
Sepanjang perjalanan kembali ke Blok B perumahan Tasik putri, Tigor terus saja memikirkan pertemuannya dengan Kakek misterius yang mengaku bernama Tengku Mahmud itu.
"Orang tua itu tidak biasa. Sepertinya dia tau banyak tentang keluarga ku."
"Jawara, pedang melingkar di pinggang, hubungan dengan Bonar. Siapa sebenarnya kakek ini?"
Memikirkan tentang semua yang dia alami saat pertemuannya dengan lelaki tua renta tadi, membuat hati Tigor benar-benar tidak tenang.
"Apa jangan-jangan dia juga tau Black Cat itu aku. Bahaya jika begini. Aku harus menemuinya di Kuala nipah." Kata Tigor dalam hati.
"Bang. Berhenti di depan sana!" Pinta Tigor kepada sopir mini Bus.
Setelah membayar ongkos, Tigor pun singgah sebentar di restoran Samporna.
"Selamat datang Bang Tigor!" Kata pengawal itu sambil menunduk hormat.
"Bersikap biasa aja bang. Tidak perlu begitu!" Kata Tigor.
"Oh ya, apakah di antara kalian ada yang bisa mengantar aku ke Blok B? Aku ingin buru-buru pulang. Kalau jalan kaki, terlalu jauh." Kata Tigor sambil mengutuk dirinya dalam hati.
"Punya Mobil, punya sepeda motor tapi tidak dipergunakan. Tunggulah Rio ini pindah ke Jakarta. Aku pasti akan lebih leluasa." Kata Tigor dalam hati.
"Abang ingin pulang? Biar saya yang antar. Ayo bang! Sepeda motor saya ada di sana." Kata penjaga keamanan Restoran itu.
"Mari!" Kata Tigor mempersilahkan.
Setelah sampai di rumah miliknya yang diberikan oleh Martin, Tigor langsung menuju garasi tanpa masuk ke rumah terlebih dahulu. Baginya adalah, secepatnya mencari alamat Tengku Mahmud.
"Pak. Keluarkan sepeda motor dan antar aku ke kampung Kuala Nipah!" Kata Tigor memerintahkan kepada pengurus rumah miliknya.
"Siap Gor." Kata lelaki setengah baya itu.
"Nanti setelah mengantar aku ke sana, Bapak pulang aja. Tidak perlu menunggu ku." Kata Tigor lagi.
Penjaga rumah itu hanya mengangguk saja tanpa banyak bicara, lelaki itu mengeluarkan sepeda motor Yamaha R1 milik Tigor dan langsung menyalakan mesin.
"Ayo Bang Tigor. Mesin sudah panas." Kata lelaki setengah baya itu.
Tidak berapa lama kemudian mereka pun berangkat meninggalkan Kota Tasik putri menuju ke arah perkampungan Kuala nipah.
...*********...
Kuala nipah adalah sebuah perkampungan yang memiliki tidak lebih dari seratus rumah warga yang berdiri memanjang sepanjang pantai Nipah ini.
Semua penduduk di kampung ini sebagian besar adalah nelayan yang bekerja menjaring ikan di laut.
Terkenal dengan nama kampung nipah karena di hutan pinggiran pantai, selain banyak pohon kayu bakau, juga terdapat banyak pohon Nipah.
Oleh karna itulah kampung ini dinamakan Kampung Nipah.
Setelah sampai di daerah perkampungan tersebut, Tigor langsung menyuruh penjaga rumah yang mengantar dirinya untuk berhenti tepat di gapura pintu masuk ke Kampung nipah ini.
"Berhenti di sini saja Pak. Tidak perlu menunggu ku dan langsung saja pulang. Jika ada yang menanyaiku, katakan bahwa aku memiliki urusan yang penting. Jangan katakan aku ke perkampungan Nipah ini." Kata Tigor berpesan.
"Baik Bang Tigor. Kalau begitu aku pulang dulu."
"Ya Pak. Hati-hati di jalan." Kata Tigor.
Dia masih tetap berdiri di tempat nya turun tadi sampai lelaki setengah baya penjaga rumah milik nya itu hilang di balik tikungan jalan, baru lah dia beranjak memasuki perkampungan.
