VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 11



Jim-in termenung di balkon sendirian. Malam menyambut, udara semakin dingin menyapa keberadaannya di sana.


Sesekali angin hadir menyapu wajah putihnya mengantarkan pada rona merah muda tipis menjalar di sekitar pipi. Di temani minuman kaleng, ia menikmati pemandangan tersaji di depan mata.


Ia menghela napas begitu berat, entah kenapa akhir-akhir ini banyak sekali kejadian tak terduga menghantui diri.


Entah ada apa dan entah bagaimana skenario Allah berjalan, semuanya bagaikan sihir datang sekejap mata.


Rania sudah berbeda, pikirnya. Kemelut dalam dada semakin menyeruak tat kala perubahan demi perubahan itu kian memuncak.


Sampai pada di titik sekarang, Rania layaknya orang berbeda. Sikap lembut nan manisnya hilang begitu saja tanpa alasan yang jelas.


Hal itu tentu saja membuat Jim-in semakin tak karuan. Terlebih perubahan yang terjadi pada Rania datang secara spontan.


Ia tidak tahu apa alasan istrinya itu berubah layaknya orang berbeda. Namun, hal tersebut memberikan pukulan telak padanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi ya Allah? Kenapa Rania berubah seperti ini? Apa aku melakukan kesalahan? Ani... aku sama sekali tidak melakukan kesalahan."


"Kesalahan yang pernah aku buat-" Suaranya semakin pelan dan pelan memikirkan apa yang telah dilakukannya selama ini.


Sampai ingatannya pun berputar pada masa lalu. Ia terdiam memandang lurus ke bawah menyaksikan tanaman tumbuh subur di pekarangan.


"Kesalahan yang pernah aku buat pada Rania hanya pada saat itu. Aku menyianyiakan keberadaannya dan menganggap ia hanya sebatas perawat saja."


Ia terus berceloteh lalu berbalik bersandar pada besi pembatas. "Tapi itu sudah bertahun-tahun lamanya. Apa yang sebenarnya Rania lakukan? Ke mana dia pergi tadi?" lanjutnya berjalan meninggalkan balkon.


Bersamaan dengan itu Rania baru saja tiba dari pemakaman. Wajahnya sedikit pucat, kedua mata sembab, hidungnya memerah terlihat jelas jika ia habis menangis.


Ia berdiri tepat di belakang pintu masuk memperhatikan keadaan sekitar. Banyak sekali yang berubah, pikirnya.


"Entah sudah berapa tahun berlalu semuanya berubah, bahkan sofa di ruang tamu pun diganti. Apa yang sudah aku jalani? Kenapa aku menyianyiakan hidup hanya untuk pria arogan itu?"


"Astaghfirullah jangan seperti itu Rania, bagaimanapun dia adalah suamimu," celotehnya menyeringai pelan dan kepala berhijabnya menggeleng beberapa kali.


Baru saja ia hendak melangkah, tatapannya beradu pandang dengan sang suami yang berdiri di salah satu anak tangga.


Atensi keduanya hanya berada pada satu titik. Tidak ada satu pun yang menarik pandangan dari satu sama lain.


Jim-in mengalah, menuruni tangga yang tinggal beberapa langkah lagi. Sampai ia pun berhenti tepat di depan sang pujaan.


"Sayang, aku tahu... aku tadi salah sudah membentak mu. Aku minta maaf, benar-benar minta maaf. Apa kamu mau memaafkan ku?" pintanya disertai senyum manis.


Mendengar kata-kata tersebut dahi lebar Rania mengerut dalam.


"Sayang? Sejak kapan Tuan Muda memanggil saya seperti itu? Apa sekarang matahari sudah terbit dari barat?" tanya Rania.


Kini giliran Jim-in menautkan kedua alis, ia heran sangat heran menerima pertanyaan balik dari pasangan hidupnya.


"Sayang, apa kamu sedang bercanda? Kenapa kamu berbicara formal lagi padaku? Kita telah menerima satu sama lain, Akila dan Jauhar adalah bukti jika kita sudah saling mencintai. Mereka buah hati kita, Sayang." Jim-in terus berusaha meyakinkan Rania.


Lagi dan lagi istrinya itu hanya bisa mengerutkan kening. Ia masih tidak mengerti apa yang disampaikan suaminya.


"Anak? Sejak kapan kita saling mencintai dan punya anak? Sejauh yang saya ingat... Tuan Muda tidak pernah menganggap saya sebagai istri, tetapi-" ucapan Rania yang menggantung seketika membuat degup jantung Jim-in bertalu tak karuan.


Dadanya naik turun memandangi tidak ada sedikit pun sorot mata bercanda maupun main-main di sana, melainkan keseriusan.


