
...
...
...🌦️...
...🌦️...
...🌦️...
Jam terus berputar mengiringi kehidupan umat manusia. Hari terus berganti, bulan terlewati begitu cepat. Tidak terasa kandungan Rania memasuki 33 minggu. Hari-hari terberatnya pun dilalui dengan senyum kebahagiaan.
Sebagai calon ibu ia sudah mempersiapkan untuk persalinannya nanti. Kedatangan sang malaikat kecil memberikan semangat untuk mereka. Calon orang tua baru itu pun bersama-sama menyiapkan segala kebutuhannya, mulai dari baju bayi, popok, kereta dorong, sampai mendekorasi ruangan. Dan untuk yang satu itu Jim-in secara khusus turun tangan sendiri. Pagi ini Jim-in selesai menata kamar tersebut. Ia pun membawa sang istri untuk melihatnya.
Nuansa merah muda begitu kental. Aroma vanilla menguar dalam penciuman. Berbagai jenis boneka berbentuk hewan terpajang rapih dalam setiap etalase. Box bayi, lemari bercat putih, karpet pink membentang di lantai membuat siapa pun yang masuk ke dalamnya merasa betah.
Rania memandanginya lekat dan tidak kuasa membendung air mata. Mulutnya menganga sempurna dengan perasaan bercampur aduk. Bahagia, senang, terharu semuanya menjadi satu. Ia menoleh pada sang suami yang tengah berdiri di sampingnya.
"Apa oppa yang menyiapkan semua ini?" tanyanya takjub. Jim-in mengangguk mengiyakan. Senyumnya mengembang seiring melihat ekspresi kebahagiaan istrinya.
"MasyaAllah, ini bagus sekali oppa. Sayang, kamu pasti senang kan? Appa menyiapkan ini khusus untukmu." Ujarnya sembari menunduk menatap pada perutnya.
...
...
...
...
Melihat itu Jim-in tidak kuasa menahan diri. Ia berjalan ke belakang sang istri lalu merengkuhya hangat. Kedua telapak tangan tegap itu melingkar posesif dipinggang wanitanya. Perlahan mengelusnya lembut menyalurkan kasih sayang pada sang buah hati.
"Appa, menyayangi kalian berdua. Tetaplah seperti ini, saranghae." Bisikan lembut mengalun mengantarkan pada benang merah membelit keduanya. Mengundang air mata mengalir deras pada netra indah itu.
Jim-in pun mendaratkan ciuman hangat dipuncak kepala sang istri. Rania tersenyum lebar seraya merengkuh erat lengan kokoh itu.
Di balik jendela besar di hadapannya, sang surya memancarkan sinar kebahagiaan. Senja yang datang sore ini memberikan keindahan pada si penikmat. Tidak ada lagi percakapan dari keduanya. Pasangan suami istri ini sama-sama menikmati waktu kebersamaan. Berharap Harsha tidak menghilang. Dan berharap Varsha menghilang selamanya.
"Ya Allah semoga hubungan ini bisa selamanya seperti sekarang. Terima kasih sudah mengembalikan suami hamba seperti dulu." Monolognya dalam diam.
Berharap dan terus berharap. Sampai harapan itu menghilang berganti kenyataan.
...🌦️🌦️🌦️...
Tepat pada pertengahan musim semi kali ini Rania kembali melakukan pemeriksaan rutin untuk melihat perkembangan sang buah hati. Namun, hari ini berbeda. Karena sang suami tidak mendampinginya. Jim-in terlalu sibuk dengan kertas-kertas yang setiap hari tidak ada habisnya. Mau bagaimana lagi sebagai pemimpin perusahaan ia harus bekerja keras untuk keluarga dan bawahannya.
Semerbak bunga sakura tercium dalam radius 5 meter dari keberadaannya. Rania tersenyum senang melihat pemandangan yang dilewatinya. Beberapa saat kemudian kendaraan roda empat itu pun tiba di rumah sakit.
Hal pertama dilihatnya saat keluar dari mobil adalah mentari hangat yang bertengger diwajah tampan itu. Rania tidak menyangka bisa bertemu kembali dengan 'mantan' dokter pribadi sang suami.
"Kim Seok Jin-ssi." Sapanya.
"Ahh Rania. Periksa kandungan lagi?" entah kenapa pertanyaan itu terasa akrab bagi siapa yang mendengarnya.
"Eung, seperti biasa." Jawaban itu seketika melebarkan pandangan seseorang yang kembali menjadi saksi pertemuan keduanya.
Yuuna, lagi-lagi wanita itu menyaksikan interasi mereka. Tanpa Rania ketahui tunangan suaminya selalu memantau kegiataannya. Semenjak hari itu Yuuna mengirim orang untuk mengawasi ibu hamil dan prianya. Kedua sudut bibirnya merekah menyaksikan momen tersebut.
"Aku yakin kali ini tidak ada lagi kata maaf untukmu, Rania." Bisiknya mengikuti kedua insan tersebut.
