
Gang kumuh
"Bang. Semuanya seperti yang abang perkirakan. Ternyata Tigor bertemu dengan putri Lalah itu."
Tampak seorang lelaki menghampiri lelaki berkepala sedikit botak yang sedang duduk di sofa ditemani oleh dua orang lainnya yang sebaya dengannya sambil menyerahkan kemera Mirrorless.
"Hmmm... Sesuai dugaan ku. Tidak sia-sia aku berfikir keras selama ini untuk mencari titik lemah dari Tigor ini." Kata lelaki setengah baya itu sambil menggeser layar kamera itu untuk melihat hasil tangkapan gambar yang lainnya.
"Bagus! Sekarang kau boleh pergi. Terus sebarkan orang-orang kita di sekitar kafe dekat jembatan, kafe melody, restoran papua di gang kumuh ini dan tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh Tigor."
"Baik bang!" Kata lelaki tadi sambil menerima kamera Mirrorless nya kembali.
"Ini untuk mu. Kau bisa membagi-bagikan sama rata dengan anak buah mu." Kata lelaki setengah baya berperut buncit dan berkepala seperti professor tadi.
"Terimakasih bang. Kalau begitu saya pergi dulu."
"Hmmm...!"
Sebagai jawaban, lelaki setengah baya tadi hanya mendengus saja.
"Bagaimana banh Beni?" Tanya salah satu dari kedua sahabatnya itu.
"Lumayan lancar. Ikan sudah hampir memasuki perangkap." Jawab lelaki yang dipanggil dengan nama Beni tadi.
"Satu rencana hampir berhasil. Sekarang kita tinggal menunggu bagaimana Irfan dan Butet memerangkap Marven." Kata lelaki yang satunya lagi.
"Togi! Bagaimana dengan tugas yang aku berikan kepadamu kemarin?" Tanya Beni
"Tidak ada jejak bang. Mereka semuanya seperti menghilang ditelan bumi." Jawab Togi.
"Aneh sekali. Mustahil Tigor dan keempat anak buahnya mampu membunuh tiga puluh orang anak buah yang terlatih sekaligus. Apakah Tigor yang lembek itu sangat hebat?" Gumam Beni sambil mengurut kening nya.
"Hal yang sama juga bermain dalam benak ku bang. Tiga puluh orang menghilang sekaligus. Kekuatan seperti apa yang mereka miliki?"
"Sudah lah! Jangan bahas masalah ini lagi. Kalau sampai ada yang mendengar, Maka bisa kacau rencana kita. Jangan sampai Marven tau. Jika dia tau, dia akan kembali berbaikan dengan Tigor." Kata Beni memperingatkan kedua konco nya itu.
"Kita akan menutup mulut bang. Abang tenang saja." Kata Strongkeng.
"Bagus. Sekarang ayo kita minum dulu sambil menunggu kabar baik dari Irfan."
"Hahahaha... Mari bang. Aku bersulang untuk keberhasilan kita!" Kata Togi sambil mengangkat gelas anggur miliknya.
Mereka bertiga pun meminum minuman keras itu seolah-olah mereka telah memenangkan satu ronde pertarungan melawan Tigor.
*********
Sementara itu, dua orang pemuda tampak sedang melantai di salah satu pusat hiburan di gang kumuh yang kebetulan malam itu kedatangan seorang DJ yang lagi naik daun dari Thailand.
Entah sudah berapa lama mereka berdua berjingkrak seperti orang gila di altar ruangan yang luas itu sampai akhirnya salah seorang dari kedua pemuda itu undur diri dan duduk kembali di sofa khusus untuk tamu terhormat.
"Bang Marven. Mengapa berhenti?" Tanya seorang pemuda sambil menghampiri pemuda bernama Marven tadi.
"Sudah penat aku. Kau saja lah. Aku mau istirahat sebentar." Jawab Marven.
"Ok bang. Aku ke toilet sebentar." Kata teman nya tadi lalu bergegas melangkah menuju toilet. Namun, baru saja dia berjalan beberapa langkah, tiba-tiba dari arah depan, berjalan seorang gadis yang sangat cantik.
Gadis itu berjalan lurus. Namun matanya memandang ke arah orang yang berjoget membuat dirinya dan pemuda yang akan ke toilet tadi bertabrakan.
Brugh...!
"Aw..."
"Maaf Nona. Apakah anda baik-baik saja?"
"Kau?!"
"Eh Butet...!"
"Kau Irfan kan?" Tanya gadis itu.
