BLACK CAT

BLACK CAT
Huru-hara di bangunan tua



Sementara itu, di bagian tingkat paling atas bangunan usang itu, tampak puluhan orang berjalan menghampiri sekelompok orang-orang yang memang sudah terlebih dahulu berada di tempat itu.


Begitu melihat rombongan yang datang dengan membawa koper di tangan masing-masing, salah seorang berbadan tegap mengenakan stelan jas biru segera menghampiri.


"Selamat datang Mr. Chan." Sapa lelaki itu dengan ramah.


"Pak Prengki! Ternyata kalian cepat sekali tiba. Bagaimana dengan Birong? Apakah dia berada di sini?" Tanya lelaki berpakaian putih itu.


"Oh. Jika maksud anda adalah ketua kami, dia saat ini sedang mengurus keamanan. Karena mengetahui akan menjadi tuan rumah bagi transaksi besar ini, maka dia harus menemui beberapa petinggi di jajaran aparat untuk memastikan bahwa transaksi ini berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan dari pihak penegak hukum." Kata Prengki.


"Begitu?"


"Baiklah. Aku percaya kepada ketua serta nama besar organisasi kalian. Apakah orang yang bernama Acun itu telah berada di sini?" Tanya Mr. Chan.


"Oh.. Tentu. Tentu saja. Beliau juga sudah tidak sabaran untuk melakukan transaksi dengan anda."


"Mari silahkan Pak Chan!" Kata Prengki mempersilahkan.


Sebagai orang tengah dalam transaksi ini, dia harus bisa menjilat kedua belah pihak.


Oleh karena itu, dia harus bersikap netral. Yang penting baginya adalah seperti gergaji. Maju mundur makan.


"Selamat datang. Selamat datang. Apakah anda yang bernama Mr.Chan?" Tanya Acun.


"Benar. Apakah anda yang bernama Acun?"


"Tepat sekali. Namaku adalah Acun. Raja Narkoboi dari Singapura." Jawab Acun dengan bangga.


"Hahaha. Bagus."


"Apakah anda memiliki gelar?" Tanya Acun.


"Ya. Tentu saja. Aku berasal dari Pilipina keturunan China. Namun aku tinggal lama di Los Angeles. Orang-orang memanggil ku dengan sebutan BigBoss Los Angeles Chan atau di singkat dengan sebutan BLA Chan." Jawab Mr.Chan dengan bangga.


Mendengar nama ini, Dagol segera merapat ke arah Prengki lalu berbisik. "Aneh betul nama orang itu bang. BLA Chan. Apa tidak ada nama yang lain?"


"Suka-suka mereka lah. Mau BLA Chan atau terasi sekalipun bodo amat lah. Yang penting kita dapat omset." Kata Prengki cuek. Namun jauh di dalam hatinya, dia juga ingin tertawa.


"Aaa... Mister Acun! Apakah kita bisa memulai kesepakatan kita? Terus terang, saya sebenarnya tidak memiliki banyak waktu. Malam ini juga saya akan kembali ke Pilipina melalui jalan laut." Kata Mr BLA Chan.


"Hahaha. Sama. Saya juga ingin segera merampungkan kesepakatan kita ini. Semoga ini menjadi awal yang baik buat kerja sama kita kedepannya. Baiklah! Mari silahkan!" Kata Acun sambil mempersilahkan Mr Chan menuju ke arah sebuah meja panjang di mana terlihat ada banyak koper di sana dalam keadaan masih tertutup.


"Mister BLA Chan. Ini adalah Narkoboi jenis langka yang saya terima dari sindikat narkoboi terbesar di Amerika latin. Jika anda mencari jenis ini di Asia apa lagi di asia tenggara, kemungkinan ada. Namun untuk harga, ini sangat mahal sekali. Oleh karena itu, sebagai salam perkenalan, saya dengan senang hati memberikannya kepada anda dengan harga miring sesuai dengan pasaran asia tenggara." Kata Acun.


"Hahaha. Ternyata Birong sangat pandai mencarikan aku mitra dagang yang sesuai selera ku." Kata Mr. Chan sambil tertawa.


"Mari! Mari silahkan!'


Sementara itu di balik puing-puing batu bata yang sebagian sudah runtuh, tampak tujuh orang pemuda berseragam polisi.


Sementara itu di belakang sosok hitam yang bersembunyi di dekat tangga, juga ada tujuh orang pemuda yang juga mengenakan seragam kepolisian.


"Sst...!"


"Ada apa Black Cat?"


"Dengar. Begitu aku melempar batu ke arah Acong, kalian langsung menyalakan lampu dan memberi peringatan menggunakan pengeras suara!"


"Siap!"


Tuk...!


Dari balik kegelapan, Black Cat melemparkan sebutir kerikil kecil yang tepat mengenai Acong.


Tak lama setelah itu, Andra pun bangkit dari tempat persembunyiannya dan langsung berseru.


"Jangan bergerak. Kalian telah terkepung. Silahkan buang senjata kalian. Jangan melakukan perlawanan! Atau kalian akan menyesal!" Kata Andra dengan menggunakan pengeras suara.


Suara peringatan yang di susul dengan menyala nya lampu senter itu membuat semua orang yang berada di tempat itu kini menjadi panik.


