BLACK CAT

BLACK CAT
Balik kampung



...Kuala nipah....


Seorang lelaki tua tampak duduk di salah satu pondok beratap daun rumbia di pinggir pantai Kuala nipah.


Lelaki yang sudah tidak memiliki sehelai pun rambut berwarna hitam itu tampak sedang memperhatikan lurus kebagian ujung pantai bertepatan dengan hutan bakau.


"Hmmm... Cuaca yang mendung namun berhawa bahang panas. Ini jelas tidak biasa." Kata lelaki tua yang dikenali oleh masyarakat di kampung itu sebagai Maha Guru Tengku Mahmud.


Memang dalam tiga hari belakangan ini ada banyak orang-orang yang berdatangan dari kota Tasik putri.


Sebenarnya hal ini adalah biasa. Namun, akan menjadi tidak biasa jika yang datang kali ini semuanya adalah laki-laki berbadan tegap dan sengaja menyewa tempat penginapan di kampung itu.


Ini jelas menarik perhatian Tengku Mahmud. Karena dia merasa pasti hal ini berhubungan dengan keberangkatan Tigor ke Hongkong melalui jalan air.


"Firasatku mengatakan bahwa orang-orang ini membawa maksud yang tidak baik. Jika mereka adalah anak buah Tigor, mengapa mereka seperti berjaga secara bergilir dengan bersembunyi dibalik semak-semak. Aku menduga bahwa mereka ingin menghalangi kepulangan Tigor ke tasik putri. Hmmm... Ini terlalu kasar nak!" Kata Tengku Mahmud dalam hati sambil memainkan jenggotnya yang juga sudah memutih.


Lelaki tua itu lalu beranjak dari pondok tersebut menuju ke arah pantai dan memungut beberapa kulit kerang yang lumayan berat dan besar untuk ukuran kerang.


"Selamat siang Tengku!" Sapa salah seorang penduduk kampung begitu berpapasan dengan lelaki tua itu.


"Selamat siang anak ku." Balas Tengku Mahmud balik menyapa.


"Untuk apa Tengku memungut kulit kerang itu? Jika ingin makan kerang, Tengku tinggal katakan saja. Saya akan mengantarkan kerang yang Tengku inginkan kerumah nanti." Kata warga itu menawarkan.


Tengku Mahmud ini adalah satu-satunya sesepuh di kampung kuala nipah ini.


Semua warga kampung itu sangat menghormati Tengku Mahmud.


Bagi mereka yang sudah berumur di atas 60-an, mereka pasti tau latar belakang dan sepak terjang orang tua berumur panjang ini.


Beliau adalah pendekar, Jawara serta jagoan yang malang melintang bagaikan malaikat sekaligus setan ketika masa muda nya.


Jangan pandang remeh mentang-mentang sudah tua begini. Sepuluh anak muda pun belum tentu mampu menumbangkan orang tua yang sudah dekat dengan pintu kubur ini. Dan Tigor termasuk salah satu jagoan muda yang babak belur oleh orang tua ini.


"Terimakasih anak ku. Aku sedang tidak teringin untuk makan kerang." Jawab Tengku Mahmud sambil mengelus pundak orang itu.


"Lalu Tengku, untuk apa Tengku memungut kulit kerang itu? Saya merasa bahwa Tengku sedang menyindir saya. Maafkan jika saya tidak terlalu perhatian dengan Tengku akhir-akhir ini." Kata orang itu dengan raut wajah merasa bersalah.


"Ah tidak. Sama sekali tidak anak ku. Aku sengaja memungut kulit kerang ini karena ingin menghadiahi kepada orang-orang dengan niat yang tidak baik. Bagaimana menurut mu? Apakah kulit kerang ini cocok untuk dijadikan perhiasan di kening?" Tanya Tengku Mahmud.


Mendengar jawaban yang mengerikan ini membuat lelaki tadi merasa merinding. Pasti akan terjadi sesuatu jika orang tua ini sudah berkata seperti itu.


Tanpa banyak tanya lagi, lelaki tadi langsung mengambil tangan lelaki tua itu dan mencium nya. Setelah itu dia pun pamit minta diri untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Tengku, saya mohon diri dulu. Masih ada pekerjaan lain yang akan saya kerjakan."


"Hmmm... Hati-hati anak ku. Kalau bisa, lepas sholat Isya' nanti, kau jangan lagi keluar rumah! Apa lagi kawasan pantai dekat hutan bakau sana." Pesan Tengku Mahmud sambil melirik ke arah hutan bakau yang berjarak sekitar tiga ratus meter dari tempat mereka saat ini.


"Saya mendengarkan nasehat Tengku." Kata lelaki itu sambil memberi hormat dan langsung berlalu pergi meninggalkan Tengku Mahmud yang mulai kembali mengumpulkan kulit kerang.


