
Senja kini beranjak berubah menjadi malam dan sang rembulan pun menggantikan peran matahari. Walaupun tidak seterang cahaya yang dimiliki oleh matahari, namun itu sudah cukup bagi seorang pemuda berpakaian serba hitam dengan mengenakan mask berlambang kucing yang juga berwarna hitam untuk melihat para muda-mudi yang sedang duduk-duduk berduaan diatas bangku yang terbuat dari kayu yang memang tersedia di taman kota Tasik putri itu.
Tidak ada yang berani menegur sapa pemuda yang memakai topeng kucing itu.
Ketika ada muda-mudi yang kebetulan lewat, mereka akan mencari jalan lain. Mungkin karena takut atau apa lah itu. Dan pemuda itu pun tampak tidak mempermasalahkan semua itu.
Sosok hitam yang di kenal oleh golongan bawah tanah dengan sebutan Black Cat itu tampak sedang mendongak memandangi bulan yang tampak sempurna di atas sana.
Jauh di lubuk hatinya masih terbayang adegan sore tadi di mana dia harus memenggal kepala seorang anggota sesama kucing hitam yang terlalu membangkang.
"Huhhf. Seharusnya aku tidak perlu melakukan semua itu. Namun jika aku hanya berdiam saja, lama kelamaan kepala ku yang akan hilang oleh mereka. Dasar Martin sialan. Lihat saja kau sebentar lagi pasti akan jatuh oleh mereka." Kata Black Cat dalam hati.
Melihat ke arah jam tangan sudah menunjukkan pukul sembilan, Black Cat pun beranjak dari tempat duduk nya menghampiri sepeda motor miliknya lalu segera berlalu meninggalkan kawasan taman itu menuju kebagian belakang restoran elit samporna.
Ketika dia tiba di gemerlap malam, salah satu pusat hiburan terbesar di kota Tasik putri ini, dia segera memasuki bangunan maksiat itu dan terus saja berjalan ke arah sebuah bar.
"Sialan. Aku lupa. Bagaimana aku bisa minum dengan mulut tertutup topeng ini." Kata Black Cat dalam hati.
Dia segera mengurungkan niatnya dan terus saja berjalan menuju sofa kosong dan duduk di sana tanpa memperdulikan ratusan pasang mata yang memandang ngeri kepadanya.
Tidak berapa lama setelah dia duduk, terlihat empat orang lelaki menghampiri nya dan langsung menyapa.
"Black Cat. Tumben kau datang kemari?" Tanya salah seorang dari lelaki itu.
"Monang. Duduklah! Aku perlu bicara dengan mu." Kata Black Cat.
"Apakah itu serius? Jujur saja. Sebenarnya aku takut dekat dengan mu. Ini karena kau sangat terkenal haus darah."
"Oh ya?! Bagaimana kau tau namaku?" Tanya Monang heran.
"Aku tau semua kalian berempat ini. Tidak ada yang luput dari perhatian ku. Kau pasti Karman. Kau juga aku kenal. Nama mu Jabat kan? Dan kau juga. Kau adalah Ucok prakoso." Kata Black Cat sambil menunjuk satu per satu dari ketiga lelaki yang masih berdiri itu.
"Jangan Black Cat. Aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Jika ada, tolong kau maafkan aku!" Kata Karman menggigil ketakutan.
"Beginikah seorang lelaki yang mengaku memiliki ilmu padi?"
"Aku kemari bukan untuk melakukan apa-apa. Aku hanya ingin bertemu dengan seorang gadis di sini. Kalian tidak perlu menunjukkan kepadaku. Itu karena aku belum tau siapa namanya. Aku sengaja meminta izin kepadamu untuk mencarinya sendiri." Kata Black Cat sambil bangkit dari duduk nya.
Sebelum dia pergi, dia menepuk pundak Monang dan mencubit pipi Ucok.
