
Di luar Martins Hotel, tampak Andra dan Monang saling terlibat perbincangan hangat diantara mereka berdua.
Hal ini berkaitan langsung dengan perkataan Martin yang mengatakan bahwa Tigor telah pergi ke luar negri dan melakukan pembunuhan.
"Apa iya Tigor berangkat ke luar negeri Ndro? Mana pasport nya? Lalu naik apa dia? Apakah bisa semudah itu ke luar negeri?" Tanya Monang sambil terus berfikir.
Andra yang hafal betul bahwa Tigor tidak memiliki kemampuan bertarung ketika mereka dicegat oleh anak buah Beni di pantai Kuala Nipah ketika kembali dari Hongkong, mati-matian menyangkal perkataan Martin itu.
"Tigor. Aku hafal betul sama ketua kita itu. Dia tidak terlalu terampil dalam bertarung. Mana mungkin dia bisa melakukan pembunuhan. Mustahil." Jawab Andra yang hanya tau tentang Tigor saja tapi tidak dengan Black Cat.
Beruntung karena mereka tidak menonton siaran berita pagi tadi. Jika mereka menonton siaran berita itu, tentu mereka akan turut curiga bahwa Tigor adalah Black Cat.
Di sini Martin hampir saja membuat masalah baru bagi Tigor.
Dia tidak berfikir dulu sebelum mengeluarkan perkataan yang untungnya masih bisa disembunyikan oleh Tigor.
"Aku juga tidak habis pikir bagaimana bos besar bisa berkata seperti itu. Jelas-jelas Tigor berangkat bersama Lalah." Kata Monang pula.
"Sudahlah Monang! Mungkin bos kita ini salah minum obat." Kata Andra.
"Awas kau Ndro! Kalau sampai bos kita dengar, bisa pindah ke pantat mulut mu itu." Kata Monang memperingatkan.
Di saat Monang dan Andra sedang asyik ngobrol, dari pintu lift yang terbuka itu keluar seorang pemuda sedikit kurus mengenakan jas hitam, sepatu hitam, kacamata hitam serta topi koboi hitam. Pokoknya, semuanya hitam dan berkilat itu menghampiri kedua pemuda itu.
Dengan lagak bak seorang Agen rahasia, dia pun mulai berkata. "Kalian berdua jangan sampai lengah apa lagi lalai. Keselamatan bos kita ada di tangan kalian. Saat ini kota Kemuning sedang tidak baik-baik saja. Apa kalian dengar?" Kata pemuda serba hitam itu.
"Wah wah wah... Karman! Sombong sekali gaya bicara mu ini." Kata Monang menegur sambil geleng-geleng kepala.
"Ralat! Nama ku adalah Carmen Bond 070. Bukan Karman. Ingat itu baik-baik!" Kata pemuda serba hitam itu sambil berkacak pinggang.
"Sialan. Gaya bicara mu itu seperti sudah tidak kenal sahabat saja." Kata Andra.
"Hahaha... Sialan kalian berdua. Aku hanya becanda. Oh ya, bagaimana acting ku tadi. Mantap kan?" Tanya Carmen Bond sambil ikut duduk.
"Aku kira kau sudah melupakan kami dan benar-benar menjadi kacang lupa sama kulit nya." Kata Andra.
"Dia memang begitu. Lihatlah lagak nya sekarang. Seperti Bodyguard kawakan. Padahal kacangan." Kata Monang sambil tertawa.
"Ingat ya! Kita sudah berbeda kasta sekarang. Aku bukan lagi Karman yang dulu. Tapi Carmen Bond. Jadi, jaga lisan anda jika tidak ingin bermasalah." Kata Carmen Bond sambil mendongak.
"Ingin rasanya ku Jambak bulu hidung setan ini." Kata Monang geram.
"Hehehe. Kau belum tau dengan ilmu padi ku yang meningkat pesat. Makanya sering-sering lah berdekatan dengan bos besar. Selain ilmu, saldo juga meningkat." Kata Carmen sambil mendabik dada.
"Itu bukan ilmu padi. Tapi ilmu penjilat." Kata Andra sambil membuang wajah.
"Apapun itu namanya, kini aku lebih tinggi dari kalian. Sebut aku Tuan Carmen Bond dan mintalah ampunan." Kata Carmen Bond dengan lagaknya yang sombong.
"Nih bulu hidung ku sebagai ampunan." Kata Monang sambil mengangkat cuping hidung nya dan menunjukkan kepada Carmen.
"Sialan sekali Monang ini." Kata Carmen.
"Hahaha. Eh Karman. Kata mu kau sudah banyak uang. Ayo dong traktir kami." Pancing Andra.