*********


Keberangkatan Tigor dan rombongannya untuk kembali ke Tasik putri di antar langsung oleh Mister Ming Kang Khang dan Mister Long Kang bersama puluhan anak buah nya.


Tampak Mister Long Kang sangat berat melepaskan kepergian Tigor bersama keempat anak buahnya itu. Ini karena mereka merasa bahwa Tigor ini sangat bisa di andalkan.


Walaupun komunikasi mereka terganggu karena kendala bahasa, namun dampak dari kehadiran Tigor dan kawan-kawannya cukup terasa bagi mereka.


Hal yang cukup terasa bagi mereka adalah kegesitan pergerakan Tigor. Walaupun dia memasuki Hongkong dengan cara ilegal, namun pergerakan serta pertimbangannya cukup teliti. Ini setidaknya dapat meringankan beban bagi Mr.Ming Kang Khang untuk berurusan dengan pihak imigrasi.


Hal ke dua, Tigor ini dapat dipercaya.


Diketahui bahwa Tigor dalam perjalanannya ke Hongkong ini atas tujuan bisnis. Dan barang yang di bawa oleh Tigor itu adalah barang haram jenis narkoboi.


Setelah melakukan serah terima dengan Tigor, Mr Ming kang Khang melalui penerjemahnya meminta Tigor untuk membawa barang itu menuju Macau.


Sebenarnya itu bukan hal sulit bagi Mister Ming Kang Khang. Namun dia sengaja menyuruh Tigor membawa barang tersebut dengan tujuan untuk menguji tingkat kejujuran saja.


Dan ternyata Tigor ini sangat bisa di percaya. Barang itu sampai kepada pengedar di salah satu casino terbesar di Macau tanpa kurang sedikit pun.


Di sini sekali lagi Tigor di uji dengan satu ransel penuh uang tunai dan mereka sengaja membiarkan Tigor membawa uang tersebut menuju ke Hotel lalu menginap di sana.


Uang itu juga sampai ke tangan Mister Ming Kang Khang melalui Mister Long Kang tanpa.berkurang satu Cent pun.


Hal ini yang membuat kedua orang pentolan Mafia Hongkong ini sangat tertarik dengan Tigor. Bahkan terang-terangan ingin merekrut Tigor sebagai anggota mereka. Namun hal ini di tolak oleh Martin secara terang-terangan dengan alasan, Tigor lebih dibutuhkan di tasik putri ketimbang Hongkong yang memang memiliki banyak orang-orang kuat yang sudah lama berkecimpung di dunia hitam tersebut.


Dengan sangat berat hati, mereka melepas kepulangan Tigor dan keempat sahabatnya untuk kembali ke Tasik putri.


"Mister King no Kong. Selamat jalan. Andai nanti sudah tiba di Kota Tasik putri, harap segera memberitahu kepada kami." Kata Mister Long Kang.


"Terimakasih Mister Long Kang. Saya akan memberi kabar kepada anda. Namun satu permintaan saya. Tolong rahasiakan kepulangan saya ini kepada siapa pun termasuk Martin." Kata Tigor berpesan.


"Mengapa begitu Mister King?" Tanya Mr.Long Kang.


"Saya mencium ada penghianatan di dalam organisasi kami. Sebelum saya menelepon anda nanti, tolong jangan hubungi siapapun. Boleh?" Tanya Tigor.


"Ah itu masalah sepele. Kami akan menutup mulut."


"Oh ya. Kalian jangan takut di perjalanan nanti. Kami sudah melakukan kesepakatan dengan pihak yang berwenang untuk tidak mempersulit kalian. Tinggal di laut negara anda saja yang harus berhati-hati. Karena itu sudah diluar batas kemampuan kamu untuk menangani." Kata Mister Long Kang.


"Sekali lagi Terimakasih Misteri. Kalau begitu saya berangkat dulu!" Kata Tigor.


Mereka lalu saling salam dan berpelukan sebelum akhirnya Tigor, Andra, Timbul, Acong dan Ameng memasuki Speed boat.


Di dalam speed boat juga Tigor meminta kepada nakhoda untuk menghubungi Martin dan mengatakan bahwa keberangkatan mereka tertunda dua hari. Ini karena cuaca di laut tidak menentu. Dengan begitu, kepulangan Tigor kali ini sangat rahasia sekali.


Di iringi dengan lambaian tangan dari mereka yang berada di darat, akhirnya speed boat yang membawa rombongan Tigor pun bergerak dengan kelajuan tinggi menuju ke laut lepas dan menghilang dari jangkauan pandangan mata mereka.


Setelah speed boat yang membawa rombongan Tigor menghilang, barulah Mister Long Kang mengajak Mister Ming Kang Khang untuk pergi meninggalkan kawasan pantai tersebut.