar. Tapi yang jelas, aku harus menyampaikan berita ini kepada anda."
"Tadi subuh sekitar pukul 4 waktu setempat, pusat hiburan, restoran, perumahan staf serta beberapa bangunan lainnya di sekitar pusat hiburan dan restoran Samporna telah dilalap api. Martin baru saja menelepon Ming kang Khang untuk menyampaikan berita ini kepada mu." Kata Mr.Long Kang.
"Apa....?"
Pemuda tampan itu terkejut mendengar kabar yang di bawa oleh Mister Long Kang barusan.
Dia berfikir bagaimana bisa terbakar jika tidak ada yang membakar bangunan yang selalu di jaga selama 24 jam itu.
"Mister Long Kang! Apakah ada pesan lain dari Tasik putri?" Tanya pemuda itu.
"Tidak Mister King no Kong. Hanya itu saja. Namun, Pak Martin berpesan, setelah tidak ada lagi yang anda kerjakan di sini, anda harus segera kembali ke Tasik putri." Jawab Mister Long Kang.
"Oh ya. Ini simcard yang aku janjikan kemarin. Nanti setelah di Hongkong, anda dapat menggunakannya. Sekarang anda bersiap-siap lah! Kita akan segera kembali ke Hongkong."
"Baik lah. Aku sudah siap sejak tadi. Mari kita cek out. Aku harus segera kembali ke Kota tasik putri. Aku merasa ada yang tidak beres." Kata Pemuda itu sambil memasuki kamar dan mengambil barang-barangnya lalu bergegas keluar.
Setelah semua urusan administrasi di hotel tempat dia menginap telah diselesaikan oleh Mister Long Kang, pemuda itu pun berjalan keluar hotel di mana sudah menunggu puluhan mobil Rolls Royce di area parkir.
"Kita berangkat sekarang Mister King no Kong?!"
"Mari Mister. Kita harus segera meninggalkan Macau ini."
Tak lama setelah pemuda itu dan Mister Long Kang memasuki mobil, rombongan itu pun segera berangkat menuju area Lisboa Casino di kawasan itu untuk terus bergerak menuju ke Tsim Sha Tsui Hongkong.
Tiba di Tsim Sha Tsui, hal pertama yang dia lakukan adalah menelepon Martin dan bertanya ini dan itu untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Namun karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, pemuda itu akhirnya meminta Martin untuk menyuruh nakhoda/sopir speed boat sewaan untuk bersiap menunggu rombongannya nanti malam di pantai Tsim Sha Tsui.
Tau bahwa dia tidak.akan.mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Martin yang ternyata tidak tau apa-apa, pemuda itu memutuskan untuk.menelepon Monang. Namun saat ini ponsel milik Monang ternyata tidak aktif sehingga dia pun memilih untuk menelepon Ucok.
"Hallo siapa ini?"
Terdengar satu suara dari seberang telepon.
"Cok! Ini aku Tigor." Jawab pemuda itu.
"Ah Bang Tigor. Bagaimana kabar mu di sana?Mengapa tidak memberi kabar?" Tanya Ucok.
"Sulit di sini untuk menelepon. Untung saja mitra bisnis ku berbaik hati mendaftarkan kartu sim Hongkong. Kau kan tau kalau kita ini semuanya sama-sama goblok soal handphone." Jawab Tigor.
"Kacau bang. Sangat kacau subuh tadi."
"Coba kau jelaskan!"
"Si bangsat ular kepala dua Beni itu lah. Dia bekolusi dengan geng tengkorak untuk menjatuhkan Monang." Lalu Ucok pun menceritakan semuanya kepada Tigor.
(Untuk lebih jelasnya, silahkan baca bab 102 dan bab 103)
"Kurang ajar. Lalu bagaimana keadaan di sana?" Tanya Tigor.
"Saat ini semua terkendali bang. Martin tidak mau ambil pusing. Dia juga sudah dipengaruhi oleh Beni dan mengatakan bahwa Monang tidak becus melakukan pekerjaan. Saat ini dia sedang getol-getolnya merekomendasikan putranya Irfan untuk menggantikan Monang di pusat hiburan gemerlap malam. Oleh karena itu, Martin sangat sulit untuk di dekati karena ditempel terus sama Beni. Dia juga lebih memilih membayar ganti rugi atas kerusakan yang diakibatkan oleh kebakaran itu. Susah sekarang bang mau menjelaskan permasalahannya kepada Martin" Jawab Ucok.
"Lalu bagaimana dengan Monang?" Tanya Tigor.
