
Hari ini tidak seperti biasanya bagi Tigor dan ketiga sahabatnya.
Jika biasanya setiap hari mereka akan bangun dan tanpa sarapan langsung bergirilya dari kafe ke kafe dar terminal ke terminal bus untuk ngamen, namun pagi ini mereka bertiga tampak sedang santai di bawah jembatan.
Tadi pagi-pagi sekali sebelum mereka bangun, seperti biasa setelah Tigor selesai dengan rutinitas latihannya, dia sengaja pergi ke restoran sambil sekalian joging untuk membeli sarapan.
Bukan tanggung-tanggung. Beli sarapan saja harus di restoran. Tigor sepertinya mulai sombong. Tapi itu sama sekali tidak sombong. Ini karna manager restoran bernama Theo itu telah mengenal Tigor sebagai orang kanan Martin, maka semua apa saja yang dia inginkan di restoran itu bernilai gratis.
Ketika Tigor kembali ke markas besar mereka di bawah jembatan itu, teman-temannya masih belum bangun.
Sambil menggelengkan kepala tanda kesal, Tigor mulai mengambil seember air dari sungai dan langsung menyiramkannya ke arah teman-temannya yang masih tidur itu.
"Woy... Bangun!"
Byuuuur.....!
"Waduh asem."
"Aih sialan. Air dari mana ini?"
"Kalian ini benar-benar pemalas. Bangun pagi tak pernah mandi, kesiangan terus menerus, lalu dengan iler basi terus saja pergi mengamen. Bagaimana mau dapat rejeki. Keburu dipatuk ayam rejeki kalian." Kata Tigor mengomel sambil membuka bungkusan nasi dan lauk-pauk sehingga mengeluarkan aroma yang sangat sedap.
"Uh.., aku mencium aroma yang lezat. oh Tuhan. Aroma ini membuat perutku melilit." Kata Sugeng dengan hidung kembang kempis.
"Aroma apa ini? Cari sampai dapat!" Kata Jabat pula.
"Kalian bertiga ini benar-benar seperti batang pisang. Apa tidak risih dengan pakaian basah kalian itu? Terlalu malas kalian ini. Bagaimana jika ada musuh datang dan tiba-tiba menyerang kita? Kalian bisa jadi daging cincang." Kata Tigor sambil berdecak dan geleng-geleng kepala.
"Aduh bang Tigooor...! Ngertilah dikit. Mulai kemarin malam sampai siangnya sampai malam tadi kami kurang tidur bang. Kau kan tau kalau kami menemani Ucok di rumah sakit." Kata Thomas setengah kesal.
"Bangun dulu kalian dan sarapan! Setelah itu kalau mau tidur mati, ya tidur mati saja tak apa-apa." Kata Tigor dengan kesal.
"Apa..? Sarapan kah? Berarti aroma tadi...?!"
"Woy buruan bangun! Bang Tigor ada makanan itu."
'Mana mana mana?" Kata mereka sambil terlonjak bangkit dan mulai menyerbu ketempat Tigor sedang duduk.
"Makanan ini tidak akan lari. Cuci dulu muka kalian sana. Aku pun sudah selesai sarapan." Kata Tigor sambil mencuci tangannya dan segera menggeser duduknya untuk memberi ruang kepada ketiga sahabat nya itu untuk sarapan.
Mendengar kata-kata Tigor yang suka benar itu membuat mereka bertiga saling dorong dan berdesak desakan menuju ke pinggir sungai untuk mencuci muka dan gosok gigi.
Setelah semuanya selesai, mereka lalu mengelilingi kursi di mana ada tiga bungkus makanan yang akan mereka jadikan santapan pagi ini dan beberapa lauk lainnya.
"Jabat. Nanti selesai sarapan, kau pergi menemui Debora. Bayar semua biaya perobatan Ucok waktu itu. Aku tidak mau berhutang budi kepada siapapun setelah ini dalam hidup ku." Kata Tigor sambil menyerahkan amplop di samping tempat nasi Jabat.
"Mengapa tidak kau saja yang memberikan langsung kepada Debora itu bang? Dia kemarin ada kirim salam. Udah kau sampaikan Geng?" Tanya Jabat.
"Uh maaf. Aku lupa." Kata Sugeng sambil terus mengunyah.
"Kau saja Jabat! Aku malas melihat mukanya itu." Kata Tigor.
"Wah wah wah... Baru jalan sekali, kau sudah patah hati." Kata Jabat menggoda.
