
...
...
...🌦️...
...🌦️...
...🌦️...
Sudah tiga hari berlalu selepas kepergian Park Gyeong. Kini Jim-in kembali memboyong sang istri untuk tinggal lagi di mansion. Kesedihan terlihat jelas diwajah ayu Rania. Karena tidak bisa menyampaikan salam perpisahan bagi mertuanya. Bagaimana lagi jika dihari keberangkatan itu, Jim-in selalu bersamanya, mencegahnya untuk tidak pergi ke mana pun.
Rania sadar jika dirinya sudah menjadi sebuah obesei bagi sang suami. Pusat utama dalam kehidupannya. Bagaikan barang yang tidak boleh disentuh atau pun dimiliki orang lain. Burung dalam sangkar masih sangatlah baik jika dibandingkan dengan dirinya. Ia dimiliki, dicintai, disayangi, tetapi terlalu dikekang. Terikat erat oleh tali tak kasat mata yang membelit dileher jenjangnya. Ia tidak bisa bergerak bebas ke mana pun kedua kakinya ingin melangkah pergi.
Posesif menjadi ciri kedua seorang Park Jim-in saat ini. Kecemburuan berlebih membuat dirinya terjebak dalam kungkungan pria tersebut. Ia tahu sebagai seorang istri memang harus menghormati dan mengikuti apapun suruhan sang suami. Namun, jika kebebasannya direnggut juga apa itu pantas? Rasanya, Rania sudah tidak bisa mengenali suaminya lagi.
"Akhirnya kita kembali ke mansion. Hiduplah dengan baik, istriku." Ucap Jim-in seraya mengelus pelan sebelah pipi mulus sang istri.
Senyum yang memencar bak penanda nasib selanjutnya tengah menunggu. Sedari tadi jantungnya terus berdetak kencang. Bukan sepetri ini akhir yang diinginkan, Rania. Kembali ke tempat semula ternyata tidak bisa mengembalikan keadaan menjadi lebih baik.
'Seharusnya tidak seperti ini. Apa yang harus aku lakukan? Eomma sudah pergi dan sekarang apa lagi?' jeritnya pilu.
"Hidup bersamaku selamanya, arraso." Tawaran yang terdengar manis itu tidak berarti demikian untuk Rania.
Kata-kata itu penuh penekanan tak ingin dibantah. Bukan tawaran melainkan ketegasan. Bukan kebahagiaan, tetapi kepedihan. Harus berapa banyak air mata lagi yang tumpah dikedua pipinya untuk mendapatkan kebahagiaan? Apa memang kata Varsha dalam hidupnya benar-benar mengandung hujan dan kesedihan? Tidakkah terdapat sedikit saja kesenangan untuknya?
'Tapi aku percaya ini adalah bukti kecintaan Allah pada hamba-Nya. Ya Rabb, jika ini yang harus hamba jalani maka kuatkanlah. Dan kembalikanlah suami hamba yang hangat seperti hari itu....' sebait do'a terucap kala hatinya telah patah.
...🌦️🌦️🌦️...
Hari-hari berlalu tidak semenyenangkan harapannya. Pupus sudah kebebasan yang ia miliki dulu, kini menghilang seiring berjalannya waktu. Harta yang diberikan tidak bisa menggantikan kemerdekaan. Ternyata pernikahan tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Namun, meskipun demikian Rania berusaha untuk menjadi seorang istri yang baik. Setiap saat melayani sang suami seperti tidak ada apapun dalam kehidupan mereka.
Satu bulan telah berlalu. Musim pun kembali berganti. Udara sedikit dingin pagi ini membuat Rania enggan beranjak dari tempat tidurnya. Selepas melaksanakan kewajibannya ia kembali berbaring di tempat tidur. Tiba-tiba saja ia merasa tidak enak badan. Hal tersebut pun menjadi kekhawatiran seorang Park Jim-in.
Sikap posesifnya semakin menjadi dan menyuruh Rania untuk tidak melakukan aktivitas apapun, selain tidur. Itulah suruhannya kali ini sebelum berangkat kerja.
"Mual sekali." Gumamnya lalu beranjak dari tempat tidur dan bergegas menuju tempat mandi yang berada di kamar.
Ia pun memuntahkan isi perutnya di wastafel. Hanya ada cairan bening yang keluar, meskipun perutnya seperti diaduk-aduk.
"Aku tidak kuat lagi, sepertinya harus pergi ke rumah sakit." Ujarnya lagi.
Tanpa mengindahkan ucapan sang suami, Rania pun bergegas keluar dari mansion. Beberapa pelayan yang melihat tentu tidak tinggal diam. Mereka mencoba untuk menghentikannya, beruntung Sang Oh menecegahnya dan membiarkan nona muda itu pergi.
