BLACK CAT

BLACK CAT
Gosok terus sampai tajam



Gang Kumuh


Setelah permintaan nya tidak mendapat kepastian dari Martin, Marven yang sedikit merasa frustasi memasuki club malam dan mulai menenggak minuman yang mengandung alkohol.


Bukan hanya mabuk-mabukan. Dia juga membuat keributan di club malam itu.


Banyak yang menjadi korban dari sasaran kemarahan nya ini, membuat mereka manjadi geram.


Namun, untuk melakukan perlawanan, tentu saja mereka tidak berani. Ini karena mereka tau siapa Marven. Sedikit saja dia tergores, puluhan anak-anak organisasi kucing hitam akan memburu mereka.


Salah satu dari sekian ramai orang yang berada di club malam itu segera memberitahukan kepada Beni bahwa Marven telah menimbulkan kekacauan.


Beni yang mendapat kabar ini langsung mendatangi club malam tersebut dan langsung memerintahkan anak buahnya untuk membawa Marven kembali ke Kompleks elite.


Sebelumnya Beni telah mendapat kabar bahwa Martin dan Mr.Carmen Bond sedang tidak berada di rumah. Oleh karena itu dia berani membawa Marven langsung kembali ke rumah besar milik Martin di komunitas elite kota Tasik Putri itu.


Sampai di rumah, seorang wanita setengah baya menyambut kedatangan mereka dengan wajah merah padam menahan marah.


Tiba di dalam, wanita itu langsung mendamprat Marven yang saat ini setengah sadar.


"Dasar anak bodoh. Tidak tau di untung. Apa kau kira perbuatan mu ini bisa menyelesaikan masalah hah?" Bentak wanita itu.


"Hoeeek... Akh... Aku stres Bu. Semua yang aku inginkan tidak satupun tercapai. Aku harus bagaimana?" Kata Marven sambil menahan muntah.


Plaaak...!


"Dasar bodoh. Apa kau pikir dengan mabuk seperti ini kau akan mendapatkan semua yang kau inginkan? Otak mu di mana Marven?" Tanya wanita itu dengan menunjuk-nunjuk ke arah kepala Marven dengan kasar.


"Jika kau tidak bisa mendapatkan semua yang kau inginkan dengan cara halus, maka lakukan dengan cara kasar!"


"Benar Marven. Kau tidak boleh seperti ini. Jika kau terus begini, kau pasti akan kalah." Kata Beni menambah.


"Heh. Siapa yang menyuruh mu bicara? Tutup mulut busuk mu itu! Karena aku muak dengan semua ocehan mu. Semua ini gara-gara aku selalu menuruti kata-kata mu."


Plak...!


Terdengar suara tamparan yang sangat keras membuat mabuk yang diderita oleh Marven langsung lenyap setengahnya.


"Jaga bicaramu itu. Dia adalah Ayah mu. Ingat itu! Dia adalah Ayah kandung mu!"


"Jika dia adalah Ayah ku, mengapa dia tidak berbuat sesuatu untuk membantu ku? Dia hanya pandai berbicara tapi tidak ada tindakan yang dapat membantu."


"Kau itu yang tidak sabaran!" Bentak Venia.


"Hanya ada satu cara jika kau ingin menjadi ketua. Yaitu, bunuh Martin!" Kata Beni yang langsung membuat mabuk Marven yang tinggal setengah itu kini hilang sepenuhnya.


"Apa? Coba kau ulangi lagi perkataan sialan mu itu!" Kata Marven sambil mendelikkan matanya.


"Kau serius Beni?" Tanya Venia yang juga merasa terkejut dengan perkataan Beni tadi.


Bagi Venia, dia memang tidak mencintai Martin. Namun, untuk melakukan pembunuhan, itu jelas sangat mustahil untuk dia lakukan. Bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya.


Bagi Marven pula, dia memang sangat ingin untuk menjadi ketua.


Namun tentunya dengan kerelaan dari Martin untuk menyerahkan posisi tersebut dengan suka rela. Tidak dengan cara melakukan pembunuhan.


"Beni. Jika Martin mati, lalu bagaimana cara kita menjelaskan kepada seluruh anggota organisasi? Kita juga bakalan mati oleh mereka." Kata Venia dengan raut wajah ketakutan.


"Hahaha... Semuanya sudah aku persiapkan. Kalian dengar baik-baik! Semua anak buah yang ada di dalam organisasi ini adalah anak buah ku dan mereka hanya patuh kepada ku."


