BLACK CAT

BLACK CAT
Anak Beni



Komplek elit.


Kedatangan Beni dengan keadaan yang sangat memprihatinkan itu membuat Venia merasa sangat terkejut. Hal ini membuat dia merasa sangat pemasaran dan ingin bertanya langsung kepada Beni.


Beni adalah salah satu dari empat orang yang memiliki pengaruh di geng kucing hitam yang berbasis di Kota tasik putri ini.


Siapa.yang berani melakukan penganiayaan terhadap Beni kecuali orang itu sudah bosan hidup di dunia ini. Namun kenyataannya saat ini, Beni bahkan seperti emak-emak yang kemana-mana harus menggendong tangannya yang cedera karena patah oleh Black Cat.


"Apa yang terjadi dengan mu Beni? Kenapa dengan tangan mu itu?" Tanya Venia merasa penasaran.


"Semua ini karena si Tigor brengsek itu." Jawab Beni geram.


"Tigor? Ada apa antara kau dengan Tigor? Setahu ku, dia itu anak baik." Kata Venia heran.


"Anak baik kata mu. Dia memang tampak baik di luar, tapi busuk di dalam. Dia ingin menyingkirkan aku dari organisasi. Setelah gagal menghasut Martin, dia malah menghasut Marven. Gagal dengan Marven dia menyuruh Black Cat untuk menyerang ku. Tentu saja aku melawan dan terjadilah perkelahian antara aku dengan Black Cat. Dia berhasil kabur setelah mematahkan tangan ku. Namun aku sanggup membuat orang hitam itu juga babak belur." Kata Beni dengan kebohongan yang besar.


"Lalu, apakah Martin tau kejadian ini?" Tanya Venia.


Dia sedik merasa khawatir melihat keadaan Beni seperti emak-emak ini. Bagaimanapun, mereka berdua sekitar puluhan tahun yang lalu pernah merajut cinta dan kasih sayang bersama, sebelum Martin melalui kekuasaan ayah nya merebut Venia dari tangan Beni.


"Aku sengaja tidak memberitahu siapa pun. Percuma." Jawab Beni mengeluh.


"Percuma bagaimana maksud mu?"


"Iya percuma lah. Martin sangat menyayangi Tigor. Dia mana mau percaya kepada ku. Kau lihat sendiri lah! Kemana-mana dia mengatakan bahwa Tigor itu anak angkat nya. Tigor lebih kompeten dibanding dengan Marven. Tigor lebih hebat dari semua yang ada di dalam organisasi." Kata Beni.


"Kau yang terlalu berlebihan Beni. Martin tidak pernah membanding-bandingkan antara Marven dan Tigor." Bantah Venia.


"Hahaha... Kau jangan terlalu picik Venia! Pagi tadi Tigor sudah berangkat ke kota kemuning untuk mengurus bisnis Marven yang berada di kota itu. Kau mungkin tak tahu. Tapi aku tahu apa tujuan Martin memindahkan Tigor ke kota kemuning. Ini karena dia ingin menjadikan Tigor raja kecil di sana. Dia ingin Tigor menjadi ketua di kota kemuning. Jika ini benar, lalu apa yang akan tersisa untuk Marven?"


Dalam hati Beni, ini adalah kesempatan langka. Selain bisa melepas rindu dengan wanita setengah baya yang masih menyisakan sisa-sisa kecantikan itu, dia juga bisa menusukkan jarum beracunnya untuk mempengaruhi Venia.


"Jika benar apa yang kau katakan itu, maka ini sangat tidak menguntungkan bagi anak ku Marven." Kata Venia.


"Anak kita. Bukan anak mu sendiri."


"Apa maksud mu dengan anak kita, Beni?"


Duaaaar....!


Terdengar satu suara dari arah pintu bagaikan halilintar membuat Venia dan Beni setengah mati menahan keterkejutannya.


Dari arah pintu, tampak seorang pemuda dengan sorot mata memancarkan permusuhan melangkah memasuki ruangan itu lalu menarik kain putih yang digunakan oleh Beni untuk menggendong tangannya yang patah.


