
Seorang lelaki setengah baya keluar dari dalam rumah mewah didampingi oleh dua orang lelaki berbadan tegap begitu mendengar deru mesin kendaraan yang memasuki pintu pagar rumah besar tersebut.
Tadinya lelaki setengah baya ini ingin menyambut si pengendara mobil BMW i8 itu dengan ramah tamah diiringi senyum lebar. Hal ini karena dia tau siapa pengemudi mobil tersebut yang tidak kain adalah Marven yang mengantar putrinya bernama Wulan kembali ke Dolok ginjang sekaligus menguji coba mobil sport yang memang dibeli oleh penguasa kota Tasik putri kepada dirinya.
Akan tetapi hal itu urung dia lakukan karena melihat putrinya keluar dari dalam mobil dalam keadaan menangis dan langsung berlari kearahnya diikuti oleh seorang pemuda yang compang-camping dengan wajah memar dan hidung berdarah. Singkat cerita, penampilan pemuda yang dia kenal bernama Marven itu sungguh memprihatinkan.
"Ayah!" Kata gadis itu sebaik saja berada di depan lelaki setengah baya itu kemudian menghambur memeluk sambil menangis.
"Heh..! Ada apa ini. Mengapa pulang-pulang menangis?" Tanya lelaki setengah baya itu terheran-heran.
Di balik geraian rambut putrinya yang menangis itu, dia masih sempat melirik kearah pemuda yang berdiri dengan wajah babak belur kemudian bertanya. "Marven. Ada apa dengan kalian? Mengapa wajahmu memar begitu? Apakah ada yang mengganggu perjalanan kalian?" Tanya lelaki setengah baya itu lagi.
"Kami dicegat di tikungan pitu, Ayah!" Kata gadis itu dengan terisak-isak.
"Mari masuk dulu! Setelah itu kalian ceritakan kepada ku apa sebenarnya yang telah terjadi."
Lelaki setengah baya itu melepaskan pelukan putrinya dengan lembut lalu mengajak Marven untuk masuk ke rumahnya agar mereka lebih leluasa untuk menceritakan duduk persoalan yang telah mereka alami.
"Nah. Kalian bisa menceritakan apa yang telah terjadi kepada diri kalian dalam perjalanan ke Dolok ginjang ini!" Kata lelaki setengah baya itu setelah mempersilahkan Marven duduk di sofa ruang tamu di rumahnya itu.
"Hah..! Maafkan aku Paman Lalah. Aku telah menyebabkan Wulan ketakutan. Ini semua adalah ulah dari Geng tengkorak." Kata Marven dengan menghembuskan nafas berat sebelum menceritakan semua kejadian itu.
"Apa? Apakah ini semua perbuatan geng tengkorak nya Birong?" Tanya lelaki setengah baya yang bernama Lalah itu.
"Benar Paman Lalah." Jawab Marven singkat.
"Kau jangan main-main Marven. Berani sekali mereka melakukan ini secara terang-terangan. Apakah mereka sudah tidak menghormati ku lagi karena berani mengganggu putri ku. Ah ini tidak mungkin." Kata Lalah seakan tak percaya.
"Mereka sebenarnya tidak melakukan terang-terangan, Paman. Ini karena mereka menganggap bahwa mereka akan berhasil membunuh ku." Kata Marven.
"Coba! Coba kau jelaskan secara terperinci!" perintah lelaki setengah baya itu.
"Semua ini hanya dugaanku saja Paman."
Lalu Marven menceritakan semuanya dari awal kaca mobil mereka di lempar cairan sampai mereka berhenti di pinggir jalan, di kepung, di keroyok sampai kepada seseorang menunggangi sepeda motor menolong mereka.
"Dugaan ku adalah mereka ingin membunuhku. Setelah itu anak si Birong bernama Hasian akan membantu membebaskan Wulan agar Paman merasa berhutang budi kepada mereka. Tentunya hanya untuk Wulan. Ini karena aku sempat melihat Hasian, anak si Birong itu keluar dari semak-semak bersama keempat anak buahnya. Namun sebelum mereka sempat bertindak, seseorang telah datang membantu dan membabat hampir sepuluh orang anak buat geng tengkorak dalam sekali gebrak." Kata Marven menjelaskan.
"Apakah kau mengenali siapa dewa penolong itu?" Tanya Lalah.