Di sepanjang Jalan, Tigor melihat banyak emak-emak sedang duduk berkumpul-kumpul di pondok-pondok pinggir pantai. Ada yang bergosip, ada yang mencari kutu, ada yang hanya sekedar duduk menikmati hembusan angin pantai.
Begitu salah seorang dari mereka melihat ke arah Tigor yang sedang berjalan kaki, mereka pun mulai memusatkan perhatian mereka dan menatap Tigor dengan penuh tanda tanya.
Mengetahui bahwa dirinya sedang menjadi bahan perhatian, Tigor pun akhirnya menghampiri emak-emak tersebut yang duduk di salah satu pondok beratap daun rumbia itu.
"Permisi Buk, Kak,. Apakah saya boleh menumpang tanya?" Kata Tigor dengan sangat sopan.
"Oh silahkan dik. Mau tanya apa ya?" Jawab emak-emak itu agak genit karena yang bertanya adalah pemuda tampan.
"Begini Kak. Saya datang ke kampung ini karena tadi pagi, di jalan saya bertemu dengan seorang kakek. Katanya namanya adalah Tengku Mahmud. Dia menyuruh saya untuk datang kerumah nya. Namun saya tidak tau di mana letak rumah kakek yang bernama Tengku Mahmud itu. Bisakah Kakak memberitahu kepada saya di mana letak rumah kakek itu?" Kata Tigor menjelaskan kedatangan dirinya ke kampung ini sekaligus bertanya.
"Oh. Maha guru Tengku Mahmud, Adik berjalan lurus. Hitung saja dari sini sepuluh rumah. Kemudian nanti di sana ada satu simpang. Adik berbelok ke kanan dan ikuti jalan setapak itu. Nanti paling ujung, adik akan menemukan rumah panggung lantai nibung, yang dinding nya terbuat dari anyaman bambu. Itu adalah rumah tuan Guru Tengku Mahmud." Jawab emak-emak itu menjelaskan dengan sangat detil.
"Oh. Terimakasih ya Kak. Kalau begitu saya ijin dulu." Kata Tigor.
"Ya. Silahkan dik." Kata mereka serentak.
Tanpa membuang waktu lagi karena memang sudah sangat sore, Tigor pun terus melangkahkan kakinya dengan cepat sambil menghitung sepuluh rumah. Dan benar saja. Begitu sampai pada hitungan rumah ke sepuluh, dia melihat ada jalan setapak yang hanya bisa di lewati dengan berjalan kaki.
Tigor terus saja berjalan hingga pada akhirnya dia menemukan sebuah rumah panggung mirip rumah adat dengan balai-balai depan nya berlantai terbuat dari belahan batang nibung dan berdinding anyaman bambu.
"Tinggi-tinggi si pohon bambu,
Tinggi lagi pohon kelapa.
Lama sudah aku menunggu,
Akhirnya engkau bertamu jua."
Belum lagi Tigor benar-benar sampai di halaman rumah panggung itu, kini kehadirannya sudah diketahui bahkan di sambut dengan pantun.
Tigor Terus saja berjalan tanpa curiga sedikitpun. Namun tanpa di sangka oleh pemuda itu, tampak sebilah bambu yang sudah di belah dua meluncur deras dari arah rumah tepat mengarah ke dada Tigor membuat pemuda itu terpaksa membuang diri ke samping untuk menghindar.
"Apa maksud anda Kek? Apakah begini cara menyambut tamu?" Tanya Tigor.
"Sudah adat dalam kaum tua persilatan. Jika ada yang memiliki isi, maka harus di uji." Kata lelaki tua itu sambil mengirim kuncian ke arah leher Tigor.
Menghadapi serangan berbahaya ini membuat Tigor kembali menjatuhkan badan untuk menghindar, lalu cepat-cepat bergerak untuk bangkit berdiri kembali.
"Tiada angin tiada hujan,
Mengapa perahu, karam di laut.
Musuh tak ingin, lawan pun bukan,
Jika memulai berpantang takut."
Kali ini Tigor pula yang berpantun. Darah muda nya mulai panas karena sambutan yang tak ramah itu.
"Hehehe. Bagus. Sekarang ayo serang aku. Jiwa tua ini benar-benar menginginkan sesuatu yang bisa membangkitkan gairah muda nya." Kata lelaki tua yang di kenal sebagai Maha guru Tengku Mahmud itu.
