
Seorang pemuda yang baru saja turun dari mobil dengan tampang uring-uringan bergegas memasuki rumah besar seperti Mansion itu dengan muka merah padam.
Belum lagi dia mencapai pintu, suara teriakannya sudah menggema menusuk gendang telinga seorang pemuda lainnya yang sedang berdiri di samping seorang lelaki setengah baya yang sedang duduk di sofa sambil menikmati secangkir teh.
"Ayah... Aku tidak mau tau. Pokoknya Tigor harus segera angkat kaki dari kota Tasik putri ini."
Mendengar teriakan yang tidak tentu ujung pangkal nya itu, membuat lelaki setengah baya tadi hampir saja tersedak.
"Ada apa dengan mu Marven? Datang tiba-tiba lalu berteriak seperti orang kesurupan." Tegur lelaki setengah baya itu.
"Pokoknya Ayah harus segera memindahkan Tigor ke kota Kemuning. Aku tidak ingin dia berada di kota Tasik putri ini lagi." Kata pemuda bernama Marven itu.
Mendengar ini, seorang pemuda berpakaian hitam dengan kacamata hitam dan lengkap dengan intercom di telinga nya saling pandang dengan lelaki setengah baya itu lalu berkata. "Mister Carmen Bond. Kau pergi kedepan. Aku akan bicara dengan putra ku ini."
"Baik Tuan." Kata lelaki yang disebut Carmen Bond dengan hormat lalu segera melangkah keluar meninggalkan anak dan ayah itu.
"Sekarang katakan ada apa dengan Tigor?!"
"Ayah. Aku tidak mau mengatakan alasannya. Pokoknya aku tidak ingin Tigor berada di sini. Sekarang aku meminta Ayah untuk segera mengirim dia ke kota Kemuning sebagai umpan harimau. Jika tidak, aku akan mogok makan dan minum." Kata Marven mulai mengancam.
Lelaki setengah baya itu hanya bisa menarik nafas dalam-dalam melihat kemanjaan anak lelaki nya ini.
Dia tau betul jika anaknya itu sudah memberi ancaman, dia pasti akan melakukannya.
"Tigor memang akan di kirim ke kota Kemuning untuk mengurus bisnis Ayah di sana. Namun itu butuh proses. Harus melalui kuasa hukum dan mengikuti prosedur. Mana bisa asal kirim saja."
"Aku beri waktu selama 3 hari. Jika tidak, aku atau dia yang mati. Jika aku gagal, maka aku akan bunuh diri." Kata Marven lalu segera melangkah lebar meninggalkan ruangan itu.
"Ada apa lagi ini ya Tuhan? Bukakah selama ini hubungan antara Marven dan Tigor selalu akrab dan tidak pernah ada masalah. Lalu mengapa?" Kata lelaki setengah baya itu dalam hati.
Jelas dia merasa heran. Ini karena selama ini baik Tigor maupun Marven sangat akrab. Jika bukan karena sesuatu, pasti mereka tidak akan seperti ini.
"Aku harus menemui Tigor." Kata lelaki itu lagi dalam hati.
"Carman! Siapkan mobil! Kita akan berangkat ke blok B."
"Baik Tuan besar Martin!" Kata Carmen Bond sambil melangkah menuju garasi.
*********
Sore itu, setelah melepas kepergian Monang, Ucok, Jabat, Thomas dan Sugeng yang berangkat menuju kota Kemuning bagi mengamati keadaan di sana, Tigor sebenarnya berniat untuk mengajak Mirna membeli beberapa barang, dia merasa kasihan melihat Mirna dengan pakaian yang itu-itu saja selama ini. Tapi, baru saja dia akan pergi, tiba-tiba ponselnya berterima menandakan pesan whatsapp telah masuk.
Setelah membuka ponsel miliknya, Ternyata itu pesan dari Karman.
"Bang Tigor. Harap berada di rumah mu Blok B. Karena, sebentar lagi Boss besar akan menemui mu." Begitu lah isi dari pesan suara Whatsapp yang dia terima.
Tigor hanya menghela nafas saja dan berkata kepada Mirna. "Kita batal belanja. Martin akan datang kemari sebentar lagi. Aku minta maaf untuk itu." Kata Tigor dengan wajah penuh penyesalan karena sudah berjanji akan mengajak Mirna untuk belanja.
"Tidak apa-apa bang Tigor. Aku sudah cukup dengan pakaian yang ada."
Sebagai orang yang pernah diselamatkan oleh Tigor, dia cukup tau diri.
Dia tidak ingin membebani pemuda yang sudah sangat baik dan memperlakukannya dengan hormat. Baginya, mendapat tumpangan dari Tigor pun sudah sangat cukup.
Tak lama setelah itu, empat unit mobil BMW melaju perlahan memasuki area halaman rumah milik Tigor dan berhenti tepat di area parkir.
Mengetahui siapa yang datang, Tigor buru-buru berlari dan membukakan pintu untuk mobil yang berada di tengah.
"Anak ku Tigor. Hahaha... Sini kau aku peluk!" Kata Martin sembari merangkul pundak Tigor.
"Kedatangan ku kemari ingin bertanya kepadamu tentang Marven. Apakah kau memiliki masalah dengan nya?" Tanya Martin.
"Salah faham. Hanya itu yang bisa aku katakan. Aku tidak tau entah siapa yang ingin mengadudomba kami. Yang jelas, dia cemburu kepada ku karena Wulan." Kata Tigor menjawab pertanyaan Martin.
