BLACK CAT

BLACK CAT
Beni menemui Birong



Pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit di pinggiran komplek elit Tasik Putri, rombongan yang dipimpin oleh Beni antara lain adalah Beni sendiri, Togi dan Strongkeng berangkat dari rumah milik Strongkeng menuju ke Bukit Batu.


Dalam perjalanan kali ini, Beni sedang mengusung misi dalam mengatur rencana untuk menyingkirkan sekaligus menghapus pengaruh Tigor dalam organisasi kucing hitam yang dipimpin oleh Martin.


Dalam otak Beni saat ini yang bisa dia lakukan adalah taktik adu domba yang kemungkinan besar akan melibatkan banyak nama. Namun target utamanya adalah Marven dan Tigor sebagai titik sentral bagi memuluskan rencananya.


Dalam beberapa minggu terakhir dia selalu mencari titik terlemah yang dapat membuat keretakan antara Marven dan Tigor. Walaupun dia belum seratus persen berhasil mempengaruhi Marven, namun bibit-bibit permusuhan itu sudah berhasil dia tanamkan dalam diri Marven selaku tuan muda yang tersaingi oleh bawahan.


Setelah tadi malam dia menelepon Tumpal untuk memberitahukan kepada Birong bahwa dia akan datang ke Villa milik ketua geng tengkorak yang berada di Kota Batu itu hari ini. Maka, dengan menetapkan hati, mereka bertiga memacu kendaraan roda empat milik Strongkeng menuju ke Kota batu.


*


Pagi itu di Villa milik Birong, tampak Tumpal yang baru saja mengatakan bahwa Beni dan kedua pentolan geng kucing akan mengunjungi Villa milik Birong sedang duduk di sebuah kursi yang terletak di halaman belakang Villa mewah itu dan tampak sangat asyik menyaksikan dua orang lelaki bertubuh besar dan kekar sedang bergelut dan berusaha saling menjatuhkan antara satu dan yang lainnya.


Di dada kedua lelaki berbadan tegap itu tampak tergurat tatto dengan lambang tengkorak.


Mungkin yang satu karena berkukit hitam legam, makanya tatto tengkorak itu tidak terlalu ketara. Berbeda dengan lawannya yang berkulit lebih cerah sehingga tatto itu jelas terlihat dan terkesan sangat sangar.


"Tumpal. Kapan Beni akan tiba di sini?" Tanya lelaki yang berbadan tegap berkulit hitam itu di sela-sela pergelutannya.


"Bang Birong. Dia bilang sekarang sedang dalam perjalanan. Mungkin sekitar pukul sepuluh akan sampai di kota Batu ini." Jawab Tumpal.


"Kau tidak ingin bertarung dengan kami Tumpal?" Tanya lelaki besar yang berkulit sedikit cerah.


"Kalian saja lah bang Togar. Aku bukan lawan kalian. Lihatlah badan ku terlalu kecil untuk kalian." Jawab Tumpal merendah.


"Kau harus berlatih, Tumpal! Keadaan saat ini mulai tak terkendali. Suatu saat situasi akan menagih tenaga mu sendiri. Ada masanya kau akanberada di titik dimana kau tidak bisa mengandalkan siapapun kecuali dirimu sendiri. Dan aku sangat menyadari betapa kuat nya lawan kita kali ini." Kata Togar sambil menjegal kaki Birong membuat lelaki berkulit hitam itu terbanting di rumput halaman belakang Villa itu.


"Ayo bang Birong. Bangun! Kau sudah terlalu lama tidak bergerak. Dulu kau yang mengajarkan aku cara bertarung. Sekarang mana keahlian mu?"


"Bangsat!!! Ayo aku belum kalah!" Kata Birong sambil menampar tanah dan bergerak bangun.


Meski sedikit lamban, namun kekuatan itu masih ada dalam diri Birong.


Pergelutan antara Birong dan Togar akhirnya berhenti ketika seorang pengawal memberitahu bahwa Villa mereka sedang kedatangan tamu dari kota Tasik Putri.


"Suruh dia masuk dan tunggu aku di ruangan tamu!" Kata Birong sambil menyambut uluran handuk dari seorang wanita muda yang sangat seksi.


"Cantik sekali kau hari ini manis!" Kata Birong sambil mencolek dagu wanita muda itu membuat Togar dan Tumpal tertawa terbahak-bahak.


"Kau temui dulu si Beni itu, Tumpal! Aku akan mandi dulu." Kata Birong.


"Baik Bang!" Kata Tumpal dan segera berlalu dari halaman belakang Villa menuju ke bagian ruang tamu.


*********


Empat orang lelaki yang sedang asik mengobrol itu tiba-tiba menghentikan obrolan mereka ketika seorang lelaki berbadan tegap dan berkulit hitam memasuki ruangan itu diiringi oleh wanita seksi dan berdiri di samping lelaki tadi yang duduk di kursi kebesarannya.


