
Venia kini menatap tubuh Marven dari atas hingga ke bawah.
Sedikitpun dia tidak menyangka bahwa Marven kini berani berkata seperti itu kepadanya. Dan yang paling dia tidak mengerti, bagaimana Marven bisa sepintar ini dengan mengatakan bahwa dia kaget dengan langkah yang diambilnya.
"Anak ini. Sepertinya dia berubah menjadi pintar dan tau sesuatu yang aku rahasiakan. Sejak kapan dia menjadi pandai begini?" Tanya Venia dalam hati.
"Mengapa kaget Bu? Seharusnya kau bangga karena aku mengikuti jejak mu. Punya anak haram dan sebentar lagi aku juga mungkin begitu."
"Kemana tumpah nya kuah jika bukan ke nasi. Aku adalah hasil dari perbuatan tidak terpuji mu bersama Beni. Lalu, apa yang kau herankan dari kejadian hari ini?" Kata Marven lagi lalu dengan mengacuhkan wanita setengah baya itu, dia segera mendekati Birong kemudian duduk di sisi lelaki berkulit hitam itu.
"Paman Birong. Aku memang pantas mendapatkan hukuman dari mu. Tapi satu hal yang perlu kau tahu bahwa, aku mencintai Butet dan akan bertanggung jawab atas semua yang telah aku perbuat." Kata Marven dengan sikap gentle nya.
Perkataan yang diucapkan oleh Marven ini membuat Venia langsung tidak senang diam.
Dengan Butet yang akan menjadi Istri dari Marven, dapat dipastikan bahwa Marven secara tidak langsung akan mendapatkan dukungan dari Birong dan misinya untuk menyingkirkan Marven kemudian membantu Beni untuk duduk di kursi ketua akan sangat sulit bahkan tidak mustahil itu hanyalah mimpi kosong belaka.
Berbeda dengan Venia, kini Mr.Carmen juga merasa was-was.
Ini karena, perhitungan nya meleset total.
Tadinya dia mengira paling cepat tiga bulan Birong akan melabrak Marven. Karena, masih menurut perhitungan nya, semua baru terungkap jika Butet hamil. Dengan begitu, masih banyak waktu untuk Tigor membangun kekuatan untuk melawan Marven andai menyerang kota Kemuning.
Celakanya, Butet malah mengadu kepada Birong yang menyebabkan Birong melabrak Marven dalam waktu bukannya tiga bulan. Tapi tiga hari.
"Kacau. Kacau sudah perencanaan ku. Aku harus menelepon bang Tigor agar mereka semuanya bisa mengatur rencana antisipasi atau segera kabur meninggalkan kota Kemuning atau setidaknya menyerang terlebih dahulu. Tapi bagaimana ya? Bukannya bang Tigor saat ini sedang sakit?"
Carmen saat ini tampak seperti orang kebelet buang air kecil dan besar secara berbarengan.
Rupanya ulah Carmen ini diperhatikan oleh Marven. Dengan keheranan, Marven pun langsung bertanya. "Ada apa denganmu Carmen?" Tanya Marven yang heran melihat ekspresi wajah Carmen seperti seekor keledai yang salah tingkah.
"Perut ku mules sekali Bos. Rasanya seperti datang bulan." Jawab Carmen seadaanya. Padahal entah darimana dia tau sensasi orang yang lagi datang bulan.
"Pergi kebelakang sana!" Kata Marven lalu kembali menghadap ke arah Birong.
"Bagaimana Paman? Jika paman sudah setuju, paman bisa menentukan kapan tanggalnya untuk kami melangsungkan pernikahan." Kata Marven bersungguh sungguh.
Baginya ini adalah kesempatan yang sangat langka serta kepuasan sang sangat besar.
Bagaimana tidak? Dengan begini, dia bisa mendapatkan dukungan kekuatan dari Birong sebagai menantu di keluarga ketua geng tengkorak itu.
Hal ini pula yang ditakutkan oleh Venia sehingga dia kini mulai menyela.
"Ah Birong. Mereka ini masih sangat muda. Mengapa tidak ditunda saja satu atau dua tahun lagi? Biarkan mereka matang dalam cara berfikir dan dewasa dalam bersikap." Kata Venia sambil memaksakan senyum.
