
Menit demi menit berlalu, malam semakin larut, udara pun semakin dingin menyapa keheningan.
Langit kelam tanpa adanya satu bintang pun mengantarkan kehampaan.
Ketakutan kian merundung diri di kala satu fakta mencengangkan baru diketahui.
Park Jim-in duduk di kursi tunggu depan ruang operasi. Sejak beberapa menit lalu, istrinya tengah berada dalam penanganan sang kakak.
Ketakutan serta kekhawatiran begitu kuat melekat pada diri. Ia terus berdoa meminta pada Sang Khalik untuk kebaikan Rania.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya pintu di depan dibuka. Kepala bersurai hitam lembut itu mendongak menyaksikan Kim Seok Jin keluar dan duduk tepat di sebelahnya.
Ia menepuk pelan pundak sang adik pelan, menyalurkan kekuatan.
Jim-in menoleh sekilas dan berusaha tersenyum, meskipun pengap dalam dada.
"Tidak usah khawatir, Alhamdulillah operasinya berjalan lancar. Istrimu-" Seok Jin menjeda ucapan menarik atensi pria di sebelah.
Jim-in menoleh lagi membalas tatapan dokter tampan itu, lekat.
"Istriku kenapa?" tanyanya kemudian.
"Sebenarnya Rania memintaku untuk tidak mengatakan hal ini padamu, tetapi... aku pikir kamu berhak tahu mengenai apa yang sudah terjadi."
Mendengar perkataan itu sontak membuat Jim-in terbelalak, degup jantung bertalu kencang, dan ketakutan tadi semakin menguasai.
"A-apa yang sebenarnya sudah terjadi, Hyung? Cepat katakan," ucapnya penasaran.
"Beberapa minggu lalu Rania sempat mengalami tabrak lari. Pelaku yang menabraknya memang sudah ditangkap dan diadili, pria tua itu mabuk di siang bolong mengakibatkan kelalaian berkendara."
"Kepala Rania terbentur cukup keras dan mengalami luka ringan di sekujur tubuhnya. Apa kamu tidak pernah melihat apa pun?" tanya Seok Jin yang kini penasaran.
Jim-in terpaku dan menyadari jika selama tiga minggu ke belakang dirinya bersama Rania belum melakukan kewajiban sebagai suami istri.
"Aku belum melihatnya," jawab Jim-in singkat, Seok Jin pun mengerti.
"Baiklah, sepertinya kamu juga menyadari jika perilaku Rania aneh dari biasanya. Itu memang benar, semua itu dipacu oleh kecelakaan serta adanya penyakit dalam dirinya."
"Saat ini istrimu, Rania... mengalami kehilangan ingatan, dia hanya bisa mengingat masa lalunya saja. Ketika... kamu masih memperlakukannya tidak baik, apa kamu mengerti maksudku?"
"Rania mengalami amnesia anterograde yaitu gangguan daya ingat terkait peristiwa masa lalu yang masih melekat dan... seseorang yang mengalami amnesia jenis ini, hanya bisa mengingat peristiwa yang sudah berlalu," jelas Seok Jin membuat Jim-in menundukkan kepala dalam.
Ia tidak pernah menyangka sang istri bisa mengalami hal tersebut. Ia merutuki diri sendiri yang sudah salah membentak bahkan berbicara kasar pada Rania, tanpa tahu kejadian sebenarnya.
Sekarang Jim-in benar-benar menyesali perbuatannya.
"Apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikan ingatannya, Hyung?" tanya Jim-in lemah.
"Kamu hanya harus berada di samping Rania, cintai dan sayangi dia sepenuh hati. Jangan membuat perasaannya lebih terpuruk dan terus mengingat masa lalu. Buktikan dan tunjukkan jika kamu benar-benar mencintainya," ungkap Seok Jin kembali.
Jim-in mengangguk beberapa kali lalu mengusap wajah gusar.
"Baiklah, kalau begitu terima kasih sudah memberitahuku, Hyung," ucapnya lagi.
"Jangan terlalu khawatir, kita percayakan semua ini pada Allah, hanya Dia yang bisa menyembuhkan serta mengembalikan ingatan Rania seperti sebelumnya." Seok Jin kembali menepuk pundaknya beberapa kali menyalurkan kekuatan lagi dan lagi.
"Mungkin saat ini Rania juga lupa jika pernah meminta bantuan ku untuk tidak memberitahumu. Aku yakin ini kesempatan bagimu merubah keadaan kalian menjadi lebih baik," lanjut sang dokter.
