BLACK CAT

BLACK CAT
Tigor kacung



Sore itu baik Tigor maupun Wulan sama-sama kesal, sama-sama rugi, sama-sama untung. Pasalnya, baik Wulan maupun Tigor sama-sama saling balas membalas, dan saling mengerjai satu sama lain.


Di satu sisi, Tigor benar-benar kelelahan harus menjadi ekor bagi Wulan dan mengikuti kemana saja Wulan melangkah sambil membawa barang-barang milik Wulan. Namanya juga kacung.


Di sisi lain, uang Wulan benar-benar habis dikuras oleh Tigor.


Mulai dari pakaian. Baju, celana, sepatu bahkan tali pinggang yang dipilih oleh Tigor pun bermerk Hermes seharga puluhan juta rupiah membuat Wulan sejenak merasakan sesak nafas. Singkat cerita, untuk yang di pakai oleh Tigor saja, Wulan harus merogoh isi dompetnya lebih dari seratus juta rupiah. Ini yang membuat Wulan jengkel. Sejenak kesombongan yang tadi dia agung-agung kan seketika runtuh oleh ulah Tigor.


*


Malam itu di salah satu restoran mewah di Gang kumuh kota Tasik putri sedang berlangsung pertemuan antara para anak orang kaya.


Acara ini sendiri diadakan atas inisiatif dari mereka hanya untuk sekedar temu kangen sekaligus mengenang kembali saat mereka masih menjadi sahabat ketika SMA dulu.


Ketika mobil yang dukendarai oleh Wulan tiba di area parkir restoran tersebut, Tigor sudah merasa tidak enak dalam hatinya. Bagaimana mungkin dia bisa merasa nyaman. Ini karena kawasan gang kumuh ini adalah wilayah kekuasaan nya sebagai kepala dari geng kucing hitam satu tingkat di bawah Martin. Dan juga banyak anak buahnya yang bertaburan di kawasan ini sebagai panjaga keamanan.


Apa yang dikhawatirkan oleh Tigor menjadi kenyataan juga.


Tepat ketika dia menenteng tas dan barang-barang milik Wulan, beberapa pasang mata mulai memandang kearahnya dengan tatapan heran penuh tanda tanya.


Setengah mati Tigor berusaha untuk menyembunyikan wajah nya atau berusaha memberi kode kepada anak buahnya agar jangan menegur apa lagi bertanya. Karena ini bisa menimbulkan kecurigaan Wulan atau barang kali ada orang-orang dari kota Batu yang akan memperhatikan gerak-geriknya.


Beberapa orang dari geng kucing hitam yang akrab dengan Tigor antara lain adalah Acong, Ameng dan Andra saling berbisik antara mereka karena melihat ulah si Tigor ini yang mau saja menjadi kacung oleh seorang gadis yang mereka nilai tidak terlalu cantik itu. Kesan yang mereka lihat adalah gadis ini dari golongan anak orang kaya yang manja dan keras kepala.


"Meng. Lihat ketua kita. Seperti kerbau yang penurut. Kelihatan nya wanita itu sudah mencucuk hidungnya dan memasang tali di sana." Kata Andra sambil menahan senyum.


"Jangan bicara seperti itu Ndra. Nanti kalau dia dengar, bisa kelar kita." Kata Ameng juga sambil berpura-pura tidak melihat kearah Tigor dan Wulan.


"Biarkan dia bahagia. Selama ini kan kita tidak pernah melihat bang Tigor dekat dengan seorang gadis. Atau juga mungkin ada misi terselubung dari gaya nya yang seperti orang bodoh itu." Kata Acong berusaha membantah isi hatinya. Karena walau bagaimanapun, dia melihat bahwa Tigor hang dia kenal sangat berbeda dengan Tigor kali ini.


"Tapi jujur saja bahwa boss kita itu saat ini sungguh tampil beda. Dia seperti pangeran. Lihat saja penampilannya! Persis seperti tuan muda. Ya kan?" Kata Ameng.


"Ho'oh. Tapi dari wajah nya kelihatan bahwa dia sangat tertekan. Coba saja perhatikan! Dia layaknya seperti kacung oleh wanita sadis itu." Timpal Andra.


"Semoga saja dia tidak benaran jadi seorang pemuda yang bucin." Kata Acong sambil menghempaskan nafas berat.


Jujur saja bahwa wibawa Tigor kali ini tercoreng oleh aksinya itu.


Sementara dipihak lain, Tigor juga merasa sangat malu sekali.