"Ya. Tepat sekali. Oh ya. Bukankah kau Butet putri Togar? Sudah belasan tahun kita tidak bertemu. Terakhir aku dengar kau sedang kuliah di Singapore." Kata Irfan.
"Bosan di Singapore. Universitas di negara kita ini juga tidak kalah bagusnya dengan universitas negara lain." Jawab Wulan.
"Ada apa ini? Apakah kalian baik-baik saja?"
Terdengar satu suara menegur mereka dari belakang. Namun dia segera berhenti bertanya dan seolah-olah terpana melihat seorang gadis yang sangat cantik sedang memandang ke arah nya.
"Eheeem.... Oh ya. Bang! Perkenalkan ini adalah Butet yang aku ceritakan kemarin kepadamu." Bisik Irfan dekat telinga Marven.
"Butet. Inikah gadis yang kau ceritakan itu? Sepertinya aku pernah mengenal gadis ini. Tapi aku lupa."
"Dulu kita adalah teman waktu masih anak-anak. Abang ingat waktu Togar masih menjadi bagian dari organisasi kucing hitam?"
"Oh iya. Aku ingat. Kau Butet kan?" Kata Marven sambil menunjuk ke arah Della alias Butet, gadis yang bertabrakan dengan Irfan tadi.
"Benar. Apakah abang ini adalah Marven putra paman Martin?" Tanya Butet.
"Tepat sekali. Ayo mari silahkan duduk." Kata Marven mempersilahkan.
"Terimakasih bang." Kata Butet lalu segera melangkah menuju ke arah Sofa.
"Kalau begitu aku ke toilet dulu bang!" Kata Irfan meminta diri.
"Bila perlu jangan keluar sekalian dari toilet itu." Jawab Marven acuh tak acuh.
"Sialan Marven ini." Kata Irfan dalam hati. Namun dia segera merasa girang karena sandiwara nya berhasil dengan sangat baik.
Setelah Irfan berlalu, Marven pun langsung mengubah ekspresi wajah nya semanis mungkin dan duduk di sofa sambil bertanya apakah Butet menginginkan sesuatu untuk di minum.
"Nanti saja bang. Aku tidak terbiasa meminum minuman mengandung alkohol." Tolak Butet dengan halus.
"Oh. Ok. Oh ya Butet?! Lama sekali kita tidak bertemu. Dulu seingat ku, kita berpisah sejak kau berumur sepuluh tahun lebih. Sudah lama sekali." Kata Marven berbasa-basi.
"Iya bang. Sudah lama sekali. Kalau tak salah, sekitar sepuluh tahunan lah." Jawab Butet.
"Ya. Selama sepuluh tahun itu aku selalu memendam rindu." Kata Marven mulai mengeluarkan jurus-jurus awal dalam pendekatan itu.
"Bisa aja abang Marven ini. Selama ini kau tentu sudah banyak bergaul dengan gadis-gadis cantik. Iya kan? Ayo ngaku!" Kata Butet sambil tertawa renyah membuah jantung Marven seketika berdegup kencang.
"Sumpah dek. Selama ini abang sangat merindukanmu. Abang ingin sekali menemui mu di kota batu. Namun kau tau sendiri kan, bagaimana hubungan orang tua kita yang sudah pecah dan saling serang." Kata Marven.
Sepasang muda-mudi itu terus saja mengobrol dengan sesekali diiringi canda tawa tanpa mereka sadari ada beberapa pasang mata yang memperhatikan dari kejauhan.
Sementara itu di lorong jalan menuju toilet, tampak Irfan sedang memberikan instruksi kepada sekitar lima orang lelaki yanh dengan serius mendengarkan setiap kata demi kata yang dikatakan oleh pemuda itu.
"Kalian jangan sampai lengah. Terus buntuti mereka dan rekam setiap moment yang mereka lakukan. Aku menunggu hasil dari kerja kalian!" Kata Irfan kepada lima orang anak buahnya.
"Tenang saja bang Irfan. Pak Beni juga sudah menjelaskan apa saja yang harus kami kerjakan. Bang Irfan tenang saja. Kami akan melakukan pekerjaan ini dengan sebaik mungkin." Kata orang-orang tadi.
"Bagus! Sekarang kalian menyebar. Terus amati Marven dan Butet itu.!"
"Beres bang. Kalau gitu, kami gerak dulu."
"Hmmm... Jaga jarak dan gerak-gerik gerik kalian!" Kata Irfan lalu segera berjalan menuju ke arah toilet yang kosong sambil mengeluarkan ponsel nya untuk menelepon seseorang.