"Hmmm... Pantas dia merajuk. Aku berada dalam posisi sulit saat ini.
Begini saja. Kau bisa mempersiapkan diri. Besok aku akan menemui team kuasa hukum di perusahaan yang berada di kota kemuning. Setelah urusan selesai, lusa kau boleh berangkat. Di sana kau harus menjaga seluruh aset dan properti milik ku. Kau harus menganggapnya seperti milik mu sendiri. 60% untuk mu dan 40% untuk ku dari semua keuntungan yang di peroleh. Bagaimana?"
"Aku selalu siap kapan dan di mana pun aku akan ditempatkan. Maaf Martin! Aku tidak sama dengan bawahan mu yang hanya makan gaji buta." Kata Tigor dengan sinis.
"Kau jangan begitu Tigor. Oh ya. Apa ada yang kau curigai tentang masalah kau dan Marven ini?" Tanya Martin.
"Tidak. Aku tidak berani mencurigai siapapun. Untuk saat ini biarkan saja. Aku harus memfokuskan diri untuk keberangkatan ku ke kota kemuning. Beberapa bawahan ku sudah berangkat terlebih dahulu untuk memantau keadaan." Kata Tigor menjelaskan.
"Bagus. Ternyata kau cukup tanggap dalam hal ini. Itu bagus untuk mu. Ketahuilah! Bahwa Jordan ini adalah ular berkepala dua. Apa lagi putranya yang bernama Ronggur. Kau harus selalu waspada terhadap mereka!" Kata Martin berpesan.
"Martin. Kau tau siapa aku kan? Aku tidak pernah perduli siapa lawan ku. Aku tidak takut terhadap Jordan karena sudah terang-terangan bahwa dia adalah musuh mu, musuh ku dan musuh bagi organisasi. Yang aku takutkan adalah, adanya musuh dalam selimut yang bisa saja menggunting dalam lipatan. Jika kau tidak peka, alamat kapal akan tenggelam." Kata Tigor.
"Maafkan aku Pak. Aku lupa mengajak mu untuk masuk. Mari silahkan masuk!" Ajak Tigor.
"Tidak perlu. Aku masih ada urusan.
Begini saja. Lusa, aku sendiri yang akan mengantar mu ke kota kemuning. Kau harus diperkenalkan kepada jajaran staf di sana. Setelah itu, masa sepan perusahaan di sana serta masa depan cabang organisasi kucing hitam berada di pundak mu. Andai kota tasik putri ini dalam keadaan gawat, maka pusat kekuatan selanjutnya adalah kota kemuning. Apa kau faham maksud ku?"
"Ya aku mengerti. Hal pertama yang akan aku lakukan adalah menyiksa kelompok Jordan ini. Aku tidak akan memainkan otot ku di sana. Oh ya. Aku ingin bertanya kepadamu. Sudah berapa lama wali kota kemuning menjabat?" Tanya Tigor.
"Apa maksud mu dengan pertanyaan itu Gor?"
"Terjun ke dunia politik. Jika wali kota kemuning bisa kita genggam, maka kota kemuning adalah milik kita. Di saat pemilihan nanti, aku akan mendukung satu sosok yang aku rasa berpotensi untuk kepentingan kita. Dengan begitu, kita akan mendapat manfaat dari dukungan. Sudah saatnya kita berinvestasi kepada pemerintah daerah."
"Otak mu encer juga. Baik...! Baiklah! Aku suka dengan cara berfikir mu. Kau atur bagaimana baik nya. Masalah dana, tinggal sebut saja. Aku menduga bahwa wali kota kemuning sudah menjabat selama empat tahun."
"Berarti tinggal satu tahun lagi masa jabatannya? Hmmm..., mari kita lakukan hal yang tidak pernah dilakukan oleh geng tengkorak. Kita akan membuka usaha legal di luar, ilegal di dalam. Aku juga akan mendirikan panti asuhan, rumah sakit gratis dan sekolah swasta gratis bagi gelandangan. Tarik sebanyak-banyaknya simpati dari masyarakat. Lalu...., kau tau lah!" Kata Tigor sambil tersenyum.
"Apakah 170 juta USD mu itu cukup? Jika tidak, aku akan tambah." Kata Martin yang mulai tertarik dengan cara berfikir Tigor ini.
"170 juta itu kan uang hasil transaksi di Hongkong. kau memberikan semuanya kepada ku. Itu baru hasil transaksi. Sedangkan hasil rampokan saja aku bingung menghitung nya. Lebih dari cukup." Kata Tigor.
"Mantap. Jika sudah begini, aku tidak perlu khawatir lagi." Kata Martin.
"Tidak. Kau tidak usah mengkhawatirkan aku. Justru aku yang setiap hari mengkhawatirkan dirimu." Kata Tigor.
"Mengapa pulak kau khawatir sama aku?"
"Ah tidak. Tidak apa-apa. Ini hanya naluri seorang anak angkat kepada Ayah angkat nya." Jawab Tigor.
"Percuma aku mengatakan jika kau tidak mau percaya. Sudahlah. Semoga setelah aku di kota kemuning nanti, kau selalu baik-baik saja di sini." Kata Tigor dalam hati.
Dia hanya menatap sayu kearah Martin yang sudah bergerak untuk pergi meninggalkan halaman rumah nya.
"Beni harus di beri pelajaran. Patahkan satu tangannya." Kata Tigor dalam hati lalu bergegas memasuki kamarnya untuk berganti pakaian.