"Tuan Muda menganggap saya sebagai perawat tidak lebih. Jangan bercanda, apa mereka anak-anak Anda dengan nona Yuuna?"


"Ra-Rania apa yang kamu katakan barusan? A-anakku dan Yuuna? Astaghfirullah, itu semua sudah berlalu, Sayang. Mereka anak-anak kita, putra-putri mu, Sayang!" tegas Jim-in meyakinkan.


"Mwo? Putra-putri ku? Bagaimana bisa aku punya anak? Sedangkan Tuan Muda menyentuhku saja tidak pernah? Anda jangan bercanda, jangan pernah memberikan harapan palsu yang ujung-ujungnya nanti hanya menyakiti saya saja."


"Saya tidak butuh itu dan saya tidak perlu itu. Sudah cukup Tuan mempermainkan saya selama ini, bahkan tidak pernah memberitahu di mana makam mamah berada. Sekaligus Anda tidak pernah mengizinkan saya untuk melihat beliau di waktu terakhirnya."


Setelah mengucapkan kata-kata panjang tersebut, Rania melangkahkan kaki membawa berjuta kebimbangan dalam diri Jim-in.


Sang pengusaha itu pun terkesiap sekaligus tidak menyangka mendapatkan perubahan Rania untuk kesekian kali.


Emosi yang kian membuncah membuatnya mengepalkan kedua tangan seraya menutup mata kuat.


"Cukup berhenti bercanda Rania. AKU TIDAK MASALAH KAMU TIDAK MENGANGGAP KU, TETAPI MEREKA BENAR-BENAR ANAKMU, DARAH DAGING MU. KAMU YANG MELAHIRKANNYA SENDIRI!" Jim-in naik pitam benar-benar meninggikan suaranya beberapa oktaf dan kembali membuka mata.


Ia melihat Rania berbalik memberikan tatapan serius sembari menyeringai tajam.


"Lalu, ini permainan baru yang Anda lakukan lagi? Lantas apa saya harus mendapatkan varsha untuk kesekian kalinya?" Rania mendengus kasar lalu pergi tanpa mendengar balasan dari sang suami.


Jim-in mematung, lidahnya kelu menyaksikan sendiri perubahan Rania. Ia mengusap wajah gusar memendam perasaan gamang.


"Astaghfirullahaladzim, apa yang sebenarnya terjadi ya Allah? Kenapa Rania tiba-tiba saja berubah? Kenapa dia membahas masa lalu lagi?" celotehnya bimbang.


...***...


Pada keesokan harinya, Jim-in langsung bertandang ke rumah sakit. Pagi-pagi sekali ia sudah mendobrak pintu ruang kerja salah satu dokter di sana.


Sang penghuni yang baru saja selesai tugas shift malamnya terkejut melihat kedatangan tuan muda. Ia kembali duduk menautkan jari-jemari di atas meja.


"Jadi, ada apa lagi kali ini? Apa urusan rumah tangga kalian sedang tidak baik-baik saja? Ya Allah siapa yang aku lihat sekarang? Di mana Jim-in yang kemarin memamerkan keharmonisan pernikahannya di depan kakaknya yang tampan ini?" celoteh Seok Jin berusaha mencairkan suasana kala melihat aura pria di hadapannya begitu kelam.


"Berhenti bercanda Hyung!" geramnya seraya mendudukkan diri di kursi tepat di depan Seok Jin.


"Okay, aku tidak bercanda. Jadi?" tanyanya lagi.


"Rania Hyung." Jim-in langsung merengek layaknya seorang anak kehilangan ibu.


Seok Jin menautkan kedua alis tegasnya kuat, takjub menyaksikan perubahan signifikan sang pengusaha.


Ia berusaha menahan tawa agar tidak memperburuk kondisi yang ada. Ia tahu saat ini Jim-in tengah mendapatkan masalah di rumah tangganya bersama Rania.


"Rania...Rania, Ra-"


"Iya Hyung dengar Rania. Dia istrimu, lalu dia kenapa?" tanya Seok Jin menyerobot ucapannya tidak sabar.


"Rania seperti orang berbeda Hyung," adunya.


"Maksudmu?"


"Rania seperti dirinya di masa lalu." Finalnya menceritakan semua kejadian yang menimpa sang istri.


Seok Jin yang mendengar itu pun sudah tidak terkejut lagi. Ia tahu cepat atau lambat Jim-in pasti menemuinya untuk mengadukan kondisi Rania.


"Sepertinya Varsha sedang menghantuimu. Air mata itu kini berbalik padamu, Jim," jawab Seok Jin membuat pria itu membelalakan mata sempurna kala menyadari satu hal, yaitu varsha saat ini tengah menari dalam kehidupannya.


Ia meyakini jika hal itu adalah buah atas kesalahan yang pernah dirinya perbuat.