BLACK CAT

BLACK CAT
Senjata rahasia itu bernama Carmen Bond 070



Hampir sebulan berlalu semenjak Tigor mengalami musibah, kini dia sudah mampu untuk duduk dan berjalan selangkah demi selangkah.


Namun demikian, walaupun tubuhnya telah hampir pulih, akan tetapi tidak bagi hatinya.


Hatinya saat ini masih terasa sedih bahkan lebih sedih dari sebelumnya. Terkadang dia sering melamun lalu menangis sendirian di kamar tempat dia di rawat.


Terbayang di ingatannya bagaimana dulu dia bersama Martin ketika dia diangkat dari tempat sampah lalu diberikan kepercayaan.


"Maafkan aku yang tidak berguna ini Pak Martin. Aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan saat ini pun aku masih tidak bisa melakukan apapun."


"Huhuhu..."


Suara tangisan Tigor itu samar-samar terdengar oleh para sahabat-sahabatnya.


Mereka lalu berdatangan untuk sekedar memberi hiburan kepada Tigor.


"Sudahlah bang. Semuanya sudah terjadi. Yang sudah meninggal takkan bisa hidup lagi. Sekarang ini tinggal kita yang masih hidup ini harus meneruskan perjuangan." Kata Jabat.


"Aku tidak dapat menerima pukulan telak ini. Kalian tau seberapa dekat aku dengan Martin. Satu yang paling aku sesalkan adalah, ketidakmampuan ku untuk meyakinkan bahwa mereka semua itu adalah penghianat. Aku gagal melindungi orang yang sudah sangat berjasa bagi ku, bagi mu dan bagi kita semua. Layak kah aku disebut sebagai anak angkat?"


Tigor benar-benar merasakan pukulan yang sangat telak saat ini.


Sakit pada tubuhnya masih bisa dia tahan. Namun sakit pada hatinya hanya kematian Marven dan Beni lah yang bisa menyembuhkan.


"Apa ada kabar dari kota Tasik Putri?" Tanya Tigor.


"Ada bang. Marven saat ini sedang menuntut pengacara untuk memindahkan seluruh aset milik Martin kepadanya karena dia adalah pewaris satu-satunya kekayaan Martin. Namun ada satu hal yang sampai saat ini masih menjadi ganjalan." Jawab Acong.


"Katakan apa itu!" Pinta Tigor.


"Ini tentang seluruh aset Martin yang berada di kota Kemuning ini. Ternyata, Martin mengatasnamakan semua aset nya di kota Kemuning ini atas nama Abang. Itu yang membuat Marven tidak terima. Bahkan dia berani mengancam pengacara dan menyuruh pengacara tersebut agar merubah isi surat wasiat itu."


"Kurang ajar Marven ini. Sepuluh nyawanya pun tidak akan sanggup menebus rasa sakit di hati ku ini."


"Apa ada yang tau di mana ponsel ku?" Tanya Tigor.


"Ada sama Monang bang." Kata Acong.


"Apakah kalian ada mendengar kabar tentang Karman?"


"Ada. Dia baik-baik saja."


"Oh. Syukurlah. Inilah saatnya memanfaatkan Karman. Dia adalah satu-satunya senjata kita untuk saat ini."


"Monang. Tolong bawa kemari ponselku. Aku akan melihat apakah masa aktifnya masih ada." Kata Tigor.


Monang pun langsung membuka laci pada meja yang terletak di kamar itu. Mengambil ponsel lalu menyerahkannya kepada Tigor.


Setelah melihat ke ponsel nya, Tigor lalu memberikan kembali kepada Monang.


"Masa aktifnya habis." Kata Tigor.


Monang pun langsung mengisi pulsa Tigor melalui M-banking lalu menyerahkan kembali ponsel itu kepada Tigor.


*********


Kriiing...


Kriiing...


Seorang pemuda berpakaian serba hitam dengan sepatu hitam, topi koboi hitam dan kacamata hitam tampak sedikit kaget ketika dia melirik ke arah layar ponsel.


Hal ini karena, dia melihat nomor si penelepon adalah nomor milik Tigor. Sementara itu dia kini sedang bersama dengan Marven dan Beni.


"Bisa gawat ini jika ketahuan." Kata Karman atau nama bekennya Mr.Carmen Bond 070.


"Ini Bos. Ayang beb ku." Jawab Marven berbohong.


