BLACK CAT

BLACK CAT
Bertemu lagi dengan Martin



Mobil BMW hitam meluncur perlahan membelah jalan antara komplek elit ke sebuah restoran samporna di pusat kota Tasik putri tersebut.


Restoran ini adalah milik Martin yang dijalankan oleh putranya Marven.


Selain restoran samporna, sekitar 300 meter di bagian kiri juga ada Hotel Samporna dan di belakang restoran tersebut ada bangunan khusus yang menyediakan berbagai hiburan antara lain, judi online, Karaoke, club malam seperti Diskotik dan rumah ayam kampung yang dijaga oleh Monang selaku bapak ayam di kawasan ini.


Tanya saja kepada semua orang di sekitar pusat kota ini nama Monang bapak ayam. Semua orang pasti kenal dengannya.


Karena antara Monang dan Tigor telah terjadi salah faham yang berujung damai diantara kedua belah pihak, Monang yang memiliki banyak kenalan dan koneksi meminta kepada manager restoran agar area parkir di depan restoran itu diberikan saja kepada Tigor untuk menjaganya.


Sang manager pun setuju dan Monang sendiri yang menjemput Tigor lalu menawarkan pekerjaan itu.


Setelah berdiskusi panjang, akhirnya Tigor pun menyetujui tawaran dari Monang ini dan jadilah dia sebagai juru parkir di restoran Samporna itu di temani oleh Jabat dan Ucok.


Sedangkan untuk Thomas dan Sugeng, Bonar mengatur mereka untuk bekerja sebagai pelayan di pusat hiburan tempat Monang menjadi kepala alias germo.


Tepat ketika itu cuaca memang tidak mendukung dan gerimis pun mulai turun.


Ucok yang sejak tadi giat bekerja tidak terlalu memperdulikan gerimis ini dan terus saja melakukan pekerjaan memberi arahan kepada para pengemudi yang memikirkan mobilnya termasuk mobil BMW mewah tadi yang mulai memasuki area parkir di depan restoran Samporna itu.


Saat itu keluar lah seorang lelaki berbadan tegap membukakan pintu untuk boss mereka sambil membawakan payung.


Namun apa yang mengherankan adalah, begitu lelaki setengah baya yang di hormati itu melihat Tigor sedang memberi aba-aba kepada pengemudi yang ingin memarkir mobilnya, tiba-tiba lelaki itu mengambil payung dari lelaki berbadan tegap tadi dan berjalan ringan menuju ke arah Tigor lalu memayungi anak muda itu dari gerimis yang mulai turun lebih lebat.


Merasa ada sesuatu yang menaungi di atas kepalanya membuat Tigor segera memutar badan dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat bahwa lelaki setengah baya yang dia kenal berdiri sambil memegang payung untuk nya.


"Pak Martin. Bapak di sini ternyata." Kata Tigor sambil melirik ke kiri dan kanan memperhatikan beberapa orang seperti tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Ini juga termasuk Jabat dan Ucok yang terheran-heran.


"Tempat ini kotor, Tigor. Untuk pemuda berbakat seperti mu, bukan di sini tempat nya." Kata lelaki setengah baya yang ternyata Martin itu.


"Ah. Anda bisa saja pak." Kata Tigor tersenyum kecut.


"Ayo ikuti aku!" Kata Martin sambil menarik tangan Tigor.


"Tapi aku lagi kerja ini Pak. Nanti manager marah." Kata Tigor sedikit menolak.


"Manager mana yang akan marah? Aku pecat dia jika berani macam-macam sama kau." Kata Martin.


"Jadi,"


"Ya. Restoran, hotel Samporna, dan pusat hiburan gemerlap malam adalah milik ku. Kota ini milik ku. Siapa yang berani memarahimu sama dengan memarahiku. Aku berhutang nyawa sama mu Gor. Ayo ikut saja dengan ku." Ajak Martin.


Tidak ada alasan lagi buat Tigor untuk menolak. Dia kini menurut saja kemana Martin menarik tangan nya.


"Ucok. Apakah orang itu yang bernama martin?" Tanya Jabat kepada ucok.


