
Langit yang semua kelabu, perlahan mengikis kan awan kelam memberi kesempatan pada raja siang untuk menuntaskan kewajibannya.
Di tengah cahaya mentari, cuaca begitu cerah siang ini. Hiruk pikuk ibu kota masih terdengar nyaring seperti biasa.
Di rumah sakit terbesar, pewaris keluarga Park kembali bertandang ke sana. Jim-in tidak percaya sekaligus terkejut mendapatkan kabar sang istri jatuh pingsan dan harus dirawat.
Setibanya di sana, ia mendapati Rania berbaring lagi di atas ranjang rumah sakit. Pemandangan tersebut memberikan luka tak kasat membuatnya terpuruk.
Ia mendatangi Rania cepat dan mengusap puncak kepalanya berkali-kali.
"Sayang, kenapa bisa seperti ini?" tanyanya menempelkan kening di dahi Rania.
Sang istri yang sudah sadar beberapa saat lalu pun hanya menatap lurus ke depan. Ia belum ada niatan untuk membuka mulut menjawab pertanyaan suaminya.
Sampai perlakuan manis Jim-in sedikit meluluhkan perasaan. Baru juga bibirnya terbuka, Rania menghentikan kata-kata yang hendak dilontarkan saat mendengar pintu digeser seseorang.
Tidak lama setelah itu satu sosok yang tidak diundang datang, berdiri tepat di samping Jim-in. Ia melebarkan senyum manis membuat Rania terbelalak.
"Aku dengar istrimu jatuh sakit," ujarnya pada sang sahabat sembari memberikan tatapan lembut.
Jim-in seketika terkejut mendapati Mi Kyong ada di sampingnya.
"Ka-kamu? Kenapa-"
"Aku datang ke sini untuk menjenguk istrimu. Halo, salam kenal aku Mi Kyong sahabat dari kecil Jim-in," jelasnya menjulurkan tangan ke hadapan Rania, seolah mereka belum pernah bertemu.
Manik jelaga Rania terus memberikan tatapan nyalang dengan mengatupkan gigi rapat. Ia menahan kekesalan melihat sikap manis yang dilayangkan Mi Kyong.
Ia teringat pada saat pertemuan mereka. Rania tidak akan pernah lupa bagaimana wanita itu mengutarakan kata-kata yang tidak pantas diberikan kepada pria beristri.
Sebelum perpisahan mereka di sebuah kafe, Mi Kyong sempat berkata, "Bagaimanapun juga aku akan membuat Jim-in jatuh cinta padaku. Seharusnya dari dulu pria itu adalah milikku. Kalian tidak punya kesempatan memiliki dia selamanya."
Perkataan tersebut kembali terngiang dalam pendengaran. Rania sadar jika saat ini ada celah bagus bagi Mi Kyong untuk terus mengejar Park Jim-in.
Setelah itu Rania memaksakan diri untuk mengingat apa saja yang sudah terjadi. Ia terus mencoba menggalinya hingga menimbulkan rasa sakit teramat dalam di kepala.
Hingga pada akhirnya ia jatuh pingsan dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit lagi.
Namun, ia tidak menyangka jika selang beberapa jam dirinya harus kembali berhadapan dengan wanita itu.
Rasa sakit baik di kepala maupun hatinya terus menumpuk berkali-kali lipat. Iris jelaganya berkaca-kaca berusaha menguatkan diri sendiri.
Mendapati diamnya sang istri, Jim-in pun sadar. Rania salah paham, pikirnya.
"Sa-Sayang, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku sama sekali tidak mengajak Mi Kyong untuk pergi bersama. Aku tidak tahu jika dia-"
"Kenapa kamu harus berbohong, Jim? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan ingin mengajakku menemui istrimu dan juga... mengenalkan ku pada anak-anak kalian?" sambar Mi Kyong membuat lidah Jim-in kelu tidak percaya.
Ingatannya pun berputar pada saat mereka pertama kali bertemu setelah sekian lama berpisah. Ia memang sudah berjanji untuk mempertemukan mereka berdua, tetapi bukan dengan cara seperti ini.
"M-mwo? Apa maksudmu?" gugupnya.
"Kenapa kamu gugup seperti itu?" Mi Kyong semakin mendekatkan dirinya ke arah Jim-in.
Sebelah tangan rampingnya terulur memberikan gerakan statis di leher sang sahabat menggunakan jari jemari. Melihat hal tersebut tepat di depan mata kepalanya sendiri membuat Rania naik pitam.