"Tunjukkan padaku di mana kamar wanita-wanita peliharaan mu Monang! Cukup tunjukkan jalan nya saja!" Kata Black Cat.
"Di sana. Kau terus saja naik ke lantai dua, ikuti lorong ke kiri. Kau akan menemukan deretan kamar. Kau cari lah siapa yang kau mau." Kata Monang.
"Terimakasih sobat." Kata Black Cat lalu segera pergi.
Ketika dia melangkah membelah lautan manusia yang sedang berjoget, semua mereka menghindar. Bahkan ada yang tunggang langgang karena ketakutan.
Black Cat tidak memperdulikan semua itu. Dia terus menuju kearah tangga dan mulai menapak satu per satu anak tangga dan terus berjalan mengikuti petunjuk dari Monang tadi.
"Dimana kamar gadis itu? Apakah aku harus membuka setiap pintu?" kata Tigor membatin dalam hatinya.
"Alah persetan lah. Bukanya aku sudah biasa melanggar. Kali ini apa salah nya melanggar para hidung belang yang tidak tau diri ini." kata Tigor lagi dalam hati.
Setelah berjalan mengikuti lorong dan berbelok ke kiri, Tigor mulai mendorong pintu kamar satu per satu untuk menemukan wanita yang dia cari.
Ekoran dari tindakan tindakan Tigor alias Black Cat ini membuat penghuni kamar terkejut dan menjerit.
Ada yang sengaja memancing agar Tigor memasuki kamar itu. Ada yang memang sedang telanjang bulat melayani pelanggan dan begitu pintu kamar itu di buka secara paksa oleh Tigor, mereka yang ada di dalam menjerit histeris.
"Mati aku kalau begini caranya." kata Tigor alias Black Cat dalam hati.
Setelah sekian lama mencari, akhirnya Black Cat tiba di kamar nomor 12 dan segera mendobrak pintu.
Gubraaak...!
Karena pintu yang tidak di kunci itu didorong dengan sangat kasar oleh Black Cat menyebabkan tubuh nya terlempar kedalam dan jatuh tertekungkup tepat di depan ranjang dimana ada seorang wanita yang sedang melamun di atas nya.
Lamunan wanita itu seketika buyar ketika melihat sesosok hitam menerpa masuk lalu nyungsep di pinggir ranjang.
'Awww... Siapa kau? Mengapa masuk ke kamar dengan cara seperti itu?" Tanya wanita itu karena kaget.
"Ma.. Maafkan aku Nona. Aku tidak sengaja." Kata Black Cat sambil berusaha bangun.
"Kamu?!" Kata Wanita itu begitu melihat ke arah Black Cat yang sudah berdiri.
"Kita bertemu lagi Nona." Kata Black Cat.
"Untuk apa kamu kemari? apakah kau ingin mendapat layanan dari ku?" Tanya gadis itu.
"Bukan.. Bukan. Tidak begitu Nona. Aku kemari karena.., anu. Eh... karena.., karena...,"
"Karena apa? Jika tidak menginginkan layanan, lalu untuk apa kau datang kemari?" Tanya gadis itu heran.
"Mati aku. Apa alasan ku?"
Jika tidak karna wajah yang tertutup topeng itu, pasti wajah Black Cat akan terlihat bersemu merah karena malu.
"Aku hanya ingin tau siapa nama mu. Hanya itu saja!" Kata Black Cat.
"Nama ku Mirna. Apakah itu cukup?" Tanya Gadis itu sambil menatap lurus ke arah Black Cat sambil berusaha menebak seperti apa wajah di balik topeng kucing tersebut.
"Iya. Hanya itu saja. Maafkan dan terimakasih." Kata Black Cat lalu buru-buru keluar dari kamar itu dan terus lari menuju lantai satu kemudian tanpa menjawab pertanyaan dari Monang dan Karman, dia terus saja keluar dan tak lama setelah itu terdengar auman suara mesin sepeda motor meninggalkan pusat hiburan gemerlap malam itu.
