
Pagi itu seorang pemuda berambut lurus sedikit pirang dengan gaya belah tengah sedang duduk termenung di depan kafe dekat jembatan. Jika di lihat sepintas, tampak pemuda itu seperti orang yang berpendidikan dan terpelajar. Namun siapa sangka bahwa tadi malam, atas komando dari dirinya, satu kawasan yang pesat berkembang di kota Tasik putri ini berhasil mereka rebut dari tangan geng tengkorak. Dan yang paling sadis adalah, tidak seorang pun yang lolos dari pihak geng tengkorak yang mereka bantai tadi malam itu.
Siapa pemuda tanpan bak artis korea ini sebenarnya?
Ya. Pemuda itu adalah Tigor. Si tampan berdarah dingin.
Tampan ketika dia menjadi Tigor, namun sangat ganas dan berdarah dingin ketika sudah mengenakan topeng Black Cat nya dan sampai saat ini, selain dari Martin, tidak ada yang tau wajah dibalik topeng yang sangat ganas seperti binatang buas itu.
Pemuda tampan bernama Tigor itu tampak sedang memain-mainkan sendok teh di atas meja. Tampak dari raut wajahnya saat ini seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Perjalanan panjang ini. Tidak terasa sudah delapan tahun kepergian orang tuaku yang dibunuh oleh Birong dan orang-orang nya. Delapan tahun. Sudah terlalu lama mereka bergembira di atas penderitaan ku. Maafkan aku Ayah. Maafkan aku Mak. Anak mu ini masih belum mampu menagih hutang darah itu." Kata Tigor dalam hati.
Wajar dia berfikiran seperti itu. Ini karena antara dia dan Rio terpaut jarak usia yang cukup jauh. Jika bukan dia yang akan membalas dendam, apakah harus menunggu Rio? Itu tidak mungkin. Apa lagi Rio ini cita-cita nya adalah menjadi seorang polisi. Mana bisa sembarangan membunuh walaupun dia membawa pistol kemana-mana dalam bertugas.
Berbeda dengan dirinya yang tidak perlu prosedur apapun dalam bertindak. Tapi nyatanya sampai saat ini dia baru berhasil menyingkirkan Bedul. Sementara Hasian anak dari Birong yang dia bunuh beberapa hari yang lalu sama sekali tidak ada sangkut paut dalam kematian kedua orang tuanya.
Andai Hasian tidak bertindak gegabah mencegat Marven dan Wulan di Tikungan pitu, kemungkinan besar putra Birong itu tidak akan diganggu oleh Tigor. Namun Hasian telah memilih jalan nya sendiri dan Tigor membantu proses jalan menuju kematian kepada Hasian.
"Untuk saat ini belum ada yang mengenaliku sebagai orang kedua yang berkuasa dibawah Martin. Namun cepat atau lambat mereka pasti akan bergerak untuk menjejaki asal usul ku. Ini tidak baik. Rio harus segera aku pindahkan. Semakin jauh, semakin baik. Biar habis banyak uang, yang penting adik ku selamat dari segala jenis ancaman."
Tigor terus saja berfikir sampai beberapa lama.
Setelah puas berfikir, Maka dia menetapkan bahwa Rio adik nya harus segera pindah sekolah. Bila perlu keluar negri. Minimal Pulau jawa lah.
Setelah membayar harga teh dan makanan yang dia makan walaupun di tolak oleh Manager Kafe, Tigor pun akhirnya kembali ke Blok B perumahan tingkat menengah ke atas di kota Tasik putri ini.
Tigor terus berjalan kaki mengikuti bahu jalan menuju ke arah Blok B. Walaupun dia memiliki Mobil sport dan sepeda Motor, namun dia tidak terlalu berani menggunakan kendaraan yang serba mewah itu. Terlalu berlebihan dari gelandangan tiba-tiba memakai barang super wah. Itu bisa menimbulkan kecurigaan andai Birong telah bergerak menyuruh anak buahnya untuk mencari tau siapa Tigor itu sebenarnya.
Saat itu matahari sudah mulai naik dan mulai garang dengan sinar nya yang terik.
