BLACK CAT

BLACK CAT
Malu nya Marven



Hari ini, Tigor tampak sedang sibuk dengan ponsel di tangannya.


Berulang kali dia melakukan panggilan ke sana sini.


Beberapa sahabatnya juga tampak sedang sibuk di bangunan yang sudah selesai 2 bulan itu.


Dua hari lagi, Wali kota akan memberikan penghargaan kepada Martin karena dengan upaya nya, berhasil mengurangi gelandangan di kota Kemuning, Kota Batu, Dan kota Tasik Putri.


Sebenarnya Tigor lah yang layak mendapatkan penghargaan itu. Namun karena semua yang dia lakukan bahkan proyek yang lancar jaya di kerajaan oleh anak perusahaan Future of Company atas nama Martin, maka nama Martin lah yang naik ke permukaan.


Tigor sama sekali tidak mempermasalahkan semua itu. Baginya yang terpenting adalah misi nya kali ini di kota Kemuning berjalan dengan mulus.


Banyak orang-orang besar yang di undang oleh Tigor dalam acara itu. Termasuk Lalah, Poltak, walikota Tasik Putri, Walikota tanjung karang, walikota Kota Batu dan lain sebagainya.


Karena ingin menunjukkan kekuatan geng kucing hitam, Dia sendiri langsung mengerahkan anak buahnya dan langsung berangkat menjemput Martin dengan rombongan melebihi lima puluh unit kendaraan roda empat.


Hal ini dia lakukan dengan maksud menunjukkan kepada mereka dominasi geng itu di kota Kemuning dan mengatakan bahwa geng kucing hitam bukan lagi geng Micky mouse yang bisa mereka tindas sesuka hati seperti dulu.


Ini jelas sebuah tamparan keras bagi geng tengkorak. Apa lagi mereka tidak di undang untuk menghadiri acara itu.


Dengan disertai oleh Beni, Strongkeng, Togi dan tentunya Marven, mereka pun berangkat menuju ke kota Kemuning.


Bahkan, Marven sendiri pun diam-diam mengajak Butet untuk menghadiri acara itu.


***


Kini puncak acara yang di tunggu-tunggu pun akhirnya tiba juga dimana Pak walikota, kota Kemuning menyampaikan kata sambutannya.


"Terimakasih. Terimakasih banyak karena telah Sudi datang dalam acara yang diadakan oleh pemerintah daerah kota Kemuning ini."


"Tuan-tuan dan Puan-puan sekalian. Para hadirin yang saya hormati yaitu bapak walikota Tasik Putri, Bapak walikota Dolok ginjang, Bapak Bupati Tanjung karang, serta bapak walikota Kota Batu."


"Selain ini di sini juga turut hadir bapak Lalah Silalahi selaku pengusaha dari Dolok ginjang, Bapak Poltak Manurung yang juga dari Dolok ginjang. Bapak Martin selaku pemilik yayasan ini beserta keluarga masing-masing. Saya ucapkan terimakasih karena telah memenuhi undangan dari adik kita Tigor dan kami dari jajaran pemerintah daerah kota Kemuning ini."


"Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian, kini tibalah kita di penghujung acara yaitu penyerahan piagam penghargaan dari kami pemerintah daerah kota madya."


"Sebenarnya penghargaan ini terlalu sedikit untuk menggambarkan rasa terimakasih kami atas keprihatinan dan rasa kemanusiaan yang telah ditunjukkan oleh Bapak Martin dengan mendirikan panti asuhan, Panti jompo, rumah sakit gratis serta sekolah sembilan tahun gratis. Dengan ini, saya mewakili jajaran staf mempersilahkan kepada Bapak Martin beserta putra sekaligus tangan kanan beliau untuk naik ke atas pentas ini."


"Mungkin ada sepatah dua kata yang ingin beliau sampaikan. Dengan ini, waktu dan tempat kami persilahkan." Kata Pak wali kota mengakhiri kata sambutannya.


Mendengar ini, Baik Beni maupun Venia melirik ke arah Martin dan Marven yang telah bersiap-siap untuk naik ke atas pentas.


"Marven, dampingi Ayah mu untuk naik ke atas pentas!" Kata Venia menyuruh putra nya untuk naik ke atas pentas.


Harapan Venia adalah, agar semua orang melihat bahwa Marven lah yang akan menggantikan posisi Martin sebagai ketua organisasi sekaligus melenyapkan spekulasi tentang anggapan mereka bahwa Tigor lebih layak dibanggakan dengan Putranya.


Namun, ketika Marven akan berdiri untuk mendampingi Ayahnya, Martin langsung menarik tangan Tigor untuk mengiringi dirinya naik ke atas pentas untuk memberikan sepatah dua kata.


Kejadian yang sangat memalukan ini membuat wajah Marven seperti dilumuri dengan kotoran. Ini terlebih lagi ketika dia melihat ekspresi mengejek dari Wulan serta wajah kecewa dari Butet.


Belum lagi Beni dan Venia yang merasa tidak puas hati karena Martin mengabaikan Marven sebagai putra dan memilih Tigor yang hanya bawahan.


"Kau lihat sendiri Marven? Seperti apa posisi mu di dalam organisasi. Kau Hanya kacungnya Tigor." Kata Beni dengan senyum penuh penghinaan.


Marven benar-benar mati kutu. Wajahnya kini berubah dari merah, ke kuning langsung ke hijau seperti pelangi-pelangi ciptaan Tuhan.


