
...Gang kumuh....
Tepat sekitar pukul 11 menjelang tengah hari, rombongan Tigor dan Kawan-kawan nya akhirnya sampai juga di salah satu restoran mewah di pinggiran kota tasik putri yang sudah sangat dekat dengan perbatasan kota Batu ini.
Dulunya restoran ini adalah restoran biasa saja yang di kelola oleh orang lokal keturunan China muslim. Namun setelah kurang berkembang, akhirnya sang pemilik restoran menjual testoran ini kepada Martin.
Sempat berpindah tangan hampir 5 tahun karena kawasan ini direbut secara paksa oleh Geng tengkorak, namun sejak bergabungnya Tigor ke dalam organisasi, restoran ini berhasil di rebut kembali beserta kawasan sekitarnya dan orang-orang geng tengkorak dipaksa pulang jalan kaki ke kota Batu.
Entah bagaimana status kepemilikan restoran mewah ini. Pokoknya, kau kuat, maka kau akan menjadi penguasa.
Begitu rombongan Tigor ini tiba di depan pintu masuk, tampak anak-anak buah geng kucing hitam bawahan Beni saling berbisik lalu menghampiri Tigor.
"Maaf bang Tigor. Apakah kalian akan makan di sini?" Tanya lelaki itu.
"Benar." Jawab Tigor singkat.
"Sebenarnya bang, kami hanya menjalankan tugas saja. Mohon dimaafkan jika menyinggung perasaan abang! Tadi malam Beni berpesan bahwa jika abang datang kemari, abang hanya akan diperlakukan sebagai tamu biasa. Layaknya seorang pelanggan biasa, maka abang boleh makan namun setelah itu abang harus membayar. Tidak ada yang gratis buat abang du restoran ini." Kata penjaga itu.
Mendengar kata-kata bernada meremehkan ini, bukannya membuat Tigor marah. Malah dia tersenyum sambil menepuk pundak lelaki yang lebih tua daru dirinya itu.
"Tidak apa-apa. Katakan kepada orang yang menyuruh mu menyampaikan hal ini kepadaku. Bahwa aku hanya ingin makan di sini bersama sahabat-sahabat ku. Aku akan bayar berapapun harga yang telah kami makan di restoran ini." Kata Tigor.
"Terimakasih bang. Harap maafkan saya. Kalau tidak saya sampaikan, berarti saya salah dan akan di keluarkan dari organisasi. Mau makan apa anak saya bang?" Kata lelaki itu lagi.
"Ya. Aku mengerti maksud mu. Tenang saja. Kau boleh jaga di sini. Lagi pula tempat ini memang sudah menjadi tanggung jawab Beni. Aku tidak akan mengacaukan tempat ini." Kata Tigor.
"Apakah aku boleh masuk?" Tanya Tigor lagi.
Penjaga itu hanya tunduk saja. Tanpa mengiyakan, dan tidak pula menidakkan.
"Apakah sudah sedemikian parahnya keretakan hubungan kita dengan Beni?" Tanya Andra yang sejak tadi merasa sangat tersinggung.
"Sudahlah! Jika tidak boleh, kita pindah saja ke lain tempat." Kata Tigor.
Tigor yang tidak mau memperpanjang masalah langsung menarik tangan Mirna untuk berjalan menuju restoran yang lain sekitar 200 meter dari restoran tadi.
Andra, Acong, Karman, Monang dan yang lainnya hanya bisa geleng-geleng kepala saja.
Dalam hati Monang saat ini sedang berfikir keras. "Bagaimana mungkin Tigor anak angkat dari Martin bisa dilarang memasuki restoran ini hanya karena Beni yang tadinya sudah dilucutkan jabatannya oleh Martin. Ini pasti ada apa-apanya."
"Benar juga kata Tigor. Karman memang harus berada di sisi Martin. Jika tidak, bukan mustahil Tigor tidak akan dapat memantau keadaan di komplek elit jika dia sudah berada di kota Kemuning." Kata Monang lagi dalam hati.
*********
...Restoran Kupang....
Tigor yang saat ini telah sampai di sebuah restoran kelas atas di gang kumuh ini langsung mengajak sahabat-sahabatnya untuk masuk ke dalam restoran.
Karena sudah terkenal di kawasan gang kumuh ini, maka tidak heran ketika dia sampai di ruangan bagian paling depan di restoran itu, sang Manager restoran pun langsung menghampiri Tigor dan berbasa-basi ini dan itu.
"Selamat datang di Restoran Kupang, Bang Tigor!" Sapa Manager itu dengan ramah.
"Oh. Pak Dura. Terimakasih atas sambutannya. Aku sengaja datang kemari untuk mentraktir teman-temanku. Apakah kamar platinum ada yang kosong?" Tanya Tigor.
"Ada bang. Tapi sebaiknya jangan kamar platinum. Terlalu sesak dengan orang seramai ini. Bagaimana jika di kamar yang paling besar. Tentunya lebih mahal. Hehehe.." Kata Manager itu.
