
Dolok ginjang, Kota Tasik Putri, Kota Batu kembali di landa kegemparan karena berita yang beredar pagi ini.
Dalam berita tersebut, salah satu anak orang kaya di kota Kemuning tewas dengan cara yang sangat mengenaskan.
Tidak ada yang tau apa sebenarnya yang terjadi dan siapa pelaku pembun*Han itu. Hal ini karena, serombongan pemuda menaiki sepeda motor meletakkan sebuah kotak kardus mie instan tepat di depan pagar rumah Jordan dengan di atasnya terdapat saputangan putih bernoda darah.
Seperti dikisahkan dalam bab sebelumnya, bahwa Monang yang menerima pesan suara dari Black Cat langsung berangkat menuju ke lokasi proyek sesuai dengan perintah Black Cat.
Ketika mereka tiba di lokasi itu, keadaan sudah terkendali.
Monang yang menerima sapu tangan putih bernoda darah dari Riko langsung tau apa maksud yang tersirat dibalik sapu tangan itu.
Dengan menggunakan kardus bekas mie instan, Monang memasukkan potongan k*p*la Ronggur lalu segera mengendarai sepeda motor bersama Acong, Timbul, Andra dan Ameng berangkat malam itu juga menuju komunitas elite tepat nya di rumah besar milik Jordan.
Setelah meletakkan kotak berisi sesuatu yang mengerikan itu, Monang pun langsung kembali ke lokasi proyek melalui jalan memutar untuk menghilangkan jejak.
Tiba di lokasi Proyek, sesuai dengan pesan Black Cat, mereka yang seramai dua ratus orang itu langsung menghajar sisa anak buah Ronggur hingga hancur sehancur hancurnya lalu memasukkan mereka ke dalam bus mini selundupan yang mereka beli dari Lalah, lalu membawa nya ke tempat sunyi kemudian membakar berikut dengan bus tersebut sekalian.
"Beres?"
"Beres!. Ayo kita bergerak!"
"Sebaiknya berpencar saja. Aku akan mengambil jalan memutar dari Tanjung karang." Kata Andra.
"Ok. Mari kita berpencar!"
Beberapa orang itu langsung meninggalkan bus mini yang terbakar itu lalu bergerak mengikuti delapan mata angin untuk menghilangkan jejak.
Subuh-subuh sekitar pukul lima, semua anak buah Tigor yang di pimpin oleh Monang telah berhasil kembali ke hotel tempat Wulan dan Debora menginap secara senyap-senyap.
Sementara itu sepeda motor yang mereka gunakan telah di amankan dan mungkin tidak akan mereka gunakan lagi dalam waktu yang lama.
"Apakah alibi kita ini berhasil Monang?" Tanya Andra.
"Berhasil tidaknya kita lihat saja. Toh juga kita ini adalah gerombolan mafia gengster. Jika polisi ingin menangkap kita, apa boleh buat. Aku lebih baik mati daripada masuk penjara."
"Maksudmu?" Tanya Andra.
"Lawan sampai tetes darah penghabisan." Jawab Monang sambil tersandar di kursi yang terdapat di lobby hotel itu.
**********
Pagi-pagi sekali, rumah besar milik Jordan sudah dilanda kegemparan.
Hal ini karena salah satu dari pengawal kediaman bos mafia kota Kemuning itu terbangun dari tidurnya.
Karena merasa terusik dengan pemandangan yang terdapat di luar pagar rumah itu, pengawal tadi pun langsung membuka pintu pagar dan melihat ternyata yang dia lihat tadi adalah sebuah kardus mie instan. Namun yang paling mengganggu serta menarik perhatian nya adanya sapu tangan putih bernoda darah tepat di atas kardus tersebut.
Begitu dia membuka kardus itu, alangkah terkejutnya pengawal itu melihat isi dari kotak yang sangat mengerikan itu. Pengawal itu bahkan sampai tersurut beberapa langkah kebelakang.
Hampir juga sepuluh menit pengawal itu menguasai dirinya, barulah dia mampu menjerit dan langsung membangunkan teman-teman nya yang lain.
"Ada apa kau menjerit seperti orang kesurupan begitu, Bagudung?" Tanya temannya.