Persis ketika Tigor sudah nyaris mandi keringat, tiba-tiba dari belakang berhenti sebuah mobil Honda warna merah dan menekan rem mendadak di samping Tigor.
Dari dalam tampak seorang gadis dengan wajah tengil menyapa dirinya. "Woy Pemeran lenong. Mau kemana kau?"
"Ah sial. Ngapain Wulan di sini." Kata Tigor dalam hati begitu mengenali siapa wanita yang menyapanya dengan gelar yang tidak enak ditelinga itu.
"Kak Wulan. Adik mu yang baik hati ini ingin kembali ke rumah Marven untuk menjaga rumah itu. Apakah Kak Wulan ada pesan untuk Marven. Nanti biar adik sampaikan." Kata Tigor sambil mengancingkan giginya dengan geram.
"Perkataan mu itu tidak tulus. Ulangi sekali lagi!" Perintah Wulan.
"Iya Kakak Wulan yang terhormat. Adik mengaku salah." Kata Tigor berusaha untuk tersenyum layaknya pemeran iklan pepsodent.
"Anda mesum Kak!" Kata Tigor yang salah tingkah diperhatikan seperti itu.
Dugh...!
"Addduh..."
Dikatakan mesum oleh Tigor, Wulan langsung menyepak tulang kering Tigor membuat pemuda itu mengaduh sambil mengusap-usap tulang kering nya.
"Lain kali jaga bicaramu di depan Kakak."
"Eh Gor! Tapi, setelah aku perhatikan, ternyata kau ini ganteng juga ya."
"Uhuk.. Uhuk.."
Suara batuk Tigor mulai terdengar begitu Wulan mengatakan dirinya ganteng tanpa tedeng aling-aling.
"Dasar gadis somplak. Biasa aja lah melihat lelaki. Jangan lah terlalu jujur!" Kata Tigor. Tapi dalam hati.
"Gor. Kakak mu ini ada tugas untuk mu. Jika kau setuju, maka urusan kita Kakak anggap selesai." Kata Wulan.
"Apa itu Kak?" Tanya Tigor ingin tau.
"Minggu depan Kakak ada acara dengan sahabat-sahabat. Kakak ingin kau mau berpura-pura menjadi pacar Kakak di sana. Bagaimana? Jika kau setuju, Masalah kita tempo hari Kakak anggap selesai." Kata Wulan.
"Kau. Kau mau membuat aku berpenyakit? Yang dulu aja sama Ronggur belum beres sampai sekarang. Ini mau kau tambah lagi penyakit baru. Mati nanti aku dibikin Marven kalau dia tau. Ah kau sama Marven aja lah. Malas aku." Kata Tigor menolak.
"Kau jangan menolak Gor! Kalau aku laporkan sama paman Martin, bahaya nanti kau. Pokoknya aku tak mau tau. Sabtu petang aku datang ke Blok B. Kalau kau tak mau, Berarti kau akan lebih sakit daripada berurusan sama Ronggur dan Marven." Kata Wulan.
"Heh Lan. Kau jangan keterlaluan. Dikasih kerupuk minta kacang pula kau. (Pribahasa Medan) Tak mau aku. Entah apa yang dia lihat dari awak ini." Kata Tigor sambil merengut.
"Ada. Ada yang aku lihat dari dirimu. Karena kau itu tampan, ganteng dan mirip seperti artis. Tak rugi lah aku sama kau. Kau minta 10 juta perjam pun aku mau." Kata Wulan sambil mencubit pipi Tigor.
"Kan kan kan. Kau mesum kan?" Teriak Tigor mati kutu.
"Hahaha. Mampus kau. makanya jangan berurusan sama aku. Heh Gor. Keinginan ku tidak pernah ada yang berani menolak. Lagian kau jangan terlaku percaya diri. Dalam acara nanti itu kau hanya akan jadi pacar palsu. Huh kau mana pantas sama aku." Kata Wulan sambil bergegas memasuki mobil nya dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Kini tinggallah Tigor sendirian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Lepas dari mulut harimau, masuk ke mulut naga. Mati lah aku kali ini dikerjain sama mak lampir." Kata Tigor dengan raut wajah seperti hampir menangis.