"Jangan salahkan aku Kek!" Kata Tigor lalu mengirimkan tendangan berputar ke arah kepala orang tua itu.
"Hehehe..."
Tap!
Mudah sekali tendangan dari Tigor dimentahkan oleh lelaki tua itu. Bukannya menghindar, dia malah menangkap pergelangan kaki Tigor tanpa sedikitpun tubuhnya bergeming.
"Kuda-kuda mu bagus. Tapi tidak sempurna. Tendangan mu lurus tapi tak bertenaga."
Saaap...!
Gubrak...
Enak saja lelaki tua itu mendorong kaki Tigor. Kelihatannya biasa saja. Namun hal itu membuat tubuh Tigor terbuang hampir lima meter kebelakang.
"Keluarkan pedang yang ada di pinggang mu itu anak muda!" Kata kakek itu.
"Kek. Apakah kau ingin ada pertumpahan darah di tempat ini. Bukan maksud ku untuk mencari silang sengketa." Kata Tigor sambil menepuk-nepuk sisa pasir di celananya.
"Keluarkan kataku dan serang aku! Apa kau kira mainan butut mu itu mampu melukai ku? Bahkan sehelai bulu roma ku pun belum tentu putus!" Kata lelaki tua itu membentak.
"Ampun Kek. Kau terlalu memaksa. Mohon jangan salahkan aku jika sesuatu terjadi kepadamu." Kata Tigor sambil meraba gagang pedang lentur yang selalu terikat di pinggang nya.
Wuzzz...
Begitu pedang itu terlepas dari pinggang Tigor, kini tampak sebilah pedang yang sangat tipis dan lentur bergoyang-goyang karena lentur dan berkilat tertimpa pancaran sinar matahari sore itu.
"Serang aku!" Kata lelaki tua itu.
"Kek. Jangan bercanda!" Kata Tigor.
"Serang kataku atau kau akan pulang ke Tasik putri dengan kaki dan tangan patah." Kata Lelaki tua itu mulai habis kesabaran.
"Kek. Lihat serangan!" Kata Tigor sambil melompat mengirimkan tusukan ke arah leher.
"Heh... Ih apa ini?" Kata Tigor.
Tadinya dia menduga bahwa ujung pedang itu pasti akan menembus leher kakek itu. Ini karena lelaki tua itu sama sekali tidak menghindar.
Semua serba tanggung. Mau di teruskan kakek itu pasti mati tertembus pedang miliknya. Mau di urungkan, sudah sangat terlanjur karena ujung pedang itu tidak sampai sejengkal lagi dari leher kakek itu.
Tapi yang tidak pernah terduga oleh Tigor adalah, sedikit lagi ujung pedang itu akan mengenai sasaran, alangkah terkejutnya Tigor karena kakek itu hanya menggunakan jari telunjuk dan jari tengah saja untuk menahan laju tikaman pedang milik Tigor itu.
Tap...
Bet...!
Begitu lelaki tua itu menarik ujung pedang itu dengan paksa, Tigor pun akhirnya terikut dan,
"Hap..!"
Tau-tau tangan lelaki tua itu sudah mencengkram batang leher Tigor.
"Jika begini kemampuan mu, dendam apa yang bisa kau balas?"
Tuk...!
Selesai berkata begitu, lelaki tua itu dengan gerakan cepat melepaskan cengkraman tangannya di leher Tigor. Dan sebagai gantinya dia malah menjitak kening Tigor.
"Aduuuuh..." Kata Tigor meringis sambil mengusap kening nya.
"Jangan pulang malam ini ke Tasik putri! Tidur di sini saja. Ada banyak hal yang akan kita bicarakan."
Ting...!
"Ambil pedang butut mu itu!" Kata lelaki tua itu sambil menjatuhkan pedang tersebut telat di depan ujung sepatu Tigor.
"Baru kali ini aku di permalukan oleh orang tua yang sudah bau tanah. Siapa kakek ini sebenarnya. Tenaga muda ku sama sekali tidak ada apa-apanya bagi dirinya." Kata Tigor dalam hati.
"Apa lagi yang kau tunggu? Cepat naik sini!" Kata lelaki tua itu membentak Tigor.
"Iya Kek." Jawab Tigor sambil memanjat tangga rumah panggung itu mengikuti lelaki tua itu yang sudah duduk di dekat sebuah kotak yang penuh dengan daun sirih.