
Iring-iringan mobil mewah pada waktu menjelang pagi itu berhenti tepat di pintu pagar salah satu dari sekian banyaknya Villa-villa mewah di area komunitas elit di bukit Batu.
Salah seorang dari sekian banyaknya penjaga di Villa itu berlari-lari mengarah kr pagar dan langsung membukakan pintu.
"Selamat kembali Boss." Kata prngawal itu sambil membungkuk hormat.
Tanpa menghiraukan penjaga tadi, iringan mobil itu terus saja memasuki halaman Villa yang luas itu.
Setelah mobil terparkir, Tampak seorang sopir keluar dan buru-buru membukakan pintu mobil di bagian belakang.
Kini tampak sesosok tubuh tinggi, besar dan memiliki kulit hitam legam, turun dari mobil dan di sambut dengan beberapa orang pengawal yang langsung membungkuk.
Merasa ada yang janggal, lelaki bertubuh besar dan berkulit hitam itu langsung bertanya kepada salah satu pengawal yang berada di depannya.
"Mengapa sepi? Kemana yang lainnya." Tanya Lelaki Hitam itu.
"Bang Birong. Ada kejadian yang tidak diingini telah terjadi." Jawab pengawal itu takut-takut.
"Kejadian yang tak diingini? Apa maksud mu?" Tanya lelaki hitam bernama Birong itu.
"Telah terjadi kekacauan di bangunan tua tempat Acun dan Mr.Chan mengadakan transaksi."
"Apa? Bagaimana bisa?" Tanya Birong.
"Itu lah yang tidak sempat saya ketahui Bang. Dagol yang membawa kabar itu."
"Celaka. Di mana Dagol sekarang?" Tanya Birong.
"Dagol sudah tewas bang. Dia terkena tikaman pisau beracun tepat di punggung nya." Jawab pengawal itu.
"Hancur sudah. Hancur sudaaaah." Teriak Birong membuat Togar menghampiri nya.
"Ada apa bang?" Tanya Togar.
"Transaksi itu berantakan."
"Kemana Tumpal pergi?" Tanya Birong kepada pengawal tadi.
"Sebelum Dagol tewas, dia sempat memberitahu bahwa mereka di sergap oleh sekelompok orang yang mengenakan seragam polisi. Tumpal berkali-kali menghubungi abang. Namun ponsel abang tidak aktif. Begitu juga dengan Togar. Akhirnya Tumpal mengirim sekitar seratus orang anak buah kita untuk mengejar ke area bangunan tua itu. Tumpal sendiri bergegas membawa Dagol ke rumah sakit. Namun sayang Dagol tidak tertolong." Jawab Pengawal itu menjelaskan kejadian sebenarnya.
"Lalu dimana Tumpal sekarang?" Tanya Birong.
"Setelah beberapa jam berlalu, namun orang-orang yang dikirim tidak juga memberi kabar, Tumpal bersama sisa-sisa penjaga keamanan Villa ini bergegas menuju bangunan tua itu. Mungkin baru sekitar satu jam dia pergi."
"Kurang ajar. Apakah Ferdi tidak becus melakukan tugasnya?" Kata Birong bergumam.
Dia lalu bergegas mengambil ponsel nya dan segera mengaktifkan ponsel itu.
Setelah semuanya siap, dia lalu mencari nomor Ferdi, dan langsung menghubungi nya.
"Hallo Birong!"
Terdengar satu suara sambil menguap menahan ngantuk di seberang sana.
"Ferdi. Bagaimana pekerjaan mu? Mengapa ada anggota kepolisian tang melakukan penggerebekan? Bukankah aku sudah membayar mahal kepadamu untuk transaksi ini?" Tanya Birong.
Sekedar informasi. Ferdi ini adalah petugas kepolisian di kota batu. Dulu dia adalah bawahan kapten Bonar. Namun setelah kapten Bonar terbunuh, Ferdi kini yang menggantikan posisinya. Malah dia terus diangkat sebagai Kapolrestabes di kota batu ini.
"Apa maksud mu Birong?" Tanya Ferdi heran.
"Anak buah ku mengatakan bahwa ada orang-orang yang menggunakan seragam kepolisian menggerebek tempat lokasi transaksi yang dilakukan oleh Klien ku. Bagaimana bisa begini?" Tanya Birong gusar.
"Birong. Kau boleh percaya, boleh juga tidak. Tapi yang jelas, hari ini aku membebastugaskan bawahanku dan tidak ada yang melakukan kegiatan ronda dan lain sebagainya. Kau jangan main tuduh sembarangan Birong!" Kata Ferdi murka.
"Birong. Aku telah menerima uang dari mu. Aku juga sudah melakukan apa yang kau inginkan bahwa anak buah ku hari ini tidak boleh berkeliaran di luar. Kemungkinan terbesar adalah, ada sindikat mafia atau gengster yang melakukan perampokan dengan menyamar menjadi anggota kepolisian." Kata Ferdi.
"Aku akan menemukan. Aku akan menemukan bangsat ini." Kata Birong sambil mengakhiri panggilan.