Ia bangkit dari berbaring nya dan cepat mencengkram pergelangan tangan wanita itu.
"Jika kalian mau bermesraan, bisakah lakukan di luar? Ada pasien di sini, tolong hargai saya," kata Rania dengan suara dalam memandang lurus pada Mi Kyong.
Jim-in pun berusaha mencapainya, tetapi di tepiskan begitu saja oleh Rania. Tatapannya beralih pada sang suami yang tengah memberikan tatapan sayu.
"Keluar!"
Satu kata membuat degup jantung sang pengusaha berdebar tak karuan. Kepala bersurai lembut hitam legam itu menggeleng beberapa kali.
"Ti-tidak, Sayang. Kamu salah paham, apa yang dikatakan Mi Kyong itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Dia-"
"Aku bilang keluar! KELUAR!" teriak Rania menahan emosi.
Wajahnya menggelap dengan dada naik turun seraya mengepal kedua tangan kuat.
"Tidak Sayang, kamu harus mendengarkan aku dulu." Jim-in pun tidak menyerah begitu saja dan langsung menangkup kedua bahu Rania.
Sang empunya memberontak berusaha melepaskan cengkraman sang suami hingga membuatnya turun dari ranjang.
Ia terus melakukan perlawanan, sampai jarum infus di pergelangan tangan terlepas begitu saja membuat darah menetes di baju pasien dan juga di lantai ruang inap.
Menyadari kesalahannya Jim-in pun terpaksa melepaskan sang istri. Tangannya terkulai di kedua sisi menyaksikan darah terus menetes.
Pemandangan tersebut membuat Mi Kyong mengulas senyum simpul. Ia pun bergegas memanggil dokter guna meredam atmosfer di ruangan tersebut.
Sampai tidak lama kemudian, Seok Jin yang menjadi dokter penanggungjawab Raina pun datang bersama dua perawat lainnya.
Ia terkejut melihat kekacauan di sana dan meminta Jim-in untuk keluar ruangan dulu.
"Ani, Hyung. Aku ingin menemani istriku," tegasnya menolak.
"Dengarkan aku... Raina butuh waktu sendiri," kata Seok Jin lagi dan membiarkan dua perawat tadi menangani Rania dulu.
Namun, Jim-in kembali menolak. "Tidak! Aku ingin di sini untuk-"
"JIM!" tegas Seok Jin meninggikan suaranya.
Jim-in terkesiap melebarkan pandangan begitu saja. Seok Jin menghela napas berusaha mengontrol diri.
"Dia seorang pasien. Saya yang bertanggungjawab atas kesembuhannya di sini. Untuk itu saya minta kerja samanya. Silakan keluar dan tunggu perkembangannya!" kata Seok Jin lagi lalu berbalik meninggalkan Jim-in yang terus terkejut tak karuan.
Ia sadar jika sang kakak sudah bersikap formal seperti tadi, itu artinya tidak ingin dibantah.
Dengan berat hati Jim-in berjalan lunglai meninggalkan ruang inap sang istri. Mi Kyong yang berada di belakangnya pun bergegas menggenggam lengan sahabatnya.
Jim-in pun langsung menghempaskannya begitu saja dan pergi cepat dari hadapannya.
Seok Jin yang tengah mengambil alih Raina pun sedikit menoleh ke belakang melihat Jim-in. Tatapannya penuh makna mengerti akan kepelikkan yang dialami sang adik.
"Aku sudah mengatakannya padamu, Jim. Apa mungkin sekarang sudah terlambat?" benaknya memandang Rania yang mengalihkan pandangan ke sisi berlawanan.
Wanita itu terus bungkam membiarkan para tenaga medis memasangkan kembali jarum ke pergelangan tangan.
Ia terlalu rapuh untuk menerima semua yang terjadi. Rania tidak pernah menduga jika Mi Kyong akan datang bersama suaminya.
Ia tidak pernah menyangka jika Jim-in membuka celah bagi orang ketiga masuk ke dalam rumah tangga mereka.
Rasanya sakit, benar-benar sakit. Masa lalu yang kini berada dalam ingatan terus berputar menayangkan bagaimana perlakuan Jim-in terhadapnya.
Rania semakin kecewa begitu kuat, hingga membuat air mata enggan keluar. Rasanya begitu memilukan harus kembali dipermainkan berulang kali.