VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 17



Acara pertemuan orang tua di sekolah Akila pun berakhir lancar.


Semua orang tua dan murid beriringan berjalan bersama meninggalkan ruang kelas.


Mereka nampak begitu antusias kala guru dan juga ayah serta ibu memberikan pujian.


Namun, hanya Akila yang murung tak karuan.


Seok Jin dan Zahra pun berjalan mendekat saat gadis berusia delapan tahun itu melangkahkan kaki sembari meremas tas gendongnya kuat.


"Sayang~" Panggil Zahra riang bersimpuh di depannya.


Kedua tangan ramping Zahra mencengkram pelan kedua bahu Akila.


Anak dari pasangan Raina dan Jim-in pun terus menunduk dalam.


"Sayang, Tante dan Paman mau minta maaf... karena sudah menggantikan eomma dan appa datang ke sekolah. Mereka-"


"Kenapa? Kenapa harus Tante dan Paman yang datang ke sekolah? Kenapa?" teriak Akila membuat atensi anak-anak yang masih ada di kelas menoleh padanya.


Zahra yang menyadari hal tersebut kelabakan dan berusaha menenangkan sang anak.


"Em, bagaimana kalau kita pergi ke taman dulu dan berbicara di sana?" tanya Zahra mencoba menarik perhatiannya.


"Itu benar, Sayang. Di sini Akila pasti tidak nyaman, sekalian bermain bersama?" lanjut Seok Jin ikut bersimpuh di depannya.


Akila hanya mengangguk singkat enggan mendongak melihat keduanya.


Mendapatkan persetujuan dari sang anak, Seok Jin pun langsung menggendongnya dan membawa Akila keluar kelas.


Mereka pun bergegas pergi dari sana meninggalkan gedung sekolah.


Sepanjang jalan, Akila masih bungkam seraya terus memandang keluar jendela. Wajahnya begitu kecewa menahan kepedihan dalam diam.


Sedari tadi baik Zahra maupun Seok Jin terus mengawasinya lewat kaca spion.


Mereka pun saling pandang mengerti kondisi Akila.


"Kila Sayang, bagaimana kalau kita makan siang dulu?"


"Tidak usah," jawab Akila dengan suara gemetar.


Zahra menoleh kembali pada Seok Jin membuat sang dokter mengangguk meminta bantuan.


"Pasti kamu lapar, kita makan dulu yah sebelum pulang." Finalnya kemudian.


Akila kembali diam tidak menanggapi perkataan wanita dewasa di depannya.


Sampai tidak lama berselang, mobil yang dikendarai Seok Jin pun berhenti di salah satu restoran terdekat.


Zahra langsung keluar dari mobil dan bergegas menuju jok belakang. Ia menggendong Akila membawanya masuk ke dalam tempat makan itu.


Di sana tidak terlalu banyak orang yang datang dan hanya ada beberapa.


Mereka juga berasal dari negara asing yang tengah menikmati makanan halal di sana.


Zahra, Seok Jin, dan Akila duduk bersama dekat jendela.


Kedua wanita berbeda usia pun saling berdampingan menghadap dokter tampan sendirian.


Salah satu pelayan datang memberikan menu, Seok Jin langsung memesankan makanan untuk mereka.


Sembari menunggu, dua orang dewasa di sana lagi-lagi memerhatikan Akila yang kembali memandang ke arah luar.


"Sayang, apa-"


"Kenapa eomma dan appa tidak datang ke sekolah? Apa mereka terlalu sibuk untuk datang melihat anaknya sendiri?" tanya Akila memotong ucapan Zahra sembari tersedu-sedu.


" Tentu tidak seperti itu, Sayang. Eomma dan appa sedang sibuk, jadi mereka-"


"Sesibuk apa sampai tidak bisa menyempatkan datang ke sekolah? Aku malu, Tante... aku malu."


"Teman-teman dari tadi terus berbisik kalau aku anak yang tidak diinginkan, buktinya eomma dan appa tidak datang ke sekolah. Padahal... padahal aku ingin memperlihatkan kerajinan ku tadi," lanjut Akila menangis sesenggukan.


Zahra langsung memeluknya erat, mengusap punggung Akila beberapa kali menenangkannya.


