BLACK CAT

BLACK CAT
Geng tengkorak dibantai



"Black Cat. Sebelum kau mencabut nyawaku tanpa alasan yang jelas, aku ada satu permintaan kepadamu. Aku yakin kau adalah seorang lelaki yang bersifat jantan. Maka dari itu aku menginginkan kematian yang terhormat. Aku ingin melakukan perlawanan dan aku harap kau bisa memenuhinya." Kata Bongsor dengan harap-harap cemas.


Mendengar perkataan seperti itu, Black Cat langsung melepaskan cengkraman tangan kirinya di leher Bongsor.


"Ketika kau membunuh orang-orang yang menjadi musuh geng tengkorak, apakah kau memberi kesempatan kepada mereka untuk membuat permohonan? Namun aku tidak sama dengan mu Bongsor. Maka dari itu aku mempersilahkan kepadamu untuk membela diri."


"Kalian semua yang bersembunyi di balik pohon, Bongsor adalah urusan ku. Kalian bereskan sisanya!" Kata Black Cat berteriak.


Begitu mendapat perintah, kini di balik semak-semak berlompatan sekitar enam puluh orang dan langsung menyerang orang-orang geng tengkorak membuat perkelahian itu berjalan seperti tidak seimbang. Hal ini ditambah lagi dengan orang-orang yang baru saja tiba tadi yaitu Andra, Ameng, Timbul dan Acong bersama anak buahnya membuat mereka kini sangat ramai.


Seperti sepuluh orang menghadapi sepiring makanan di meja. Seperti itu lah perbandingan antara anak buah Tigor dan orang-orang dari geng tengkorak membuat Bongsor sudah tidak memiliki gairah lagi untuk bertarung.


Dia hanya melakukan beberapa serangan kepada Black Cat dan setelah memiliki kesempatan, dia langsung kabur lari secara serampangan.


"Mau lari kemana kau Bongsor?"


Black Cat kini sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada calon korbannya untuk lari.


Ketika Bongsor merasa cukup jauh, tiba-tiba dari arah belakang melesat sosok hitam dan langsung menjegal kakinya membuat Bongsor tunggang langgang jatuh di semak-semak berduri.


"Kau bilang mau matu dengan cara terhormat. Aku sudah memberikanmu kebaikan untuk hal itu. Tapi mengapa kau lari? Aku kecewa pada mu."


Dugggh...!


"Akh..."


"Ampun. Ampuni aku Black Cat. Apa kau mau uang? Aku akan memberikan kepada mu uang dalam jumlah yang banyak. Hanya saja izinkan aku kembali ke kota Batu. Aku akan datang lagi ke sini membawa uang tebusan untuk diriku. Bagaimana?" Tanya Bongsor mencoba memancing reaksi Black Cat dengan di iming-imingi uang.


"Uang? Apa kau kira aku kekurangan uang? Aku tidak menginginkan uang. Yang aku inginkan adalah kepala mu, kepala Prengki, Kepala Togar dan kepala Birong. Tujuanku bukan uang, tapi kepala mu." Kata Black Cat.


"Tolong jangan Black Cat! Tolong biarkan aku pergi. Aku akan bertaubat."


"Bertaubat? Aku akan membiarkan kau hidup. Tapi dengan satu syarat!" Kata Black Cat.


"Apa? Katakan apa syarat dari mu? Aku pasti akan memenuhinya."


"Apa kau yakin bisa memenuhinya?"


"Ya. Apa yang tidak aku miliki. Sebagai orang penting di dalam organisasi, aku memiliki segalanya. Katakan kau mau apa?!"


"Jika begitu baiklah. Aku hanya ingin agar kau membuat Kapten Bonar bisa hidup lagi. Apa kau bisa?" Tanya Black Cat dengan nada suara semakin dingin.


"Kapten Bonar. Kau.., kau. Ternyata kau adalah?"


Set...


Wuzzzz....!


"Akhhhh...."


Tampak kini sesuatu dari anggota tubuh Bongsor menggelinding berpisah dari badan nya dan jatuh tepat di tanah dekat ujung kaki Black Cat.


"Kau terlalu banyak bicara dan membuang banyak waktu ku."


Black Cat langsung mengeluarkan sapu tangan dan menyeka sisa darah pada mata pedang nya lalu kemudian memasukkan pedang tersebut ke dalam sarung yang terbuat dari kulit kemudian melilitkan pedang tersebut menjadi ikat pinggang.


