
Mobil BMW warna hitam yang dikendarai oleh Mr.Carmen Bond 070 berhenti tepat di depan pintu pagar salah satu rumah di perumahan Gang kumuh.
Setelah menekan bel, tampak seorang wanita muda berusia sekitar 23 atau 24 tahun keluar dengan wajah sembab dan mata yang sedikit bengkak.
Terlihat bahwa wanita itu kurang tidur serta banyak menangis.
"Carmen. Ada perlu apa kau kemari?" Tanya wanita itu dengan suara yang sangat datar.
"Maaf Kak Butet. Bos besar saya sang penguasa kota Tasik Putri ini setiap hari sangat mengkhawatirkan kesehatan kakak. Tapi untuk datang sendiri dia tidak ingin kedatangan dirinya nantinya akan membuat kakak terganggu. Oleh karena itu, dia mengutus saya untuk memberikan karangan bunga ini serta mengundang kakak untuk makan malam di Andaliman's Restoran."
"Ini pesanan dari Bos saya. Harap kak Butet menerimanya serta memberi jawaban apakah kakak menerima undangan untuk makan malam itu atau menolaknya." Kata Carmen meminta kepastian.
Dengan perasaan sedikit jijik dan angkuh, Butet pun akhirnya menerima karangan bunga itu sambil berkata. "Baiklah. Suruh Marven menjemput ku pukul delapan malam ini!" Kata Butet berperan.
Mr.Carmen sangat senang mendengar jawaban ini lalu segera memberi hormat lalu permisi untuk segera menyiapkan segala sesuatunya demi acara makan malam yang sangat berkesan nanti malam.
"Jika begitu, saya mohon diri dulu Kak." Kata Carmen lalu segera masuk kembali ke dalam mobil dan langsung menuju Andaliman's Restoran.
Tiba di sana, dia segera menemui manager restoran lalu memerintahkan agar mengosongkan ruangan khusus serta membisikkan sesuatu ke telinga manager restoran itu.
Sejenak manager itu mengerutkan keningnya. Namun ketika Carmen memberikan ancaman bahwa jika rencana itu gagal, semua akan di pecat, maka sang manager pun menyetujui juga sesuatu yang di bisikkan oleh Carmen tadi.
"Baiklah pak manager. Aku taunya beres. Jika gagal, anggota geng kucing hitam akan mencari mu bahkan sampai ke lobang cacing sekalipun." Ancam Carmen lalu segera meninggalkan sang Manager tadi dengan lagak bak bintang Bollywood.
"Habislah kalian sekali ini. Tunggu saja selama tiga bulan. Kemungkinan, jika Marven tidak mendapat dukungan dari Birong, maka dia akan di bunuh oleh Birong sendiri. Andai dia mendapat dukungan dari Birong, kemungkinan Beni yang akan mati di tangan Marven. Dua-duanya menguntungkan bagi kubu Tigor. Begitulah cara main yang cantik." Kata Carmen dalam hati.
Sambil bersiul-siul, dia lalu memacu kendaraannya dan langsung berangkat menuju ke kompleks elite Tasik Putri untuk memberitahu kepada Marven bahwa semuanya sudah siap sesuai dengan rencana.
Tiba di kompleks elite, belum lagi Carmen turun dari mobil, Marven sudah langsung memburunya dengan pertanyaan.
"Bagaimana Carmen? Apakah Butet menerima karangan bunga dan menyetujui undangan untuk makan malam itu?"
"Jika Carmen sudah turun tangan, semuanya terlaksanakan. Bos bisa mempersiapkan diri untuk acara malam ini. Aku sudah mengatur segala sesuatunya dengan manager Andaliman's Restoran." Jawab Mr.Carmen Bond.
"Hahaha... Bagus. Bagus sekali. Setelah malam ini, apa lagi yang bisa dilakukan oleh betina sialan itu? Dia tidak akan bisa lagi jual mahal kepada ku. Biarkan dia tau rasa." Kata Marven sambil meninju telapak tangannya sendiri.
"Semua pembiayaan nya dua juta rupiah Bos." Kata Carmen sambil nyengir kuda.
"Hahaha. Aku akan mengganti uang mu tiga kali lipat." Kata Marven.
"Terimakasih. Terimakasih Bos besar yang baik hati." Kata Karman/Carmen Bond sambil membungkuk berulang-ulang kali.
*********
Andaliman's Restoran
Platinum Box yang telah di pesan oleh Mr.Carmen benar-benar dikosongkan oleh sang manager restoran.