Entah Marven ini lupa atau memang tidak terlalu memperhatikan ketika dia satu mobil dengan Martin dan Tigor di dekat kafe waktu ini bahwa pakaian yang dikenakan oleh Tigor dan pakaian yang dipakai oleh Black Cat adalah sama. Jika dia mau berfikir sedikit saja, maka dia akan dapat mengetahui siapa Black Cat ini. Belum lagi sepeda motor yang di kendarai oleh Black Cat juga sama persis dengan sepeda motor yang di kendarai oleh Tigor.
"Topeng kucing. Warna hitam." Kata Lalah bergumam. "Huhh.. Tidak salah lagi. Orang yang menolong kalian itu adalah Black Cat." Kata Lalah sambil memperhatikan wajah salah satu dari kedua pengawalnya yang tampak mendadak pucat.
"Black Cat kah itu Boss?" Katanya dengan suara bergetar.
Bagaimana orang itu tidak ketakutan. Ini karena ketika pengawal Lalah ini mengejar Karman dekat pohon beringin di benteng menuju jembatan, dia dan beberapa temannya sempat bentrok dengan orang bertopeng itu dan hasilnya mereka babak belur.
"Pasti Black Cat. Tapi yang aku heran adalah, mengapa dia menolong putriku Wulan? Bukankah karena Wulan yang membuat Sudung dan kelima anak buahnya terlibat perselisihan dengan Black Cat?" Kata Lalah sambil berpikir keras.
"Itu lah yang aku tak tau, Paman. Black Cat ini begitu bernafsu sekali membantai orang-orang geng tengkorak. Semuanya terbunuh termasuk putra Birong yaitu Hasian. Bahkan dia sengaja mengirim kepala putra Birong itu ke bukit Batu markas besar mereka." Kata Marven.
"Baiklah. Kita lupakan sejenak Black Cat ini. Sudah pasti dia bukan musuh kita. Saat ini yang menjadi sumber kemarahanku adalah Birong. Hmmm... Berani sekali dia mengganggu Wulan putri Lalah. Aku akan meneleponnya sekarang juga!" Kata Lalah sambil mengambil telepon genggam nya yang tergeletak di atas meja lalu segera membuat panggilan kepada Birong.
"Hallo Lalah."
Terdengar suara serak di seberang telepon begitu panggilan itu tersambung.
"Birong.., Birong.., Birong! Ck ck ck... Kau semakin lama semakin tidak menghargai teman." Kata Lalah tanpa basa-basi.
"Apa.maksud mu dengan berkata begitu, Lalah?" Tanya Birong berpura-pura tidak tau.
"Apa maksud ku? Kau mengutus anak buah mu mencegat perjalanan putriku yang akan kembali ke Dolok ginjang. Apa maksud ku tanya mu?"
"Kau ini Birong. Jangan kau sangka aku takut kepadamu mentang-mentang geng tengkorak mu adalah geng terkuat di provinsi ini. Kau terlalu banyak menyinggung orang, Birong. Apa kau fikir aku terlalu lemah bagimu sehingga kau mau menginjak-injak kepala ku?" Tanya Lalah dengan sinis.
"Lalah. Aku rasa bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah ini. Ini karena aku sedang ditimpa kemalangan. Putraku Hasian telah terbunuh."
"Kematian putra mu adalah akibat kesalahanmu sendiri, Birong! Aku ingin bertanya kepadamu. Jika putriku dan anak si Martin yang terbunuh, kau pasti akan tertawa terbahak-bahak kan? Sekarang kau jelaskan kepadaku apa mau mu sekarang!" Tantang Lalah.
"Aku tidak bermaksud untuk mencelakai putri mu. Aku hanya bermaksud untuk menculik Marven putra Martin dan menyandra anak itu lalu akan menuntut tebusan kepada Martin. Bagaimanapun putri mu tidak ada dalam perencanaan ku." Kata Birong mengelak.
"Kotor kali lah permainan kau itu Birong. Aku mengira bahwa kau ingin agar anak mu berpura-pura menjadi pahlawan kesiangan untuk menolong putri ku. Tapi kau salah, Birong. Ok lah. Aku tidak ingin basa basi lagi. Mulai saat ini aku memutuskan semua hubungan antara aku dan kau. Kita musuh sekarang." Kata Lalah langsung mengakhiri panggilan itu.
"Kau Roger dan Sudung! Kumpulkan seluruh anak buah kita. Bikin persiapan. Aku khawatir Birong ini sudah gila karena kematian anaknya. Kita harus bersiap menyambut jika peperangan yang mereka inginkan." Kata Lalah memberi perintah.
"Siap boss." Kata mereka berdua lalu segera meninggalkan ruangan itu.