
Kota Tasik Putri.
Kesempatan kerjasama yang telah berhasil disepakati Matin-Tigor dengan kontraktor luar negeri sontak membuat empat kota yaitu Dolok ginjang, Kota Tasik Putri, kota Batu, dan juga kota Tanjung karang selain kota Kemuning sendiri menjadi gempar.
Bagaimana tidak, Tigor yang merupakan seorang gelandang yang diangkat oleh Martin dari tempat sampah berhasil menorehkan prestasi demi prestasi di dalam organisasi kucing hitam.
Bagi mereka yang memiliki hati tulus dan terbuka seperti Martin dan Lalah, hal ini tentu sangat membanggakan bagi mereka. Apa lagi Martin yang sama sekali tidak menyangka bahwa Tigor yang dia anggap sebagai anak angkat itu bisa melangkah sampai sejauh ini.
Lalah juga merasa tidak habis pikir dengan efek Tigor selama dua tahun ini di dalam organisasi. Begitu banyak prestasi yang dia buat dan pada akhirnya mampu mengangkat kembali organisasi geng kucing hitam ke tempat yang semestinya.
Itu tadi bagi mereka yang memiliki pemikiran yang terbuka. Lalau bagaimana dengan tanggapan Beni, Strongkeng dan Togi?
Ketika lelaki setengah baya yang bisa di sebut sebagai orang lama dalam organisasi geng kucing hitam ini sama sekali tidak merasa senang dengan pencapaian Tigor dan anak buah nya itu.
Mungkin sudah menjadi tabiat mereka ini yang memiliki hati yang selalu dipenuhi oleh rasa iri dan dengki, bahwa apa saja berita tentang Tigor selalu mereka anggap bagaikan suatu penyakit yang sangat menyiksa bagi mereka.
Hari ini mereka sengaja mengadakan pertemuan guna membahas penyakit menular yang ditimbulkan oleh Tigor ini.
Awalnya adalah gang kumuh.
Mereka mengira setelah berhasil menggeser posisi Tigor dari gang kumuh, mereka akan bisa mengelola pusat tambang hiburan di kawasan berkembang itu dengan mulus.
Dengan segala kelicikan, mereka perlahan berhasil menggeser Tigor untuk dijadikan sebagai umpan buaya di kota Kemuning, karena mereka mengetahui tentang terbentuknya aliansi antara Jordan dan Birong yang bisa berdampak buruk terhadap bisnis milik Martin di kota itu.
Tapi apa sial? kini Tigor malah berkembang di sana dan gang kumuh masih seperti itu-itu saja dari waktu ke waktu.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Kita harus bisa menggangu aktifitas pembangunan di sana. Jika Tigor berhasil dengan proyek miliknya, kemudian dia juga berhasil menampung banyak anak-anak gelandangan, orang tua jompo serta proyek lainnya, maka mereka akan mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah. Jika ini sudah terjadi, akan sangat sulit bagi kita untuk menguasai keseluruhan organisasi ini." Kata Beni sambil mondar-mandir.
"Benar kata mu itu bang. Ketika proyek itu berhasil terlaksana, segala pujian akan mengalir kepada Tigor." Ujar Togi pula.
"Aku tidak meminta mu untuk mengaminkan perkataan ku tadi. Yang aku butuhkan saat ini adalah buah pikiran dari kalian. Apa solusinya?" Bentak Beni dengan kesal.
"Mau cara halus atau cara kasar bang?" Tanya Strongkeng.
"Terserah kau lah. Mau dengan cara apa." Kata Beni.
"Jika dengan cara halus, itu sedikit lebih sulit. Karena, itu harus melibatkan pemerintah daerah. Kita harus bisa melobi pemerintah daerah untuk membatalkan izin pembangunan di kota Kemuning. Sementara kita tau bahwa hubungan Tigor-Martin dengan pemerintah daerah sudah terjalin dengan sangat baik."
"Jadi, apa cara kasar nya?" Sergah Beni.
"Cara kasar nya ya dengan membuah kekacauan. Hal ini bisa menghambat proses pembangunan yang mereka kerjakan. Kita bisa membuat mereka frustasi dan berfikir untuk menunda pelaksanaan proyek itu." Kata Strongkeng.
"Apakah kau mengira dengan hal yang sangat sederhana seperti itu bisa berjalan dengan baik? Usulan yang kau berikan itu terlalu sepele." Kata Beni.
"Sepele lebih baik daripada tidak sama sekali, Bang! Abang aja yang lebih pintar dari kami berdua bisa buntu. Apa lagi kami."
"Baiklah. Untuk sementara ini aku akan memikirkan cara bagaimana supaya kerja-kerja di proyek milik mereka itu tidak berjalan seperti rencana mereka. Kalian bersiap-siap lah! Kita harus segera berangkat ke kota Batu untuk menemui Birong. Jordan dan Ronggur juga akan berada di sana. Kita harus membahas masalah ini serta langkah apa yang harus di ambil sebelum masalah ini menjadi semakin tak terkendali." Kata Beni sambil menyeruput kopi nya dengan buru-buru.
