BLACK CAT

BLACK CAT
Identitas Black Cat terbongkar



Perkelahian yang tak seimbang antara anggota geng tengkorak itu akhirnya pecah juga melawan anggota kelompok Tigor dari kota Kemuning.


Semua mereka di babat habis oleh Monang dan ratusan anggota mereka termasuk Togar, salah satu orang kuat di geng tengkorak pun turut menjadi korban.


Mayat-mayat mereka lalu di buang di dalam parit bekas korekan excavator di dekat perkebunan kelapa sawit itu.


"Bagaimana Monang?" Tanya Andra.


"Tidak ada waktu lagi. Kita kembali dulu ke kota Kemuning. Bang Tigor juga menghilang. Ayo kita urus dulu Black Cat ini." Kata Monang.


Mereka pun lalu bergegas memasukkan tubuh Black Cat yang sudah mandi darah itu ke dalam mobil, lalu mereka pun langsung tancap gas kembali ke kota Kemuning.


"Rumah sakit Nang!" Tunjuk Andra begitu mereka melewati rumah sakit.


"Kau mau mati Ndra? Jika ke rumah sakit, bisa ketahuan kalau kita baru saja membunuh orang." Kata Monang lalu memacu kembali kendaraan nya.


Tiba di rumah, Monang pun langsung mengeluarkan ponselnya dan berniat untuk menelepon Tigor.


Namun sekian kali dia mencoba, tetap tidak juga tersambung.


"Kemana Tigor ini. Dalam keadaan gawat seperti ini, dia malah menghilangkan diri." Kata Monang sambil mengomel.


Andra, Acong dan yang lainnya bergegas membopong tubuh Black Cat memasuki rumah dan kini mereka mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk memberikan pertolongan pertama kepada Black cat.


"Bagaimana ini Cong? Apakah kita harus membuka topengnya ini?" Tanya Ameng.


"Tidak ada pilihan. Sudahlah. Mau bagaimana lagi."


"Kau saja Cok. Aku takut." Kata Acong.


"Ya sudah. Aku yang akan bertanggung jawab." Kata Ucok lalu perlahan membuka topeng yang menutupi wajah Black Cat.


Begitu topeng itu terbuka,


"Hah..?"


"Apakah aku salah lihat?" Kata Ucok sambil menggosok matanya.


"Bang Tigor."


"Ternyata..?!"


"Monang. Andra. Kemari kalian berdua!" Kata Ucok.


"Ada apa Cok?" Tanya Andra dan Monang.


"Black Cat itu adalah Bang Tigor." Kata Ucok sambil menunjuk ke arah Black Cat yang sudah tidak memakai topeng lagi.


"Hah?" Kata Monang yang langsung menghampiri tubuh berpakaian serba hitam itu.


"Ayo. Ayo cepat bantu. Hilangkan dulu rasa kaget kalian. Jika tidak di tolong, bang Tigor bisa mati ini." Kata Sugeng lalu segera memangku kepala Tigor.


Mereka beramai-ramai lalu bergegas melakukan tugas masing-masing.


Ada yang merebus air, ada yang mengambil kotak P3K, ada yang membuka pakaian hitam yang membungkus tubuh Tigor.


Pokoknya, kini mereka menjadi dokter dadakan setelah dulu sempat menjadi Mister dadakan.


Setelah itu, kini tubuh Black cat yang tadinya dibalut dengan pakaian hitam kini berubah menjadi putih oleh perban yang melilit di sana sini.


Tampak juga beberapa tulang di bagian tubuhnya mungkin patah akibat terbanting di aspal lalu terseret sampai masuk ke dalam semak belukar.


Kini tubuh Black Cat mulai dari kepala sampai ke ujung kaki persis seperti mumi pada zaman Firaun.


"Lobang hidungnya itu Jabat! Mati nanti dia tidak bisa bernafas." Kata Thomas.


"Oh iya. Aku lupa." Kata Jabar sambil menggeser Kain kasa itu dari saluran pernapasan Tigor.


"Matanya?" Tanya Monang.


"Udah beres itu. Mulut sama matanya yang terlalu lebar. Nanti lalat masuk." Kata Jabat sok tau.


"Huhf... Tidak ku sangka ternyata orang yang ditakuti selama ini adalah Tigor ini." Kata Monang.


