VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 31



"Sayang? Mengobati lukaku? Lalu bagaimana luka di hatiku? Apa kamu bisa mengobatinya?"


Pertanyaan itu terus menari dalam indera pendengaran.


Jim-in terpaku akan sikap dingin yang dilayangkan sang istri kembali datang dan sekarang lebih parah lagi.


Wajah datar tanpa adanya keramahan sedikitpun membuatnya terdiam. Jim-in yakin akan kesalahan yang telah diperbuatnya.


Ia tahu perbuatannya yang sudah membantu sang sahabat tanpa sadar memberikan luka kepada istri tercinta.


"Sa-Sayang aku bisa menjelaskan semuanya. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan," ujarnya buru-buru.


Rania mendengus kasar seraya melepas kontak singkat dari suaminya.


"Saya memang tidak tahu apa yang terjadi sebelum ingatan ini hilang, tetapi yang jelas dengan adanya kejadian tadi saya sadar jika... tidak cukup hanya mengungkapkan perasaan pada seseorang. Cinta juga perlu dibuktikan dengan sikap dan saling terbuka."


"Semua sudah terlambat, rasa percaya yang coba saya buka kembali tertutup rapat. Tuan muda, mengkhianati kepercayaan saya."


"Sekarang saya benar-benar sadar jika... tidak ada cinta tulus untuk saya."


Setelah mengungkapkan perasaan terdalam, Rania melangkahkan kaki dari sana.


Suara pecahan kaca yang terinjak begitu nyaring dalam pendengaran.


Jim-in terkejut saat menyaksikan Rania menginjak pecahan kaca yang tersebar di lantai tanpa rasa sakit sedikitpun.


Seketika tapak kaki merah menodai lantai marmer tersebut.


Sampai Rania melewatinya yang seketika menyadarkan.


Jim-in mencengkram pergelangan tangannya kuat, sang empunya menoleh ke samping membuat pandangan mereka saling bertemu satu sama lain.


"Aku mohon percaya padaku, Rania. Aku benar-benar hanya membantunya saja. Di-dia sahabatku, namanya Song Mi Kyong."


"Dia memintaku berpura-pura sebagai calon suaminya untuk membatalkan perjodohan. Aku mohon kamu mengerti, Sayang. Aku-"


"Apa Tuan Muda tidak sadar sudah memberikan celah pada wanita itu untuk mengusik kehidupan rumah tangga kita? Apa Tuan tidak tahu? Tidak ada persahabatan murni antara pria dan wanita, jika tidak salah satunya jatuh cinta."


"Apa Tuan mencintainya? Ani, wanita itu yang mencintai Anda." Rania menarik tangannya kuat membuat Jim-in terkejut.


"Saya cukup tahu seperti apa pandangan seseorang yang sedang jatuh cinta. Chukkae, sebentar lagi kalian akan menikah."


Getaran dalam dada mengudarakan kepiluan terus menerjang.


Air mata tanpa sadar tumpah ruah membasahi kedua pipi.


Tidak ada yang lebih sakit dibandingkan menyaksikan pria tercinta berdiri bersama wanita lain.


Meskipun itu sahabatnya sendiri, tetapi perasaan tidak enak mengganggu menjadikan luka tak kasat mata.


Rania memalingkan muka dengan berdecak kesal. Kepala berhijab itu mengangguk berkali-kali, layaknya memikirkan satu hal.


"Saya mengerti sekarang, varsha yang datang kali ini terus menurunkan badai."


Rania terus meracau seraya melangkahkan kakinya pergi dari hadapan sang suami.


Melihat kekacauan Rania, Jim-in terus tersadar akan kesalahan.


"Seharusnya aku membicarakannya dulu dengan Rania, ya Allah kenapa semuanya jadi seperti ini?" gumamnya menjambak rambut halusnya.


Pintu kamar tertutup rapat, Jim-in terpaku dalam diam memandangi sosok Rania yang sudah menghilang.


"Aku... menyakitinya lagi," lanjut Jim-in.


Cairan bening menetes tak tertahankan memperlihatkan varsha yang semakin menerjang.


...***...


Jam sudah menunjukkan pukul setengah empat dini hari.


Rania yang tengah tertidur lelap di ruang baca merasa terusik dengan gerakan seseorang di bawah kakinya.


Ruangan yang hanya diterangi cahaya lampu belajar pun memperlihatkan sosok pria bertubuh kekar tengah duduk di ujung sofa.


"Apa yang sedang Tuan lakukan?" tanya Rania menyaksikan sang suami tengah mengoleskan obat luka dan membalut sayatan pecahan kaca di telapak kakinya.


