
"Ayaaaah... Aku pulang."
Terlihat seorang gadis didampingi oleh seorang lelaki muda memasuki ruangan tamu rumah Lalah yang luas dan mewah itu.
Namun baru saja mereka tiba di ruang tamu itu. langkah sepasang lelaki dan wanita muda itu terhenti begitu melihat sosok orang berpakaian hitam sedang berdiri membelakangi pintu seperti mengawal seorang boss besar yang sedang mengobrol dengan tuan rumah yaitu Lalah.
"Black Cat?"
"Marven! Bukankah itu Black Cat?" Tanya gadis itu meminta kepastian.
"Aku masih belum melihat wajah nya. Tapi jika di lihat dari bentuk tubuhnya, benar. Pasti dia adalah Black Cat." Jawab lelaki bernama Marven itu.
"Untuk apa dia kemari. Lalu siapa orang yang duduk di depannya itu?"
"Mana aku tau." Jawab Marven.
"Wulan. Ngapain kalian berbisik-bisik di situ? Kemari. Kau juga Marven!" Kata Lalah.
Mendengar nama Marven, kontan membuat Martin menoleh kebelakang. Benar saja. Itu adalah Marven putra nya.
Lalah dan Martin sama-sama tersenyum melihat mereka. Hanya Black Cat yang tidak bergeming. Dia tanpa ekspresi dan sama sekali tidak perduli dengan sepasang kekasih yang baru memasuki ruangan itu.
"Pantas saja kau tidak ada sejak kemarin. Di sini kau rupanya, Marven?!" Tanya Martin.
"Iya Ayah. Semalam aku mendengar bahwa Wulan sedang mendapat masalah. Jadi aku sengaja mengunjunginya ke sini. Sekedar ingin memastikan apakah dia baik-baik saja." Jawab Marven.
"Ayah, di mana Tigor? Aku ingin bertanya kepada nya. Mengapa dia menghilang ketika Ronggur datang membuat onar?!" Tanya Marven lagi.
"Tigor? Mengapa? Apakah kau ingin menyalahkan Tigor? Ketahuilah bahwa Tigor itu anak buah ku sekaligus anak angkat ku. Dia sama sekali bukan bodyguard untuk siapa pun. Jika kau merasa mampu, mengapa tidak kau saja yang menemani Wulan kemarin itu?" Tanya Martin.
Seerrr....
Berdesir darah Marven mendengar Ayahnya membela Tigor.
Sementara itu Black Cat masih tidak bergeming walaupun berulang kali Wulan melirik kearah nya.
"Paman Martin. Ternyata Black Cat ini adalah anak buah mu?" Tanya Wulan.
"Black Cat bukan anak buah siapa pun. Dia itu adalah pelindung organisasi. Dia bebas bergerak kemana saja." Kata Martin mempertegas.
"Black Cat. Aku ingin mengucapkan terimakasih karena kau sudah dua kali menyelamatkan aku." Kata Wulan sambil berusaha memegang tangan Black Cat.
"Jangan sentuk aku, Nona!" Kata Black Cat sambil berusaha menghindar.
Terasa dingin suara Black Cat dan nyaris tanpa notasi.
Mendengar perkataan dengan nada dingin dari Black Cat membuat Wulan segera mundur beberapa langkah dan langsung melirik ke arah Lalah yang hanya diam saja.
"Tidak semua keinginanmu dapat terpenuhi, Wulan. Kau harus tau batas-batas mu." Tegur Lalah terhadap putrinya itu.
"Maafkan aku Ayah. Maafkan aku Paman." Kata Wulan sembari duduk di sofa tepat di samping ayah nya.
"Marven, bawa Wulan keluar!. Kami masih ada sesuatu yang harus di bahas." Kata Martin menyuruh mereka untuk keluar dari ruangan itu dengan cara halus.
Melihat wajah tegang dari kedua orang itu dan tanpa ekspresi dari Black Cat, Wulan akhirnya kembali berdiri dan mengajak Marven untuk segera keluar.
"Ada apa dengan mereka Bang? Mengapa mereka begitu serius?" Tanya Wulan berbisik kepada Marven.
"Entah lah dik. Abang juga tidak tau. Tapi dengan adanya Black Cat di sana, besar kemungkinan bahwa ini adalah masalah serius. Abang hanya bisa menduga bahwa ini ada hubungannya dengan geng tengkorak." Kata Marven mencoba menebak.
"Setelah kau berkata seperti itu baru aku ingat. Benar kemarin Ayah ku menelepon Ronggur untuk menanyakan perihal kekacauan yang dia timbulkan. Tapi kau tau? Ronggur malah meminta Birong yang menjawab panggilan itu." Kata Wulan.
