BLACK CAT

BLACK CAT
Kakek Mahmud membantu



...Kuala nipah....


Satu titik cahaya tampak seperti kunang-kunang di tengah malam tanpa rembulan di lautan luas.


Cahaya yang tadinya seperti kunang-kunang itu semakin lama semakin jelas dan kini tau lah bagi mereka yang berada di pinggiran pantai itu bahwa satu cahaya dari kejauhan tadi datangnya dari sebuah speed boat berkecepatan tinggi.


Sementara itu, beberapa sosok tubuh mulai bergerak berkeliaran kesana kemari mengatur posisi di balik rerimbunan semak hutan bakau di sepanjang pantai itu.


Tampak sebagian dari mereka mulai menelepon beberapa anggota mereka yang kebetulan tidak mendapat giliran jaga malam di pinggir pantai itu.


Sekitar lima menit, tampak sekitar dua puluh orang lelaki berpakaian hitam keluar dari rumah penginapan dan terus berlari cepat menuju pinggir pantai.


Sebenarnya siapa mereka ini?


Kelompok lelaki ini adalah orang-orang suruhan Beni dari Tasik putri untuk mencegat kepulangan Tigor dan kawan-kawannya dari Hongkong.


Karena begitu Beni mengetahui tentang keberangkatan Tigor ke Hongkong untuk melakukan transaksi, Beni yang tidak pernah merasa suka dengan Tigor langsung mengatur rencana dan berhasil memanfaatkan permusuhan geng tengkorak dengan geng kucing hitam untuk menyerang tasik putri. Dan akibatnya adalah, terbakarnya seratus meter keliling bangunan restoran samporna dan pusat hiburan malam.


Seakan tidak puas dengan itu, Beni malah memerintahkan orang-orang upahannya untuk mencegat rombongan Tigor ini dengan tujuan, agar Tigor dan sahabat nya tidak pernah kembali lagi ke Tasik putri.


Sementara itu, speed boat yang membawa rombongan Tigor sudah sangat hampir tiba di pinggir air dalam di dekat hutan bakau itu.


Setelah berbasa basi dengan nakhoda, akhirnya Tigor, Andra, Ameng, Timbul dan Acong pun segera melompat turun ke air berpasir dan langsung naik ke daratan.


Setelah speed boat yang membawa mereka berlalu pergi, kelima pemuda itu pun dengan bersemangat lansung berjalan menuju ke arah pondok-pondok yang berjarak sekitar tiga ratus meter dari tempat mereka mendarat tadi.


"Kemana kita bang?" Tanya Ameng.


"Kita ke pondok itu saja beristirahat di sana sambil menunggu pagi." Jawab Tigor yang terus melangkah.


"Sini tas mu itu biar aku yang bawa!" Kata Andra kepada Tigor.


Tigor pun langsung melepaskan tas sandang berisi berbagai barang cendramata itu kepada Andra lalu melenggang berjalan menyusuri pinggir semak menuju pantai.


Belum ada sepuluh meter mereka berjalan, tiba-tiba dari arah semak-semak belukar, berlompatan sosok tubuh berpakaian hitam dan langsung mengepung kelima pemuda itu.


"Ah sialan. Benar kan dugaanku." Kata Tigor sambil meraba ke arah pinggang nya.


"Mati kalau begini. Aku kan tidak membawa senjata. Pedang tipis ku tinggal di Blok B." Kata Tigor dalam hati.


"Siapa kalian yang menghalangi jalan ku?" Tanya Andra dan mulai mengatur jarak antara dirinya dan keempat sahabatnya.


"Katakan apakah kalian adalah rombongan Tigor yang baru kembali dari Hongkong?" Tanya salah satu dari pengepung itu.


"Tigor? Makanan jenis apa itu?" Tanya Acong lalu melanjutkan. "Ketahuilah! Kami ini adalah pelaut. Kami baru saja mendarat dan ingin pulang ke rumah untuk istirahat."


"Jangan dusta kalian. Aku mengenali kalian. Kau adalah Acong kan?"


"Teman-teman. Serang mereka!" Teriak orang yang mengenali Acong tadi.


Tanpa ba bi bu lagi, begitu mendengar teriakan yang mengandung perintah itu, para pengepung mulai membuat lingkaran sehingga Tigor dan kawan-kawannya terkurung di tengah-tengah.


"Andra. Di dalam tas itu ada pistol pinjaman dari Martin. Aku tidak pandai menggunakannya. Kau pakai saja." Kata Tigor berbisik.


"Serang....!"


Tampak beberapa orang yang mengepung itu mulai menyerang kelima orang itu membuat perkelahian yang tidak seimbang itu pecah juga.


Tigor yang melihat para penyerang ini, berusaha sekuat tenaga untuk meredam emosi nya. Dia hanya tunduk dan bersembunyi di belakang punggung Acong.


"Tolong aku Cong! Aku tidak terlalu pandai berkelahi." Kata Tigor berpura-pura sambil memungut beberapa butir batu sebesar ibu jari di dekat kaki nya.