Sebelum dia pergi, dia sempat menjambak sesuatu dari anggota tubuh Bongsor yang terpisah dari badannya tersebut dan berjalan dengan santai menuju tempat di mana saat ini masih terjadi perkelahian.


"Segera bereskan dan jangan buang-buang waktu!" Kata Black Cat sambil melemparkan sesuatu yang berada dalam jambakan tangannya dan terjatuh tepat di dekat kaki Andra membuat Andra melompat saking kaget nya.


"Bakar semua dan ayo kembali ke Kota Tasik putri!" Kata Black Cat langsung melangkah mengarah ke mobil yang dia sembunyikan di balik semak-semak.


Tak lama kemudian tampak mobil BMW i8 melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan kawasan itu.


*********


Sementara itu di kota Batu tepat nya di Villa milik Birong, suasana tegang mulai tampak pada setiap raut wajah setiap orang yang berada di ruangan itu.


Apa lagi Birong. Sejak tadi dia terus mondar mandir seperti strika jadul yang menggunakan arang. Sebentar-sebentar dia duduk. Sebentar-sebentar dia berdiri, lalu mondar-mandir sambil melirik ke arah jam di dinding.


"Kemana perginya Bongsor? Mengapa lama sekali dia belum juga pulang?" Kata Birong sambil duduk lagi.


"Sudah pukul enam pagi. Kemana sebenarnya dia ini. Jika hanya mengejar pengacau, mengapa lama sekali?" Katanya lagi.


"Bang. Mungkin dia sedang dalam perjalanan. Atau dia singgah dulu sekedar minum di kafe. Maklum lah. Mungkin dia banyak menguras tenaga setelah memukuli para pengacau itu." Kata Togar.


"Iya. Seharusnya dia beritahu lah sama aku kalau dia mau pulang lambat. Setan memang si Bongsor ini." Kata Birong terus saja mengomel seperti burung murai.


"Prengki. Coba kau telepon dia. Aku merasa ada yang tidak beres ini." Kata Birong lagi.


"Baik bang." Kata Prengki sambil mengeluarkan ponsel dan langsung mencari nomor kontak Bongsor untuk membuat panggilan.


*"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Coba lah beberapa saat lagi."*


"Tak aktif hp dia bang. Macam mana ini?" Tanya Prengki.


Belum sempat Birong menjawab pertanyaan Prengki, tiba-tiba dari luar tampak Tumpal sedang tergesa-gesa memasuki Villa tersebut.


"Celaka Birong. Celaka!" Kata Tumpal sebaik saja dia tiba di depan Birong.


"Apa yang celaka. Apa?" Tanya Birong.


"Kau lihat ini!" Kata Tumpal sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Birong. "Ini berita pagi ini Birong. Coba kau lihat baik-baik. Kalau tidak salah, ini kan perkebunan estate perbatasan kota Batu dengan kota Kemuning?!"


"Iya. Aku lagi baca ini." Kata Birong. Namun tidak lama kemudian dia berdiri mematung.


Jika tidak di tangkap oleh Tumpal, mungkin ponsel miliknya sudah jatuh ke lantai.


"Ada apa bang?" Tanya Togar.


"Kau baca saja sendiri!" Kata Tumpal lalu segera memberikan ponselnya kepada Togar.


Sama seperti Birong. Togar dan Prengki juga berdiri mematung seolah tak percaya.


"Habis sudah. itu adalah plat mobil milik kita. Terbakar semua dan tidak ada satu orang pun yang selamat. Di sana hanya di temukan kepala Bongsor sedang tubuh nya masih belum di temui." Kata Tumpal.


"Keluar kalian semua. Keluaaaaaar!" Bentak Birong seperti orang gila.


"Ini pasti adalah kerjaan orang-orang dari tasik putri. Kalian tunggu saja pembalasan dari ku!" Kata Birong dengan sangat marah.


"Lalu bagaimana dengan mayat mereka bang?" Tanya Togar.


"Biarkan saja di urus oleh mereka. Memangnya kalau kita ke sana mereka bisa hidup lagi? sekarang kalian keluar. Aku mau sendiri. Kita harus berfikir serius. Jika tidak, geng tengkorak lambat laun pasti akan runtuh."


"Baik bang. Kami juga akan memikirkan bagaimana cara untuk menghadapi orang-orang Martin ini." Kata mereka lalu segera keluar meninggalkan ruangan itu.