"Sudah tidak usah mencegah nona. Mungkin ada keperluan mendadak." Itu yang dikatakan pelayan senior tersebut. Mereka hanya mengangguk patuh, mungkin tanggungjawab kepergian sang nona dialihkan padanya.
Taksi yang membawa Rania pun melesat meninggalkan mansion. Di sepanjang perjalanan ia tidak henti-hentinya merasa sakit kepala. Mual yang mulai menghilang harus kembali datang. Tidak lama berselang kendaraan roda empat itu pun tiba di tempat tujuan.
Rania langsung melesat pergi untuk memeriksakan dirinya.
Beberapa menit telah berlalu. Pemeriksaan yang cukup intensif memberikan hasil maksimal. Dokter wanita bername tag Lee Hyerin itu mengembangkan senyuman. Rania yang tengah duduk di hadapannya mengerutkan dahi bingung.
"Saya sakit apa, dok?" tanyanya langsung.
"Maksud dokter?"
"Selamat Anda tengah mengandung. Usia kandungannya memasuki 3 minggu." Lanjutnya kemudian.
Rania tidak kuasa membendung suka citanya. Ia langsung menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya. Binar kebahagiaan pun memancar dalam sorot mata itu.
"Be....benarkah, dok?" tanyanya memastikan.
Dokter Hyerin mengangguk seraya tersenyum lalu menyerahkan surat pemberitahuannya.
"Sekali lagi selamat yah." Ujarnya memandangi Rania yang tengah membaca deretan hangeul dalam kertas tersebut.
Hari ini menjadi waktu terbaik baginya. Anugrah terindah, harta paling berharga telah Allah titipkan pada rahimnya. Senyum pun masih membayangi wajah ayu tersebut. Di sepanjang lorong rumah sakit Rania membagikan kebahagiaan.
Hingga sosok berhijab itu tertangkap pandangan pria berjas putih tersebut. Kim Seok Jin, yang baru saja keluar dari ruang pasien menautkan kedua alisnya saat mendapati seseorang yang dikenalnya.
"Rania." Sontak panggilan itu seketika menghentikan langkahnya. Rania lalu berbalik melihat padanya. Seok Jin pun berjalan mendekatinya.
"Wahhh, tidak ku sangka kita bertemu lagi di sini. Apa yang sedang kamu lakukan? Siapa yang sakit? Kamu?" pertanyaan beruntun yang keluar dari mulutnya membuat Rania mengembangkan senyum hangat.
"Tidak ada yang sakit. Aku juga tidak apa-apa. Hanya saja ada hal baik yang datang padaku."
"Apa itu? Sepertinya kamu bahagia sekali."
"Aku_"
Keakraban dan kedekatan keduanya pun tidak luput dari perhatian sepasang mata seorang wanita bermarga Park. Yunna, tidak sengaja mendapati mereka yang tengah berbicara di lorong.
"Tidak ku sangka pemandangan ini memberikan harapan baru." Gumamnya.
Kedatanannya ke rumah sakit untuk menjenguk sang ayah ternyata membuahkan ide baru. Senyum pun terbit dibibir ranumnya. Entah apa yang tengah disusunnya saat ini. Setelah puas dengan apa yang dilihatnya ia pun segera melesat pergi.
...🌦️🌦️🌦️...
Jam sudah menunjukan pukul setengah 4 sore. Tidak terasa waktu cepat berlalu saat mendapatkan hal baik. Itulah yang tengah dirasakan Rania. Ia kembali ke mansion dengan perasaan bahagia tak terkira. Sama seperti senja yang kali ini datang memperlihatkan kecantikannya. Memberikan ketenangan bagi penikmat setianya.
"Aku yakin oppa pasti senang dengan berita ini." Gumamnya seraya melangkah masuk.
Brakk!!
Pintu terbuka. Hal pertama yang tertangkap netranya adalah seorang wanita cantik tengah mengembangkan senyum manis.
Seketika itu juga lengkungan dibibirnya memudar. Rania tertegun melihat sang tunangan suami berada di rumahnya. Sudah berapa lama mereka tidak bertemu? Kenapa harus diwaktu seperti ini? Pikirnya kemudian.
Dengan perlahan Rania pun mendekatinya. "Yuuna."
"Hai, Rania. Lama tidak bertemu sepertinya kamu bahagia sekali." Ucapnya. Entah itu sebuah sindiran atau bukan, Rania hanya menangkap ada sesuatu yang tidak beres di sana.
"Dari mana saja kamu? Kenapa pergi tidak bilang-bilang? Mau jadi istri pembangkang, HAH?" gertakan dari suara baritone itu seketika mengalihkan pandangannya. Rania menoleh ke samping kanan melihat sang suami di sana.
Kedua matanya melebar melihat tatapan mengerikan itu.
'Ya Allah apa lagi ini?'
...🌦️HAL BAIK?🌦️...