"Aku sedang mengobati lukamu," jawabnya hangat sembari tersenyum lembut.


"M-mwo? Lepaskan, jangan bersikap baik pada saya." Rania mencoba menarik kakinya dalam pangkuan Jim-in.


Namun, pasangan hidupnya tidak mengizinkan hal itu dan semakin menggenggamnya kuat.


"Izinkan aku mengobati lukamu, Sayang. Aku tidak bisa melihatmu kesakitan seperti ini, rasanya benar-benar terluka. Aku-"


"Luka fisik tidak sebanding dengan luka hati."


"Meskipun luka fisik terlihat bekasnya, tetapi itu tidak akan sakit lagi. Namun, luka batin walaupun tidak terlihat jika terbayang kembali maka akan terus mengeluarkan perih," ucap Rania menyerobot perkataan sang suami.


Jim-in menghentikan gerakannya memandang pada luka demi luka akibat gesekan kaca di kaki ramping Rania.


"Aku akan berusaha mengobati luka di hatimu. Meskipun berat dan tidak mudah, tetapi... aku akan mencobanya. Karena bagaimanapun juga-" Jim-in mengangkat kepalanya lalu menoleh ke samping memandang lekat sang istri tercinta.


"Aku sangat mencintaimu, Rania. Tidak ada  yang bisa menggantikan mu di hatiku... siapa pun itu," aku Jim-in jujur.


Rania terdiam beberapa saat, terkejut mendapati pernyataan cinta untuk kesekian kali.


Bibir ranum itu terkatup rapat tidak ada niatan sedikitpun untuk membalas perkataan Jim-in.


Hening menjadi peneman keduanya berada di ruangan itu. Detik demi detik berlalu berusaha mengenyahkan kemelut dalam diri masing-masing.


"Sebenarnya... aku ingin memperkenalkan kalian berdua, tetapi waktunya masih belum terjadi juga."


"Mi Kyong adalah teman masa kecilku. Dari sejak aku duduk di bangku sekolah dasar kami sudah berteman."


"Orang tuanya dan eomma merupakan rekan kerja yang sudah lama menjalin kerja sama. Jadi, tidak heran jika kami berteman sejak kecil."


"Bahkan kami sering dianggap seperti anak kembar. Namun, setelah bertahun-tahun lamanya kita bersahabat... Mi Kyong memutuskan pergi ke Negara I melanjutkan sekolah di sana."


"Pada saat itu bersamaan dengan aku mengalami kecelakaan yang membuat kedua kakiku lumpuh sementara. Yunna, wanita yang aku pikir bisa setia mendampingi di saat susah, nyatanya malah mengkhianati."


"Pada akhirnya Allah mempertemukan ku denganmu yang menyadarkan akan sebuah perasaan. Sampai tahun berubah lagi, Mi Kyong  kembali."


"Aku tidak tahu kalau... dari dulu dia-"


"Jatuh cinta pada Tuan, kan? Saya tahu itu," potong Rania lagi yang sedari tadi mendengarkan perkataan suaminya dalam diam.


Jim-in bergumam em seraya mengangguk mengiyakan.


"Mi Kyong mengungkapkan perasaannya tepat setelah dia mengumumkan aku sebagai calon suaminya. Jujur Sayang, aku tidak pernah mempunyai perasaan yang sama terhadapnya. Aku hanya menganggap dia sebagai adik kecil saja."


"Karena bagiku kamu satu-satunya." Jim-in kembali menatap Rania penuh cinta.


Sorot matanya menghangat seraya melengkungkan bulan sabit sempurna.


Tangannya terulur menggenggam jari jemari Rania dan menariknya pelan.


Ia memberikan kecupan mendalam di sana menyalurkan kasih sayang.


"Saranghae, tidak ada yang lain selain kamu, Rania."


Kata-kata cinta terus berdengung mengenyahkan keheningan. Kedua sudut bibir yang melengkung itu mendebarkan perasaan di dada.


Rania kembali bungkam menyaksikan keseriusan di wajah tampan itu.


Kepala berhijabnya menunduk dalam melepaskan kontak mata dengan sang imam dalam rumah tangganya.


"Aku tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang. Rasanya... campur aduk, apa yang seharusnya aku ambil? Percaya dan kembali dikhianati atau-" bisiknya dalam hati yang tidak selesai dicetuskan mengambang begitu saja.


Kedua insan yang terajut dalam ikatan janji suci kini kembali diuji. Badai tengah menerpa, ombak menerjang, membuat sang nahkoda harus mengencangkan kembali kekuatannya guna bisa selamat mempertahankan kebersamaan.