"Benarkah? Mengapa baru sekarang kau memberitahukannya kepada abang?" Tanya Marven.
"Aku pikir masalah nya tidak seserius ini bang. Makanya aku diam saja. Ternyata Paman Martin benar-benar serius menanggapi ini." Kata Wulan beralasan.
"Black Cat sudah keluar di siang bolong. Aku tidak tau apakah akan ada peperangan lagi dalam waktu singkat ini atau akan ada perintah untuk menculik Ronggur? Itu sama sekali bukan pekerjaan yang sulit untuk orang hitam yang haus darah itu." Kata Marven.
"Biarin aja Ronggur mati."
"Menurut ku, ada benarnya juga Tigor kabur. Jika dia berada ditempat itu, pasti dia juga akan babak belur dihajar oleh Ronggur. Sedangkan Irfan saja sekarang masih tergeletak di rumah sakit." Kata Marven.
Perkataan dan analisa Marven ini menandakan bahwa dia tidak tau apa-apa tentang Tigor dan Black Cat.
Pertama dia mengira ketika Black Cat muncul di siang hari, berarti akan ada peperangan dalam waktu singkat. Padahal mengapa Black Cat muncul di siang hari tak lain dan tidak bukan adalah untuk menghindari Wulan yang akan mempersulit dirinya. Kebayang kan betapa manja nya Wulan ini. Tigor bisa jadi bulan-bulanan Wulan andai dia tidak berganti penampilan menjadi Black Cat.
Andai kedok Tigor terbongkar bahwa dia pandai berkelahi, maka Birong pasti akan mengincar dirinya sekali lagi. Andai itu tidak berhasil, setidaknya Birong akan memburu dan melacak keberadaan adiknya Rio atau menargetkan sahabat-sahabatnya yaitu Ucok, Thomas, Sugeng dan Jabat.
Kesalahan yang pertama yang dilakukan oleh Tigor adalah, menggunakan wujud aslinya sebagai Tigor untuk merebut gang kumuh. Alhasil, karena kecerobohannya itu, Birong sampai mengirim tilik sandi untuk melacak keberadaan Tigor. Untung saja Tigor bergerak cepat mengecoh orang-orang geng tengkorak dengan membuat kekacauan di kota batu sehingga perhatian Birong kembali terpecah.
Sementara itu di dalam rumah tepatnya di ruangan tamu, Lalah kembali menasehati agar Martin harus berhati-hati menghadapi bawahannya sendiri.
"Martin. Aku tidak mempercayai bawahan mu setelah peristiwa penolakan itu. Mulai sekarang kau harus berhati-hati!" Kata Lalah memberi peringatan.
"Kau berfikir terlalu jauh, Lalah. Tapi terimakasih karena telah memperingatkan ku. Kau adalah sahabat ku. Aku akan tetap menghargai nasehat darimu walaupun aku tidak sepenuhnya percaya bahwa Beni akan mengkhianati ku." Kata Martin.
"Terserah kau saja lah. Tapi yang jelas, Tumpal berada di kota batu. Dia sedang berada di sisi Birong. Bagaimana jika mereka bertukar informasi?" Tanya Lalah.
"Kau tenang saja Lalah. Semua rahasia pergerakan yang aku atur ada di tangan Tigor. Apakah dia akan mengkhianati aku? Aku rasa Tigor tidak akan melakukan tindakan bodoh seperti itu." Kata Martin.
"Apakah kau seyakin itu kepada anak muda bernama Tigor ini?" Tanya Lalah. Jelas dia penasaran mengapa Martin begitu mempercayai seorang anak muda yang baru bergabung dengannya itu.
"Ya aku sangat percaya kepada anak itu." Jawab Martin.
"Katakan apa alasannya!" Desak Lalah.
"Karena dia memiliki dendam kepada Geng tengkorak dan seluruh pentolan dalam organisasi itu."
"Maksud mu?"
"Apa kau ingat mendiang Kapten Bonar yang terbunuh delapan tahun yang lalu?" Tanya Martin.
"Ya. Aku ingat itu." Jawab Lalah.
"Apa kau tau siapa pembunuh nya?'
"Aku hanya mendengar bahwa Kapten Bonar mati di tembak. Tapi sampai sekarang polisi juga tidak dapat mengungkap kasus itu." Kata Lalah.
"Kapten Bonar mati karena di serang oleh geng tengkorak."
"Lalu, apa hubungannya dengan Tigor?"
"Nah.., Tigor ini adalah putra sulung dari mendiang Kapten Bonar. Dia tidak terbunuh karena ketika kejadian itu, dia sedang mengaji. Itu lah sebabnya mengapa Tigor ini sangat ingin menghancurkan geng tengkorak. Alasannya adalah, balas dendam!" Kata Martin.