"Sebenarnya kecurigaan ku ada. Tapi aku tidak berani bertanya." Kata Andra pula.


"Benar. Karena setiap Black Cat muncul, selalu saja Bang Tigor menghilang. Kalau ada bang Tigor, Black Cat tidak pernah muncul." Kata Timbul pula.


"Yang lebih mencurigakan lagi, masa iya Black Cat dan Bang Tigor bisa menyukai wanita yang sama."


"Maksud mu Mirna?" Tanya Monang.


"Iya lah. Siapa lagi. Masa Wulan atau Debora." Jawab Acong.


"Setiap rencana yang kami susun, ketika sudah pada pelaksanaan nya, Black Cat selalu tau. Salah satunya adalah ketika kita merampok transaksi Acun di bangunan tua dulu. Black Cat memberi perintah persis seperti yang sudah direncanakan oleh Tigor." Kata Andra.


Sebenarnya kecurigaan itu sudah lama ada di hati mereka terutama Acong, Andra, Ameng dan Timbul yang selalu terlibat dengan misi-misi mereka.


Namun untuk menyatakan langsung ataupun sekedar bertanya, mereka takut. Ini karena mereka tau siapa Black Cat yang berdarah dingin itu.


Daripada nanti babak belur, lebih baik diam dan tunggu. Karena sepandai-pandainya orang menyembunyikan sesuatu, pasti akan terungkap juga. Dan kali ini semuanya sudah terungkap dengan jelas siapa itu Black Cat yang sangat menakutkan itu.


"Lalu sekarang bagaimana. Keadaan sungguh sangat kacau sekarang." Kata Monang.


"Kalau aku, lebih baik serahkan bukti pembunuhan itu kepada polisi. Supaya mereka bisa bertindak untuk melakukan penggerebekan di kompleks elite untuk menangkap Marven." Kata Andra.


"Aku kurang setuju." Kata Sugeng.


"Alasannya?" Tanya Monang.


"Alasannya adalah, kita ini kan kelompok mafia sekaligus gengster. Aku khawatir jika kasus ini jatuh ke tangan polisi, kita semua akan di sikat habis. Ingat kejadian beberapa bulan yang lalu ketika Ronggur tewas? Ingat bagaimana Black Cat melakukan pembunuhan di luar negri? Kacau kita jika semuanya nanti di usut. Kamera pengawas di pusat kota pasti juga sudah berhasil menangkap video Black Cat yang lewat tadi. Ini bisa semakin kacau."


"Kalian tau bahwa sekarang ini, Black Cat ini adalah buronan internasional. Banyak interpol yang melacak keberadaannya." Kata Sugeng.


"Memang sebaiknya adalah hukum rimba. Menyelesaikan masalah dengan masalah. Kita tunggu Tigor sembuh dulu. Sambil itu, kita harus memperkuat barisan pertahanan kita. Sebarkan sebagian anak buah kita di pinggir-pinggir jalan. Mereka bisa menyamar menjadi tukang tambal ban, tukang pedagang asongan, tukang pangkas atau lain sebagainya. Aku khawatir mereka akan bersekutu untuk menyerang kita." Kata Monang.


"Benar juga. Apa lagi besok pasti akan ada berita kematian Togar. Jika tidak bersiap sekarang, bisa binasa kita." Kata Ameng.


"Lalu, apakah Mirna harus diberitahu bahwa Bang Tigor mengalami musibah?" Tanya Ucok.


"Sebaiknya jangan. Ini akan menambah lagi kerunyaman masalah. Lagi pula kasihan dia. Dia sedang mengalami perasaan yang bahagia setelah sekian lama didera penderitaan."


"Benar juga. Kasihan Mirna."


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Ameng.


"Kumpulkan semua anak buah, bagi menjadi empat kelompok lalu sebarkan. Satu kelompok berjaga di Martins Hotel. Satu kelompok lagi, berjaga di panti asuhan dan rumah sakit. Sebagian lagi, berjaga di sini dan sisanya seperti yang aku katakan tadi. Menyamar sebagai apa saja di sepanjang jalan menuju ke kota Batu." Kata Monang.


"Baiklah. Mari kita lakukan bersama." Kata Mereka lalu membubarkan diri selain Ucok dan Acong yang bertugas untuk menjaga Tigor.