"Apa maksud mu Venia? Apakah kau mau menunggu perut putrimu besar baru menikahinya? Sejak tadi aku sudah mengatakan kepada mu apa permasalahan nya. Mengapa bodoh sekali kau ini?" Bentak Birong.
Melihat ini, bukannya Marven tersinggung. Dia malah tersenyum penuh kemenangan melihat ekspresi di wajah ibunya yang tampak malu dan memaksakan tersenyum sumbing.
Tumpal. Orang yang tau kisah perjalanan Venia ini dari sama-sama masih muda dulu hanya mencibir saja.
"Baiklah. Aku akan membuat keputusan bahwa Minggu depan kalian akan melangsungkan pernikahan."
"Persiapkan diri mu Marven. Pesta pernikahan kalian akan diadakan di Villa ku lalu pindah ke Hotel milikku di kota Batu. Dan kau Tumpal, cetak sebanyak-banyaknya kartu undangan lalu segera undang seluruh kenalan. Pesta ini harus meriah." Kata Birong.
"Saya menerima keputusan darimu Paman." Kata Marven sambil melirik ke arah ibu nya.
Sementara itu, Carmen yang pamit untuk kembali ke rumahnya segera mengeluarkan ponselnya lalu kini segera menelepon Tigor yang berada di kota Kemuning.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya panggilan itu terhubung dan terdengar suara menyapa di seberang telepon.
"Halo Karman. Ada apa?" Tanya Tigor begitu panggilan itu terhubung.
"Bagaimana dengan keadaan mu bang? Apakah sudah sehat dan siap untuk berperang?" Tanya Carmen tanpa Tedeng aling-aling.
"Hei. Apa maksudmu ini Karman? Pertanyaan mu terasa aneh di kuping ku." Kata Tigor dengan nada suara penuh keheranan.
"Celaka kita bang. Ternyata semuanya meleset dari perkiraan ku." Kata Karman/Mr.Carmen Bond 070.
"Berbicaralah dengan jelas dan teratur Karman! Coba ceritakan kembali apanya yang celaka?!" Suruh Tigor.
"Begini Bang. Semua rencana yang telah aku susun hancur berantakan gara-gara hari ini Birong mendatangi rumah mendiang Martin." Kata Carmen.
"Birong? Lalu apa yang terjadi?" Tanya Tigor ingin tau.
"Tadinya aku berfikir jika paling cepat tiga bulan. Ternyata tiga hari, Birong sudah datang melabrak Marven dan meminta pertanggungjawaban dari Marven atas apa yang dia lakukan terhadap keponakan nya itu."
"Itu sebabnya mengapa aku menanyakan keadaan mu. Jika kau sudah bisa berkelahi, maka susun kekuatan mu untuk melawan. Jika kau belum pulih benar, maka sebaiknya menghindar dulu dari mereka." Kata Karman.
"Hmmm. Apa kau tau kapan rencananya si Marven dan Butet ini akan melangsungkan pernikahan?" Tanya Tigor ingin tahu.
Dia sengaja menanyakan ini agar bisa menghitung segala kemungkinan yang akan terjadi.
"Jika aku lihat dari gelagat Birong yang takut Butet akan hamil duluan, kemungkinan dalam waktu dekat ini bang. Ambillah masa tersingkat yaitu satu Minggu. Apakah Abang bisa mengatur atau menyusun kekuatan selama seminggu itu?" Tanya Karman.
Terdengar suara keluhan di seberang telepon menandakan Tigor saat ini juga sedang buntu.
Jika sesuai dengan prediksi dari Karman bahwa seminggu lagi Marven dan Butet akan melangsungkan pernikahan, dapat dipastikan bahwa Minggu depannya kedua pasukan akan bergabung kemudian menyerang kota Kemuning. Ini bisa berbahaya bagi Tigor dan anak buahnya.
"Karman. Kau terus pantau pergerakan mereka! Aku akan berusaha untuk mencari jalan keluar bagi masalah ini." Kata Tigor.
"Baik bang. Jika begitu, kau atur lah. Aku akan terus memberikan informasi kepadamu tentang pergerakan mereka di sini." Kata Karman pula.
"Bagus! Sekarang juga aku akan mengumpulkan semua anak buah untuk membahas masalah ini." Kata Tigor lalu mengakhiri panggilan.