
Musim semi datang di tahun ini, pohon-pohon di sekitar jalan maupun di depan pertokoan menyuguhkan pemandangan luar biasa.
Bunga-bunga bermekaran menebarkan aroma semerbak. Raksi ketenangan terus mencuat memberikan sebuah harapan baru.
Siang ini di salah satu kafe terkenal di ibu kota, seorang wanita berdress merah muda dengan gambar sakura menyebar di sekitarnya tengah duduk sendirian di sana.
Rambut panjangnya diikat sebagian dan membiarkan sebagian lainnya tergerai begitu saja.
Ditambahkan pita besar berwarna putih di tengah-tengah ikatan, mendulang penampilan wanita tersebut yang semakin manis dan feminim. Aura musim semi pun terpancar dalam dirinya.
Ditemani segelas kopi dingin dan cake ia menikmati waktu sendirinya. Orang-orang di luar kafe hilir mudik menjadi background pemandangan sekitar.
Tidak lama kemudian suara lonceng di pintu masuk berdenting menandakan pengunjung datang.
Wanita lain yang mengenakan dress panjang sampai mata kaki serta mengenakan heels sedang berjalan mendekat.
Rambut panjang kecokelatan nya dibiarkan tergerai begitu saja membuatnya meliuk-liuk tertiup angin.
"Jadi, ada apa kamu menghubungiku, Ailee?" tanyanya langsung seraya menarik kursi dan duduk di seberang Ailee.
Wanita itu yang sedari tadi menunggunya pun mengangkat kepala. Bibir semerah cherry nya melebar seketika.
"Oh Kakak sepupuku, Mi Kyong. Sudah lama kita tidak bertemu, apa kabar?" tanya balik Ailee basa-basi.
Song Mi Kyong, kakak sepupu Ailee melipat tangan di depan dada. Iris cokelat beningnya memutar, jengah mendengar itu.
"Katakan saja langsung, ada apa kamu tiba-tiba saja menghubungiku?" Mi Kyong tidak sabar dan langsung merubah pembicaraan ke topik utama.
Ailee kembali memperlihatkan senyum menawannya lalu menyesap kopi singkat.
"Aku sudah mendengar tentang perjodohan kalian yang gagal. Oh sungguh, Kakak sepupuku ini luar biasa, bagaimana mungkin kamu menolak putra tunggal Kim Dal Mi? Dia sungguh luar biasa, Eonni," katanya masih memberikan basa-basi.
Mi Kyong menghela napas, melirik sekilas ke arah luar dan kembali memindai lekat adik sepupu di hadapannya.
"Seperti biasa kamu memang suka berbasa-basi, kalau tidak ada hal penting yang ingin kamu katakan, lebih baik aku pergi."
Mi Kyong beranjak dari duduk sembari menggenggam tas jinjing kecilnya. Di saat hendak melangkahkan kaki, pergerakannya terhenti kala mendengar ucapan Ailee setelahnya.
"Park Jim-in dia sahabatmu dari kecil kan?"
Mi Kyong menjatuhkan tatapan ke bawah menyaksikan Ailee melengkungkan sudut bibir lebar.
Sambil mengaduk-aduk makanan manisnya ia terus memandangi Mi Kyong yang masih memberikan sorot mata penuh tanya.
"Apa maksudmu? Kenapa kamu membawa-bawa nama dia?"
Pertanyaan itu terus mengambang belum ada kepastian. Ailee tetap pada posisi yang sama membuat Mi Kyong menyipitkan kedua mata.
"Jika kamu-"
"Kenapa kamu mengumumkan pada orang-orang penting itu jika dia calon suamimu? Apa kamu tidak ingat? Kamu... bisa dicap sebagai perebut suami orang? Apa kamu tidak malu mengakuinya sebagai sebagai calon suamimu? Aku membaca artikel tentang kalian, apa kamu... mau bekerja sama denganku?"
Mendengar tawaran tersebut semakin membuat Mi Kyong menautkan alis dalam. Ia terus memandangi Ailee lekat menyadari sesuatu terpancar di kedua matanya.
Ia berdehem pelan lalu kembali duduk, meletakkan tasnya lagi di kursi sebelah.
"Katakan sebenarnya apa maksud ucapan mu tadi?" tanya Mi Kyong lagi.
"Baiklah aku akan mengatakan yang sebenarnya," ucap Ailee.
Di tengah kebisingan pengunjung lain di kafe yang di dominasi pemuda dan pemudi, kata-kata Song Ailee berdengung menelisik indera pendengaran.
Satu persatu makna yang disampaikan sang adik sepupu sampai ke intinya.