"Ini lah yang masih menjadi tanda tanya. Sekitar sepuluh menit yang lalu, Marven bersama puluhan anggota anak buah Beni menjemput Monang dan di bawa ke komplek elit tasik putri. Mungkin dia akan di hajar di rumah Martin. Belum ada kabar dari Monang." Jawab Ucok.
"Sialan. Sampaikan kepada mereka. Jika Monang sampai cedera, bukan hanya pusat hiburan yang terbakar. Aku bahkan akan meratakan rumah Martin dengan tanah." Bentak Tigor.
"Aku mana berani menyampaikan itu bang. Siapa lah aku yang hanya tukang jaga parkir." Jawab Ucok.
"Baiklah Cok. Mungkin malam ini aku akan kembali ke Tasik putri. Baru seminggu aku tidak di sana, keadaan sudah kacau begini." Kata Tigor.
"Bang. Kami sudah berusaha bang. Tapi abang kan tau siapa lawan kami. Itu Beni bang! Dia orang dalam, dekat dengan Martin, tau seluk beluk dalam organisasi ini. Coba lah abang fikir sendiri bagaimana kami bisa menghentikan Beni ini. Kami terjebak di tengah-tengah dengan musuh berdatangan dari dua sisi utama kota Tasik putri ini." Jawab Ucok membela diri.
"Ya sudah Cok. Maafkan aku. Kau lekas kembali ke Blok B. Jaga Mirna di sana. Keberangkatan ku sudah bocor. Aku tidak tau entah hantu apa nanti yang menunggu ku di kuala nipah. Mereka tidak akan berhenti sampai kita tersingkir dari tasik putri. Dengan begitu, mereka bisa menjadikan Martin sebagai ketua boneka bagi mereka untuk kepentingan masing-masing."
"Ok lah Cok! Aku akhiri dulu telepon ini. Jaga dirimu di sana!" Kata Tigor berpesan.
"Jangan Khawatir bang!" Jawab Ucok.
Selesai dengan panggilan telepon itu, tampak Tigor berkali-kali menarik nafas dalam-dalam.
Ketika Andra, Ameng, Timbul dan Acong mengetahui hal ini, mereka juga sangat terkejut.
Hal yang tidak pernah mereka fikirkan adalah, hampir dua ratus orang yang mereka siagakan sebelum keberangkatan ke Hongkong ternyata tidak berguna sama sekali di hadapan Beni.
"Kurang Ajar Beni ini. Kembali ke Tasik putri, hal pertama yang harus kita lakukan adalah memenggal kepala Beni." Kata Andra.
"Iya bang. Suruh saja Black Cat memenggal kepala Beni. Aku ingin bangsat celaka itu segera mati. Hidup pun hanya merugikan saja apa guna nya." Kata Acong.
"Tidak bisa. Kita tidak boleh melakukan itu. Terlalu mencolok dan kasar. Kita juga harus memikirkan konsekwensi nya. Ada masalah seperti ini, lalu kita kembali dari hongkong. Setelah itu Beni mati. Apa kau kira kita akan selamat dari kecurigaan orang-orang dari golongan Mafia dan Gengster. Kita pasti akan di musuhi." Kata Tigor.
"Lalu bagaimana dengan Black Cat? Bukankah dia membunuh di sana-sini. Tapi aman-aman saja." Kata Timbul.
"Kau kenal siapa Black Cat? Seperti apa wajah nya? Pernah lihat identitas nya?
Tidak ada yang mengenal Black Cat. Makanya dia bisa bertindak sesuka hati. Namun yang jadi masalah adalah, ketika kita yang dapat di kenal ini membuat masalah, kita akan mudah dijadikan target oleh mereka. Bodoh kalau kita tidak berfikir sampai ke sana." Kata Tigor.
"Aku tidak takut dengan geng tengkorak kalau hanya mereka saja yang menjadi lawan kita. Namun jika seluruh Sumatra ini memusihi kita, maka semuanya sudah selesai. Dan Beni ini bisa memicu hal itu.
Bersabar lah! Suatu saat dia akan membuat kesalahan. Sekali dia berbuat salah, maka aku akan memenggal kepalanya. Sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh juga akhirnya." Kata Tigor lagi.
Semua hanya diam saja mendengar penjelasan dari Tigor ini. Bagi mereka, memang ada benar nya juga.
Justru saat ini mereka harus berhati-hati dengan Beni. Karena, bisa saja Beni berpura-pura cedera dan mengatakan jika kelompok Tigor yang mencelakai dirinya.