"Boleh. Selain memiliki ilmu yang tinggi, aku juga adalah orang yang dermawan." Kata Carmen.
*********
Subuh menjelang pagi di pinggir pantai kampung Kuala Nipah bertepatan dekat hutan bakau, tampak satu unit Speedboat siluman berkecepatan tinggi baru saja merapat di bibir alur yang memiliki air dalam.
Dari dalam speed boat itu tampak tiga orang lelaki saling berpelukan laku salah satu dari ketiga lelaki itu melompat dengan gesit ke daratan.
"Ok Tigor. Kapan-kapan kita bertemu lagi."
"Sampaikan salam ku kepada Tuan Riko, Ryan, Daniel, Arslan dan tak lupa sampaikan salam hormat ku kepada Tuan muda Jerry William ya." Kata Tigor.
"Baiklah. Nanti akan aku sampaikan. Kalau begitu kami pergi dulu." Kata Jeff.
Setelah saling melambaikan tangan, speed boat itu langsung bergerak memutar dan langsung tancap gas meninggalkan tepi pantai kampung Kuala Nipah itu.
Tigor masih terus saja berdiri menunggu sampai Speed boat itu benar-benar menghilang dari pandangan nya, barulah dia melangkah dengan cepat memasuki hutan bakau itu lalu berjalan memutar menuju sebuah rumah yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu.
Baru saja Tigor tiba di samping rumah itu, tiba-tiba dari arah jendela..,
Wuzzz...
"Aduuuh..." Kata Tigor sambil memegang kening nya.
"Lagi-lagi kau lengah Tigor! Bagaimana jika itu adalah musuh?"
Terdengar suara lelaki tua dari arah jendela yang kemudian terbuka secara perlahan itu.
"Kalau begini terus, malas rasanya aku mau kesini lagi. Bisa geger otak ku." Kata Tigor.
"Bodoh mu itu entah bila bisa sembuh. Kemari kau!" Bentak lelaki tua itu.
"Heh anak sontoloyo. Bagaimana pekerjaan mu selama jadi TKI itu?" Tanya lelaki tua itu begitu Tigor sudah tiba di bawah jendela rumah berbentuk panggung itu.
"Beres kek. Aku sukses menjadi TKI." Jawab Tigor sambil cengengesan.
"Bagus! Lalu apa rencana mu selanjutnya?"
"Melanjutkan proyek bangunan itu kek. Aku sudah mendapatkan suntikan dana segar. Lebih dari tiga ratus juta rupiah." Kata Tigor.
"Memang berapa gaji yang kau dapat?" Tanya lelaki tua itu.
"Pokoknya angka Nol nya banyak kek. Aku susah menghitung nya. Nanti saja di rumah aku suruh Mirna yang menghitung." Kata Tigor pula.
"Nah. Kau dan Mirna. Aku dengar kalian tinggal serumah. Kapan kau akan menikahi anak orang itu? Kau jangan memberi aku malu Gor! Atau aku buat kepala mu pisah dari badan." Kata lelaki tua itu sambil mendelikkan matanya.
"Nanti Kek. Nanti aku suruh dulu anak buah ku untuk menyelidiki keberadaan Nenek dan Kakek si Mirna ini. Karena dia sudah tidak memiliki orang tua lagi." Jawab Tigor.
"Hmmm... Secepatnya kau harus menikahi gadis itu. Jangan terlalu lama tinggal serumah. Banyak godaan setan nya."
"Iya kek. Aku akan mendengar nasehat mu."
"Sekarang lekas kembali ke Kota Kemuning. Kemungkinan mereka sudah mencurigai mu. Pandai-pandailah kau mencari alasan." Kata Kakek itu memperingatkan.
"Iya kek. Kalau begitu, aku mohon diri dulu." Kata Tigor sambil mencium tangan lelaki tua itu.
Baru beberapa langkah Tigor berjalan, kini dia kembali lagi ke belakang.
"Ada apa lagi?" Tanya lelaki tua itu.
"Rencong ini Kek. Aku lupa." Jawab Tigor.
"Hmmm... Bawa saja. Kelak kau akan memerlukan senjata itu. Ingat! Jaga baik-baik dan jangan di cabut! Jika tidak mendapatkan korban, kau yang akan dicelakai oleh senjata itu." Kata Kakek itu memperingatkan.
"Iya kek. Kalau begitu aku permisi dulu." Kata Tigor lalu segera berjalan menuju jalan di pinggir rumah itu dimana dia memarkir mobilnya seminggu yang lalu.
Tak lama kemudian Mobil sport keluaran BMW itu pun bergerak meninggalkan perkampungan pinggir pantai itu menuju ke kota Kemuning.