"Jadi, Jim-in tidak menemanimu?" tanya Seok Jin kemudian.
"Oppa sibuk bekerja, jadinya aku sendiri." Senyum pun mengudara.
"Ahh, kalau begitu bagaimana kalau aku temani? Aku juga ingin tahu kabar keponakanku." Rania sempat ragu mendengarnya. Ia pun menghentikan langkah tepat di depan ruang kandungan. Seok Jin yang menyadari pun kembali menyahut. "Apa kamu tidak ingat? Aku juga seorang dokter jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Wanita itu pun tersadar seketika.
"Eum, benar juga kalau begitu mari."
Mereka pun masuk ke ruangan tanpa menyadari sepasang mata terus membayanginya. Smrik hadir diwajah cantik itu setelah mendapatkan bukti otentik yang tersimpan dalam benda pintarnya.
"Okay, selamat bersenang-senang Rania sebelum hujan kembali datang." Gumamnya melihat pintu bercat putih itu tertutup.
...🌦️🌦️🌦️...
Jam sudah menunjukan pukul 7 tepat sesaat pria itu kembali ke kediamannya. Jim-in mendudukan dirinya di ruang keluarga. Helaan napas terdengar berat. Beban berat hari ini akhirnya selesai. Ia bisa bermanja lagi dengan sang istri. Itulah yang diharapkannya. Dasi yang terasa mencekik leher dilonggarkannya dan ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan.
Melihat Tuan Mudanya kembali salah satu pelayan pun mendekatinya. "Tuan, sudah pulang? Mau saya buatkan minuman hangat?" tawarnya menyadarkan.
Jim-in pun menoleh mendapati wanita berumur 30 tahunan itu. "Boleh. Kenapa Rania tidak menyambutku? Apa dia belum pulang?" tanyanya saat tidak mendapati sang istri.
"Dari tadi sore Nona Muda belum kembali, tuan." Jelasnya. Jim-in mengangguk sekilas lalu menyuruhnya pergi.
Sepeninggalan si pelayan, Jim-in merenung memikirkan keberadaan sang istri. Bukankah periksa kandungan tidak selama itu? Pikirnya. Ia pun jatuh ke dalam lamunannya sendiri. Hingga suara ponsel di balik saku jasnya berdengung.
Ia merogohnya melihat satu notifikasi datang.
'Oppa, pasti tidak akan percaya melihat video ini. Aku tadi tidak sengaja melihat Rania di rumah sakit.' Itulah pesan yang dibacanya. Ia juga melihat satu video di sana. Tanpa membalas pesan itu Jim-in langsung membukanya.
Suara riang wanita berhijab seketika membulatkan matanya. Degup jantung bertalu kencang tat kala dua insan berbeda gender tersebut masuk ke dalam ruangan yang sama. Napasnya kembali memburu Jim-in meremas ponselnya erat.
Dengan emosi membuncah ia menghubungi nomor sang istri. Namun, setelah beberapa sambungan terdengar ponselnya langsung tidak aktif. Pikiran negatif pun bersarang di kepalanya. Jim-in bangkit dari duduk hendak mencari wanita itu, tapi sebelum pergi pintu lebih dulu dibuka.
Rania masuk dengan senyum merekah diwajahnya. Jim-in mematung ditempat. Berbagai spekulasi berputar dalam pikiran. Ia tidak menyangka melihat istrinya secerah itu. Apa sudah terjadi sesuatu? Pikirnya kemudian.
"Dari mana?" tanyanya mencoba meredam api yang menyulut dalam dirinya.
"Aku habis periksa kandungan. Oppa juga tahu itu, kan?" balas Rania riangan.
"BOHONG!! TIDAK SELAMA ITU JIKA HANYA PERIKSA KANDUNGAN!!" Jim-in berteriak tepat di depan sang istri.
Rania mengerutkan dahinya, heran. Sorot mata sang suami berkilat marah. "Apa yang sudah aku perbuat?" pikirnya bingung.
"Kenapa oppa marah-marah? Aku tidak berbohong!!" tegasnya berusaha meredam emosi sang suami.
"LALU INI APA, HAH!!" masih dengan suara meninggi Jim-in memperlihatkan satu video yang masuk ke dalam ponselnya.
Rania terdiam melihat dirinya di dalam sana. "Itu tidak seperti yang oppa bayangkan, Seok Jin-ssi_." Jelas Rania.
"DIAM!! Aku tahu apa yang terjadi."
Setelah mengatakan itu Jim-in melenggang pergi dari hadapan sang istri dengan beribu perasaan dalam benaknya. Entahlah, ia merasakan begitu banyak kemelut dalam diri.
Tatapan Rania mengikutinya ke mana sang suami pergi. Hingga sosoknya menghilang di lantai atas.
"Ya Allah, apa lagi ini? Kenapa semakin rumit" gumamnya.
...🌦️RUMIT🌦️...