"Maksud Tante, eomma dan appa tidak ingin membuat Akila dan Jauhar sedih ataupun khawatir," ungkap Zahra mencoba memberikan pengertian pada gadis kecil itu.


"Urusan apa sampai takut aku dan Jauhar sedih dan khawatir?" tanya Akila melepaskan pelukannya lalu memandang ke arah Zahra lekat.


Wanita itu pun menoleh pada Seok Jin sekilas dan mengusap cairan bening di kedua pipi.


"Kamu juga nanti tahu, yang jelas saat ini... kita doakan yang terbaik untuk eomma," kata Zahra lagi.


"Itu benar, Sayang. Kita harus mendoakan yang terbaik untuk eomma," lanjut Seok Jin


"Apa eomma sedang sakit?" tanya Akila berubah khawatir.


"Em, apa Kila melihat kalau eomma seperti berbeda akhir-akhir ini?" tanya Zahra lagi.


Akila termenung mengingat keadaan sang ibu beberapa hari ke belakang.


"Itu memang benar, eomma berubah seperti orang berbeda. Eomma seakan-akan tidak mengenalku dan Jauhar," jelas Akila kemudian.


"Itu sebabnya Akila, sebagai kakak tertua harus kuat dan sabar agar Jauhar tidak tahu apa yang terjadi pada eomma. Akila bisa melakukannya?" kata Zahra lagi mengusap pelipisnya sayang.


Akila mengangguk cepat beberapa kali.


"Kalau memang seperti itu, Akila akan berusaha tegar untuk eomma. Akila tidak mau melihat eomma, terus menerus kesakitan," balas Akila yang kini sudah mengerti keadaannya.


"Alhamdulillah, kalau begitu sekarang kita makan dulu dan setelah ini Paman dan Tante Zahra akan mengajakmu bermain, bagaimana?" lanjut Seok Jin kembali menarik perhatian gadis kecil itu.


Akila hanya mengiyakan tanpa berbicara sembari mengulas senyum manis.


...***...


Seperti yang sudah dijanjikan tadi, Seok Jin pun benar-benar mengajak Akila dan Zahra ke taman bermain.


Di sana mereka menaiki berbagai macam wahana untuk mengembalikan semangat Akila.


Keduanya tidak ingin anak itu menyembunyikan kesedihan di balik senyuman.


Mereka ingin Akila tetap tersenyum tulus, meskipun keadaannya sedang tidak baik-baik saja.


Tawa riang pun berdengung menjadi backsound kebersamaan. Layaknya orang tua dan anak, mereka menikmati waktu penuh suka cita.


Beberapa jam berlalu, setelah puas bermain di sana, ketiganya memutuskan untuk pulang.


Akila yang kelelahan pun jatuh terlelap dalam gendongan Seok Jin.


Zahra menenteng tas punggung sekolahnya seraya beriringan berjalan bersama.


Di bawah langit senja dengan cahaya sang mentari menyoroti punggung mereka, Zahra terpaku pada bayangan yang dihasilkan.


Ia terus menatap satu persatu bayangan dirinya, Seok Jin, dan Akila bergantian.


Gelenyar dalam dada berbisik lirih membuatnya tersenyum masam.


" Kamu benar-benar hebat bisa mengembalikan keceriaan seorang anak. Kamu pantas mendapatkan gelar ibu terbaik, jika nanti sudah punya anak," celoteh Seok Jin begitu saja.


Namun, kata-kata itu membuat langkah Zahra terhenti seketika. Ia terus memandang ke bawah sebagai objek utama.


Seok Jin yang menyadari jika orang di sebelahnya tidak ada pun ikut berhenti.


Ia menoleh ke belakang mendapati Zahra terdiam.


"Za-"


"Terima kasih, tapi sepertinya aku tidak akan pernah bisa mendapatkan gelar itu," potong Zahra cepat.


Kini giliran Seok Jin mengatupkan bibir melihat senyum palsu di wajah cantik itu.


Ia tahu jika saat ini Zahra tengah menyembunyikan perasaan sebenarnya.


"Ah, maaf... saya hanya asal bicara." Zahra tertawa pelan berusaha terlihat baik-baik saja.


"Kalau begitu, ayo kita pulang," ajaknya lagi melangkahkan kaki melewati sang dokter.


Dalam diam Seok Jin memandangi kepergian sosok yang terlihat rapuh itu.