
Sore ini tepat di bawah jembatan, sekitar lima orang anggota utama yang di rekrut oleh Tigor ke dalam organisasi Kucing hitam sedang membahas sesuatu yang sangat penting.
Dikatakan penting karena tampak dari raut wajah masing-masing orang sangat serius jika tidak dikatakan tegang.
Dalam pertemuan yang dipimpin langsung oleh Tigor itu, tampak Andra, Ameng, Udin, Acong dan Timbul, memperhatikan dengan seksama perencanaan yang di atur oleh Tigor.
"Malam ini, aku berniat akan merebut pusat hiburan di perbatasan antara kota Tasik putri dan Kota Batu yaitu Gang kumuh. Aku ingin agar kalian bersama dengan anak-anak buah kalian semua merebut area gang kumuh itu malam ini. Di sana ada sebuah mini market dan kafe serta beberapa restoran. di sana juga ada pusat hiburan, beberapa dealer mobil dan sepeda motor yang apa bila berhasil kita rebut, maka mereka semua akan tunduk di bawah perlindungan kita. Kita akan menyikat anak buah geng tengkorak yang berada di sana malam ini dan jangan biarkan ada yang tersisa!" Kata Tigor.
Dia masih ingat sekitar hampir delapan tahun yang lalu, di mini market itu, dia sempat di tangkap oleh security karena ketahuan mencuri beberapa bungkus roti dan minuman susu kotak. Akibatnya, dia babak belur dihajar oleh pak security yang menjaga mini market itu.
(Baca Tigor tertangkap Security. Bab 9)
Mini market itu sangat bersejarah bagi Tigor. Oleh karena itu, kali ini dia ingin menguasai kawasan itu dan siapa saja yang ingin membuka usaha di kawasan itu, mereka harus membayar sejumlah biaya perlindungan kepada Tigor.
"Kalau begitu bang, kita harus bergerak cepat. Bagaimanapun, kita tidak mau berurusan dengan petugas kepolisian. Bagaimana pendapat mu bang?" Tanya Ameng.
"Tidak perlu khawatir. Pihak penegak hukum biar menjadi urusan ketua kita yaitu Martin. Dia bisa menangani itu. Karena dia memiliki banyak kenalan di sana." Kata Tigor.
"Ok. Sekarang mari kita berpisah di sini. Persiapkan semua anak buah kalian! Tepat pukul delapan malam nanti, kita bertemu di gang kumuh. Ingat untuk tepat waktu!" Kata Tigor.
Sebelum mereka berpisah, Tigor, Andra, Timbul, Ameng dan Acong berpelukan dan berteriak, "Hidup Geng Kucing...!"
Kemudian didahului oleh Tigor, satu per satu mereka meninggalkan tempat pertemuan di bawah jembatan itu.
...*...
Malam itu seorang lelaki bertampang kasar setengah berlari memasuki Villa mewah di kawasan Bukit batu.
Lelaki yang berjalan cepat itu tidak menghiraukan apa pun lagi. Mungkin karena terburu-buru, dia akhirnya bertabrakan dengan seseorang.
Gubraak...!
"Aduuuh..!"
"Dagol ada apa sampai kau seperti di kejar-kejar oleh hantu begini?" Tanya seorang lelaki setengah baya yang terjengkang akibat bertabrakan dengan lelaki yang terburu-buru bernama Dagol itu.
"Kau ini Tumpal. Menghalangi jalan ku saja. Aku mau menemui ketua. Minggir kau!" Kata Dagol yang ketika terjadi tabrakan tadi, sedikitpun tubuhnya tak bergeming. Mungkin karna tubuhnya yang tegap tinggi sedangkan Tumpal cenderung jauh lebih kecil membuat Tumpal jatuh terjengkang.
"Aneh sekali. Tidak biasa kau seperti ini Dagol." Kata Tumpal terheran.
"Gang kumuh di Tasik putri." Kata Dagol sambil berjalan meninggalkan Tumpal.
"Gang kumuh?" Tanya Tumpal sambil buru-buru bangkit berdiri dan bergegas menyusul Tumpal karena merasa penasaran.
Begitu Dagol tiba di sebuah ruangan yang luas, dia kemudian melihat seorang lelaki yang sangat berantakan baik pakaian dan rambut tampak awut-awutan.
"Ada apa kau seperti dikejar setan, Dagol?" Tanya lelaki besar dan hitam legam itu.
Wajah lelaki itu terlihat begitu sangat dan kejam. Di tambah lagi dengan badan yang tak terurus dan mata yang merah karena kebanyakan menenggak minuman keras membuat penampilan sangar nya semakin sempurna.
