BLACK CAT

BLACK CAT
Geng tengkorak mulai membuat onar



Martin dan Tigor baru saja tiba di salah satu rumah dari deretan rumah-rumah yang di sediakan oleh Martin untuk para staf serta para bawahan di restoran dan hotel serta pusat hiburan milik nya.


Walaupun tampak sangat sederhana, namun bagi Tigor, rumah ini jauh lebih nyaman dia gunakan untuk menampung dirinya dan juga teman-temannya.


"Bagaimana Tigor. Apakah rumah ini cocok untuk mu?" Tanya Martin.


"Cocok. Sangat cocok sekali." Jawab Tigor datar.


"Ada apa Tigor? Sepertinya sejak turun dari mobil tadi, aku perhatikan kau sepertinya sedang memikirkan sesuatu?!" Tanya Martin yang merasa heran atas perubahan sikap Tigor ini.


"Ah. Tidak apa-apa." Jawab Tigor singkat dan datar tanpa nada.


"Jujur ada apa Tigor?"


"Martin. Aku merasakan bahwa kehadiranku di dalam organisasi kucing hitam milikmu ini tidak disukai oleh sebagian orang."


"Maksud mu?" Tanya Martin mencoba untuk menyelami perkataan Tigor barusan.


"Apakah yang mau maksud adalah Tumpal dan Beni?"


"Kau sendiri kan melihat bagaimana reaksi mereka tadi."


"Aku tidak takut dengan ancaman yang datang dan segala bentuk ketidak sukaan dari mereka terhadapku. Yang aku takutkan adalah, ketika aku tidak bisa mengendalikan diri, maka mereka akan mendapatkan sesuatu yang buruk dariku." Kata Tigor.


"Oh ya Martin. Aku tadi sempat melirik ke arah mereka. Aku menduga bahwa mereka saat ini sedang merencanakan sesuatu. Lihat saja dalam beberapa hari ini. Pasti akan ada kejadian yang memaksa aku untuk terlibat di dalamnya." Kata Tigor dengan penuh kecurigaan.


"Kau tenang saja. Aku mendukung mu sepenuhnya." Kata Martin.


"Terimakasih Martin. Aku ingin melihat seperti apa trik mereka ini. Aku akan pastikan bahwa taktik kotor mereka ini akan memakan dirinya sendiri. Yang terpenting saat ini adalah dukungan dari mu." Kata Tigor.


"Aku heran. Bagaimana kau bisa menebak semua itu Gor? Apakah tidak berlebihan?" Tanya Martin.


"Usia ku boleh saja masih muda. Tapi pengalaman dijalanan mengasah kemampuan ku dalam menilai setiap situasi dan kondisi. Ini adalah masalah kepentingan. Siapa pun akan mengamuk jika kepentingan nya terasa diusik oleh orang lain."


"Saat ini aku belum berani terlalu menuduh. Tapi kau lihat saja. Ini tidak akan lama. Sesuatu akan terjadi. Kau perhatikan saja perubahan sikap dari bawahan mu. Kau pasti akan menemukan suatu kesimpulan dari kata-kataku barusan." Kata Tigor sambil tersenyum.


Bibirnya tersenyum namun mata merah nya selalu mengawasi keadaan.


*********


Sore itu setelah memperkenalkan Tigor kepada Monang dan anak buahnya bernama Karman yang memang sudah saling kenal dengan Tigor, Monang yang merasa saat ini bahwa Tigor di sisi martin lebih tinggi darinya, hanya bisa menawarkan bantuan untuk menjemput semua ketiga sahabatnya yang berada di bawah jembatan.


Baru saja Tigor menerima kedatangan teman-temannya yang akan menempati rumah yang diberikan oleh Martin, tiba-tiba ponsel milik Tigor berdering.


"Martin?!" Kata Tigor dalam hati.


"Kalian disini dulu ya. Boss besar menelepon ku. Kalian bisa memilih kamar. Rumah ini memiliki tiga kamar. Setiap 1 kamar di isi dua orang. Terserah kalian kamar yang mana kalian mau." Kata Tigor sambil bergegas melangkah keluar rumah tersebut.


Sambil berjalan cepat mengarah ke bangku panjang di bawah pohon mangga, Tigor pun segera menelepon kembali ke nomor Martin.


Tut... Tut... Tut....!


Terdengar bahwa panggilan itu belum di jawab oleh Martin.


Setelah menunggu beberapa detik, panggilan itu akhirnya terhubung juga.


"Tigor di mana kau." Terdengar suara Martin seperti ada sesuatu yang gawat.


"Aku di rumah. Ada apa Martin?" Tanya Tigor heran.