Sementara itu, gadis yang mengaku bernama Mirna tadi hanya bisa melongo memikirkan kembali tingkah lelaki serba hitam dengan topeng kucing itu.
"Aneh sekali orang itu. Ada apa dengan dirinya? Huh... Untung saja dia tidak macam-macam." Kata gadis itu sambil bangun dan melangkah ke arah pintu.
Setelah menutup kembali pintu kamar itu, dia kembali melamun.
Masih segar di ingatannya ketika ayah tirinya menjual dirinya kepada Monang dengan harga 50 juta dan sebagai imbalan, dia harus menjadi wanita pemuas nafsu para lelaki hidung belang.
Entah secara kebetulan atau memang sedang beruntung, sejak 4 hari dia tiba di pusat hiburan ini, dia sama sekali belum pernah melayani pelanggan.
Bagaimanapun, sikap Monang kepadanya mendadak lunak ketika malam itu dia menyebutkan nama Black Cat.
"Siapa lelaki bertopeng itu sebenarnya. Apakah dia menderita cacat atau sebaliknya bahwa dia memiliki wajah tampan yang dia sembunyikan du balik topeng nya itu."
"Jika dia adalah orang yang sangat di takuti di kota ini, bahkan Menang pun ketakutan, maka sudah jelas bahwa dia adalah orang yang sangat berkuasa. Tapi mengapa tingkah nya begitu konyol?" Kata Mirna lagi dalam hati.
Membayangkan kejadian barusan membuat Mirna mau tak mau tertawa geli. Sejenak dia dapat melupakan kepedihan di dalam hatinya.
Sementara itu Tigor yang sudah tiba di rumah yang di tempati oleh empat sahabatnya itu segera menelepon Acong.
"Hallo. Siapa ini?" Tanya Acong begitu melihat nomor yang tidak terdaftar di kontak nya.
"Cong. Ini aku Black Cat."
"Oh. Ada apa Black Cat? Apakah kita ada misi dari bang Tigor untuk melakukan serangan lagi?" Tanya Acong.
"Bukan. Aku belum mendapat perintah dari Tigor. Namun kali ini aku membutuhkan bantuan mu." Kata Black Cat.
"Katakan apa yang bisa aku bantu?!"
"Begini Cong. Kau berangkat sekarang ke pusat hiburan gemerlap malam, lalu temui Monang! Tanyakan kepadanya tentang seorang gadis bernama Mirna."
"Lalu?" Tanya Acong.
"Setelah mong memberitahu kepadamu tentang gadis itu, kau tanyakan berapa tarif gadis itu. Setelah itu, kau bayar gadis itu untuk satu minggu penuh."
"Apakah aku akan membawa gadis itu menemui mu?" Tanya Acong.
"Tidak perlu. Aku tidak membutuhkan. Aku hanya ingin agar selama seminggu ini, tidak ada lelaki mana pun yang menyewa jasa Mirna ini. Kau mengerti Cong?"
"Oh. ok aku mengerti."
"Sip. Kau bayar sekarang. Besok Tigor akan mengembalikan uang mu. Tapi ingat Cong! Kau jangan pula tidur dengan nya. ku penggal kepala bawah mu itu." Kata Black Cat memberi ancaman.
"Kau tenang Bang. aku tidak seperti itu."
"Baik lah. Lekas lah pergi menemui Monang. Aku akhiri dulu panggilan ini." Kata Black Cat lalu mengakhiri panggilan.
Selesai melakukan panggilan, Black Cat langsung membuka topeng yang menutupi wajah nya lalu menyelipkan di pinggang nya, setelah itu dia memakai pakaian kemeja putih untuk menutupi baju hitam ketat yang identik dengan Black Cat serta memakai celana Jeans.
"Sip. Aku menjadi Tigor lagi." Kata nya lalu melompat ke atas tempat tidur.