BLACK CAT

BLACK CAT
Di hina lagi oleh Debora



Setelah selesai mengadakan pertemuan guna membahas rencana dan strategi untuk mengacaukan kota Batu, Tigor segera singgah ke kafe untuk sekedar minum.


Sore ini dia terlalu banyak bicara sampai-sampai tenggorokannya terasa kering.


Setelah minumannya datang, Tigor pun menikmati minumannya itu dengan santai. Namun baru saja dia meletakkan gelas nya, terdengar suara seorang wanita menegur dari belakang.


"Hey bang Tigor. Tumben kau menjadi pelanggan di kafe ini. Biasanya kau ngamen di sini?"


Mendengar teguran bernada hinaan itu, Tigor segera menoleh kebelakang. Kini dia melihat seorang wanita muda mengenakan seragam putih sedang berjalan kearah meja dimana dia duduk.


"Kau Debora!" Kata Tigor menyapa berusaha untuk ramah.


"Ya. Aku tidak melihatmu dalam beberapa hari ini. Kemana saja kau bang?" Tanya wanita itu.


"Jangan bilang kau mendapatkan tempat baru untuk ngamen." Katanya lagi dengan senyum sungguh melecehkan.


"Oh iya. Aku memang mendapatkan tempat baru untuk ngamen. Mengapa emangnya?" Tanya Tigor.


"Huhh kau ini bang. Coba lah cari pekerjaan yang lebih baik. Ngamen saja terus. Apa kau tidak iri melihat Irfan. Dia punya mobil, punya uang, rumah besar dan memiliki pekerjaan yang lumayan dengan gaji besar. Kau itu. Coba lihat dirimu! Benar-benar payah kau bang. Tidak ada masa depan." Kata Debora mencibir.


Deg!!!


Berdetak juga jantung Tigor mendengar kata-kata yang sangat merendahkan dari gadis ini.


Seenak jidatnya saja mengata-ngatai orang. Pacar bukan, sahabat, bukan. Saudara juga bukan. Tapi semenjak dia bertemu dengan Irfan, dia sering membanding-bandingkan antara Tigor dan Irfan. Lama kelamaan bikin jengkel juga.


Tar...!


Mungkin saking jengkel nya, tanpa terasa tangan Tigor meremas gelas minumannya sampai pecah.


Tidak mau terlibat adu mulut, Tigor segera bangkit dari duduk nya dan segera menghampiri kasir untuk membayar minuman beserta gelas yang pecah. Setelah itu tanpa pamit, dia meninggalkan Debora yang terus memperhatikan dirinya dengan tatapan hina.


Jauh Tigor berjalan kaki sampai dia sadar bahwa mobil nya tertinggal di depan kafe tersebut.


"Ah sialan. Mobil pakai tertinggal pula. Benar juga kata Debora. Terlalu lama miskin sampai lupa kalau aku punya mobil. Bagaimana ini? Mau kembali ke kafe, sudah tanggung. Ini sudah di depan restoran Samporna. Sialan." Kata Tigor dalam hati.


Setelah berfikir, Tigor akhirnya memutuskan untuk kembali ke kafe tersebut untuk mengambil mobil nya. Namun kali ini suasana di kafe tersebut sudah ramai dikunjungi oleh orang-orang berbadan tegap.


Setelah Tigor mendekat, ternyata orang-orang ini adalah dari kota Batu yang memang sengaja untuk.mencari tau informasi tentang Tigor.


Karena manager kafe mengenal Tigor adalah tangan kanan Martin, maka dia tidak berani untuk membocorkan identitas Tigor. Apa lagi dia menduga bahwa orang-orang ini pasti berasal dari kota Batu. Yang artinya adalah, anak buah Birong dari geng tengkorak.


Karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, mereka akhirnya membuat keributan dan memukuli sang Manager serta beberapa pengunjung yang mencoba ikut campur termasuk Debora yang memang bermulut kasar.


Saat Tigor tiba di tempat, ketika itu pipi Debora sudah merah dibagian kanan dan kiri.


Gadis itu kini terduduk di sudut dengan ketakutan sambil menutupi wajahnya.


"Ayo Manager! Katakan kepada kami siapa orang yang bernama Tigor itu?" Bentak salah seorang dari empat lelaki bertubuh besar itu memaksa sang manager untuk memberikan informasi tentang diri Tigor.