"Apakah sudah ada anak buahmu yang berangkat ke sana?" Tanya Tigor.


"Itulah masalahnya Gor. Tumpal tidak dapat dihubungi. Sedangkan Tumpal sudah puluhan kali aku hubungi namun tidak ada jawaban." Kata Martin.


"Martin. Bagaimana aku akan segera ke sana? Aku tidak memiliki kendaraan. Takutnya ketika aku tiba, semua sudah terlambat." Kata Tigor.


"Kau tunggu di sana Tigor! Aku dan Marven akan berangkat ke restoran Samporna."


"Baik. Cepat lah!" Kata Tigor lalu segera meraba-raba pinggang nya. Setelah semua dirasa ada, Tigor pun segera berlari menuju ke arah Restoran.


"Cepat naik Gor!" Terdengar satu suara memberi perintah dari dalam mobil BMW hitam yang hanya terbuka kaca bagian belakangnya itu.


Tanpa menunggu perintah dua kali, Tigor langsung membuka pintu di sebelah sopir.


Di dalam mobil dia melihat Martin didampingi oleh anak lelakinya bernama Marven.


"Ayo cepat jalan!" Kata Martin memberikan perintah kepada sopir.


Mobil yang dikendarai Martin, Marven dan Tigor itu pun akhirnya melesat bagai anak panah lepas dari busur menuju ke arah jembatan bekas markas Tigor dan keempat sahabatnya.


"Ayah. hanya kita bertiga dan di tambah seorang sopir. Apakah kita mampu melawan mereka?" Tanya Marven agak ragu-ragu.


"Mampu. Pasti mampu. Semuanya itu hanya kacang goreng." Kata Martin penuh kesombongan.


"Sialan Martin ini. Pasti aku juga yang akan dia umpankan kepada anak buah Birong nanti." Kata Tigor dalam hati memaki Martin habis-habisan.


"Tapi Ayah. Mereka itu ramai. Kata manager kafe, selain puluhan orang, salah satu pentolan geng tengkorak juga berada di sana. Orang itu bernama Bedul. Kekejaman orang ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata." Kata Marven. Mendadak dia merasakan tenggorokan nya menjadi kering.


"Bagaimana Tigor? Apakah kita mampu melawan mereka?" Tanya Martin.


"Bagaimana pak sopir?" Tanya Tigor kepada pak sopir yang ada di samping nya.


"Tigor..! Aku bertanya padamu." Bentak Martin yang sudah mulai bimbang.


"Mau bagaimana lagi Pak Martin? Anak buah mu berserakan di mana-mana. Tumpal dan Beni, dua orang pentolan geng kucing itu juga tidak bisa kau hubungi. Lalu pilihan apa lagi yang kita punya?" Tanya Tigor.


"Aku tidak masalah salah satu aset ku lepas ke tangan geng tengkorak. Paling aku akan membayar uang keamanan kepada mereka. Jika tidak mampu, kita bisa berbalik saja. Masih belum terlambat." Kata Martin yang mulai pucat.


"Tidak ada kata berbalik arah bagi Tigor. Jangan permalukan aku dengan perkataan sialan itu Pak! Yang perlu kalian berdua lakukan adalah menilai situasi saat ini dan mengambil pelajaran dari nya. Nanti jika masalah ini selesai, kita akan mengatur kembali bobroknya cara organisasi ini menempatkan orang-orang bawahan."


"Ingat kata-kataku ini. Jika begini terus, kota tasik putri ini pasti akan jatuh ke tangan Birong. Pantas saja semakin hari semakin melemah geng kucing ini. Ternyata begini cara kerjanya." Kata Tigor mengomel sepanjang jalan.


"Satu per satu dulu Tigor. Aku akan mengatur ulang semuanya. Tapi kau harus bisa memukul mundur orang-orang geng tengkorak." Kata Martin penuh harap.


"Aku akan membabat habis orang-orang ini. Kau sediakan saja gerobak pengangkut mayat dan siapkan jawaban andai ada polisi yang menciduk mu nanti." Kata Tigor sambil membuka baju dan celananya.


Ternyata di balik pakaian luar, Tigor ternyata memakai pakaian baik celana maupun Baju berwarna hitam.


Sekitar seratus meter lagi menuju kafe, Tigor meminta sopir untuk menghentikan mobil itu.


"Berhenti di sini pak" Kata Tigor.


"Kau mau kemana Tigor?" Tanya Marven.


"Tenang saja. Aku tidak akan lari." Kata Tigor bergegas keluar dari mobil dan menghilang di balik gelap. Kini yang tampak hanya sosok hitam melompat dari balik gang dan terus lenyap ditelan kegelapan.