Tigor dan teman-temannya kini tunggang langgang menghadapi serangan dari pengepung itu.


Setiap satu orang dari mereka harus berhadapan dengan enam orang penyerang sekaligus membuat Andra, Acong, Ameng dan Timbul jatuh bangun menghindari serangan itu.


Sementara Tigor hanya bisa lari kesana dan kesini dari kejaran orang-orang itu.


Begitu dia melihat salah satu dari sahabatnya dalam bahaya, dia segera melemparkan sebutir batu ke arah pengeroyok membuat serangan mereka mentah di tengah jalan. Begitu lah seterusnya.


Sampai sejauh ini, Tigor melihat tidak ada yang membahayakan keselamatan sahabatnya. Makanya dia tidak melakukan perlawanan.


Dia tau betul jika dia membuka serangan, Andra dan yang lainnya pasti akan mengenal jurus itu. Dan identitas Black Cat pasti akan terbongkar.


"Apa kalian masih mampu bertahan? Jika tidak, ayo kita lari!" Kata Tigor kepada sahabatnya.


"Ayo lari Gor. Aku tidak memiliki kesempatan untuk membuka tas ini." Teriak Andra sambil terus menghindari serangan.


"Hahaha... Mau lari kemana kalian heh? Tidak ada yang bisa melarikan diri dalam keadaan masih bernyawa dari tempat ini." Kata para pengepung itu.


Perkelahian semakin tidak seimbang ketika para pengeroyok itu mulai menggunakan senjata mereka.


"Mati kita Gor." Kata Andra sambil terus mundur ke arah laut.


Melihat semua sahabatnya mulai terdesak, tidak ada pilihan lain bagi Tigor. Dia kini sudah bersiap untuk melakukan perlawanan. "Masalah identitas terbongkar, itu urusan nanti." Pikir nya dalam hati.


Baru saja Tigor akan maju untuk menghajar para mengeroyok tadi, tiba-tiba dari arah semak di bagian kanan melesat beberapa kulit kerang dan langsung menghantam kening beberapa pengeroyok itu.


Desingan dan deru angin yang diakibatkan oleh lesatan kulit kerang yang di lempar menggunakan tenaga dalam itu seperti tiupan kematian. Karena, setiap satu kali suara angin bersiur, satu tubuh jatuh terjerembab ke tanah berpasir itu.


Keadaan kini berbalik arah. Semua merasakan keheranan. Baik dari pihak pengepung, maupun dari pihak Tigor merasa bertanya-tanya dalam hati mereka siapa yang melakukan serangan itu.


"Ada yang membantu kita Gor!" Bisik Andra.


"Iya. Ada." Kata Tigor.


"Kau tau siapa yang membantu kita?" Tanya Andra lagi.


"Mungkin hantu laut ini." Kata Tigor seenaknya saja.


Jelas dia tau siapa yang melakukan itu semua. Tapi dia sengaja mengatakan bahwa yang menolong mereka adalah hantu laut.


Terdengar suara makian dari balik semak-semak di iringi dengan suara benda putih mendesing dan menghantam tepat di pasir dekat ujung kaki Tigor berdiri.


"Mati aku!" Kata Tigor sambil bergingkrak melompat kebelakang.


"Hehehe... Awas kau ya!"


Terdengar suara tawa terkekeh dari balik semak itu membuat Tigor setengah mati memaki dalam hatinya.


"Na'as betul nasib ku kali ini." Kata Tigor dalam hati.


Dia jadi teringat pesan Kakek Mahmud sebelum keberangkatan nya ke Hongkong seminggu yang lalu.


"Hei. Siapa kau yang berani ikut campur urusan kami. Keluar kau! Jangan mencari penyakit dengan mencampuri urusan geng kucing hitam Tasik putri!"


Setelah dapat menguasai keterkejutan, para pengeroyok itu mulai berteriak dengan marah karena merasa urusan mereka yang hampir berhasil tadi menjadi kacau karena ada orang yang ikut campur.


Kemarahan mereka semakin meluap ketika mereka melihat lebih dari tujuh orang teman mereka telah ambruk tak berkutik lagi di tanah berpasir itu.


Wuzzzz....


Prak....!


"Akkkhhh....."


Sebagai jawaban, tampak dua butir kulit kerang saling susul menghantam tepat di tenggorokan lelaki yang bersuara tadi.


"Dasar kucing kerempeng! Apa lagi yang kalian tunggu? Lekas bereskan orang-orang ini!" kata salah seorang dari mereka.


"Bagi dua kelompok. Kalian serang orang yang berada di balik semak itu dan sebagian lagi serang Tigor dan kawan-kawannya!"


Begitu perintah selesai, perkelahian kembali pecah. Namun kali ini perkelahian itu tampak seimbang karena selain banyak yang sudah mati, mereka juga harus membagi serangan kepada seseorang yang bersembunyi di balik semak-semak itu.


Karena sudah memiliki banyak kesempatan, Andra tidak lagi membuang waktu, dia segera membuka resleting tas milik Tigor dan begitu tangannya menyentuh sesuatu yang dingin, dia langsung mengeluarkan benda yang kebetulan pistol tersebut.


