BLACK CAT

BLACK CAT
Acara pernikahan Tigor berlangsung



Di sepanjang hari itu, tampak gelombang pertama orang-orang dari Dragon Empire mulai berdatangan dari beberapa bandara internasional di tiga provinsi dengan tujuan yang sama yaitu, Kota Kemuning.


Terhitung mulai dari pagi hingga sore bahkan sampai ke malam, gelombang kedatangan ini tidak putus-putus.


Martins Hotel, antara Hotel terbesar di kota Kemuning ini benar-benar penuh sesak.


Memang rencananya acara pesta pernikahan Tigor dan Mirna akan diadakan di Martins Hotel setelah sebelumnya melakukan Ijab Kabul di tanjung karang.


Di hari pernikahan Tigor pun, gelombang kedatangan orang-orang asing ini semakin bertambah ramai. Tampak orang-orang besar juga hadir di tempat itu seperti Arslan, Tuan Richard, Tuan Raven, Tuan Isa bahkan Mr.Brylee pun menyempatkan diri untuk datang ke acara pernikahan Tigor ini.


Sementara itu, dari Hongkong pula, ada Mr.Ming kang Khang dan Mister Long Khang bersama sekitar seratus orang anak buahnya yang terlatih dan sebagian pernah berguru di Jepang.


Malam itu, Acara pernikahan Tigor dan Mirna berlangsung sangat ramai dan meriah sekali.


Hal ini membuat seorang pemuda tampan yang sejak tadi berdiri di samping pelaminan terheran-heran menatap ke arah Tigor.


"Pengaruh apa yang dimiliki oleh Abang ku ini sampai-sampai tamu undangan yang berdatangan seperti tak putus-putusnya?" Batin pemuda itu dalam hati.


Dia tidak pernah menyangka bahwa acara pernikahan Abang nya itu sepuluh kali lipat megahnya dari yang dia bayangkan.


Tadinya, dia hanya mengira paling hanya Ijab Kabul, setelah itu acara syukuran dan makan-makan. Namun semua itu berbanding terbalik.


Kini di hadapannya berbagai jenis manusia dengan warna kulit berbeda dari beberapa negara hadir sebagai tamu undangan di acara itu.


Tigor dan Mirna yang menjadi Raja dan Ratu sehari itu tampak sangat gembira. Bahkan ketika Mister Ming kang Khang, Mister Long Khang, Tuan Isa, Tuan Richard, Tuan Raven, Mr.Brylee dan Arslan datang, dia secara pribadi langsung turun dari pelaminan untuk menyambut kedatangan tamu terhormat nya itu.


"Selamat datang tuan-tuan tamu kehormatan saya. Terimakasih karena sudah menyempatkan diri untuk datang ke acara pernikahan saya ini." Kata Tigor dengan gestur mempersilahkan dengan hormat.


"Ah. Anda terlalu sungkan Mr. King no Kong. Kami sengaja datang kemari untuk merayakan acara pernikahan anda ini. Bagaimanapun kita kan sudah menjadi mitra bisnis dan kami tidak ingin melewatkan kesempatan yang sangat bersejarah dalam hidup anda ini." Kata Mister Long Khang sambil tertawa ramah.


"Mari Mister Ming kang Khang dan Anda Mister Long Khang! Silahkan duduk di kursi tamu terhormat." Ajak Tigor mempersilahkan.


"Terimakasih. Terimakasih.".Jawab Mister Long Khang lalu mengajak bos nya yaitu Mister Ming kang Khang untuk duduk di kursi kehormatan yang sebagian sudah ditempati oleh orang-orang besar dan pejabat pemerintah setempat.


Setelah kedua orang besar dari Hongkong itu duduk di kursinya, Tigor yang saat ini memakai pakaian adat Batak langsung menyambut kedatangan rombongan Arslan dan memakaikan Ulos di pundak mereka sebagai tanda penghormatan.


"Apa ini Tuan Tigor? Hahaha. Anda terlalu menghormati kami. Seharusnya kami yang harus memberi kepada anda. Ini karena hari ini adalah hari bersejarah dalam hidup anda." Kata Arslan diikuti dengan anggukan dan senyum dari yang lainnya.


"Ah.. sama saja Tuan. Mengapa terlalu perhitungan. Saya sangat gembira dengan kedatangan Tuan-tuan semuanya. Terimakasih..., Terimakasih." Kata Tigor sambil akan membungkuk namun segera di halangi oleh Arslan.