"Pantas. Pantas saja kau begitu percaya dengan anak muda itu. Baik lah. Keputusan ada di tangan mu. Kau bisa mengirim Tigor ini ke kota Kemuning. kita akan lihat prestasi apa yang bisa dia capai nantinya." Kata Lalah.
"Seratus persen aku percaya bahwa kota kemuning akan bisa dia rebut. Baik melalui cara halus, cara kasar atau pun dengan cara diplomasi. Kita lihat saja. Aku akan memberikan dia waktu selama 3 bulan. Andai dia gagal, aku tidak akan marah. Karena bagaimanapun, dia sudah berusaha dan berani menantang maut. Karena kita semua kan tau kalau di kota kemuning saat ini sedang ada rencana kerja sama dengan geng tengkorak. Aku juga mengkhawatirkan Tigor ini. Tapi keyakinan ku mengalahkan kekhawatiran ku." Kata Martin.
Lalah hanya manggut-manggut saja mendengar perkataan dari sahabatnya itu.
"Oh ya. Ini untuk Black Cat. Aku berhutang dua kali kepadamu karena telah menyelamatkan putri ku. Aku akan menghadiahkan kepada mu sesuatu. Kau tinggal pilih! Mau motor atau mobil?" Tanya Lalah.
"Tidak perlu Pak Lalah. Aku menolong putri anda karena memang kebetulan aku sedang lewat. Akan merepotkan jika aku memiliki kendaraan mobil. Akan aku simpan di mana kendaraan itu? Selama ini aku hanya meminjam kendaraan milik Tigor. Makanya aku bisa bebas kemana-mana." Jawab Black Cat.
"Yang ini beda." Kata Lalah sambil menunjuk. "Sepeda motor pas untuk mu. Aku telah lama mempersiapkan hadiah untuk mu. Ayo kita lihat!" Ajak Lalah langsung bangkit dari kursinya diikuti oleh Martin dan Black Cat pun mau tidak mau harus mengikuti kedua orang itu juga dari belakang.
Ketika Lalah membuka garasi di samping belakang rumah besar miliknya, kini terlihat satu unit sepeda motor Ducati yang telah dimodifikasi dan keseluruhan berwarna hitam tanpa plat nomor.
"Lihat sepeda motor itu! Itu adalah sepeda motor Ducati panigale yang sudah di modifikasi. Mesinnya menggunakan empat silinder dan memiliki 1000cc lebih. Kau bisa dengan leluasa melarikan diri ketika ada pengejaran." Kata lalah
"Kau tenang saja! Polisi tidak akan bisa melacak sepeda motor ini. Karena selain sudah dimodifikasi, motor ini juga aku datangkan secara selundup dari Italy."
Black Cat benar-benar ngences alias ngiler melihat sepeda motor yang sangat jantan itu.
"Apakah ini tidak berlebihan, Lalah?" Tanya Black Cat.
"Ini bahkan kurang. Jika melihat jasa mu, aku bahkan berani bersumpah akan memberikan hadiah kepada mu berupa supercar atau Pagani sekalian. Namun kau pasti akan menolak. Maka dari itu, aku memilih sepeda motor ini. Dan ini sudah berada di garasi ini selama dua bulan." Kata Lalah.
Black Cat melirik ke arah Martin sebelum membuat keputusan akan menolak atau menerima pemberian itu. Namun ketika Martin menganggukkan kepalanya, Akhirnya Black Cat menerima juga pemberian dari Lalah itu dengan suka cita.
"Baiklah Pak Lalah. Aku dengan suka cita dan rasa terimakasih yang besar, menerima pemberian dari mu ini." Kata Black Cat berusaha membuat suaranya terkesan datar dan dingin. Padahal dalam hatinya saat ini sudah berjoget dangdut koplo.
"Nah begitu dong! Hahaha... Aku sangat bahagia. Tapi jangan katakan terimakasih. Ini tidak seberapa. Suatu saat semoga kau juga mau mengingat bahwa kita pernah bersahabat."
"Ok. Aku akan menyuruh orang untuk mengeluarkan sepeda motor ini. Nanti kau bisa sekalian membawanya pulang ke Tasik putri sambil menguji seberapa kecepatan motor monster ini." Kata Lalah dengan bangga lalu menyuruh sudung, orang yang pernah digebuki oleh Black Cat gara-gara Karman untuk membawa sepeda motor itu keluar dari Garasi.
Setelah semuanya beres dan di rasa cukup, akhirnya Martin pun meminta diri untuk kembali ke Kota Tasik putri.
Sebelum mereka berpisah, sekali lagi Lalah berpesan agar Martin harus berhati-hati.