"Abang bersama kami saja. Kita berangkat satu mobil. Tangan Abang kan belum sembuh benar." Kata Togi.
"Begitu pun jadi. Ayo segera berangkat jika tidak ada lagi yang harus kalian persiapkan." Ajak Beni.
Mereka bertiga lalu segera melangkah keluar dari rumah Beni menuju ke arah tempat parkir dan tak lama setelah itu, mobil BMW itu pun meluncur meninggalkan kawasan pinggiran kompleks elite menuju ke kota Batu.
Mobil Lexus LC 500 berwarna merah darah itu melesat laju dari arah Dolok ginjang menuju ke sebuah klinik yang dikenal oleh orang-orang sekitar sebagai Klinik Debora.
Begitu mobil mewah itu berhenti di depan Klinik, seorang gadis tampak keluar dari dalam mobil itu dengan sangat anggun.
Gadis itu adalah Wulan putri Lalah dari Dolok ginjang.
Tidak ada pemuda mata keranjang yang berani menatap dengan kurang ajar kepada gadis itu. Hal ini karena mereka tau siapa Lalah sang penguasa Dolok ginjang yang memiliki hubungan sangat baik dengan Martin sang penguasa kota Tasik Putri ini.
Oleh karena itu mereka harus berfikir jutaan kali untuk membuat masalah dengan Wulan.
"Hi Debora. Apa kau masih sibuk?" Tanya gadis itu sebaik saja tiba di depan pintu klinik.
"Hei Lan. Kapan kau sampai? Mengapa tidak memberitahu kepada ku sebelum sampai?" Kata gadis bernama Debora itu sambil melangkah mendekati Wulan lalu seperti Teletubbies, mereka pun berpelukan.
"Ah tidak perlu memberi tahu."
"Eh Debora! Aku ada berita hangat dari Tigor." Kata Wulan dengan sangat antusias.
"Berita dari Bang Tigor? Apa itu?" Tanya Debora penasaran.
"Aku mendengar bahwa Tigor sudah menjadi direktur di kota Kemuning. Dia diangkat oleh Paman Martin sebagai wakilnya di sana. Kaya dia sekarang." Kata Wulan yang membuat wajah Debora tiba-tiba memerah.
"Pantas aku tidak pernah lagi melihat bang Tigor selama hampir sebulan ini." Kata Debora.
"Sudah hampir dua bulan malahan dia di sana. Kemana aja kau sampai tidak tau berita."
"Aku sibuk Lan. Lagian kan mana mau Tigor bergaul lagi dengan ku. Dia sudah berubah sekarang. Semakin sulit di jangkau. Jangankan untuk menyapa, melihat wajahnya saja sulit." Keluh Debora dengan ekspresi wajah mendung.
"Berarti aku lebih beruntung dibandingkan dirimu. Aku masih sempat mendapat pelukan hangat dari Tigor. Dia juga yang mengantarkan aku kembali ke Dolok ginjang dan menginap semalam di rumah ku." Kata Wulan dengan bangga.
"Kau beruntung Lan." Kata Debora singkat.
"Heh Debora! Apakah kau sekarang berubah fikiran terhadap Tigor?"
"Apaan sih. Pertanyaan mu ini aneh sekali."
"Makanya Debora. Kalau benci itu cukup sebencinya saja. Jangan pake banget. Kalau suka itu juga cukup sesukanya aja dan jangan pake banget juga. Karena bisa saja suatu saat hati ini terbalik dari benci menjadi suka dan sebaliknya." Kata Wulan berlagak sok bijak.
"Eleh. Kayak dirimu tidak seperti itu juga. Dulu kau bahkan menjadikan Tigor itu seperti kacung bagimu. Ya kan? Ngaku nggak!" Kata Debora sambil menggelitik pinggang Wulan.
"Hahaha... Kita ini lucu. Mengapa bisa begini ya?" Tanya Wulan.
"Itu karena kita terlalu mengharapkan sesuatu yang berlebihan terhadap diri Tigor. Ketika dia tidak sesuai dengan yang kita harapkan, kita kecewa. Setelah kekecewaan itu telah merasuki hati kita, tiba-tiba Tigor mampu menjadi seperti ekspektasi kita sebelumnya. Tapi kan semuanya sudah serba terlambat." Kata Debora.
"Haduh. Hanya karena Tigor seorang saja sebegini mumetnya. Bagaimana kalau ada seratus orang seperti Tigor. Pecah kepala ku." Kata Wulan.
"Kau ini serakah. Seratus orang seperti Tigor. Emang mau kau borong sendiri?" Tanya Debora.
"Hahahaha.... Aku..., Entahlah." Jawab Wulan mendadak jadi kikuk.
Kedua gadis itu terus saja mengobrol tentang diri Tigor. Sedangkan Beni saat ini juga sedang membahas masalah tentang orang yang sama di kota Batu.