
...
...
...🌦️...
...🌦️...
...🌦️...
"Surat Gugatan Perceraian"
Jim-in mematung ditempatnya berpijak. Ia tidak menyangka mendapatkan surat tersebut setelah sekian lama tidak bertemu. Air mata tidak bisa dibendung lagi, menetes membasahi kedua pipinya. Hilang harapan yang dibawanya. Sang istri mengembalikan luka yang pernah ia perbuat.
Ia pun berjalan hendak meraih belahan jiwanya.
"Rania, apa maksudnya? Bukan ini yang aku inginkan. Aku datang ke sini untuk menjemput kalian. Aku minta maaf karena sudah menuduh yang tidak-tidak. Aku benar-benar menyesal." Ucapnya bersungguh-sungguh.
Rania yang akan kembali masuk ke dalam rumah pun seketika menghentikan langkahnya. Seok Jin bersama tunangannya pun ikut merasakan ketegangan dalam hubungan mereka. Ketiganya menunggu jawaban Rania.
"Bisa kamu kembalikan senyumku yang dulu?" pertanyaan itu membuat Jim-in terkejut. Ia sadar dengan kesalahan terbesarnya.
Tanpa mendengar balasan dari pria itu, Rania langsung melarikan diri dari sana. Jim-in kembali mematung tidak tahu harus berbuat apa. Hanya air mata yang melingkupi. Seok Jin yang mengerti keadaannya pun berjalan mendekat lalu menepuk bahunya pelan.
"Hyung tidak tahu jika akan seperti ini, tapi berikan waktu bagi Rania untuk sendiri. Pasti dia terkejut melihatmu di sini sekarang." Jim-in hanya mengangguk. Kepalanya terus menunduk tidak sanggup menatap lawan bicaranya. Seok Jin kembali menepuk bahunya beberapa kali sebelum pergi meninggalkannya sendiri.
Kini hanya ada ia seorang. Bersama suara debur ombak isak tangis terdengar pilu. Jim-in mencengkram dada kirinya kuat. Sakit. Sangat sakit ia rasakan kala menerima kenyataan tidak sesuai harapan.
"Mianhae..... jeongmal mianhaeo." Hanya kata maaf yang terus keluar dari bibirnya. Surat yang berada ditangan kananya pun diremas erat.
Sedangkan di dalam rumah Rania tengah duduk terdiam tanpa ada niatan menjelaskan. Kala memberinya keputusan. Dan itulah yang dipilihnya.
"Apa kamu yakin dengan keputusan ini?" tanya Seok Jin yang tengah duduk di depannya. Seraya memeluk sang putri Rania mengangguk sekilas.
Keheningan tercipta. Ketiga orang di ruangan itu tidak lagi mengeluarkan suara. Seok Jin tahu dirinya tidak bisa ikut campur terlalu jauh dalam hubungan Rania. Namun, bagaimana pun juga ia menginginkan yang terbaik bagi keduanya.
"Jika luka masih membayangimu tak apa. Tapi jika cinta masih ada meskipun itu hanya sedikit, kesalahan bisa diperbaiki olehnya." Lanjut Seok Jin lagi.
So Young yang berada di samping Rania mengelus punggungnya pelan menyalurkan ketenangan. Sedangkan wanita itu hanya bisa terdiam tanpa membalas perkataannya lagi.
Berat rasanya saat kembali melihat sosok suami yang pernah menorehkan luka. Tidak hanya sekali bahkan berkali-kali. Hanya akan ada selalu Varsha dalam mata saat bersamanya. Harsha kerap kali datang hanya sebagai penghias.
"Meskipun cinta itu masih ada. Aku tetap pada keputusan ini. Ya Allah semoga ini yang terbaik." Benaknya.
Jim-in pulang dengan kehampaan menguasai pundaknya. Harapan bisa kembali membawa keluarga kecilnya, tapi surat gugatan perceraian yang didapatkan. Pupus sudah kehidupan bahagia bersama sang istri. Asa itu sirna dalam hitungan detik.
Gyeong yang menyambut kepulangan sang anak mengerutkan kening, tidak mengerti. Insting sebagai seorang ibu berkata jika ada hal yang tidak beres. Langkahnya cepat mendekati putra semata wayangnya.
"Jim-in? Kenapa wajahmu pucat lagi, nak? Apa yang terjadi?" Jim-in pun mendongak membalas tatapan sang ibu. Dengan lemah ia menjawab, "aku bertemu Rania, tapi dia memberikan ini." Jelasnya seraya menjulurkan amplop tersebut. Gyeong pun segera menerima dan membukanya.
Betapa terkejutnya wanita itu saat mengetahui isi di dalamnya. Netranya kembali ke arah buah hatinya dengan mulut menganga lebar. Tangannya pun gemetaran kala menggenggam surat tersebut.
Melihat betapa putus asanya sang anak, Gyeong menggelengkan kepala berkali-kali. Wanita itu tidak percaya menantu yang diharapkannya memberikan keputusan berat.