Dia sama sekali tidak menyangka bahwa acara yang diadakan oleh Wulan itu tepat di restoran gang kumuh ini. "Benar-benar celaka dua belas." Kata Tigor dalam hati.


Kesialan ternyata tidak cukup di situ saja. Tepat ketika mereka memasuki restoran, ternyata di dalam sudah ada Rini, Debora, Irfan dan teman-teman Wulan yang lainnya.


"Benar-benar mati aku malam ini. Entah penghinaan apa lagi yang akan aku dapatkan malam ini. Huh habis lah aku."


"Ah biarlah. Ini baik untuk menguji tingkat kesabaran." Kata Tigor lagi dalam hati.


Tepat ketika Debora, Rini dan Irfan tanpa sengaja melihat ke arah Tigor, hal ini kontan membuat mereka merasa lucu dan saling berbisik sambil menatap najis ke arah Tigor.


"Eh lihat. Bukankah itu pemuda yang dulu bersamamu Debora?" Tanya Rini sambil memperhatikan ke arah Tigor.


"Iya benar sekali. Huh.., dulu dia menjadi kacung untuk Debora. Sekarang dia menjadi kacung untuk anak Lalah penguasa Dolok ginjang." Kata irfan sambil memandang najis ke arah Tigor.


"Hahaha..., nasib mu Gor. Pemuda gelandangan yang memiliki mental seorang kacung." Kata Debora tertawa karena merasa lucu.


Mereka bertiga mulai berhenti bergosip ketika saat itu Wulan sudah menghampiri mereka dan mulai menyapa Debora, Rini dan Irfan.


"Hey apakah aku terlambat?" Tanya Wulan dengan wajah dan senyuman yang ramah.


"Ah tidak juga. Eh Lan. Darimana kau bertemu dengan kacung ini?" Tanya Debora dengan lirikan menghina ke arah Tigor.


"Oh ini. Namanya Tigor. Dia berhutang kepada ku. Untuk membayar hutang nya, dia harus menjadi kacung ku selama satu malam ini." Kata Wulan bangga dan merasa penuh kemenangan.


"Lan. Apakah kau bisa melepaskan kacung mu ini? Aku akan membayar hutang nya. Ini karena aku memiliki seorang tante yang sangat kesepian. Mungkin dia akan merasa terhibur dengan adanya pemuda kacung yang tampan ini di sisinya. Katakan berapa aku harus membayar?!" Kata Rini.


Degh...


"Kurang ajar. Emang aku lelaki apaan?" Kata Tigor dalam hati.


"Maaf Rini. Aku mendapatkan Tigor ini dengan susah payah. Jadi, aku tidak akan melepaskannya dengan imbalan apapun." Kata Wulan menolak tawaran dari Rini dengan candaan.


"Wah sayang sekali. Padahal aku rela memberimu 20 juta Rupiah untuk kacung mu yang ganteng ini." Kata Rini sambil mendekati Tigor lalu mencubit pipi pemuda itu.


"Hmmm.., benar-benar pipi yang halus dan lembut." Kata Rini diikuti oleh tawa terbahak-bahak dari mereka yang berada di ruangan itu.


Saat ini Tigor merasa benar-benar ditelanjangi di tempat umum oleh parah gadis dan pemuda sahabat se alumni Wulan itu.


"Tabahkanlah hati hamba Ya-Allah." Kata Tigor berdoa dalam hati.


"Lan. Yang aku tau, bukankah kau sedang dekat dengan Marven anak majikan ayah ku? Mengapa kau tidak mengajaknya sekalian untuk ikut ke sini?" Tanya Irfan.


"Benar Lan. Kami juga ingin melihat seperti apa si Marven tuan muda dari komplex elit itu." Kata Debora.


"Apa kalian tidak mengenal Marven?" Tanya Wulan.


"Aku tau Marven ini. Tapi siapa lah kami ini untuk dekat dengannya. Kau kan tau kami ini hanya anak orang kaya biasa. Sedangkan Marven itu adalah anak tunggal Martin sang penguasa Tasik putri ini." Kata Rini pula.


"Aku malas mengajak Marven. Ini karena aku akan sangat terbatas dan tidak bebas jika bersama dengannya. Dia terlalu menjaga kehormatan dan gengsi. Sedangkan aku, selagi aku suka, aku akan melakukan apa saja. Makanya lebih baik dia tidak di sini." Kata Wulan.


"Dan kau memilih pergi bersama pemuda gelandangan ini kan? Hahahaha..." Kata Debora membuat Tigor kembali menelan rasa jengkel nya.