"Benar bang. Aku mana tau Tigor itu siapa." Kata sang Manager.


"Kau berbohong kan?! Informasi yang ku dapat, bahwa si Tigor ini sering mangkal di kafe ini. Berani berdusta berarti kau harus siap patah tangan." Kata lelaki itu sambil menghampiri manager itu lalu merenggut tangan lelaki gemuk itu dengan paksa.


"Aduh.. Jangan bang. Tolong jangan apa-apakan saya!" Kata sang Manager meringis ketakutan.


"Kau gadis bermulut besar. Apakah kau tau orang yang bernama Tigor itu?" Tanya lelaki itu membentak.


"Black Cat!"


"Untuk apa kau ikut campur urusan kami? Kau selalu saja mencari masalah dengan kami."


"Aku ikut campur? Dengan tindakan kalian menindas yang lemah seperti ini lalu melarang aku untuk diam saja. Kau terlalu berani sobat!" Kata Black Cat sambil menekan kepala ikat pinggang nya.


Seet...


Setelah ikat pinggang itu terlepas dari pinggang lelaki bertopeng itu, kini tampak di tangan Black Cat sebilah pedang baja tipis yang sangat lentur namun mampu memotong meja kayu di kafe itu hingga terbelah dua.


"Berani sekali kalian. Bosan makan nasi ternyata." Kata Black Cat sambil menebaskan pedang lenturnya dari atas ke bawah.


Terdengar suara angin bersiur dengan kilatan cahaya keperakan.


Bersamaan dengan itu tampak sepotong daging terjatuh di lantai kafe dengan darah menetes di lantai tersebut


Ternyata itu adalah telinga lelaki yang bermulut besar tadi.


Dia meraung dan menjerit sambil mendekap telinganya yang sudah putus dan jatuh di lantai barusan.


"Masih terlalu siang. Aku tidak ingin membunuh."


"Keluar kelian sekarang!"


Terdengar dingin suara lelaki mengenakan topeng kepala kucing berwarna hitam pekat itu.


Dia masih berdiri angkuh tanpa ekspresi menatap dari balik topeng dengan mata merah.


"Aku hitung sampai tiga. Jika tidak segera pergi, maka pedang ku yang akan mengirim nyawa kalian keluar dari raga." Kata Black Cat.


Terdengar semakin dingin nada suaranya dengan tingkat geram yang tertahan.


Keempat lelaki itu saling tatap seperti meminta pendapat dari satu dengan yang lainnya. Namun itu hanya sesaat. Mereka tidak mampu lagi berfikir karena saat ini Black Cat sudah menaikkan pedang yang tergenggam di tangannya.


"Iya iya iya. Kami pergi. Kami pergi." Kata keempat orang itu.


Mereka berempat lari tunggang langgang tanpa menoleh lagi.


Sesaat Black Cat memperhatikan lalu segera mengeluarkan ponsel nya dan mengirim pesan kepada Andra.


"Sebentar lagi akan ada empat orang yang akan melewati Jembatan. Salah satu dari keempat orang itu telah aku potong telinga nya. Cegat dan selesaikan mereka! Hanyutkan mayat nya di sungai biar menjadi santapan ikan." Kata Black Cat lalu segera memutar badan untuk pergi.


"Bang. tunggu!"


Dari belakang tampak Debora tergesa-gesa mengejar Black Cat.


"Terimakasih bang karna telah menyelamatkan saya."


"Kau siapa? Kau mau mati atau hidup bukan urusan ku. Aku hanya tidak suka daerah kekuasaan ku dimasuki oleh pengacau. Dasar gadis sampah." Kata Black Cat melanjutkan langkah kakinya menuju mobil BMW i8 yang terparkir tidak jauh dari kafe tersebut.


Debora hampir menangis. Seumur hidup baru kali ini dia mendapat penghinaan seperti itu. Dia terus mengutuk dalam hati. Namun karena melihat Black Cat tadi yang begitu ganas, cari penyakit jika dia membalas penghinaan itu.


Lamunan Debora buyar ketika suara mesin mobil sport BMW itu menderu dan dengan kecepatan tinggi meninggalkan halaman kafe.