"Katakan! Apa maksud mu dengan menyebut anak kita?"


"Marven. Kau sudah kembali dari Dolok ginjang?"


"Bukan perkataan itu yang aku inginkan Bu! Aku ingin tau apa maksud dari perkataan Beni yang mengatakan anak kita tadi?!" Bentak Marven.


"Venia. Sudah saatnya kita jujur siapa Marven ini sebenarnya." Kata Beni sambil meringis menahan sakit karena kain yang menyangga tangannya di tarik dengan kuat oleh Marven.


"Sepertinya memang harus begitu.


Kau duduk dulu Marven!" Perintah wanita setengah baya itu.


"Tapi Bu..."


"Duduk kataku! Kau ingin tau apa alasannya kan? Maka kau harus tenang dulu. Ibu akan menceritakan semuanya kepadamu."


Sambil melepas cengkraman tangannya kepada Beni dengan kasar, dia pun segera duduk di sofa berhadapan dengan ibu nya.


"Marven. Sekitar hampir tiga puluh tahun yang lalu, sebelum ibu menikah dengan Martin, Ibu terlebih dahulu menjalin hubungan asmara dengan Beni." Kata Venia mengawali kisah nya.


"Dulu kami adalah pasangan yang sangat bahagia. Kami dulu berencana untuk menikah dan hidup sederhana sebagai orang biasa di kota tanjung karang. Tapi itu hanya angan-angan saja sebelum Martin hadir dan merusak hubungan kami."


"Lanjutkan Bu!." Perintah Marven dengan mata memerah.


"Ayah ku terlibat hutang di meja judi di kota batu. Dia bingung untuk membayar hutang nya. Ketika itu, Martin yang memang sangat menyukai ku, meminta agar ayahnya membantu kakek mu untuk melunasi hutang nya dengan syarat, agar aku mau menikah dengan Martin. Aku tentu saja tidak setuju walaupun ayah ku memaksa."


"Beni yang ketika itu mengetahui tentang hal ini, sengaja melarikan aku dan bersembunyi di dolok ginjang. Namun, Lalah sahabat Martin mengetahui tempat persembunyianku dan menjemput ku untuk dijadikan pengantin. Ibu patah hati dan berniat ingin bunuh diri. Kau tau, bahwa ketika itu ibu sedang mengandung benih cinta kami berdua.


Ketika ibu sudah sangat nekat, Beni melarang ibu untuk melakukan tindakan bunuh diri. Ini karena, hanya ada satu cara untuk membalas Martin si brengsek yang telah menghancurkan impian kami. Yaitu, menerima pernikahan itu dan membesarkan anak yang ibu kandung. Tujuannya adalah, ketika anak itu kelak tumbuh dewasa, dia harus menjadi calon pengganti Martin dengan cara yang halus, atau kasar. Kau tau siapa anak itu?" Tanya Venia sambil menangis menatap wajah Marven.


"Anak itu..? Apakah anak itu aku bu?" Tanya Marven sambil memperhatikan wajah ibunya dan juga Beni.


Sebagai jawaban atas pertanyaan Marven ini, Venia hanya tertunduk sambil menangis sekuat tenaga.


"Gila. Ini sangat gila. Aku tidak bisa menerima kenyataan ini bu. Tidaaaaaak!" Teriak Marven seperti orang gila sambil membanting apa saja yang ada di atas meja itu.


"Kau bisa atau tidak menerima, namun itu adalah kenyataan. Kau di besarkan hanya untuk satu tujuan. Menguasai geng kucing hitam ini. Jika kau gagal, maka dendam ibumu ini serta dendam ayah kandung mu tidak akan pernah terbalaskan." Bentak Venia sambil bangkit berdiri.


"Berarti semua ini adalah trik mu Beni? Ayo mengaku Beni!" Kata Marven sambil menarik kain penyangga tangan Beni.