"Ingat Vania! Aku lah yang merekrut mereka masuk ke dalam organisasi." Kata Beni.


"Lalu, apalah setelah aku menjadi ketua dengan cara membunuh Martin, lalu kau akan membunuh ku juga demi kursi ketua itu?" Tanya Marven dengan tatapan tajam ke arah Beni.


"Marven. Kau adalah buah dari cinta kami. Sekejam-kejamnya harimau, dia tidak akan memangsa darah dagingnya sendiri." Kata Beni turut meyakinkan Marven dan Venia.


"Aku justru takut jika Black Cat mengetahui rencana ini. Dia seperti angin. Bisa hadir kapan saja dan membunuh sesuka hatinya."


"Kau tentu masih ingat dengan kematian Ronggur kan? Baru saja Ronggur mati, dia telah berada di luar negeri dan melakukan pembunuhan di sana. Apa kau kira bisa lepas dari incaran Black Cat ini?" Tanya Venia.


"Aku sudah membahas masalah ini dengan Birong, Togar serta Tumpal. Begitu Martin terbunuh, kita akan melebur organisasi kucing hitam menjadi satu dengan geng tengkorak."


"Kita juga akan menjaga segala kemungkinan dengan mengirim mata-mata ke kota Kemuning."


"Jarak dari kota Kemuning ke kota Tasik Putri ini membutuhkan waktu sepuluh jam baru sampai. Dengan adanya mata-mata, kita bisa mencegat siapa saja anak buah Tigor yang akan memasuki kota Kemuning ini dari kota Batu." Kata Beni mengutarakan perincian dari rencana yang telah dia susun.


"Aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak bisa....!" Kata Marven berteriak.


"Dengan tangannya, Martin menyuapi aku. Dengan pundaknya, aku bersandar. Ketika aku kedinginan, dia memelukku. Bagaimana aku bisa melakukan itu?" Tanya Marven lagi.


"Kelemahan seperti ini lah yang seharusnya kau buang jauh-jauh! Jika calon ketua seperti ini, selamanya kau akan berada dalam bayang-bayang Tigor."


"Ingat Marven! Kita ini adalah gerombolan mafia. Bunuh membunuh itu sudah biasa terjadi. Jika kau lemah seperti ini, maka tidak ada bedanya kau dengan Martin." Kata Beni yang terus menggosok Marven supaya nekat melakukan pemberontakan kepada Martin.


"Aku tidak bisa. Aku tidak bisaaaa....!" Jerit Marven lalu bergegas berlari menaiki tangga dan langsung menuju ke kamarnya.


"Kau gila Beni. Ide mu itu terlalu ekstrim. Pasti anak itu saat ini sedang tertekan dan kaget bukan main dengan gagasan mu itu." Kata Venia.


"Hahaha... Lalu, apakah kau ingin bahwa perjuangan mu selama ini membesarkan anak itu sia-sia? Ingat rencana kita dulu Venia! Marven adalah senjata pamungkas kita. Setelah itu, terserah dia mau bagaimana aku tidak perduli." Kata Beni sambil mengungkit masalah mereka puluhan tahun yang lalu.


"Kau benar-benar serigala Beni."


"Hahaha... Jika Aku serigala, lalu kau apa?" Tanya Beni.


"Kau..?!"


"Waktunya akan tiba. Kita lihat saja. Martin pasti akan mati di tangan anak itu. Aku melihat jalannya sudah semakin dekat." Kata Beni.


"Maksud mu jalan apa?" Tanya Venia.


"Proyek milik Tigor sudah selesai di kota Kemuning. Banyak para orang tua jompo dan anak yatim piatu telah mereka tampung."


"Kabarnya, wali kota sangat terkesan dengan Tigor ini dan akan mengundang Martin untuk menerima piagam pengakuan dari pemerintah daerah sebagai bentuk apresiasi atas usaha baik mereka ini mendirikan yayasan. Kita lihat saja siapa yang akan berada di sisi Martin di atas panggung. Jika itu Marven, maka dia selamat. Tapi andai itu Tigor, maka Martin pasti akan mampus di tangan anak itu."


"Di sini peranan kita sangat diperlukan. Hasut terus anak itu. Maka dia pasti akan bertindak." Kata Beni dengan senyum penuh kemenangan.


"Hahaha... Hahaha...."


Sambil terus tertawa, Beni pun melangkah meninggalkan ruangan itu menuju mobilnya sambil di ikuti oleh tatapan tajam dari Venia.