"Kar.., kar.., kardus itu. Ke.., ke.., kepala." Jawab pengawal yang pertama tadi tergagap.
"Kardus? Lalu kepala. Apa maksudmu?" Tanya seorang lagi tidka mengerti. Namun karena penasaran, dia akhirnya melangkah juga mendekati kotak kardus mie instan itu dan,
"Be.., be.., beritahu ketua kita. Itu adalah bang Ronggur!"
Sambil menggigil ketakutan, pengawal itu pun segera mengeluarkan ponselnya lalu menelepon ke nomor Jordan.
"Gila kau menelepon ku pagi-pagi buta begini?!" Bentak Jordan di seberang telepon.
"Bos. Bang Ronggur bos." Kata pengawal itu dengan suara menggigil.
"Mengapa Ronggur? Apa dia membuat ulah karena mabuk?" Tanya Jordan masih dengan nada bicara yang sangat kasar.
"Bos. Bang Ronggur mati di bunuh orang!" Kata Pengawal itu.
"Apa? Ku potong lidah mu ya!" Bentak Jordan.
"Sebaiknya Bos turun saja ke bawah. Bang Ronggur sudah mati Bos!" Kata pengawal itu.
Tak lama berselang, tampak pintu rumah besar itu terbuka dan dari dalam tampak lelaki setengah baya bersama dengan seorang wanita yang juga setengah baya melangkah tergopoh-gopoh menuju pintu pagar rumah besar tersebut.
"Mana...? Hah.., mana Ronggur yang kau katakan mati itu?" Tanya Jordan dengan mata melotot.
Sebagai jawaban, pengawal itu hanya menunjuk ke arah kotak kardus bekas mie instan itu.
Sama seperti pengawal sebelumnya, Jordan juga merasa penasaran.
Begitu dia menjenguk kan kepalanya, dia seperti tersambar petir melihat sebuah k*p*la tanpa tubuh itu dengan mata dan mulut terbuka lebar.
"Rongguuuur....! Ronggur anak ku!"
"Apa?" Hanya itu yang keluar dari bibir wanita setengah baya itu lalu ikut-ikutan melihat ke arah kardus tadi.
"Ya Tuhan....! Rongguuuur....!"
Suara tangisannya pun seketika itu juga pecah ketika melihat anak semata wayangnya itu dalam keadaan sudah tidak bernyawa lagi. Bahkan tidak bertubuh.
Seperti kerasukan, sepasang suami istri itu pun menangis sejadi-jadinya di pagi buta itu.
"Siapa? Siapa yang melakukan semua ini? Siapa....?" Teriak Jordan seperti orang gila.
Tidak ada yang bisa menjawab karena memang tidak ada yang tau siapa pelakunya selain petunjuk yang terdapat di atas kardus itu yaitu sebuah sapu tangan putih bernoda darah yang melambangkan bahwa itu adalah perbuatan Black Cat.
"Bos. Kami sudah melihat rekaman cctv. Ada tiga orang mengendarai sepeda motor dari arah Tanjung karang lalu meletakkan kotak tersebut di depan pintu pagar. Kemudian mereka kembali mengarah ke tanjung karang." Kata salah seorang dari pengawal itu.
Jordan benar-benar seperi orang yang kehilangan akal saat ini.
Ketika itu matanya tertuju kepada sapi tangan bernoda darah itu. Seketika dia ingat kata-kata dari Beni yang mengatakan bahwa dia pernah mendapat ancaman dari Black Cat dengan cara dikirim sapi tangan bernoda darah kepadanya.
"Aku sudah mengatakan kepadamu untuk tidak membuat kekacauan. Kau tidak mau mendengarkan ayah mu ini. Ini pasti ulah dari Black Cat." Kata Jordan sambil menggelupur bagai ayam disembelih.
Pagi itu benar-benar pagi yang menggemparkan.
Sekuat apapun Jordan menutupi kematian Ronggur putranya, namun seperti penyakit menular, berita itu terus tersebar tanpa dapat di bendung.
Jika ada yang harus dijadikan sebagai tersangka atas kejadian itu, maka Black Cat adalah orangnya. Tapi mau kemana mereka mencari sosok hitam yang tidak tau juntrungannya itu?