
Hotel sarang adalah sebuah tempat di mana kehidupan gemilang terjadi.
Semua orang yang datang ke sana tidak peduli tentang status, pakat, jabatan, atau lain sebagainya larut bersama dalam kesenangan sementara.
Banyak orang datang silih berganti menuntaskan apa yang diinginkan.
Bangunan megah bertingkat-tingkat itu pun menjadi tujuan terakhir kakak beradik sepupu tersebut.
Kurang lebih memakan waktu dua jam lamanya dari ibu kota untuk ke sana, kini mereka pun tiba.
Sesampainya di lobi beberapa orang pengawal yang membantu mereka kembali membawa kedua pria tak sadarkan diri itu ke sebuah kamar.
Ailee dan Mi Kyong sudah memesan kamar mewah untuk melancarkan aksinya.
Tidak lama berselang mereka tiba di kamar tujuan.
Para pria itu menidurkan Jim-in dan Seok Jin di ranjang besar.
"Kerja bagus, kalian boleh pergi," titah Ailee ke beberapa orang suruhannya.
Mereka pun mengangguk singkat lalu pergi dari sana.
Tinggallah empat orang itu di kamar yang sama, Mi Kyong dan Ailee memandangi dua pria di atas tempat tidur lekat.
"Jadi, ini rencana mu? Sungguh di luar dugaan," kata Mi Kyong melipat tangan di depan dada.
Ailee terkekeh pelan menimpali perkataannya.
"Jika bukan seperti ini, kapan kita bisa mendapatkan mereka? Kamu mengerti kan maksud ku?" Ailee menoleh seraya melebarkan senyum manis.
Perlahan ia mulai membuka kancing dress selutut nya. Lalu menanggalkan pakaiannya begitu saja hingga tergeletak di lantai.
Mi Kyong terus memperhatikan sang adik sepupu yang kembali melancarkan aksi.
"Kamu bisa merekamnya kan?" bisik Ailee membuat Mi Kyong mengangguk cepat.
"Ah, kalau begitu simpan kameranya di sana dan kita... bisa melakukannya bersama-sama," usul Ailee kemudian.
Lagi dan lagi Mi Kyong hanya mengiyakan ide gilanya itu.
Ia pun meletakkan kamera kecil di atas meja yang berhadapan langsung dengan ranjang.
Setelah itu ia melakukan hal sama seperti Ailee.
Kedua wanita itu sama-sama merendahkan harga dirinya untuk mendapatkan pria tercinta. Cara licik itu membuat orang-orang yang sedang mengawasinya menggeleng tidak percaya.
Di tempat berbeda, Rania dan Zahra yang masih mengawasi mereka pun naik pitam.
Ia ingin segera menghajar mereka dan menyeret keduanya meninggalkan sang suami.
"Bisa-bisanya wanita ini dia-" Rania menghentikan ucapannya tak habis pikir dengan kelakuan dua wanita tersebut.
"Aku tidak bisa diam saja."
Rania keluar dari mobil dan bergegas menuju hotel.
Ia masuk ke sana dan menuju lantai tempat suaminya tak sadarkan diri.
Sesampainya di lantai enam, ia dihadang oleh empat orang pria yang berjaga di sana.
Ia dicegah masuk dan memintanya untuk kembali.
Mau tidak mau Rania pun harus berurusan dengan mereka.
Disusul oleh Zahra dan Hana, ketiga wanita itu melawan keempat pria tersebut.
...***...
Namun, rencana tetaplah rencana. Di saat Ailee hendak melancarkan aksi puncaknya, jari jemari yang sedari tadi bermain di atas dada bidang sang dokter pun dicengkeram kuat.
Manik yang semua tertutup rapat kini terbuka dan beradu pandang dengannya.
Seketika Ailee terbelalak, terkejut serta tidak menduga.
"Aku tidak percaya kamu bisa bermain kotor seperti ini. Kamu pikir aku tidak tahu apa yang sudah kalian berikan di makanan manis itu?"
"Afrodisiak, kamu meminta pelayan di restoran itu untuk mencampurkannya ke dalam vla, kan?" tutur Seok Jin masih bertatapan dengan wanita di atasnya.
"Kamu salah, Ailee. Obat itu tidak tercampur dalam makananku," jelas Seok Jin membuat Ailee terbelalak.
"M-mwo?"
"Kamu akan tahu nanti," balasnya lagi.
Ia menoleh pada Jim-in yang tengah berjuang melawan diri sendiri.
"Kalian benar-benar wanita licik," kata Seok Jin geram.
"Memang benar, itu karena aku sangat mencintaimu, Oppa. Aku tidak bisa melihatmu bersama wanita lain," aku Ailee menggebu-gebu.