Tampak sebatang rokok cerutu berwarna kecoklatan terselip diantara jari tangannya yang besar.


"Terimakasih bang Birong. Kau dari dulu tak berubah. Udah lama kali kita tak berjumpa." Kata Beni mengawali basa-basi nya.


"Kau yang tak mau datang kemari. Tak mungkin lah aku yang datang ke tasik putri. Jika aku sudah menginjakkan kaki ku ke sana, harus ada korban jiwa." Kata Birong.


"Sudah lah bang. Korban jiwa memang harus ada. Karena itu lah aku datang kemari." Kata Beni sambil tersenyum.


"Rencana apa yang kau miliki, Beni? Kau sepertinya sangat percaya diri kali ini." tanya satu suara dari arah belakang.


"Ah kau ternyata Bang Togar. Hahaha.." Kata Beni menoleh ke arah belakang.


"Aku memiliki rencana yang sudah aku susun beberapa waktu belakangan ini. Dan aku yakin dengan rencana ku ini."


"Katakan kepadaku rencana besar apa yang kau miliki sehingga kau terlihat sangat bersemangat dan mau menempuh perjalanan jauh?" Kata Birong bertanya dengan tidak sabaran.


"Sabar Bang Birong! Sekarang aku mau bertanya kepada bang Togar. Di mana anak gadis mu bang?" Tanya Beni.


"Bah. Mau kau jodohkan rupanya anak gadis ku sama putra mu si Irfan itu?" Tanya Togar dengan kening berkerut.


"Alaaah kau jangan salah faham sama aku bang! Putri mu itu termasuk menjadi bagian dalam memuluskan rencana besar ku ini." Jawab Beni.


"Kau jangan main-main Beni. Itu putri ku. Satu-satunya anak ku."


"Sekarang aku mau bertanya sama Kau bang. Untuk apa kau susah-susah menjemput putri mu itu dari Singapura dan memindahkan dia kuliah di sini?"


"Ah kau memang sangat jeli dalam membaca situasi. Aku salut sama kau Beni. Sekarang katakan seperti apa rencana mu itu?!"


"Hahaha... Aku tau maksud mu dengan menarik putri mu kembali ke kota ini. Tujuannya bukankah untuk Marven? Tapi aku meminta kepadamu bahwa jangan jadikan Marven sebagai tumbal. Ini permintaan ku kepada kalian berdua mengingat hubungan kita yang baik di masa lalu." Kata Beni.


"Kau ini Beni. Baik! Aku tau rahasia di balik hubungan masa lalu kau dan Venia. Tapi kau tenang saja. Aku tidak akan membunuh Marven jika anak itu memiliki manfaat yang besar bagi geng tengkorak." Kata Birong.


"Apa kau kira aku mau bersusah payah jika tidak ada manfaat bagiku? Aku juga tau tentang nama baik geng tengkorak yang sudah cacat di mata para mafia internasional. Kalian saat ini hanya bisa melakukan transaksi lokal. Itu tidak cukup bagus dengan nama besar yang dimiliki oleh organisasi terbesar di provinsi ini. Maka dari itu, aku melarang kalian untuk melukai Marven. Karena tanpa dia, kemungkinan geng tengkorak akan hidup segan mati tak mau." Kata Beni.


"Kau ini Beni! Ah... Otak kau itu entah terbuat dari apa. Tapi aku heran. Dengan akal licik yang kau miliki, mengapa kau bisa dipecundangi oleh Tigor?" Tanya Birong.


"Itu lah kesalahan pertama yang aku lakukan dalam hidup ku yang akhirnya berdampak juga pada diri Tumpal. Aku terlalu memandang sepele dengan Tigor yang masih bau kencur itu. Tapi itu adalah kekalahan yang pertama dan yang terakhir. Setelah itu, Aku terus mempelajari kelemahan lawan."


"Begini bang. Aku memanfaatkan darah muda darahnya para remaja ini. Ingat lagu si raja dangdut? Mereka ini berfikir nya sekali saja tak pernah mau mengalah. Aku mencoba memanfaatkan celah ini untuk menusukkan jarum beracun ku." Kata Beni lalu menjelaskan seluruh rencana serta pembagian tugas kepada masing-masing pihak.


"Target utama ku adalah Tigor. Dalam jangka waktu sesingkat-singkatnya dia harus tersingkir dari Kota Tasik putri. Ketika dia tidak lagi berada di sana, maka akan memuluskan rencana tahap ke dua kita." Kata Beni.


"Mengapa kau begitu takut dengan Tigor ini, Beni? Bukankah dia ini menurutmu adalah anak bau kencur." Tanya Birong.


"Kau jangan lupa bang bahwa Tigor ini sangat teliti dan sangat licik. Ingat perampokan dibangunan tua? Semua itu adalah pekerjaan Tigor."


BERSAMBUNG.....