"Marven! Dia adalah Ayah mu!" Kata Venia sambil menarik pundak Marven agar menjauh dari Beni.


"Jika dia adalah ayah ku, mengapa.dia tega menjadikan aku umpan. Dia melagakan aku dengan Tigor. Membuat hubunganku rusak dengan Wulan. Mengapa Beni?"


"Aku jelaskan. Aku jelaskan. Kau tenang lah dulu!" Kata Beni.


"Marven. Sebagai anak seorang ketua organisasi, apakah kau tidak merasa bahwa posisi mu saat ini sedikit demi sedikit telah di geser oleh Tigor? Aku tidak ingin Tigor terlalu mendomisasi yang pada akhirnya membuat kau tidak lagi menjadi kandidat terkuat sebagai calon pengganti posisi ketua. Itu sebabnya aku berusaha agar Tigor segera dikirim ke kota Kemuning."


"Masalah hubungan mu dengan Wulan. Kau hanya akan dimanfaatkan oleh Lalah untuk melawan Birong. Lalah juga sangat akrab dengan Tigor. Jika kau masih tetap bersama dengan Wulan, kau hanya akan dijadikan alat oleh mereka untuk mengokohkan bisnis barang selundupan milik Lalah. Kai jangan bodoh Marven. Saat ini baik Tigor maupun Lalah hanya menunggu waktu saja untuk dapat menyingkirkan mu dari posisi ketua." Kata Beni menjelaskan fitnah nya.


"Aku tidak percaya Tigor seperti itu. Tidak mungkin." Kata Marven sambil menggeleng.


"Martin selama ini mendidik Tigor untuk menjadi calon pemimpin. Kau lihat saja beberapa waktu belakangan ini! Aku adalah orang lama di dalam organisasi. Tapi mengapa aku dipinggirkan? Kau adalah anak ketua. Tapi mengapa setiap keputusan, setiap aktifitas selalu harus dengan Tigor? Bahkan sebelum Tigor berangkat ke Hongkong pun dia sudah menulis wasiat bahwa Tigor kelak akan menjadi calon penggantinya di kota Kemuning. Pakai otak mu untuk berfikir Marven!" Kata Beni.


"Mengapa begini sekali nasib ku? Ini tidak adil. Kalian berdua menghianati ayah ku." Kata Marven sambil jatuh terduduk di lantai.


"Bodoh. Aku tidak mengkhianati ayah mu si Martin itu. Tapi Martin lah dengan kekuasaan ayah nya merebut aku yang seharusnya menikah dengan Beni. Kau terima atau Tidak, Beni adalah Ayah kandung mu. Ingat! Aku membesarkan mu untuk satu tujuan. Menjadi ketua organisasi dan mewarisi seluruh kekayaan Martin. Jika kau tidak bisa, maka aku lebih suka kau mati saja." Kata Venia mulai geram.


"Aku mempertahankan tidak hamil dan memiliki anak dari Martin hanya karena ingin agar kau tidak memiliki saingan. Jika otak mu tidak bisa berfikir dengan baik, maka sia-sia saja pengorbanan ku ini. Kalau aku tau kau seperti ini, sebaiknya dulu aku mati bunuh diri saja supaya aku dan kau yang ketika itu masih didalam perut ku juga mati sekalian.


Mengecewakan sekali kau ini Marven!" Kata Venia sambil mendorong kepala Marven dengan keras lalu segera meninggalkan ruangan itu menuju ke kamar nya.


"Ibu..." Kata Marven mengejar.


"Jangan ikuti aku. Aku memilih untuk bunuh diri saja. Menyesal punya anak seperti dirimu."


"Jangan bu. Iya aku janji akan menuruti semua keinginan mu. Sumpah aku janji." Kata Marven yang ketakutan ketika melihat ibunya sudah menggenggam puluhan butir obat tidur.


"Jangan bu. Aku akan menurut." Kata Marven sekali lagi.


"Pegang janjimu itu.!" Kata Venia sambil meletakkan kembali pil tidur itu ke dalam tempat nya.