"Jika kau mau menjawab telepon, pergi jauh-jauh! Jangan bikin mood ku rusak mendengar ocehan sampah mu itu." Kata Marven.


"Baik Bos. Aku permisi dulu." Kata Carmen lalu segera berjalan ke luar.


Kriiiiiing...


Sekali lagi ponsel Carmen berdering.


"Halo Ayang beb." Kata Carmen Bond sengaja mengeraskan suaranya.


"Karman. Ini aku Tigor."


Terdengar suara dari seberang sana menyebutkan namanya.


"Oh iya Ayang beb. Ada yang bisa saja tinju?" Tanya Carmen Bond.


"Ada apa denganmu Karman?" Tanya Tigor yang masih juga belum mengerti.


"Aduh bang. Kau jangan membuat aku sulit. Kau kan tau kalau aku lagi berada di kandang harimau." Kata Carmen Bond berbisik.


"Oh iya. Maafkan aku. Oh ya Karman. Bagaimana dengan keadaan di sana?" Tanya Tigor.


"Gawat bang. Anak setan itu benar-benar sudah gila. Dia telah mengirim anak buahnya dibantu oleh geng tengkorak untuk menyerang markas Lalah dan Poltak di Dolok ginjang."


"Apa?" Tanya Tigor dengan nada suara terkejut.


"Lalu apa yang terjadi?" Tanya Tigor.


"Masih belum tau bang. Aku ingin memberitahu kalian. Tapi keadaan kalian di sana juga tidak memungkinkan. Sedangkan Lalah aku sendiri tidak memiliki nomor ponsel nya." Kata Carmen Bond.


"Ya sudah. Aku akhiri dulu panggilan ini. Aku harus menelepon Lalah." Kata Tigor.


"Sudah terlambat bang. Mereka pasti sudah bertempur di sana."


"Benar-benar celaka dua belas. Karman. Kita sudah tidak bisa berbuat banyak untuk saat ini. Jadi, aku sangat mengandalkan dirimu."


"Maksud Abang?" Tanya Carmen Bond tidak mengerti.


"Kau harus mencari celah lalu adu domba mereka. Aku yakin Beni juga tidak akan tulus kepada Marven. Inilah saatnya bagimu untuk menunjukkan kepada ku tentang kehebatan ilmu padi yang kau miliki." Kata Tigor.


Dia faham benar jika Carmen Bond ini sudah di puji, bakalan naik tuh kuping nya.


"Aku faham maksud mu Bang. Sekarang kau istirahat saja dulu. Pulihkan kembali energi mu yang banyak terkuras lalu tunggu kabar baik dari ku." Kata Carmen Bond.


"Tapi kau harus hati-hati Mister Carmen Bond. Beni itu sangat licik. Andai aku bisa, aku pasti akan ke sana lalu membunuh bangsat itu. Tapi kau pun tau sendiri lah bagaimana keadaan ku sekarang."


"Orang seperti Beni ini bang harus seperti main catur. Jika mengandalkan otot, tidak boleh tanggung-tanggung. Mati sekalian. Tapi aku tau bagaimana caranya untuk memecah belah mereka. Setidaknya membuat setiap diantara mereka saling mencurigai." Kata Carmen Bond.


"Oh ya Bang. Kau kirim beberapa anak buah mu untuk menjaga pak Burhan. Saat ini Marven juga ingin membunuhnya karena pengacara itu tidak mau menuruti keinginannya untuk memalsukan surat wasiat dari Martin tentang asetnya yang dia pindahkan atas nama Abang."


"Baiklah. Terimakasih sudah mengingatkan ku. Kau harus berhati-hati di sana Karman. Pakai selalu ilmu padi mu itu!" Kata Tigor berpesan.


"Tenang bang. Ilmu padi dan ilmu menjilat ku sudah sampai pada tahap kesempurnaan. Jangankan Marven. Beni pun tidak akan mampu mengalahkan ku."


"Hahaha. Ya sudah. Aku menunggu kabar baik dari mu."


"Ok ayang beb." Kata Carmen Bond lalu mengakhiri panggilan.


"Hmmm... Aku tau caranya untuk membuat kalian saling bunuh. Kau tunggu saja Marven dan Beni sialan" Kata Carmen Bond dalam hati lalu segera melangkah untuk memasuki rumah besar itu.