"Jangan lakukan itu Tuan Tigor. Malam ini anda adalah Raja. Kami adalah tamu anda. Mari silahkan!" Kata Arslan.


"Mari Tuan. Ayo silahkan duduk di barisan kursi tamu kehormatan." Ajak Tigor.


"Hei Rio. Apa yang kau lakukan di situ seperti patung. Abang mu tidak akan di celakai oleh Mirna. Mari ke sini kau!" Kata Ucok sambil melambaikan tangannya.


"Hehehe. Iya bang Ucok. Aku terlalu rindu sama Abang ku ini." Jawab Rio tertawa malu-malu lalu segera mencium tangan Tigor kemudian turun berjalan ke arah Ucok dan yang lainnya.


"Ini Rio. Mungkin kau belum kenal dengan keempat abang-abang ini. Karena dulu kau kan langsung diungsikan oleh bang Tigor. Biar Abang perkenalkan. Yang ini namanya Andra. Yang ini Monang. Ini Acong, Timbul dan yang ini Ameng." Kata Ucok memperkenalkan.


"Halo Rio." Kata meraka sambil menyambut uluran jabat tangan dari Rio.


"Kau hebat Rio. Masih muda sudah menjadi polisi yang berpangkat dan memiliki masa depan cerah." Kata Monang sambil merangkul pundak Rio.


"Hehehe. Alhamdulillah bang. Ini semua karena perjuangan sorang Abang yang menginginkan adiknya sukses. Terimakasih kepada Tuhan yang telah membesarkan aku seorang Abang seperti ini." Kata Rio pula.


"Di mana kau ditugaskan Rio. Lalu, bagian apa?" Tanya Andra.


"Aku ditugaskan di kota Batu bang. Bagian kriminal. Dan tugas pertama yang harus aku lakukan adalah mengungkap misteri seorang yang digelari dengan panggilan Black Cat." Jawab Rio.


Serrr...


Berdesing telinga mereka mendengar jawaban dari Rio ini. Namun mereka tetap tersenyum layaknya memberikan dukungan penuh kepada pemuda yang ingin meraih prestasi itu.


"Aku heran bang." Kata Rio kemudian.


"Maksud mu heran kenapa Rio?" Tanya Monang.


"Yang aku herankan adalah, bukankah Birong dan organisasi nya adalah mafia di kota Batu. Namun ketika aku mengungkit tentang Birong ini, mereka seorang bisu. Terlebih lagi Ferdi yang mengaku bekas anak buah mendiang Ayah ku. Dia selalu membela Birong ini dan terus saja memojokkan Black Cat. Aku curiga dengan mereka ini. Apa jangan-jangan mereka sudah di suap oleh Birong?" Tanya Rio mengutarakan keheranan nya.


"Kau jangan heran Rio. Jika uang sudah berbicara, maka ceritanya akan berbeda." Jawab Andra.


"Kau akan memiliki kesempatan itu Rio. Kau akan dapat menangkap Black Cat itu. Namun perlu kau ingat! Black Cat hanya menargetkan organisasi geng tengkorak. Dia tidak pernah menargetkan siapapun. Kelak kalau kau sudah dapat menangkap Black Cat ini, nama mu akan menjadi harum."


Terdengar suara menyela pembicaraan mereka.


"Abang." Kata Rio begitu menoleh ke arah suara itu.


"Besok pagi, kau tunggu aku di lantai paling atas hotel itu. Berangkat bersama mereka ini. Ada sesuatu yang akan kita bahas. Tapi satu yang harus kau ingat! Jangan bantah setiap yang aku ucapkan besok. Mengerti?" Tanya Tigor.


"Apa maksudmu bang?" Tanya Rio tidak mengerti.


"Besok. Besok pagi kau akan tau. Ingat Rio. Aku Abang mu. Di pundak ku ada beban hutang yang harus mereka bayar. Nyawa Birong adalah milik ku."


"Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Birong mati, kau dapat menangkap Black Cat, lalu berprestasi kemudian masa depan mu dalam kepolisian akan sangat cerah." Kata Tigor sambil menepuk pundak adiknya itu lalu melangkah memasuki kamar bersama Mirna dan juru rias untuk berganti pakaian adat yang lain pula.