Mi Kyong berkali-kali melebarkan pandangan mendengarkan semua ide dicetuskan Ailee.
"Memang benar, tetapi dia sama sekali tidak melirikku. Dia... mempunyai seseorang yang disukai," ungkap Ailee lagi.
"Lalu, di mana kamu melihat itu dan kenapa kamu menyimpulkan demikian?" tanya Mi Kyong masih tidak mengerti.
Kini giliran Ailee menghela napas panjang.
"Malam itu aku pertama kali bertemu dengannya. Dia seorang dokter di rumah sakit pusat di ibu kota, tidak jauh dari sini."
"Dia memberikan kesan dingin, berbeda dengan pria lain yang mengharapkan perhatianku, sungguh menyebalkan."
"Tapi kamu tahu? Kim Seok Jin... berbeda, dia sama sekali tidak menghiraukan keberadaan ku. Sikap dinginnya... membuatku benar-benar terkesima. Aku... sangat ingin mendapatkannya," kata Ailee menggebu-gebu.
"Tapi saat itu aku melihat dia bertemu dengan Park Jim-in, istrinya, dan wanita asing yang membuat tatapan Kim Seok Jin berbeda. Ada sorot mata damba dan memuja terpancar, berbeda pada saat melihatku," lanjut Ailee dengan rona merah terpancar di pipi putihnya.
Gelagat seseorang yang sedang jatuh cinta terlihat jelas. Mi Kyong cengo, tidak percaya pada penglihatannya sendiri.
Ia sadar jika saat ini adik sepupunya benar-benar telah mendambakan seseorang.
Selama tiga puluh dua tahun mereka bersama, ini pertama kalinya Song Mi Kyong mendapati Song Ailee seperti sekarang.
Dari dulu mereka tumbuh bersama-sama sampai duduk di bangku sekolah dasar.
Ailee dan Mi Kyong merupakan sepupu. Karena kedua ayah mereka yaitu Song Dae Jung dan Song Ha Joon kakak beradik kandung.
Selepas kenaikan kelas, keluarga Ailee bertandang ke negara orang. Sang ayah mendapatkan pekerjaan di sana yang berhasil membuat keluarganya mempunyai perusahaan perhiasan.
Baru lima tahun lalu mereka kembali ke tanah air. Namun, hanya terhitung jari Ailee dan Mi Kyong bertemu.
Pada saat pesta malam itu digelar oleh keluarga Mi Kyong, Ailee tidak bisa datang, ada urusan dengan klien, katanya.
Tanpa diduga setelah pesta berlangsung meriah, artikel mengenai kakak sepupu dengan sahabat masa kecilnya beredar luas.
Ailee tidak menyangka, sekaligus tidak menduga mendapatkan berita mencengangkan tersebut.
Namun, yang lebih tidak diduga lagi adalah jika Park Jim-in mempunyai hubungan lebih dari sekedar teman dengan Kim Seok Jin.
Setelah makan malam hari itu, Ailee mencari tahu tentang mereka berdua. Ia mendapatkan informasi-informasi mencengangkan mengenai para pria tersebut.
Park Jim-in masih berada dalam status pernikahan sah bersama seorang wanita dari Asia Tenggara bernama Rania Varsha Humairah, sedangkan Kim Seok Jin, ia tahu apa yang tengah dirasakannya hanya dari melihatnya saja.
"Jadi, apa kamu mau bergabung bersamaku untuk mendapatkan mereka?" tawar Ailee lagi mengajak kakak sepupu.
Mi Kyong tidak langsung menjawab, memikirkan lebih lanjut perkataan tidak masuk akal adik sepupunya itu.
Ia pun melipat tangan dan kakinya pongah memandang lurus ke depan.
"Jika aku ikut bergabung denganmu... apa yang aku dapatkan sebagai gantinya?" tanya Mi Kyong memiliki saku dua.
"Sudah aku katakan tadi, tentu saja, kamu bisa mendapatkan Park Jim-in," jelas Ailee kembali.
"Bukankah kamu tadi mengatakan kalau aku tidak tahu malu mengakui suami orang sebagai calon suamiku sendiri? Juga, aku bisa saja dicap sebagai perebut suami orang?" tanya Mi Kyong lagi memutar balikan fakta.
"Tetapi... bukankah menyenangkan? Seperti ada tantangannya sendiri, kan?" Ailee melebarkan kedua sudut bibirnya penuh arti.
Mi Kyong terkesiap, dan diam beberapa saat.
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Seperti yang sudah aku bilang tadi, kalau-"
Mi Kyong tercengang, tidak percaya jika adik sepupunya mempunyai pemikiran tersebut.