Dia tidak berani membantah keinginan Carmen apa lagi itu atas nama Marven yaitu ketua baru dari geng kucing hitam setelah Martin dinyatakan terbunuh.
Malam itu, tepat pukul delapan malam, Carmen yang bertindak sebagai sopir merangkap pengawal pribadi Marven langsung bergerak menuju perumahan menengah ke atas Gang kumuh untuk menjemput Butet gadis anak mendiang Togar keponakan Birong.
Setelah berbasa-basi sejenak, Butet pun akhirnya berangkat juga bersama dengan Marven menuju ke restoran yang telah di tetapkan.
Sementara Marven sendiri tetap dengan stelan jas biru layaknya seorang Bos besar yang penuh gaya.
Penampilan Butet ini memang sangat cantik. Namun bukan itu yang diharapkan oleh Marven. Melainkan ada udang di balik titik.., titik.., titik.
Dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi dan tetap terkontrol, akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Carmen dengan Marven dan Butet duduk di kursi belakang itu pun sampai juga di area parkir Andaliman's Restoran tersebut.
Carmen lalu buru-buru keluar kemudian membukakan pintu untuk Marven.
Setelah itu, Marven pun segera membukakan pintu untuk Butet dan sambil merapikan rok panjang yang dikenakan oleh Butet, mereka pun berjalan memasuki restoran tersebut dan langsung menuju ke platinum box.
Sesaat setelah mereka tiba, Carmen pun langsung menemui manager restoran tersebut lalu memperingatkan agar sang manager jangan sampai melakukan kesalahan.
Kini dengan sangat hati-hati, Sang manager dengan dibantu oleh beberapa pelayan menyediakan hidangan spesial di restoran itu.
Walaupun suasananya sangat romantis, namun makan malam itu terasa sangat kaku dengan kedua orang tua berperang dengan alam pikiran mereka masing-masing.
Bagi Butet yang baru saja kehilangan ayah, sebenarnya dia ingin menyendiri dan tidak ingin keluar dulu dari rumah. Tapi karena Marven sudah susah-payah mengundang dirinya untuk acara makan malam ini, mau tak mau dia harus menerima demi menghargai bos besar kucing hitam itu. Apa lagi Marven dan Birong pamannya sudah membentuk aliansi.
Bagi Marven pula, makan malam ini tidaklah penting. Yang terpenting baginya adalah, di balik acara makan malam ini, ada sesuatu yang besar yang menjadi tujuan utamanya.
Acara makan malam yang terasa kaku itu akhirnya selesai juga dengan Butet yang tiba-tiba merasakan pusing, mabuk dan sedikit ngantuk.
Marven yang tau bahwa ini adalah rencana dari Carmen langsung memanggil pengawal kerempeng nya itu untuk membantu memapah Butet turun dari lantai dua itu menuju ke mobil.
Begitu mereka tiba di mobil, saat ini Butet sudah sepenuhnya hilang kesadaran.
"Bagaimana Bos? Kemana kita?" Tanya Carmen.
"Menurut mu?"
"Menurut ku, bawa saja dia kerumahnya. Kerjai dia di sana. Dengan begitu, tidak akan terlalu menimbulkan kecurigaan." Jawab Carmen.
"Ya sudah. Cepat jalan!" Perintah Marven.
"Siap Bos!" Kata Carmen yang langsung menghidupkan mesin mobil itu kemudian berangkat menuju ke rumah yang ditempati oleh Butet.
"Bos. Aku telah menyiapkan sekitar dua puluh orang untuk memantau keadaan. Manalah tau ada mata-mata dari kota Batu."
"Bagus Carmen. Kau juga jangan jauh-jauh. Setelah aku selesai, besok pagi pukul delapan kau harus sudah menjemput ku di sini. Mengerti?" Tanya Marven.
"Mengerti Bos."
Mereka kemudian memapah tubuh Butet yang sudah lunglai itu.
Tiba di depan pintu, Marven langsung membawa Butet ke dalam. Sedangkan Carmen langsung menuju ke mobilnya kemudian memarkir mobil itu di tempat tersembunyi untuk memantau keadaan.
"Hahahaha... Selamat menikmati malam yang akan membuat hari-hari kalian akan menjadi suram dikemudian hari." Kata Karman dalam hati lalu mengeluarkan ponselnya.
"Bang Tigor, rencana ke dua berhasil dengan sukses." Kata Carmen melalui pesan suara.