Belum lagi Tigor menjawab godaan Jabat, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Wah. sudah punya HP kau sekarang bang." Kata Jabat.
"Hallo Pak." Kata Tigor setelah menjawab panggilan itu.
"Tigor. Aku sudah membelikan rumah untuk mu di blok B Tasik putri. Nanti kau temui aku di dekat kafe melody. Aku akan mengajak mu untuk melihat rumah itu. Jika cocok, bawa sekalian teman-teman mu untuk pindah malam ini." Kata orang yang dipanggil pak oleh Tigor itu.
"Baik." Hanya itu saja jawaban dari Tigor dan langsung mengakhiri panggilan.
"Jabat. Ingat untuk membayar hutang perobatan Ucok kepada Debora! Setelah itu, kalian kemasi barang-barang kalian semua sekalian barang-barang milik Ucok. Malam ini kita akan pindah dari jembatan ini." Kata Tigor.
"Kemana kita akan pindah bang?" Tanya Sugeng.
"Aku belum bisa menjawab. Tapi yang pasti kalian harus sudah bersiap-siap sebelum pukul 6 sore. Masih banyak waktu. Tapi jangan terlalu santai. Aku pergi dulu." Kata Tigor.
Setelah meraba-raba kebagian pinggangnya, Tigor pun akhirnya berjalan menanjak menuju ke benteng dan terus berjalan mencapai jalan raya setelah itu terus menghampiri pangkalan ojek.
"Hey Gor. Mau kemana kau? Ayo aku antar." Kata salah seorang lelaki sebaya dengannya sambil duduk di atas sepeda motor.
"Aku mau ke kafe Melody." Kata Tigor.
"20 Ribu." Jawab lelaki itu singkat.
"******. Kau terlalu perhitungan dengan teman." Kata Tigor sambil tertawa.
"Wey Gor. Belum dapat sewa ni. Sarapan pun belum." Kata lelaki itu.
"Ayo lah. Aku buru-buru ini." Kata Tigor.
"Mana gitar mu Gor?" Tanya tukang ojek itu.
"Aku bukan mau ngamen. Kali ini aku mau merampok orang." Kata Tigor sambil duduk di boncengan.
"Hahaha... Baru kali ini aku mendengar Tigor bicara ngelantur." Kata tukang ojek itu sambil memulas gas lalu mereka pun segera berangkat menuju kafe melody.
*
Baru saja Tigor tiba di depan kafe yang dijadikan tempat janji untuk bertemu, dari arah depan kini terlihat mobil BMW berbelok dan berhenti tepat di depan Tigor.
"Masuk Gor! Kita harus melihat rumah baru mu." Kata seorang lelaki setengah baya sambil menurunkan kaca mobil.
Tanpa banyak bicara, Tigor langsung saja menuruti perintah lelaki itu. Lalu mobil itu pun akhirnya meluncur menuju ke daerah perumahan yang menjadi area perumahan kelas atas di Tasik putri ini.
"Untuk apa kau susah-susah membelikan rumah untukku Martin? Aku masih belum bekerja untuk mu." Kata Tigor.
"Jika kau membantuku tanpa mengharap imbalan, mengapa aku tidak memberikan sesuatu yang layak untuk mu? Hahaha... Sudah ku katakan. Uang bukan masalah besar bagi Martin."
"Terserah kau saja lah Martin. Aku tidak pernah meminta. Jangan buat kau berhutang budi kepada mu. Aku sangat benci dengan hutang budi." Kata Tigor.
"Rumah yang aku belikan itu ku rasa tidak cukup untuk mengungkapkan rasa terimakasih ku karena kau telah menyelamatkan nyawa ku. Jika bukan karna pertolongan darimu. mungkin aku sudah jadi penghuni tanah pemakaman umum kota Batu. lalu apa lagi artinya uang bagiku setelah menjadi bangkai? Sudahlah. Tidak ada hutang budi antara dirimu dengan Martin." Kata Martin sambil tertawa.
'Rumah itu pasti mahal kan? Blok B Tasik putri itu terkenal sebagai tempat tinggal orang kaya. Aku tidak akan nyaman dengan semua itu." Kata Tigor.
"Setelah kau menandatangani surat kepemilikan, terserah kau mau menempati atau tidak. Tapi jangan kau jual. Jadikan rumah itu sebagai sejarah. Sejarah kucing hitam bekerja sama dengan induk kucing." Kata Martin.
"Hahaha. Bisa saja." Kata Tigor ikut-ikutan tertawa.