Tanpa banyak cang cing cong lagi, Andra langsung menembakkan pistol itu ke arah penyerang dari jarak dekat. Hasilnya, dua belas orang kini terkapar mandi darah dan tidak bangun-bangun lagi alias modar di ujung senjata pinjaman dari Martin tersebut.


"Ayo tembak lagi!" Kata Tigor sambil berjingkrak riang.


"Peluru nya habis Gor!" Kata Andra sambil melemparkan senjata itu dan tepat mengenai jidat salah seorang yang masih hidup.


Sementara itu, kelompok yang mengarah ke semak belular tadi tidak pernah keluar lagi setelah memasuki semak itu. Kemungkinan semuanya sudah mati terbunuh.


Menyadari hanya tinggal dia sendiri yang berada di tempat itu, lelaki yang kening nya benjol terkena lemparan pistol di tangan Andra tadi segera melarikan diri mencari selamat. Namun apa nasib, sebutir kulit kerang menghantam kepala dibagian belakang sebelum lelaki itu lebih jauh melarikan diri.


"Hehehe... Selesai sudah. Kalian berempat! Tugas kalian adalah mengangkat mayat kucing-kucing ini dan lemparkan ke teluk sana itu biar jadi santapan ikan!"


Terdengar suara perintah diikuti muncul nya sosok lelaki tua dari balik semak belukar.


"Kakek." Kata Tigor menunduk hormat.


"Kau ini benar-benar tidak mendengar nasehat! Aku sudah katakan jangan terlalu sama di sana!" Kata lelaki tua itu sambil menjewer telinga Tigor.


Hal ini hampir saja membuat Andra, Acong Timbul dan Ameng ingin marah melihat ketua mereka di jewer sedemikian rupa.


"Aduh ampun kek. Sakit ini. Bisa memble telingan ku ini." Kata Tigor meringis menahan sakit.


"Kalian berempat apa lagi? Cepat buang mayat-mayat itu!" Kata lelaki tua itu sambil mendelik.


"Siapa orang tua ini Bang?" Tanya Acong.


"Lakukan saja perintah nya atau kita akan menjadi b*ngkai di sini!" Kata Tigor.


"Sudah ayo kita buang mayat ini. Nanti bisa runyam. Jika bang Tigor saja takut sama lelaki tua itu, apa lagi kita." Kata Timbul.


Sementara itu, Tigor yang di jewer oleh kakek Mahmud terus di tarik sampai ke pinggir semak.


"Maafkan aku kek. Tadinya aku sudah akan pulang. Tapi Martin bilang tidak ada apa-apa. Makanya aku menjalin beberapa kesepakatan di sana. Kan lumayan sebagai jembatan bisnis untuk ku dikemudian hari." Kata Tigor.


"Ya sudah lah. Semua sudah terjadi. Hanya saja, dengar nasehat ku. Ingat musuh utama mu bukan mereka. Ada yang memusuhimu, itu hanya bersifat kepentingan saja. Kau jangan lupa bahwa musuh mu yang sesungguhnya adalah Birong."


"Saya mendengar nasehat kakek." Jawab Tigor.


"Kehadiran mu di dalam kelompok mereka sudah membuat kepentingan mereka terganggu. Itu masih dalam batas wajar jika dilihat dari kacamata seorang Mafia. Kau jangan membuat onar sebelum kau merasa bahwa kau mampu untuk bertindak tanpa kekuasaan. Mengalah saja untuk mencapai kemenangan yang lebih besar. Kau faham maksud ku?"


"Tigor faham Kek. Andai tidak faham hari ini, mungkin di masa yang akan datang aku akan dapat memahaminya."


"Jika semuanya masih terkendali, sebaiknya jangan lakukan perlawanan. Ikuti saja arus. Tapi jangan buta tuli! Kau harus mempelajari kelemahan mereka. Ingat pesan ku!" Kata Kakek Mahmud lalu segera memasuki semak belukar dan menghilang di dalam kegelapan.


"Apakah semuanya sudah beres?" Tanya Tigor.


"tinggal beberapa lagi bang." Jawab Acong.


"Mari aku bantu!" Kata Tigor sambil menggengdong mayat-mayat anak buah Beni dan menceburkannya kedalam teluk kecil berdekatan dengan hutan bakau.


"Selesai. Ayo kita pulang. Sudah hampir pagi." Kata Tigor.


"Kemana tujuan kita bang?"


"Mencairkan Hepeng lah." Jawab Tigor.


"Wah kaya kita bang. Banyak Hepeng kita ini." Kata Timbul dengan sangat bersemangat.


Di pelupuk matanya kini hanya ada mobil mewah, beli rumah sendiri, kemudian nyari bini.


"Banyak Hepeng... oh ho ho banyak Hepeng." Kata mereka bernyanyi di sepanjang jalan pantai tersebut dengan sesekali diiringi dengan gelak tawa.


(Hepeng \= Uang)