Belum sempat Martin mengucapkan kata sambutannya, Marven segera berdiri dan langsung ke belakang menemui Butet dengan maksud ingin mengajak gadis itu meninggalkan acara yang belum selesai itu.


Namun, sekali lagi Marven kecewa karena Butet menolak ajakan itu dan secara terang-terangan menatap ke arah Tigor di atas panggung dengan tatapan penuh kekaguman.


"Kalau mau pulang, ya pulang saja sendiri. Aku masih ingin di sini. Lihatlah betapa terhormatnya dua orang yang berdiri di atas panggung itu!" Kata Butet dengan sengaja agar Marven merasa kepanasan.


"Baik. Jika kau tidak mau, maka aku akan pulang sendirian." Kata Marven.


Butet tidak menjawab. Hanya senyuman mengejek dan tatapan penuh penghinaan saja yang dia tunjukkan kepada Marven.


"Dasar brengsek. Sialan semuanya." Rutuk Marven dalam hati.


Perasaan terhina ternyata tidak hanya sampai di situ saja.


Tepat ketika dia melewati barisan kursi yang di duduki oleh Lalah dan Wulan serta Roger, sekali ini dia menerima sindiran keras dari ekspresi senyuman di wajah Wulan.


Kini Marven benar-benar merasa sepi ditengah keramaian.


Andai itu sebuah penyakit, maka wajahnya itu laksana terkena panu, kadas dan kurap.


"Setan alas kalian semuanya. Aku adalah Marven. Kita lihat saja. Begitu tampuk kekuasaan di dalam organisasi jatuh ke tangan ku, Dolok ginjang lah yang akan menjadi sasaran utama ku. Kalian akan membayar semua rasa terhina yang aku alami malam ini." Kata Marven dalam hati.


Ketika dia hampir mencapai pintu, sekali lagi dia melirik ke arah mereka semua dan sambil mengepalkan tinjunya, dia pun segera keluar menuju mobilnya dan langsung memasuki mobil tersebut kemudian tancap gas meninggalkan tempat acara itu berlangsung.


Sementara itu, setelah selesai dengan kata sambutannya, Martin dan Tigor pun menerima piagam penghargaan dari walikota kota Kemuning yang mewakili seluruh jajaran staf pemerintah daerah.


"Terimakasih. Terima kasih yang tak terhingga atas apresiasi dari Bapak Walikota. Ini adalah pemangkin semangat untuk saya, untuk anak angkat saya yaitu Tigor agar kedepannya lebih giat lagi dalam aktivitas amal. Semoga kedepannya kami bisa membangun lebih banyak lagi yayasan dan turun berkontribusi dalam memajukan kota Kemuning serta kota Tasik Putri. Sekian dari saya, dan terimakasih." Kata Martin dengan senyum mengembang diwajahnya.


Tepuk tangan dari para hadirin pun bergemuruh.


Ucapan selamat kini mengalir berdatangan kepada Martin dan Tigor karena berhasil mendapatkan pengakuan dari pemerintah daerah atas sumbangsih nya di kota Kemuning ini.


"Selamat untuk mu sahabat ku! Kau juga Tigor!" Kata Lalah lalu memeluk kedua lelaki itu secara bergantian.


"Pak Martin. Hahaha. Selamat ya. Aku bangga kepada mu." Kata Poltak pula.


"Alah.. apa yang kalian banggakan dari ku. Ini semua adalah pekerjaan Tigor. Uang, uangnya sendiri. Yang memeras keringat adalah dirinya. Yang berjibaku juga dirinya. Semua ini adalah usaha dari dirinya. Rasanya tidak adil bukan?" Tanya Martin.


"Hahaha... Apa itu tidak adil?" Tanya Lalah pula.


"Iya lah. Dia yang penat, dia yang mengeluarkan dana, dia yang ke sana ke mari seperti strika, tapi aku yang dapat nama. Apakah itu adil bagi Tigor?" Tanya Martin sambil merengkuh pundak Tigor yang sejak tadi hanya tersenyum saja.


"Itu tidak masalah Pak. Yang penting tujuannya tercapai." Kata Tigor.


Baginya adalah, asalkan dapat pengakuan dari pemerintah daerah, maka langkah nya di dunia hitam sedikit tersamarkan. Ini baru langkah yang bijak.


Setelah ini, jika ada yang ingin mencari gara-gara dengannya, maka harus berfikir seribu kali.


"Ini. Inilah perbedaan dirinya dengan Marven. Tigor ini sangat inovatif. Kau telah menginspirasi kami Gor. Kemungkinan aku juga akan mengikuti langkah mu di Dolok ginjang." Kata Lalah pula.


"Aku akan membantu mu bang!" Kata Poltak.


"Ok. Malam ini jangan kembali dulu. Kalian semua akan aku jamu di restoran ku dan kalian juga akan menginap di kamar VVIP di Martins Hotel. Bagaimana?" Tanya Martin.


"Ok. Kalau begitu, mari kita berangkat." Ajak Lalah.


"Mari kita undang semua yang hadir di sini. Orang-orang besar ini harus di bikin kenyang dulu." Kata Martin.


"Hahaha. Otak Mafia mu ternyata bisa juga." Kata Lalah pula.


Setelah berbasa-basi dan mengajak semua orang-orang berpangkat itu, mereka pun lalu bergegas mengarah ke Restoran milik Martin untuk acara makan malam, malam ini.