"Apa yang sebenarnya sudah kamu lakukan sampai Rania menggugat seperti ini?" tanya Gyeong lagi.
Jim-in pun menceritakan semuanya. Mulai dari sikap posesifnya sampai tidak mengakui darah dagingnya sendiri. Gyeong membekap mulutnya kembali tidak percaya dengan apa yang didiengarnya. Benarkah Jim-in mengatakan itu? Pikirnya berkecambuk.
Gyeong benar-benar tidak menyangka ternyata setelah kepergiannya, rumah tangga sang anak bisa pelik seperti ini.
"Hah~ eomma tidak bisa menyalahkanmu sepenuhnya. Karena sedikitnya eomma juga ikut andil dalam masalah kalian." Tuturnya. "Tapi kamu tidak boleh menyerah. Kamu masih mencintai Rania, kan? Jemput dia kembali. Karena inilah rumahnya." Lanjut Gyeong memberikan semangat seraya mencengram pelan kedua bahunya.
Jim-in mengangguk setuju. "Eomma, benar aku tidak boleh menyerah. Selagi harapan itu masih ada aku akan terus memperjuangkannya."
"Geure, ini baru anak eomma." Jim-in pun tersenyum lebar.
...🌦️🌦️🌦️...
Keesokan harinya Jim-in kembali melajukan mobil mewahnya menuju Kota Busan. Perkataan sang ibu memberikan semangat untuk tidak menyerah pada keadaan. Meskipun Rania memberikan surat gugatan perceraian, tidak ada yang tidak mungkin jika harapan itu masih ada. Ia akan terus mengejarnya sampai keluarga kecilnya kembali.
Beberapa jam kemudian ia pun tiba. Keadaan terasa sepi kala kedua kakinya menapaki kediaman tersebut. Suara ombak berdengung menghentak kedatangannya. Pasir putih yang membentang menjadi saksi bisu pengharapan dalam diri.
Tidak lama berselang pintu bercat tosca tersebut terbuka. Nampaklah seorang wanita berhijab hitam yang tengah menggendong buah hatinya berdiri tegang di sana. Hazelnutnya melebar dengan mulut sedikit terbuka.
"Rania." Panggil Jim-in seraya berjalan mendekat.
"Mau apa lagi kamu ke sini? Kita sudah tidak ada hubungan apapun!!" tegasnya berusaha menghindari pria itu.
"Aku tidak pernah menyetujui ataupun menandatangani surat cerai itu, Rania. Aku masih sah sebagai suamimu." Jawab Jim-in tidak kalah tegas. Namun, Rania tidak menggubrisnya sedikit pun.
Ia berusaha melangkahkan kedua kaki pergi dari sana, tapi sebelum itu terjadi Jim-in lebih dulu mencegahnya. Ia pun mencengkram pergelangan tangan Rania. "Aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku telah menyesali perkataan dan perbuatanku. Aku minta maaf. Dan aku ingin memperbaikinya. Beri aku kesempatan. Kembalilah pulang bersamaku, Rania." Ucap Jim-in memohon dengan sangat.
Rania perlahan melepaskan cengkraman tangan pria itu dan tidak sekali pun menatapnya. Jim-in harap-harap cemas dibuatnya. Melihat wajah dingin tanpa ekspresi membuatnya takut. Ditambah dengan diamnya Rania mengantarkan kegelisahan.
"Aku pikir sudah tidak ada kesempatan kedua untuk kita." Tegas dan jelas. Perkataan yang meluncur ringan dari mulut Rania menghujam ulu hatinya.
Jim-in terdiam. Lidahnya kelu. Ia tidak menyangka Rania tetap pada pendiriannya. Sudah terlalu dalam luka yang diberikan. Tidak mudah bagi wanita itu untuk melupakannya. Jim-in pun mengerti.
Setelah mengatakan itu pun Rania mulai melangkahkan kedua kakinya. Namun, sayang Jim-in lagi-lagi lebih dulu menggenggam pergelangan tangannya erat.
"Aku mohon beri kesempatan satu kali lagi. Aku ingin memperbaiki semuanya. Apa dia anak kita?" tanyanya seraya menoleh pada bayi berumur dua bulan dalam buaian Rania.
Netra kecoklataannya pun bergulir menatap buah hatinya lalu dengan paksa menghentakan tangan sang pria. "Bukankah Tuan Muda yang terhormat tidak mengakui dia sebagai anakmu? Permisi!" perkataan dingin lagi-lagi terdengar.
Jim-in bagaikan tertimpa ribuan batu di atas kepalanya. Perkataan Rania tadi menyadarkan tentang ucapannya hari itu. Ia sadar jika terlalu kuat rasa sakit yang Rania rasakan. Sebagai seorang ibu ia begitu sakit saat mendengar ayah dari anak yang dikandungnya tidak mengakui darah dagingnya sendiri.
Kecewa. Itulah yang dirasakannya.
"Mianhae, Rania." Bisik Jim-in.
Setetes air bening pun meluncur bebas dikedua pipi putihnya.
...🌦️KEPUTUSAN🌦️...