Tak berapa lama, dari arah depan berdatangan rombongan lain dari arah bangunan tua.
Melihat mobil yang datang, Birong dan Togar langsung menyongsong kedatangan rombongan itu. Bahkan sebelum pengemudi turun dari mobil, Birong sudah menghujaninya dengan pertanyaan.
"Bagaimana Tumpal? Apa yang telah terjadi?" Tanya Birong panik.
"Hancur, Ketua! Semuanya berantakan."
"Apa maksud mu?" Tanya Birong.
Tumpal tidak segera menjawab. Dia lalu menjentikkan jari tangannya ke arah mobil pickup di belakang.
Tak selang berapa lama, tampak empat orang lelaki menggotong sosok tubuh lelaki mengenakan stelan jas biru.
"Kami menemukan Prengki sudah tewas Bang!" Kata Tumpal.
Duuuaaaar....!
"Amang oi.... Prengkiiii......!"
Begitu mendengar kata-kata dari Tumpal dan melihat dengan jelas tubuh Prengki yang sudah menjadi mayat itu, Birong seperti kesurupan dan langsung menubruk tubuh Prengki.
"Hancur sudah. Hancur sudah geng tengkorak. Geng tengkorak sudah tidak memiliki tiang penyangga lagi. pertama Bedul, kemudian Bongsor. Kini Prengki dan Dagol. Hancur sudah." Kata Birong meratap.
"Bawa! Bawa masuk jenazah Prengki dan pagi nanti jemput jenazah Dagol dari rumah sakit! Mereka adalah bawahan sekaligus sahabat ku. Perlakukan dengan baik!" Kata Birong sambil masih terus terduduk di tanah.
"Ayo bang kita masuk dulu. Kita fikirkan rencana selanjutnya. Kita juga butuh keterangan dari Tumpal." Kata Togar sambil membantu Birong untuk bangkit berdiri.
Birong tidak membantah. Dia hanya menurut saja ajakan dari Togar adiknya itu.
Setelah mereka semua berada di dalam Villa itu, Tumpal pun menjelaskan semua yang terjadi menurut versi dirinya.
Dia juga mengatakan bahwa Acun telah menghilang tanpa jejak dan semua anak buah yang dia bawa dari singapore tidak ada yang tersisa. Semuanya mati di tempat kejadian.
"Bang. Mr.Chan sempat berpesan. Katanya dia sudah tidak percaya lagi dengan organisasi kita. Dia akan membeberkan kepada semua organisasi luar bahwa kelompok kita tidak boleh dipercaya. Dia juga menuduh pihak kita melakukan sabotase." Kata Tumpal.
"Celaka jika sudah begini. Kemana orang pilipina itu sekarang?" Tanya Birong.
"Saat ini mereka mungkin sudah bergerak kembali ke negara nya." Jawab Tumpal.
"Alah. Persetan dengan orang Pilipina itu. Yang menjadi masalah saat ini adalah, mencari tau siapa biang dari masalah ini. Apakah itu organisasi kucing hitam, atau orang-orang kelompok bawah tanah dari Dolok ginjang atau memang ini adalah pekerjaan Ferdi. Kita harus mencari tau. Lalu membalas." Kata Birong.
"Kita tidak akan bisa membalas dalam waktu dekat andaipun kita tau dari kelompok mana yang melakukannya. Ini karna, dalam setahun terakhir ini, kelompok kita terus melemah. Untuk malam ini saja, kita sudah kehilangan seratus lebih anak buah diantaranya adalah empat belas orang yang sudah terlatih dan dua orang dedengkot organisasi kita yaitu Dagol dan Prengki. Lihat kekuatan kita saat ini bang! Mustahil kita mampu menghadapi lawan." Kata Togar memberi peringatan.
"Benar kata Togar itu bang. Kita harus mengatur rencana terlebih dahulu. Lalu merekrut banyak tenaga. Setelah itu. baru kita fikirkan untuk membalas." Kata Tumpal membenarkan perkataan Togar.
"Iya aku tau itu. Namun apa salahnya untuk mencari tau terlebih dahulu siapa pelaku nya. Paling tidak kita bisa membuat persiapan. Aku ingin tau, siapa yang berani bermain-main dengan kelompok geng tengkorak." Kata Birong.
"Jika ini adalah perbuatan dari orang-orang geng kucing hitam, kita tunggu saja. Beni pasti akan memberikan kabar kepada kita tidak lama lagi." Kata Tumpal sangat yakin.
"Hmmm.., tidak ada salahnya ternyata memelihara dirimu di sini Tumpal. Kedepannya, aku membutuhkan bantuanmu untuk mengganyang Martin dan geng kucing hitam nya." Kata Birong.
"Tenang saja bang. Beni adalah orang yang sangat ambisius. Dia pasti akan menemukan cara." Kata Tumpal.
"Sebaiknya abang istirahat saja dulu. Besok kita akan memikirkan rencana selanjutnya." Kata Togar.
"Hmmm... Kalian kembalilah! Aku akan istirahat." Kata Birong sambil bangkit dan melangkah menuju kamar.