"Baiklah. Aku menginginkan kamar Diamond. Dan ini kartu VIP ku!" Kata Tigor sambil menyerahkan kartu kuning keemasan kepada sang Manager.
"Hehehe... Silahkan bang!" Kata Sang Manager sambil menunjuk kearah lift yang akan mengantar mereka ke lantai 3 restoran itu.
Karena terlalu ramai, maka mereka bergiliran menaiki lift dan akhirnya mereka tiba juga di ruangan lantai tiga yang memiliki kemewahan yang tidak kalah dengan restoran milik Martin tadi.
"Waaaah... Baru kali ini aku naik ke sini. Mewah dan megah." Kata Ucok memuji.
"Hati-hati! Jangan sentuh semua barang yang ada di sini. Nanti kalau pecah, bagaimana kita membayarnya." Kata Sugeng memperingatkan.
Saat ini baik Ucok, Sugeng, Thomas, Jabat, atau pun Monang yang memiliki kedudukan lumayan pun masih saja merasa terkagum-kagum melihat kemewahan dekorasi dan perabotan yang serba lux di ruangan ini.
Mirna juga tidak henti-hentinya melirik ke sana dan ke sini hanya untuk melihat-lihat ruangan itu.
Dari mulai guci, pot bunga, gelas giok sampai ke lukisan serta hasil kerajinan tangan lainnya yang berada di dalam ruangan itu adalah barang antik dan langka sekali.
"Mengapa Mirna? Apa kau menyukai tempat ini?" Tanya Tigor.
"Suka bang. Terimakasih karena telah mau mengajak aku kemari. Aku seumur hidup belum pernah sampai ke restoran sebagus ini." Kata Mirna.
"Jangankan kau. Aku pun yang sudah menghabiskan masa kanak-kanak di kota ini pun baru kali ini menginjakkan kaki di sini." Kata Ameng menyela obrolan Tigor dan Mirna sambil diikuti gelak tawa dari yang lainnya.
"Ayo silahkan duduk!' Kata Tigor mempersilahkan sahabat-sahabatnya untuk duduk sebaik saja mereka sampai di sebuah meja dengan ukuran besar.
"Kalian tidak perlu heran begitu. Coba lah untuk membiasakan diri dengan kehidupan seperti ini. Ini karena sebentar lagi Tigor akan menjadi CEO di kota kemuning yang meliputi Kafe, Restoran dan pusat hiburan. Biasakan berkehidupan mewah mulai dari sekarang." Kata Monang sambil melirik ke arah Tigor.
"Apa betul kata bang Monang itu ya Bang Tigor?" Tanya Jabat.
Karena jawaban yang alakadarnya saja dari Tigor, mereka yang heran langsung bertanya. "mengapa kau seperti tidak bersemangat bang?"
"Aku bukannya tidak semangat. Namun bagiku itu biasa saja. Apakah kau fikir CEO itu adalah segalanya? CEO juga makan gaji. Sedangkan aku bercita-cita ingin menjadi seorang Founder dan Owner bagi sebuah perusahaan impian ku. Aku ingin menjadi pemilik. Bukan direktur." Kata Tigor sambil menggeleng penuh cibiran.
"Dengan usaha yang gigih, harus nya kita sudah bisa mewujudkan impian mu itu bang. walau tidak banyak, seharusnya itu cukup untuk memulai sesuatu yang baru." Kata Timbul.
"Itulah mengapa aku mengalah dan melepaskan gang kumuh ini tanpa perlawanan. Ini karena aku menginginkan sesuatu yang besar. Lebih besar dari gang kumuh ini. Kota kemuning pasti akan memberikan banyak hal kepada kita." Kata Tigor.
"Oleh karena itu sahabat-sahabat ku. Aku membutuhkan dukungan kalian. Beni menginginkan sesuatu yang instan dan menganggap kota kemuning adalah samudra yang mampu menenggelamkan dirinya. Padahal jika menginginkan mutiara, kita harus berusaha untuk menyelam ke dasar laut. Tentunya dengan usaha dan ketabahan. Kita pasti bisa menyulap kota kemuning menjadi kota tujuan banyak orang. Menjadi kota tujuan para investor. Kota kemuning harus bisa menjadi pusat kekuatan untuk organisasi kucing hitam. Saat itu terjadi, tanpa menggunakan telapak tangan pun, kita mampu menampar wajah Beni." Kata Tigor.
"Kami siap mengikuti kemanapun kau pergi bang!" Kata Andra, Acong, Ameng dan Timbul serentak.
"Ya. Harus dengan kalian semua. Tampa kalian, aku bukan siapa-siapa." Kata Tigor.
"Kemungkinan aku hanya menjadi seorang pembunuh bayaran jika saja aku tidak bertemu dengan kalian." Kata Tigor dalam hati.
Dia tidak berani mengungkapkan kata-kata itu. Ini karena dia tidak ingin mereka mengira bahwa Tigor juga haus darah seperti Black Cat.