"Ini pasti ada yang salah. Aku akan menelepon Birong." Kata Prengki.


"Letakkan senjata kalian dan berbalik menghadap ke dinding! Atau kalian akan menyesal."


Kembali suara seruan itu bergema di malam yang sudah terang oleh sinar lampu senter dari anggota Andra, Acong, Timbul dan Ameng.


"Semuanya jangan takut. Ini pasti ada kesalahfahamam!" Kata Prengki sambil mengeluarkan ponsel nya.


Wuzzz....


Set....!


"Akkkh.....!!!"


Baru saja Prengki mengeluarkan ponsel nya, tampak dari arah belakang dinding melesat sebilah pisau dan tepat menancap di bagian belakang kepala Prengki.


"Lindungi Boss kita!" Kata mereka kini mengurung Mr. BLA Chan agar terhindar dari sasaran serangan.


"Kami hitung sampai Tiga! Jika kalian tidak meletakkan senjata, kami akan menembak kalian semua di tempat!' Kata Andra.


"Prengki. Prengki...!"


Dagol yang merasa keanehan karena Prengki tidak bangun-bangun lagi segera menggoyang badan Prengki. Namun apa sial, ketika dia meraba dibagian belakang kepala Prengki, kini dia menemukan sebilah pisau lempar sudah terhujam sampai ke gagang di sana.


"Celaka. Jangan menyerah! Mereka bukan polisi sungguhan. Kemungkinan mereka adalah anggota organisasi pihak lain. Siapkan senjata kalian!" Kata Dagol berteriak panik.


Kegemparan pun terjadi ketika beberapa sosok berpakaian polisi segera keluar dari balik puing-puing bangunan dengan di tangan memegang lampu senter dan menembakkan cahaya lampu itu ke arah mata mereka diikuti melesatnya sosok hitam menebas membabi-buta membuat mereka seolah lupa bahwa ditangan mereka ada pistol.


"Andra! Target jangan sampai lolos!" Teriak sosok serba hitam itu.


Begitu mendengar seruan dari Black Cat, Andra langsung melompat sambil mengeluarkan pistol pinjaman dari Tigor dan langsung menembaki beberapa orang hingga akhirnya ujung pistol itu tepat berada di leher Acun.


"Mau apa kalian? Mau apa?" Teriak Acun panik.


"Letakkan semua senjata kalian! Jika tidak, Boss besar kalian akan aku bunuh!" Kata Andra sambil bergerak mundur menyeret tubuh Acun ke arah tangga.


Melihat kekacauan sedang terjadi, Dagol akhirnya memanfaatkan keadaan untuk melarikan diri. Namun sebelum dia mencapai lantai bawah, Black Cat yang menyadari segera melemparkan pisaunya yang tepat menghantam punggung Dagol.


"Akhhhh....!"


Dagol tidak memperdulikan rasa sakit dari pisau yang sudah dilumeri racun itu. Dia terus berlari menghampiri mobil lalu kabur menuju ke bukit batu.


Sementara itu sekitar 20 orang termasuk Mr. Chan benar-benar kalang kabut. Ini karena setelah terjadi kekacauan dalam kegelapan itu, beberapa orang mulai menjatuhkan puluhan koper ke bawah.


Sedangkan Andra masih terus mundur sambil mengancam Acun dengan pistol nya.


"Ayo cepat! Bangsat itu berhasil kabur. Kita pasti akan di kepung jika masih berada di bangunan ini." Kata Black Cat.


Merasa Acun terlalu menjadi beban, Andra segera mendorongnya ke bawah dan jadilah Acun terjun bebas dengan tubuh menghantam rerumputan di sisi belakang bangunan itu.


Bruuusk....


"Arrrrghhh... Patah pinggang ku Maaaak....!" Teriak Acun.


Selesai melemparkan Acun ke bawah, Andra segera membuka tali yang terikat di pinggang nya dan mengaitkan pada besi bangunan lalu segera turun ke bawah menggunakan tali tersebut.


"Kacau sudah. Habis sudah uang ku. Cepat kejar mereka!" Kata Mister Chan kepada sekitar dua puluh orang yang berada di tempat itu.


Karena tidak menguasai kawasan bangunan ditambah lagi karena malam itu cukup gelap, membuat mereka lintang-pukang saling bertabrakan sesama mereka.


Tepat ketika pasukan Black Cat sudah tiba di bawah, mereka langsung mengumpulkan koper-koper yang telah berada di bawah. Mengaitkan dengan tali, lalu memanggul koper-koper itu memasuki semak-semak yang membawa mereka ke arah parit.


Tepat setelah mereka memasuki parit, Puluhan mobil dari arah bukit batu berdatangan dengan hampir seratusan orang mulai berlompatan dan langsung menyebar.


"Kalian bawa hasil jarahan kita ini ke perkebunan karet. Aku akan mengecohkan mereka. Setelah itu kalian bersiap-siap karena kita akan mengubur mereka semua di perkebunan karet itu." Kata Black Cat.


"Baik bang." Jawab mereka lalu segera menyeret tubuh Acun bersama mereka menuju perkebunan karet sekitar lima ratus meter bagian utara bangunan usang itu.