Seok Jin menyeringai lebar dibuatnya.
"Dengan caramu bermain seperti ini membuatku, muak. Aku akan berbicara pada orang tua kita untuk membatalkan perjodohan, terima kasih sudah memberikan buktinya." Seok Jin beranjak dari sana langsung menyambar kamera di atas meja.
Mi Kyong dan Ailee pun terkejut bukan main sang dokter bisa mengetahui akal busuk mereka.
Ailee berusaha menggapai kamera tersebut, tetapi nihil tinggi badannya dan Seok Jin jauh berbeda.
"Cepat pakai kembali pakaian mu. Jangan merendahkan diri sendiri untuk seseorang yang tidak mencintaimu," kata Seok Jin lagi.
"Aku seperti ini karena mu, Oppa." Ailee naik pitam dan membuat kegaduhan di sana.
Hal itu seketika menyadarkan Jim-in. Ia membuka mata melihat Mi Kyong yang hanya mengenakan pakaian dalam, berdiri tepat di sebelahnya.
Entah sadar atau tidak Jim-in mencengkram pergelangan tangan wanita itu. Sang empunya pun menoleh melihat senyum menawan pria pujaannya.
Seakan mendapatkan kesempatan ia pun membalas genggaman itu lalu berjongkok menghadapnya.
"Rania." Panggil Jim-in mengusap rahang tegas Mi Kyong.
Wanita itu tersenyum tanpa mengatakan sepatah kata. Seakan mendapatkan kesempatan ia semakin gencar.
"Yak! Jim-in sadar, dia bukan istrimu," kata Seok Jin berusaha menyadarkan.
"Aku sudah tidak kuat lagi." Jim-in tidak mengindahkan perkataan sang kakak terus mendekat ke arah Mi Kyong.
Seok Jin yang hendak menarik Jim-in pun tidak sempat akibat dobrakan di pintu.
Wanita berhijab itu datang seraya menarik pundak Mi Kyong kuat hingga terjengkang ke belakang.
"Rania?" Panggil Seok Jin, hingga tidak lama setelah itu ia melihat wanita lain masuk ke dalam.
Iris kecilnya melebar sempurna ketika mereka beradu pandang.
"Za-Zahra," lanjut Seok Jin, tercengang.
Melihat kedatangan orang lain tidak diundang, Mi Kyong dan Ailee semakin terkejut.
Mereka tidak menyangka rencananya gagal total.
"Cepat berikan suntikan itu pada suamimu," titah Zahra pada Rania.
Ia mengangguk pelan dan merogoh saku abaya nya dan mengeluarkan suntikan.
Tanpa perasaan Rania langsung menancapkan ujung jarum tersebut ke lengan sang suami.
Jim-in tersentak sekejap dan tak lama setelah itu ia tidak sadarkan diri.
"Masalah ini kita bicarakan nanti. Opaa, bisa bantu aku membawa Jim-in Oppa ke rumah sakit?" Pinta Rania.
Seok Jin pun mengangguk dan langsung menggendong Jim-in di pundaknya.
Sepeninggalan kedua pria itu, Rania berjalan mendekati Ailee dan Mi Kyong.
Ia melipat tangan di depan dada seraya menyeringai lebar.
"Aku tidak menyangka wanita terhormat seperti kalian bisa melakukan hal memalukan seperti ini. Bagaimana jadinya jika kejadian barusan tersebar? Apa kalian bisa dipercaya lagi sebagai desainer interior dan perhiasan?" Rania berdecak kesal sambil menggeleng beberapa kali.
Ia pun berbalik hendak pergi meninggalkan mereka. Namun, Sebelum kedua kakinya melangkah, ia menoleh ke belakang lagi.
"Ah, iya aku meminta pelayan restoran untuk mengganti obat itu dengan obat tidur. Aku juga mengatakan pada dokter kami untuk berhati-hati dalam mencari bukti apa yang hendak kalian lakukan."
"Semua rencana kalian pada akhirnya berantakan, bukan?" kata Rania lagi membuat kedua wanita itu menautkan alis, tidak mengerti.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Ailee penasaran sekaligus terkejut.
"Hana Maura, apa kamu tidak mengenal dia? Wanita itu yang kamu kerjakan sebagai asisten."
Setelah mengatakan hal tersebut Rania melangkahkan kaki membuat Ailee jatuh terduduk.
Kedua kakinya lemas tidak percaya. Ia mendapatkan goncangan begitu kuat setelah mendengar perkataan Rania barusan.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Ailee... apa yang sebenarnya terjadi?" Mi Kyong mengguncang-guncangkan kedua pundak adik sepupunya kuat.
Namun, wanita itu tidak bereaksi apa pun selain menjatuhkan pandangan ke bawah.