"Bang. gawat Bang."
"Apa yang gawat? Kau ceritakan dengan pelan-pelan!" Kata lelaki setengah baya berkukit hitam itu.
"Gang kumuh dan sekitarnya kini telah diserang oleh anak buah Martin. Semua orang-orang kita di sana sudah dilumpuhkan."
Terdengar suara meja du gebrak dengan sangat kuat.
"Siapa orangnya? Apakah itu Martin?" Tanya lelaki berkulit hitam itu.
"Bukan Martin bang. Tapi Tigor." Kata Dagol melaporkan.
"Tigor? Wah anak itu semakin berani. Apakah kita harus menyerang mereka sekarang, Birong? Aku sangat dendam dengan anak ingamusan itu." Kata Tumpal.
"Tidak. Aku saat ini sedang tidak berminat. Aku baru saja kehilangan putra ku. Kalian keluarlah dulu dari ruangan ini. Aku ingin sendiri meratapi kematian anak lelaki ku." Kata lelaki berbadan tegap dan hitam bernama Birong itu.
"Tapi Bang?!"
"Keluar kata ku! Keluar kalian!" Bentak Birong menggelegar.
"Ba.., baik bang." Kata Dagol lalu segera memutar badan untuk meninggalkan ruangan itu.
Praaang...
Tiiing...!
Terdengar suara kaca pecah menghantam lantai ruangan Villa itu.
Begitu Tumpal dan Dagol melirik kebelakang, dia melihat saat ini Birong seperti sedang mengamuk dan membalikkan meja yang di atasnya terdapat botol-botol minuman keras sehingga semua yang terletak di atas meja itu jatuh memenuhi lantai di sekitar nya.
"Kurang ajar. Martin ini. Apa belum cukup dia? Kau tunggu pembalasan ku Martin! Kau tunggu saja!"
Setelah berteriak seperti orang kesurupan, Birong akhirnya bangkit dari sofa yang dia duduki kemudian melangkah menuju ke kamar untuk istirahat. Namun, baru saja tiga langkah dia berjalan, lelaki berkulit hitam dan berbadan besar itu ambruk jatuh ke lantai lalu mengorok seperti sepeda motor dipaksa menaiki tanjakan menggunakan gear 4.
"Ketua!"
"Birong. Ah kau terlalu banyak minum, Birong!"
"Woy kemari kalian! Bantu aku mengangkat tubuh ketua kalian ini. Aku mana sanggup!" Kata Tumpal.
"Kasihan ketua. Dia benar-benar terpukul atas kematian putra nya si Hasian itu. Huhh... Entah lah. aku harus mencari seseorang yang bisa di andalkan untuk menjejaki Black Cat itu. Harus." Kata Dagol.
**
Sementara itu di Gang kumuh, Tigor dan kawan-kawannya mulai menghampiri setiap premis mulai dari Toko elektronik, dealer mobil, showroom sepeda motor, restoran, mini market, super market dan pusat-pusat hiburan dan mengistiharkan bahwa mulai malam ini sampai seterusnya, seluruh area gang kumuh berada dibawah kendali Geng kucing hitam milik Martin, dan memaksa mereka memutuskan hubungan dengan Geng Tengkorak milik Birong. Jika menolak, maka mereka akan dipaksa untuk hengkang dari kota Tasik putri ini.
"Bagaimana tugas kalian, apa sudah selesai?" Tanya Tigor kepada anak buahnya.
"Beres bang." Kata Acong menjawab pertanyaan Tigor.
"Apa ada bantahan dari para pengusaha dan pemilik pusat hiburan itu?" Tanya Tigor.
"Tidak. Sama sekali tidak ada bang. Bagi mereka tidak ada pilihan selain mengiyakan saja." Jawab Acong.
"Sama. Aku juga tidak ada pilihan. Jika bukan kita, maka geng tengkorak. Sudah jadi hukum alam yang kuat akan menindas yang lemah. Tidak perlu munafik. Memang ada yang kuat dan baik. Tapi itu satu dalam sejuta." Kata Tigor.
"Mulai sekarang gang kumuh akan menjadi ladang uang baru bagi kita. Aku akan membangun pusat-pusat hiburan kelas dunia di sini." Kata Tigor.
Sebenarnya gang kumuh itu tidak pantas dikatakan kumuh. Hanya ada satu kawasan kumuh di belakang bangunan mini market. Tapi itu jauh di dalam. Namun karena kebiasaan orang-orang menyebut kawasan ini dengan nama gang kumuh, maka seberapa pesat pun pembangunan di daerah ini, tetap saja kumuh namanya.