"Sepertinya iya. Tadi aku sekilas mendengar Tigor menyebut nama Martin." Jawab Ucok.


"Sepertinya Martin ini sangat menghormati Tigor. Kau lihat dia sampai rela memegang payung untuk Tigor." Kata Jabat lagi.


"Entah lah Jo. Aku juga heran. Akhir-akhir ini banyak keanehan yang terjadi pada diri Tigor. Dia sering keluar malam. Terakhir kali aku melihat pakaiannya penuh bercak darah." Kata Ucok.


"Darimana kau tau Cok. Jangan fitnah sahabat sendiri dong. Tidak baik."


"Sudah jangan katakan apa-apa lagi Cok. Biar pecah di perut asal jangan pecah di mulut." Kata Jabat memperingatkan Ucok.


"Gila. Mana mungkin aku menceritakan kepada orang lain. Hanya kau saja yang tau. Dan kau juga harus bisa menjaga rahasia!" Kata Ucok.


"Tenang saja. aku akan tutup mulut."


"Mantap. Ayo lanjut kerja lagi." Kata Ucok lalu bergegas memberi aba-aba kepada sopir yang akan memarkirkan mobil mereka.


*********


Sementara itu di dalam restoran, Martin segera mempersilahkan Tigor untuk duduk di meja yang bagus. Seumur hidup Tigor tidak pernah memasuki restoran megah dengan meja bagus seperti itu.


"Pak Martin. Untuk apa semua ini?" Tanya Tigor masih tidak mengerti.


"Tigor..! Sebenarnya aku mempunyai rencana untuk mengundang mu makan malam. Aku baru akan pergi ke jembatan tempat kita berpisah kemarin. Kebetulan aku melihat kau berada di sini. Makanya aku langsung menghampiri mu." Kata Martin sambil menjentikkan jari memanggil pelayan.


"Sediakan makanan khas restoran kita dan minuman kelas satu. Panggil Manager Theo kemari untuk melayani kami." Kata Martin memberi perintah.


"Baik Tuan besar." Kata pelayan itu sambil membungkuk hormat sambil berlalu pergi.


"Pak Martin. Anda memanggil saya?" Tanya seorang lelaki setengah baya berpakaian putih dipadu dengan dasi kupu-kupu.


"Manager Theo.., aku akan melakukan pertemuan dengan beberapa orang kanan dan klien. Kau tutup restoran ini untuk malam ini. Jangan lagi menerima tamu selain yang sudah aku tetapkan." Kata Martin.


"Siap Pak." Kata Manager Theo sambil menuangkan teh cina ke gelas giok milik Martin dan Tigor.


"Ayah aku datang."


Terdengar satu suara datang dari arah depan dan langsung memeluk Martin dengan manja.


"Darimana saja kau Marven?" Tanya Martin.


"Aku baru saja dari dunia gemerlap. Monang mengatakan ada barang baru. Jadi aku singgah dulu ke sana." Jawab Marven.


"Marven. Perkenakan orang yang telah menyelamatkan ayah dari keroyokan anak buah Birong. Namanya Tigor." Kata Martin memperkenalkan Tigor kepada Marven.


"Oh ternyata kau orang nya. Aku kira sudah tua ternyata sepertinya aku lebih tua dari mu." Kata Marven sambil menyalam tangan Tigor dengan ramah.


"Berapa usia mu saat ini Tigor?" Tanya Marven.


"Aku baru saja merayakan ulang tahun ku yang ke 22, dua hari yang lalu." Jawab Tigor.


"Hmmm..., kau tiga tahun dibawah ku. Saat ini usia ku 25 tahun. Kau harus memanggil abang kepadaku." Kata Marven sambil tersenyum.


"Baik Bang Marven!" Kata Tigor sambil tersenyum.


Dalam hati Tigor tidak henti-hentinya mengutuk mengapa dia bisa bertemu dengan Martin di restoran ini.


Belum lagi selesai dengan Martin, dia sudah harus bertemu dengan Marven anak Martin. Bahkan sebentar lagi dia akan berada di meja itu bersama dengan orang-orang dari geng kucing hitam.


"Benar-benar celaka." Kata Tigor dalam hati.