Lagi-lagi Jim-in hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Selepas melakukan operasi, Ayana dipindahkan ke ruang rawat. Di sana ia berbaring lemah dengan selang infus kembali menancap di pergelangan tangan.
Seperti de javu, keadaan yang sama menghampiri. Rania bangun dari alam bawah sadarnya menyadari satu hal, jika sudah terjadi sesuatu di kepalanya.
Anestesi yang diberikan perlahan memudar memberikan rasa sakit datang menghampiri. Rania meringis pelan membaut seseorang di samping terperanjat.
Merasakan seseorang ada di sebelah, bola mata cokelat susu itu bergulir pelan. Ia terkejut mendapati tuan muda arogan ada di sana.
Rania berusaha bangkit, tetapi dicegah oleh Jim-in yang sudah sadar dari tidur.
"Jangan bangun dulu, kata Seok Jin hyung kamu harus banyak istirahat," jelasnya membantu sang istri berbaring lagi.
Sedari tadi tatapan Rania tidak pernah lepas dari sosok pasangan hidup. Ia memindai setiap lekukan wajah taman sang pengusaha.
Kedua mata kecilnya memerah seolah habis menangis dalam kurung waktu cukup lama, Rania tidak kuasa menanyakan hal itu. Karena baginya itu bukanlah urusannya dan tidak ingin ikut campur untuk menambah masalah.
"Apa yang kamu rasakan sekarang, hm?" tanya Jim-in kemudian.
Rania berpaling, memandang langit-langit ruang inap.
Hening membersamai kebersamaan mereka. Dua insan yang saling terikat janji suci pernikahan, kini sedang diuji kesabaran.
Varsha kembali hadir mengudara mengalirkan kepelikkan. Gelenyar kepedihan kian menghunus sanubari menyadari sebuah kesalahan.
Jim-in tidak menyalahkan siapa pun atas keadaan menimpa sang istri. Karena ia sadar apa yang ditanam, suatu saat pasti dituainya juga.
Sekarang roda kehidupan telah berputar dan keadaan mereka pun berbalik.
Memang tidak ada kata selamanya selagi berada di dunia, kapan saja waktu menginginkan untuk sebuah perubahan, maka masa pun mendukungnya.
Jim-in sadar jika di balik ini semua ada hikmah yang hendak Allah berikan. Ia ikhlas menjalani semuanya dan berjuang untuk menyadarkan istrinya lagi.
"Kenapa Tuan ada di sini?"
Itulah pertanyaan yang keluar dari mulut Rania setelah bungkam beberapa saat tanpa membalas pertanyaannya tadi.
"Tuan pasti senang, kan melihat saya seperti ini? Tuan bisa bebas sekarang bersama wanita yang Anda cintai," racau Rania.
Jim-in terpaku, jantungnya bertalu kencang menyadari rasa sakit di wajah pucat itu. Ia sangat menyadari jika kelakuannya dulu keterlaluan memperlakukan sang istri.
"Ani, aku lebih senang berada di sini, mengurusi mu. Aku... ingin kamu sembuh dan kembali bersama kami," balas Jim-in hangat.
Rania melebarkan pandangan sesaat lalu kembali menoleh ke samping. Ia melihat bulan sabit sempurna hadir di wajah tampannya tanpa gentar sedikit pun.
Wanita itu diambang kesadaran, ada perasaan dalam dada berbisik lirih menginginkan Jim-in menjadi miliknya sepenuhnya.
Perasaan itu semakin kuat membuat ia tidak berdaya, hanya air mata sebagai bentuk ungkapan kala lisan tidak bisa berkata.
Jim-in kelimpungan melihat istrinya menangis. Ia menghapus cairan bening itu penuh perhatian yang lagi-lagi membuat Rania terpaku.
"Apa ada yang sakit? Di mana yang sakit? Apa rasanya sakit sekali? Aku panggil dokter dulu," racau Jim-in lalu beranjak dari duduk meninggalkan ruangan.
Rania tidak kuasa menahan isak tangis yang tiba-tiba saja menerjang kuat. Entah karena luka di kepalanya ia terisak seperti itu, atau karena hal lain, yang jelas ia hanya ingin menangis.
Rania pun kembali meremas selimut rumah sakit kuat berusaha menyalurkan perasaan gamang. Ia lupa jika saat ini sang suami sudah sangat mencintainya.
Perasaannya begitu kuat, dibandingkan perasaannya dulu. Namun, sayang kecelakaan itu membuat separuh ingatan tentang masa kini memudar begitu saja.