*********
Kriiing....
Kriiiing....!
"Maaf. Aku harus menjawab panggilan dulu." Kata Tigor kepada sahabat-sahabat nya.
"Silahkan Gor!" Kata Monang.
"Hallo Pak Martin!" Kata Tigor setelah menjawab panggilan itu.
"Tigor. Di mana kau sekarang?" Tanya Martin.
"Aku sedang mentraktir teman-temanku makam di restoran kupang Gang kumuh." Jawab Tigor.
"Gor. Aku dan Lalah sudah menghubungi pemilik speedboats sewaan. Kali ini kami mendapatkan nya dari perusahaan china. Saat ini mereka sedang bergerak ke kuala nipah. Kau bisa menggunakan speedboats itu untuk mengirim barang milik kita ke Mitra bisnis ku di Hongkong. Seseorang bernama Ming Kang Khang akan menunggumu di pelabuhan Hongkong." Kata Martin.
"Baiklah Pak Martin. Setelah lewat isya' aku akan berangkat bersama keempat anak buah ku."
"Bagus. Memang sebaiknya jangan terlalu ramai. Kalian akan merapat di pelabuhan Victoria di Hongkong dan akan ada rombongan yang akan menjemput kalian. Aku juga meminta mereka menyediakan seorang penerjemah bahasa untuk mempermudah negosiasi antara kau dan pihak mereka." Kata Martin.
"Terimakasih atas usaha keras mu Pak Martin." Kata Tigor dengan tulus.
"Kesepakatan antara aku dan mereka sudah final. Tinggal menunggu apakah kau akan meminta uang tunai atau melalui bank? Itu kau fikirkan sendiri!" Kata Martin.
"Sebaiknya melalui bank saja. Akan terlalu beresiko membawa uang tunai dalam jumlah yang besar. Apa lagi itu dilakukan secara ilegal. Aku tidak ingin kita mengalami kerugian." Kata Tigor.
"Bagus. Ternyata otak goblok mu itu pintar juga. Ada gunanya juga aku sering menjitak kening mu itu. Lumayan pintar kau sekarang. Jangan lupa sebelum pergi, singgah dulu ke rumah. Ambil beberapa butir peluru. Apakah pistol ku tidak kau buang?" Tanya Martin.
"Ada. Pistol itu ada di simpan oleh Andra." Jawab Tigor.
"Bagus. Aku tunggu. Jangan terlalu lama. Bukankah kau yang meminta untuk lekas melakukan keberangkatan." Kata Martin.
"Iya. Aku tidak akan lama. Sebentar lagi aku akan tiba. Kami juga sudah selesai makan." Kata Tigor.
"Ya sudah. Oh ya. Mengapa kau makan di restoran kupang? Apakah kau tidak mau makan di restoran milikku?" Tanya Martin.
"Kau tanyakan saja kepada Beni mengapa aku tidak makan di restoran yang aku rebut dari tangan geng tengkorak dengan mengorbankan banyak darah dari anak buah ku!" Kata Tigor langsung mengakhiri panggilan.
"Sialan." Kata Tigor membuat semua orang menatap.ke arahnya.
"Ada apa Gor?" Tanya Andra.
"Mr.Acong, Mr.Ameng, Mr.Thai Ngam Bhang, Mr.Thai lhin Chong! Kalian bersiap-siap! Malam ini kita akan berlayar menuju negri seberang." Kata Tigor sambil tersenyum lalu dia menatap ke arah Mirna.
"Maafkan aku Mirna. Aku batal mengajak mu jalan-jalan hari ini. Ini karena aku memiliki tugas dari boss besar. Lain kali jika aku selamat kembali, aku akan mengajak mu untuk jalan-jalan." Kata Tigor.
"Kalian mau kemana Gor?" Tanya Monang.
"Mau jadi tenaga kerja ilegal di Hongkong." Kata Tigor disambut gelak tawa oleh Keempat Mister dadakan.
"Bagaimana Empat Mister dadakan? Apakah kalian siap untuk berlayar?" Tanya Tigor.
"Kami empat Mister dadakan tidak pernah gentar menerjang badai, tidak takut mengarungi samudra. Asal ada pelampung nya." Kata Acong.
"Hahaha. Sudah ayo kita pulang! Ucok dan kalian semua! Jangan berpencar. Aku akan menempatkan semua anak buah ku di pusat hiburan gemerlap malam. Kalian harus selalu bersama. Akan ada kejadian setelah kepergian ku. Kemungkinan besar itu dari geng tengkorak yang akan menargetkan orang-orang terdekat dengan ku. Jika kalian bersama-sama, semuanya akan lebih mudah." Kata Tigor berpesan kepada sahabat yang sudah dia anggap lebih daripada saudara.
"Selow lah geng. Kami juga punya taring." Kata Sugeng.
"Iya betul itu. Sugeng tu bukan kaleng-kaleng."
"Hahahaha...."